Selasa, 02 Februari 2016

AMABELLE// Jalani Saja

"Jika jabatan tangan itu mengantarkan kita pada perasaan yang sama, maka aku akan menyambutnya dengan suka cita.”


        Hari sudah semakin gelap, namun Ilyas belum juga kembali. Kini yang tersisa hanya ada aku, Toni dan juga Denis sedangkan teman-teman yang lain sudah pulang. Toni memandangiku dengan tatapan yang berbeda. Mungkin dia kasihan pada seorang perempuan yang ditinggal pacarnya hanya untuk mengejar perempuan lain. Andai saja aku pacar sungguhannya Ilyas, pasti aku sudah pulang semenjak melihat kejadian tadi sore.

       “Lu baik-baik aja Za?” tanya Toni ragu-ragu. Mendengar pertanyaan itu aku hanya tersenyum dan berkata dalam hati “Baik-baik aja lah, gua kan cuma pacar bohongannya Ilyas!”
            “Eh, ada sms dari Ilyas. Katanya kita bertiga balik aja ke kontrakan” Seru Denis.
          “Oiya, dia juga sms gua ternyata. Ya udah yuk Za ke kontrakan kita, tenang aja lu aman kok kalau sama kita.hehe” kata Toni, mencoba menenangkan keadaan.
     
       Sesampainya di rumah kontrakan aku nggak langsung masuk ke kamar Ilyas, karena kamarnya dikunci dan Ilyas lupa menitipkan ke Toni maupun Denis. Mereka bertiga sudah hampir empat tahun menghuni rumah ini. Untuk tempat tinggal cowok, rumah ini terlihat sangat rapi dan nyaman untuk ditempati.

       Entah mengapa hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Pulang kuliah aku langsung mengganti kepribadian dari yang tadinya upik abu menjadi cinderella, dilanjut perjalanan jauh menggunakan pesawat dari Jakarta ke Solo. Belum sempat istirahat aku langsung menghampiri Ilyas yang sedang asik mengobrol dengan kerumunan “harimau” ramah dan mulai melaksanakan aksi sebagai pacar gadungannya. Awalnya berjalan lancar dan menyenangkan, namun semua itu berakhir saat Ara meninggalkan kami tanpa pamit dan membuat kami semua panik. 

             Lama menunggu Ilyas yang mengejar Ara, aku dititipkan ke Denis dan Toni teman satu kontrakkannya. Dan malam ini aku masih menunggu Ilyas sampai di rumah kontrakan ditemani dengan suara cicak yang berdecak sejak awal kedatanganku. Malang sekali nasibku yang dirundung cobaan berturut-turut, mungkin ini adalah hukuman yang harus aku terima akibat menjadi pacar gadungan si Ilyas.
 
          “Lu mau istirahat di kamar gua dulu atau gimana? Lu pasti capek kan?”Toni menawarkan tempat istirahat yang cukup menggiurkan. Rasanya badan ini ingin dimanjakan oleh kasur dan memejamkan mata sejenak. Tapi sayang, aku harus menunggu Ilyas sampai pulang.
         “Ehm, nggak deh, gua nggak apa-apa kok tunggu di ruang tamu aja. Pasti sebentar lagi Ilyas pulang.”
          “Oke deh kalau gitu gua masuk dulu ya?” Saut Denis.
        “Ah, iya gua juga mau mandi dulu. Kalau ada apa-apa panggil kita aja” sambung  Toni  dan aku hanya menganggukan kepala.

Ehm, ngomong-ngomong  sekarang Ilyas lagi apa ya? Kenapa belum pulang juga? Padahal aku hampir mati kedinginan disini.  Aku mencari nama Ilyas di daftar kontak, lalu menelephonya.

“Hoi, lu sekarang dimana?”
            “Kampus, kenapa?”jawab Ilyas dengan nada dingin.
Merasa ada yang aneh dengan saudara kembarku, aku jadi sedikit khawatir. Lalu aku menjawabnya dengan candaan. “Huuuuh, syukurlah. Gua kira lagi nangis meratapi nasib dipinggir jembatan.” 

                “Gila lu! Gua masih inget sama Tuhan, nggak mungkin lah gua bunuh diri!!”
               “Eh, sokem, tadi Ara telpon gua dan minta gua untuk ke rumahnya sekarang. Menurut lu gimana?” lanjut Ilyas dengan nada serius.
                “Ya udah berangkat sekarang, tunggu apa lagi!?”
                “Apa nggak masalah gua ke rumahnya?”
           “Heiii, dengan lu nyuruh gua pura-pura jadi pacar lu itu udah menimbulkan masalah diantara kalian berdua! Sekarang udah terlanjur jadi lu harus bertindak. Pilihannya ada dua, lu jujur ke dia atau lu tetap pertahanin kebohongan ini. Udah ya gua nggak mau ikut pusing karena masalah ini, bye!”
 
        Aku menutup telephon dengan cepat dan menghembuskan nafas pelan. Berat rasanya melihat kejadian tadi harus dialami oleh saudara kembarku. Sepertinya dengan menjadi pacar bohongannya Ilyas justru membuat masalah baru. Kini aku hanya bisa bantu doa dan berharap semua akan bisa dilewati Ilyas dengan seiring berjalannya waktu.
           
          “Ilyas dimana? Di pinggir jembatan?” tanya seorang dari depan pintu kamar yang nggak jauh dari tempatku duduk.
       “Hah, lu dari kapan berdiri disitu?”Aku panik melihat Denis berdiri sambil memegang cangkir dan selimut.
         “Dari semenjang lu tanya Ilyas ada dimana sampai lu bilang bye.” jawab Denis ringan, lalu dia menghampiriku dan duduk di sebelahku.
        “Tenang aja, gua udah tau kok kalau lu itu saudara kembarnya Ilyas. Dia sendiri yang cerita sama gua.” Lanjut Denis menenangkan, sepertinya dia membaca kepanikan yang terlihat jelas di wajahku.
        “Huuuh, syukurlah. Gua kira lu belum tau. Eh, terus Toni juga udah tau dong kalau gua sama Ilyas itu saudara?”
          “Nggak ada yang tau kecuali gua, dan untung sekarang dia lagi mandi jadi nggak denger lu telephon. Ini gua bawain selimut dan teh anget, lu pasti kedinginan kan?”
          “Hehe, lu tau aja sih. Makasih ya?”
         “Iya, kembali kasih. Lagi pula lu kenapa nggak bawa jaket? Udah gitu pakai dress segala, emang biasanya lu berpakaian gini kalau ke kampus?”
       “Gua lupa nggak bawa jaket dan sebenarnya kalau gua ke kampus juga nggak gini-gini amat sih. Paling cuma pakai jeans, kaos, atau kemeja. Gua pakai dress dan dandan gini biar nggak malu-maluin Ilyas aja.”
         “Eh, kenapa lu tanya gitu? Penampilan gua terlalu berlebihan ya?” lanjutku penasaran.

        Denis tersenyum mendengar pertanyaanku, "Gua kaget aja ngeliat lu, soalnya Ilyas pernah cerita kalau saudara kembarnya itu tomboy, nggak bisa dandan apalagi masak.”
          “Diih, Ilyas bilang gitu?? Kok kesannya gua laki banget sih!”
         
         Mendengar jawaban ku, Denis justru tertawa lepas, sampai-sampai matanya yang sudah sipit menjadi tambah sipit. Aku menatap wajah Denis, sepertinya wajah itu nggak asing. Ah, aku baru sadar kalau Denis mirip sekali dengan Rio Dewanto, artis dan bintang iklan terkenal. Pantas saja wajahnya familiar. Matanya sipit, tulang pipinya tegas. Hanya saja Denis lebih kurus dan nggak berotot seperti Rio Dewanto, tapi keduanya sama-sama cakep dan pasti menjadi idaman para perempuan termasuk aku. Hehehe.
       
       Nggak perlu usaha keras untuk dapat akrab dengan Denis. Kami bisa membicarakan semua hal dengan sangat menarik. Bahkan kucing yang tak sengaja lewat di depan kami bisa menjadi bahan yang seru untuk obrolan malam ini. Denis pun menceritakan tentang keluarganya, padahal aku sama sekali tidak menyinggung atau pun bertanya tentang hal itu. Ia mengatakan kalau ia mempunyai seorang kakak perempuan yang sudah menikah dan sekarang menetap di Jakarta. Ibu nya adalah seorang bisnis woman yang tinggal dengan kakek neneknya di Tasik, sedangkan sang ayah kini menetap di Jakarta. Aku ingin sekali bertanya kenapa kedua orang tuanya tinggal terpisah, tapi aku mengurungkan niat. Sepertinya pertanyaan itu kurang pantas ditujukan untuk orang yang pertama kali ditemui.
           
          “Lu kapan balik ke Jakarta?” tanya Denis.
          “Besok sore.”
          “Kayaknya beberapa bulan lagi gua ke Jakarta, mampir boleh ya?”
       “Iya boleh lah, lu kan teman abang gua. Yang penting jangan lupa bawa oleh-oleh khas tasik ya dan satu lagi lu harus coba rawon buatan nyokap. Beuuuh, rasanya maknyuuuus!”
        “Oke! Hmm, berhubung lu udah jauh-jauh dari jakarta mending malam ini kita jalan-jalan yuk?”
           “Ayuk ayuuuk, jalan kemana?” jawabku antusias dan lagi-lagi membuat Denis tersenyum geli.
         “Ada tempat namanya jagung naga, anak UNS sering banget nongkrong di tempat itu. tapi kalau kita mau kesana saran gua lu ganti baju aja Yan."
                                                                            ***

          Ekspektasiku tak seperti yang aku lihat sekarang, aku pikir jagung naga adalah tempat sejenis cafe tapi ternyata hanya makanan pinggir jalan dan pengunjung hanya duduk di emperan ruko dengan beralaskan tikar. Walaupun begitu pengunjung jagung naga ini sangat banyak bahkan sampai menggelar tikar di emperan ruko sebrang jalan. Untung saja aku sudah menanggalkan dress dan kembali menggunakan pakaian kasual.            

Denis memarkirkan motor lalu berjalan menuju penjual yang sedang sibuk membakar jagung dan penjual lain sibuk menata jagung, sosis, bakso, dan beberapa tusuk makanan yang masih mentah. Setelah itu Denis kembali berjalan di depanku menuju tikar yang masih kosong namun minim penerangan lampu.

          “Kita beruntung nih dapet tempat, biasanya semua tempat udah penuh kalau jam segini.”
         “Hmm, gitu. Keren juga ya tempat ini. Tadinya gua pikir jagung naga itu nama cafe.”balas ku dengan wajah polos.
         “Anak Solo lebih suka nongkrong di angkringan atau tempat yang lesehan begini karena kita bisa lama ngobrol sambil liat kendaraan yang lalu lalang. Tapi lu jangan kaget ya, mungkin makanan kita baru dateng setengah atau satu jam lagi.”
          “Haaah, serius?!”
          “Iya serius! Makanya gua ajak lu kesini biar kita bisa ngobrol lama. Hehe.”
         
        Mendengar jawaban Denis aku langsung tersipu malu. Ada apa denganku hari ini? Sisi kewanitaanku lebih sering muncul dari biasanya. Hari ini aku terlalu menjaga sikapku dan meninggalkan sisi kelelakian-ku.
       “Denis, lu di Solo kagak bawa kendaraan apa? Soryy gua tanya gini soalnya tadi gua denger waktu lu pinjem motor ke Toni.”
          “Eehm, soalnya dulu Ilyas pernah cerita kalau lu nggak suka naik mobil maka dari itu gua pinjem motor ke Toni.”
          “Ilyas sering cerita tentang gua???”
        “Nggak sering juga sih, kadang kalau dia kangen sama lu dia pasti melamun terus gua samperin. Nah kalau udah begitu pasti dia nyrocos sampe tengah malam.”
 
       Aku merasa pandanganku mulai kabur, mungkin ini karena butiran air yang memenuhi mataku dan aku tahan agar tak meluncur ke pipiku yang tirus ini. Aku tak menyangka kalau Ilyas pernah memendam rindu padaku. Aku pikir dia adalah manusia yang senang menyimpan rindunya dan tak mungkin menceritakan pada orang lain. Ternyata aku salah!
       Selesai dengan lamunanku, makanan kami datang. Dua jagung bakar, dua tusuk sosis bakar, dua tusuk bakso bakar, dua tusuk tempura, dan dua botol teh. Aku geleng-geleng melihat hidangan yang tersaji didepanku. Semua makanan terlihat merah karena disiram oleh sambal.
          “Sanggup habiskan semua ini?” tanya Denis menyelidik.
          “Sanggup dong, yuk hajaaar!!!”
               
        Kami sibuk dengan makanan masing-masing. Selain itu kami juga sibuk dengan menyeka keringat kami akibat kepedesan. Denis makan dengan lahap dan cepat sedangkan aku makan dengan sangat lambat. Tak seperti biasanya aku mengunyah makanan sebanyak tiga puluh tiga kali. Aku juga makan dengan tenang tanpa menjatuhkan sambal atau mengotori sekitar mulutku dengan sambal yang super pedas ini.
        Aku melirik ke arah Denis yang kini minum teh botol, dia minum layaknya orang kehausan. Dan aku hanya tersenyum geli. Sadar kalau diperhatikan, Denis menghentikan aktivitasnya dan mengerutkan dahinya.
        
          “Lu kenapa ngeliatin gua?” tanya Denis dengan muka bingung.
          “Lu kalau makan-minum yang pelan napaa, kayak dikejar waktu aja!”
        “Iya gua emang dikejar waktu, gua makan cepet biar bisa memperhatikan lu makan dan ngobrol lama sama elu. Hehe.” Lagi-lagi Denis mengeluarkan kata-kata gombalnya. Entahlah, biasanya aku selalu  merasa risih kalau mendengar gombalan dari Oka, tapi sekarang justru tersenyum malu jika gombalan itu keluar dari mulut Denis.
    
     Tak terasa jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, pantas saja pengunjung mulai meninggalkan tempat ini dan hanya beberapa yang masih bersenda gurau. Aku sudah mulai mengatuk, dan kami pun memutuskan untuk kembali ke rumah kontrakkan. Denis membayar semua makanan sedangkan aku menunggu di parkiran motor. Aku selalu memperhatikan Denis dari kejauhan, mata ini rasanya berat kalau tidak melihat Denis sedetik saja.
        
       Denis menghampiriku dan memberikan helm padaku. Baru saja motor dinyalakan, ada seorang perempuan muda menghampiri kami.
      “Kak Denis?”sapa perempuan tersebut dengan senyum sumringah, dan Denis mulai terlihat panik sambil sesekali melirik ke arahku. Aku tak tahu arti lirikan Denis, dan siapa pula perempuan itu?
       “Loh, Lu Riza kan? Riza yang ngerebut gebetan sahabat gua? Terus sekarang lu jalan sama Kak Denis?” Perempuan itu meninggikan suaranya dan tampak ekspresi kesal diwajahnya. Aku hanya memandanginya dengan tatapan bingung.
          “Gila!!! Lu cewek apaan sih! Lu pacaran sama Kak Ilyas dan sekarang justru jalan sama sahabatnya sampai tengah malam begini!” wanita itu kembali menaikan suaranya dan kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya itu justru membuatku naik pitam.
       
        “Dek, Cukup!” kini Denis urun bicara dengan nada yang dibuat sepelan mungkin lalu Denis melihat sekeliling berharap kami tidak menjadi tontonan bagi orang disekitar kami.
          “Eh, Riza gua harap lu segera deh pulang ke Jakarta. Dan satu lagi lu nggak usah sok akrab majang foto lu bareng denis dan mamahnya di line. Lu sampein juga ke pacar lu yang sok kegantengan itu, jangan PHP-in sahabat gua lagi. Ngerti??!”
        “Iya gua ngerti! Tapi lu tau id line gua dari siapa ya?” tanyaku dengan nada pelan dan sekuat tenaga menekan rasa marah yang ingin segera keluar dari mulut ini.
          “Oya, lu juga nggak usah nge-tag foto kalian berdua di instagram-nya Ilyas deh! Bikin gua sakit mata tau nggak!”
        “Sorry ya mbak gua tanya sekali lagi, lu tau id line gua dari siapaa???” tanyaku pelan namun dengan penekanan di setiap katanya.
       “Buat dapetin id line lu mah gampang, kalau gua mau gua juga bisa kepo path atau instagram elu!”
           
          Aku tersenyum mendengar jawaban perempuan tersebut. “Hmm, gitu. Ya udah mending lu kepo path gua aja deh biar lu puas dan lu bisa dapetin semua info tentang gua. Sekarang udah malem, gua harus balik ke kontrakan Ilyas.”
           “Apa??? Kontrakan Ilyas???” perempuan itu kembali berteriak.
        “Iya, emangnya nggak boleh gua nginep di kontrakan dia? Lagi pula gua sering kok nginep di rumah Ilyas.” Aku menjawab dengan nada ringan lalu naik ke motor disusul Denis yang masih memasang wajah panik. Sedangkan perempuan itu sengaja aku tinggal, biar saja dia sibuk dengan pikirannya. Atau kalau dia mau berpikir aku perempuan murahan aku pun nggak peduli. Lagi pula siapa yang akan melarang aku untuk menginap di kontrakan atau rumah Ilyas? Aku kan saudara kembarnya! Hahahaha....

                                                                                ***

        Sesampainya di kontrakan aku pamit ke Denis untuk masuk duluan. Sepertinya Ilyas sudah pulang karena pintunya terbuka lebar, saat aku memasuki kamarnya ternyata Ilyas sedang tidur di lantai. Aneh, dengan kejadian tadi sore dia masih bisa tidur nyenyak malam ini???
     “Yas, banguuun!” aku mengusap pelan punggungnya, lalu Ilyas membuka matanya pelan-pelan dan memelukku erat.
           “Lu kenapa?”tanyaku khawatir, namun Ilyas semakin menangis sesenggukan. Aku balas memeluknya dengan erat, mungkin yang dibutuhkan Ilyas sekarang hanya pelukan dari saudara kembarnya.
        
         Sudah seperempat jam Ilyas memelukku namun dia belum juga melepaskan pelukannya. Punggungku mulai pegal menopang tubuh Ilyas yang lebih besar dariku. Kini tidak terdengar lagi tangisan dan aku rasa Ilyas sudah mulai bisa diajak bicara.
           “Lu udah ketemu Ara?”tanyaku pelan sambil melepaskan pelukan Ilyas.
            “Udah dan Ara bilang kalau dia bakal ngejauhin gua.” 
       “Kalau gitu kenapa lu malah nangis? Bukannya ini tujuan lu nyuruh gua jadi pacar gadungan elu?”
           “Sebenarnya gua sayang sama dia, sayang banget! tapi gua nggak bisa karena sahabat gua juga sayang sama dia.”
     “Siapa? Denis?” tanyaku dengan cepat lalu Ilyas menggelengkan kepalanya dan bersamaan dengan itu aku menghela nafas dan mengucap syukur dalam hati.
             “Toni temen satu kontrakan gua.” Ilyas menjawab dengan nada pelan dan aku mengerti sekarang mengapa hanya Denis yang tahu bahwa aku adalah saudara kembarnya Ilyas. Aku juga paham sekarang mengapa Ilyas justru sedih saat penyamaranku sebagai pacar gadungannya berhasil.
                
           “Gua ngerti perasaan lu sekarang, tapi lu mau sampai kapan mikirin perasaan orang lain dan mengabaikan perasaaan lu sendiri? Gua harap lu jujur sama perasaan lu, minta maaf ke Ara dan bilang kalau kita adalah saudara kembar.”
           “Udah terlabat, Yan. Kalau gua jujur Ara pasti tambah benci ke gua begitu juga dengan Toni. Gua nggak mau persahabatan gua hancur hanya masalah cewek.”
           “Mungkin pada awalnya mereka akan benci, tapi percaya deh seiring berjalannya waktu mereka pasti akan ngerti dan semua akan kembali seperti biasa, Yas. Lebih baik lu jujur sekarang dari pada menutupi kebohongan yang justru ngebuat lu tersiksa begini.”
            “Nggak tau deh, gua masih belum bisa mikir sekarang yang terpenting jalani aja dulu. Lu nanti tidur di tempat tidur ya biar gua tidur di lantai.” Ilyas beranjak meninggalkanku dan menggelar tikar lalu tidur dengan menutupi wajahnya menggunakan selimut.
           
        Aku memutuskan untuk ke teras rumah dulu untuk mencari udara segar, namun saat keluar kamar aku justru dikejutkan dengan dua sosok yang terduduk diam di ruang tamu.
          “Kalian sejak kapan disitu?”tanyaku panik kepada Denis dan Toni.
          “Ilyas udah tidur?” tanya Toni pelan dan aku menganggukan kepala.

         Denis berjalan menghampiriku, menutup pintu kamar Ilyas lalu menarik tanganku menuju sofa ruang tamu.
      “Gua dengar pembicaraan kalian barusan, dan Denis juga sempat cerita kalau kalian sebenarnya saudara kembar.” Toni memulai pembicaraan dengan suara yang berat.
         “Jujur gua emang sayang sama Ara tapi gua nggak mungkin egois sama perasaan gua.” Lanjut Toni.
           “Maksudnya?” aku mengerutkan dahi tanda tak mengerti.
           “Kalian mau bantu gua nggak?”
           “Bantu apa?”tanya Denis penasaran.
          “Kalian tolong jelasin semuanya ke Ara, karena gua yakin Ilyas nggak bakal ngelakuin ini. Dan untuk masalah gua dengan Ilyas, biar gua aja yang beresin. Gimana?”
                 
        Aku menatap Denis dengan tatapan bingung lalu Denis menganggukan kepalanya tanda agar aku mau setuju dengan apa yang Toni minta.
         “Iya deh gua setuju.” Jawabku pelan.
        “Oke, berarti besok gua dan Ilyan ketemu Ara sedangkan elu ngobrolin semuanya ke Ilyas. Gitu kan?”
        “Iya. Makasih ya kalian semua udah mau bantuin gua.” Kata Toni dengan senyum kecilnya.
     “Justru gua yang harusnya makasih ke elu. Lu udah mau berkorban dan makasih juga karena lu nggak benci abang gua.” aku menatap Toni dengan mata berkaca-kaca.
       “Nggak mungkin lah gua benci sama Ilyas. Gua malah merasa bodoh banget kenapa gua nggak tau tentang perasaannya ke Ara padahal dia sahabat baik gua.”
      “Ya udah bro, nggak ada gunanya untuk menyesali semua ini. Apapun yang terjadi lu berhak bahagia dengan atau pun tanpa Ara.” Denis menenangkan Toni lalu memeluknya dengan erat. Dia pun sempat melirik ke arahku dan memperlihatkan senyum manisnya.


Tidak ada komentar: