"Jika jabatan tangan itu
mengantarkan kita pada perasaan yang sama, maka aku akan menyambutnya dengan
suka cita.”
Hari sudah semakin gelap, namun Ilyas belum juga kembali.
Kini yang tersisa hanya ada aku, Toni dan juga Denis sedangkan teman-teman yang
lain sudah pulang. Toni memandangiku dengan tatapan yang berbeda. Mungkin dia
kasihan pada seorang perempuan yang ditinggal pacarnya hanya untuk mengejar
perempuan lain. Andai saja aku pacar sungguhannya Ilyas, pasti aku sudah pulang
semenjak melihat kejadian tadi sore.
“Lu
baik-baik aja Za?” tanya Toni ragu-ragu. Mendengar pertanyaan itu aku hanya
tersenyum dan berkata dalam hati “Baik-baik aja lah, gua kan cuma pacar
bohongannya Ilyas!”
“Eh,
ada sms dari Ilyas. Katanya kita bertiga balik aja ke kontrakan” Seru Denis.
“Oiya,
dia juga sms gua ternyata. Ya udah yuk Za ke kontrakan kita, tenang aja lu aman
kok kalau sama kita.hehe” kata Toni, mencoba menenangkan keadaan.
Sesampainya
di rumah kontrakan aku nggak langsung masuk ke kamar Ilyas, karena kamarnya
dikunci dan Ilyas lupa menitipkan ke Toni maupun Denis. Mereka bertiga sudah
hampir empat tahun menghuni rumah ini. Untuk tempat tinggal cowok, rumah ini
terlihat sangat rapi dan nyaman untuk ditempati.
Entah mengapa hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Pulang kuliah aku langsung
mengganti kepribadian dari yang tadinya upik abu menjadi cinderella, dilanjut
perjalanan jauh menggunakan pesawat dari Jakarta ke Solo. Belum sempat
istirahat aku langsung menghampiri Ilyas yang sedang asik mengobrol dengan
kerumunan “harimau” ramah dan mulai melaksanakan aksi sebagai pacar
gadungannya. Awalnya berjalan lancar dan menyenangkan, namun semua itu berakhir
saat Ara meninggalkan kami tanpa pamit dan membuat kami semua panik.
Lama menunggu Ilyas yang mengejar Ara, aku
dititipkan ke Denis dan Toni teman satu kontrakkannya. Dan malam ini aku masih
menunggu Ilyas sampai di rumah kontrakan ditemani dengan suara cicak yang berdecak sejak awal kedatanganku. Malang sekali nasibku yang dirundung cobaan berturut-turut, mungkin ini adalah hukuman yang
harus aku terima akibat menjadi pacar gadungan si Ilyas.
“Lu mau
istirahat di kamar gua dulu atau gimana? Lu pasti capek kan?”Toni menawarkan
tempat istirahat yang cukup menggiurkan. Rasanya badan ini ingin dimanjakan
oleh kasur dan memejamkan mata sejenak. Tapi sayang, aku harus menunggu Ilyas
sampai pulang.
“Ehm,
nggak deh, gua nggak apa-apa kok tunggu di ruang tamu aja. Pasti sebentar lagi
Ilyas pulang.”
“Oke
deh kalau gitu gua masuk dulu ya?” Saut Denis.
“Ah,
iya gua juga mau mandi dulu. Kalau ada apa-apa panggil kita aja” sambung Toni dan aku hanya menganggukan kepala.
Ehm,
ngomong-ngomong sekarang Ilyas lagi apa
ya? Kenapa belum pulang juga? Padahal aku hampir mati kedinginan disini. Aku mencari nama Ilyas di daftar kontak, lalu
menelephonya.
“Hoi, lu sekarang dimana?”
“Kampus,
kenapa?”jawab Ilyas dengan nada dingin.
Merasa ada yang aneh dengan saudara
kembarku, aku jadi sedikit khawatir. Lalu aku menjawabnya dengan candaan. “Huuuuh,
syukurlah. Gua kira lagi nangis meratapi nasib dipinggir jembatan.”
“Gila
lu! Gua masih inget sama Tuhan, nggak mungkin lah gua bunuh diri!!”
“Eh,
sokem, tadi Ara telpon gua dan minta gua untuk ke rumahnya sekarang. Menurut
lu gimana?” lanjut Ilyas dengan nada serius.
“Ya
udah berangkat sekarang, tunggu apa lagi!?”
“Apa
nggak masalah gua ke rumahnya?”
“Heiii,
dengan lu nyuruh gua pura-pura jadi pacar lu itu udah menimbulkan masalah
diantara kalian berdua! Sekarang udah terlanjur jadi lu harus bertindak.
Pilihannya ada dua, lu jujur ke dia atau lu tetap pertahanin kebohongan ini. Udah
ya gua nggak mau ikut pusing karena masalah ini, bye!”
Aku menutup
telephon dengan cepat dan menghembuskan nafas pelan. Berat rasanya melihat
kejadian tadi harus dialami oleh saudara kembarku. Sepertinya dengan menjadi
pacar bohongannya Ilyas justru membuat masalah baru. Kini aku hanya bisa bantu
doa dan berharap semua akan bisa dilewati Ilyas dengan seiring berjalannya
waktu.
“Ilyas
dimana? Di pinggir jembatan?” tanya seorang dari depan pintu kamar yang nggak
jauh dari tempatku duduk.
“Hah,
lu dari kapan berdiri disitu?”Aku panik melihat Denis berdiri sambil memegang
cangkir dan selimut.
“Dari
semenjang lu tanya Ilyas ada dimana sampai lu bilang bye.” jawab Denis ringan,
lalu dia menghampiriku dan duduk di sebelahku.
“Tenang
aja, gua udah tau kok kalau lu itu saudara kembarnya Ilyas. Dia sendiri yang
cerita sama gua.” Lanjut Denis menenangkan, sepertinya dia membaca kepanikan
yang terlihat jelas di wajahku.
“Huuuh,
syukurlah. Gua kira lu belum tau. Eh, terus Toni juga udah tau dong kalau gua
sama Ilyas itu saudara?”
“Nggak
ada yang tau kecuali gua, dan untung sekarang dia lagi mandi jadi nggak denger
lu telephon. Ini gua bawain selimut dan teh anget, lu pasti kedinginan kan?”
“Hehe,
lu tau aja sih. Makasih ya?”
“Iya,
kembali kasih. Lagi pula lu kenapa nggak bawa jaket? Udah gitu pakai dress
segala, emang biasanya lu berpakaian gini kalau ke kampus?”
“Gua
lupa nggak bawa jaket dan sebenarnya kalau gua ke kampus juga nggak gini-gini
amat sih. Paling cuma pakai jeans, kaos, atau kemeja. Gua pakai dress dan
dandan gini biar nggak malu-maluin Ilyas aja.”
“Eh, kenapa
lu tanya gitu? Penampilan gua terlalu berlebihan ya?” lanjutku penasaran.
Denis tersenyum mendengar pertanyaanku, "Gua kaget aja ngeliat lu,
soalnya Ilyas pernah cerita kalau saudara kembarnya itu tomboy, nggak bisa
dandan apalagi masak.”
“Diih,
Ilyas bilang gitu?? Kok kesannya gua laki banget sih!”
Mendengar
jawaban ku, Denis justru tertawa lepas, sampai-sampai matanya yang sudah sipit
menjadi tambah sipit. Aku menatap wajah Denis, sepertinya wajah itu nggak asing.
Ah, aku baru sadar kalau Denis mirip sekali dengan Rio Dewanto, artis dan
bintang iklan terkenal. Pantas saja wajahnya familiar. Matanya sipit, tulang
pipinya tegas. Hanya saja Denis lebih kurus dan nggak berotot seperti Rio
Dewanto, tapi keduanya sama-sama cakep dan pasti menjadi idaman para perempuan
termasuk aku. Hehehe.
Nggak
perlu usaha keras untuk dapat akrab dengan Denis. Kami bisa membicarakan semua
hal dengan sangat menarik. Bahkan kucing yang tak sengaja lewat di depan kami
bisa menjadi bahan yang seru untuk obrolan malam ini. Denis pun menceritakan
tentang keluarganya, padahal aku sama sekali tidak menyinggung atau pun
bertanya tentang hal itu. Ia mengatakan kalau ia mempunyai seorang kakak
perempuan yang sudah menikah dan sekarang menetap di Jakarta. Ibu nya adalah
seorang bisnis woman yang tinggal dengan kakek neneknya di Tasik, sedangkan
sang ayah kini menetap di Jakarta. Aku ingin sekali bertanya kenapa kedua orang
tuanya tinggal terpisah, tapi aku mengurungkan niat. Sepertinya pertanyaan itu
kurang pantas ditujukan untuk orang yang pertama kali ditemui.
“Lu
kapan balik ke Jakarta?” tanya Denis.
“Besok sore.”
“Kayaknya
beberapa bulan lagi gua ke Jakarta, mampir boleh ya?”
“Iya
boleh lah, lu kan teman abang gua. Yang penting jangan lupa bawa oleh-oleh khas
tasik ya dan satu lagi lu harus coba rawon buatan nyokap. Beuuuh, rasanya
maknyuuuus!”
“Oke!
Hmm, berhubung lu udah jauh-jauh dari jakarta mending malam ini kita
jalan-jalan yuk?”
“Ayuk
ayuuuk, jalan kemana?” jawabku antusias dan lagi-lagi membuat Denis tersenyum geli.
“Ada
tempat namanya jagung naga, anak UNS sering banget nongkrong di tempat itu.
tapi kalau kita mau kesana saran gua lu ganti baju aja Yan."
***
Ekspektasiku tak seperti yang aku lihat sekarang, aku pikir jagung
naga adalah tempat sejenis cafe tapi ternyata hanya makanan pinggir jalan dan
pengunjung hanya duduk di emperan ruko dengan beralaskan tikar. Walaupun begitu
pengunjung jagung naga ini sangat banyak bahkan sampai menggelar tikar di
emperan ruko sebrang jalan. Untung saja aku sudah menanggalkan dress dan
kembali menggunakan pakaian kasual.
Denis memarkirkan motor lalu berjalan
menuju penjual yang sedang sibuk membakar jagung dan penjual lain sibuk menata
jagung, sosis, bakso, dan beberapa tusuk makanan yang masih mentah. Setelah itu
Denis kembali berjalan di depanku menuju tikar yang masih kosong namun minim
penerangan lampu.
“Kita
beruntung nih dapet tempat, biasanya semua tempat udah penuh kalau jam segini.”
“Hmm,
gitu. Keren juga ya tempat ini. Tadinya gua pikir jagung naga itu nama
cafe.”balas ku dengan wajah polos.
“Anak
Solo lebih suka nongkrong di angkringan atau tempat yang lesehan begini karena
kita bisa lama ngobrol sambil liat kendaraan yang lalu lalang. Tapi lu jangan
kaget ya, mungkin makanan kita baru dateng setengah atau satu jam lagi.”
“Haaah,
serius?!”
“Iya
serius! Makanya gua ajak lu kesini biar kita bisa ngobrol lama. Hehe.”
Mendengar
jawaban Denis aku langsung tersipu malu. Ada apa denganku hari ini? Sisi
kewanitaanku lebih sering muncul dari biasanya. Hari ini aku terlalu menjaga
sikapku dan meninggalkan sisi kelelakian-ku.
“Denis,
lu di Solo kagak bawa kendaraan apa? Soryy gua tanya gini soalnya tadi gua
denger waktu lu pinjem motor ke Toni.”
“Eehm,
soalnya dulu Ilyas pernah cerita kalau lu nggak suka naik mobil maka dari itu
gua pinjem motor ke Toni.”
“Ilyas
sering cerita tentang gua???”
“Nggak
sering juga sih, kadang kalau dia kangen sama lu dia pasti melamun terus gua
samperin. Nah kalau udah begitu pasti dia nyrocos
sampe tengah malam.”
Aku merasa pandanganku mulai kabur, mungkin ini karena
butiran air yang memenuhi mataku dan aku tahan agar tak meluncur ke pipiku yang
tirus ini. Aku tak menyangka kalau Ilyas pernah memendam rindu padaku. Aku
pikir dia adalah manusia yang senang menyimpan rindunya dan tak mungkin
menceritakan pada orang lain. Ternyata aku salah!
Selesai
dengan lamunanku, makanan kami datang. Dua jagung bakar, dua tusuk sosis bakar,
dua tusuk bakso bakar, dua tusuk tempura, dan dua botol teh. Aku geleng-geleng
melihat hidangan yang tersaji didepanku. Semua makanan terlihat merah karena
disiram oleh sambal.
“Sanggup
habiskan semua ini?” tanya Denis menyelidik.
“Sanggup
dong, yuk hajaaar!!!”
Kami
sibuk dengan makanan masing-masing. Selain itu kami juga sibuk dengan menyeka
keringat kami akibat kepedesan. Denis makan dengan lahap dan cepat sedangkan
aku makan dengan sangat lambat. Tak seperti biasanya aku mengunyah makanan
sebanyak tiga puluh tiga kali. Aku juga makan dengan tenang tanpa menjatuhkan
sambal atau mengotori sekitar mulutku dengan sambal yang super pedas ini.
Aku
melirik ke arah Denis yang kini minum teh botol, dia minum layaknya orang
kehausan. Dan aku hanya tersenyum geli. Sadar kalau diperhatikan, Denis
menghentikan aktivitasnya dan mengerutkan dahinya.
“Lu
kenapa ngeliatin gua?” tanya Denis dengan muka bingung.
“Lu
kalau makan-minum yang pelan napaa, kayak dikejar waktu aja!”
“Iya
gua emang dikejar waktu, gua makan cepet biar bisa memperhatikan lu makan dan
ngobrol lama sama elu. Hehe.” Lagi-lagi Denis mengeluarkan kata-kata gombalnya.
Entahlah, biasanya aku selalu merasa
risih kalau mendengar gombalan dari Oka, tapi sekarang justru tersenyum malu
jika gombalan itu keluar dari mulut Denis.
Tak
terasa jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, pantas saja
pengunjung mulai meninggalkan tempat ini dan hanya beberapa yang masih bersenda
gurau. Aku sudah mulai mengatuk, dan kami pun memutuskan untuk kembali ke rumah
kontrakkan. Denis membayar semua makanan sedangkan aku menunggu di parkiran
motor. Aku selalu memperhatikan Denis dari kejauhan, mata ini rasanya berat
kalau tidak melihat Denis sedetik saja.
Denis menghampiriku dan memberikan helm padaku. Baru saja
motor dinyalakan, ada seorang perempuan muda menghampiri kami.
“Kak
Denis?”sapa perempuan tersebut dengan senyum sumringah, dan Denis mulai terlihat panik sambil sesekali melirik
ke arahku. Aku tak tahu arti lirikan Denis, dan siapa pula perempuan itu?
“Loh,
Lu Riza kan? Riza yang ngerebut gebetan sahabat gua? Terus sekarang lu jalan
sama Kak Denis?” Perempuan itu meninggikan suaranya dan tampak ekspresi kesal
diwajahnya. Aku hanya memandanginya dengan tatapan bingung.
“Gila!!!
Lu cewek apaan sih! Lu pacaran sama Kak Ilyas dan sekarang justru jalan sama
sahabatnya sampai tengah malam begini!” wanita itu kembali menaikan suaranya dan
kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya itu justru membuatku naik pitam.
“Dek,
Cukup!” kini Denis urun bicara dengan nada yang dibuat sepelan mungkin lalu
Denis melihat sekeliling berharap kami tidak menjadi tontonan bagi orang disekitar kami.
“Eh,
Riza gua harap lu segera deh pulang ke Jakarta. Dan satu lagi lu nggak usah sok
akrab majang foto lu bareng denis dan mamahnya di line. Lu sampein juga ke
pacar lu yang sok kegantengan itu, jangan PHP-in sahabat gua lagi. Ngerti??!”
“Iya gua
ngerti! Tapi lu tau id line gua dari siapa ya?” tanyaku dengan nada pelan dan
sekuat tenaga menekan rasa marah yang ingin segera keluar dari mulut ini.
“Oya,
lu juga nggak usah nge-tag foto
kalian berdua di instagram-nya Ilyas deh! Bikin gua sakit mata tau nggak!”
“Sorry
ya mbak gua tanya sekali lagi, lu tau id line gua dari siapaa???” tanyaku pelan
namun dengan penekanan di setiap katanya.
“Buat
dapetin id line lu mah gampang, kalau gua mau gua juga bisa kepo path atau
instagram elu!”
Aku
tersenyum mendengar jawaban perempuan tersebut. “Hmm, gitu. Ya udah mending lu
kepo path gua aja deh biar lu puas dan lu bisa dapetin semua info tentang gua.
Sekarang udah malem, gua harus balik ke kontrakan Ilyas.”
“Apa???
Kontrakan Ilyas???” perempuan itu kembali berteriak.
“Iya, emangnya nggak boleh gua nginep
di kontrakan dia? Lagi pula gua sering kok nginep di rumah Ilyas.” Aku menjawab
dengan nada ringan lalu naik ke motor disusul Denis yang masih memasang wajah
panik. Sedangkan perempuan itu sengaja aku tinggal, biar saja dia sibuk dengan
pikirannya. Atau kalau dia mau berpikir aku perempuan murahan aku pun nggak
peduli. Lagi pula siapa yang akan melarang aku untuk menginap di kontrakan atau
rumah Ilyas? Aku kan saudara kembarnya! Hahahaha....
***
Sesampainya di kontrakan aku pamit ke Denis untuk masuk
duluan. Sepertinya Ilyas sudah pulang karena pintunya terbuka lebar, saat aku
memasuki kamarnya ternyata Ilyas sedang tidur di lantai. Aneh, dengan kejadian
tadi sore dia masih bisa tidur nyenyak malam ini???
“Yas,
banguuun!” aku mengusap pelan punggungnya, lalu Ilyas membuka matanya
pelan-pelan dan memelukku erat.
“Lu
kenapa?”tanyaku khawatir, namun Ilyas semakin menangis sesenggukan. Aku balas
memeluknya dengan erat, mungkin yang dibutuhkan Ilyas sekarang hanya pelukan
dari saudara kembarnya.
Sudah
seperempat jam Ilyas memelukku namun dia belum juga melepaskan pelukannya.
Punggungku mulai pegal menopang tubuh Ilyas yang lebih besar dariku. Kini tidak
terdengar lagi tangisan dan aku rasa Ilyas sudah mulai bisa diajak bicara.
“Lu
udah ketemu Ara?”tanyaku pelan sambil melepaskan pelukan Ilyas.
“Udah
dan Ara bilang kalau dia bakal ngejauhin gua.”
“Kalau
gitu kenapa lu malah nangis? Bukannya ini tujuan lu nyuruh gua jadi pacar
gadungan elu?”
“Sebenarnya
gua sayang sama dia, sayang banget! tapi gua nggak bisa karena sahabat gua juga
sayang sama dia.”
“Siapa?
Denis?” tanyaku dengan cepat lalu Ilyas menggelengkan kepalanya dan bersamaan
dengan itu aku menghela nafas dan mengucap syukur dalam hati.
“Toni
temen satu kontrakan gua.” Ilyas menjawab dengan nada pelan dan aku mengerti
sekarang mengapa hanya Denis yang tahu bahwa aku adalah saudara kembarnya Ilyas. Aku juga paham sekarang mengapa Ilyas justru sedih saat
penyamaranku sebagai pacar gadungannya berhasil.
“Gua ngerti
perasaan lu sekarang, tapi lu mau sampai kapan mikirin perasaan orang lain dan
mengabaikan perasaaan lu sendiri? Gua harap lu jujur sama perasaan lu, minta
maaf ke Ara dan bilang kalau kita adalah saudara kembar.”
“Udah
terlabat, Yan. Kalau gua jujur Ara pasti tambah benci ke gua begitu juga dengan Toni.
Gua nggak mau persahabatan gua hancur hanya masalah cewek.”
“Mungkin
pada awalnya mereka akan benci, tapi percaya deh seiring berjalannya waktu
mereka pasti akan ngerti dan semua akan kembali seperti biasa, Yas. Lebih baik
lu jujur sekarang dari pada menutupi kebohongan yang justru ngebuat lu tersiksa
begini.”
“Nggak
tau deh, gua masih belum bisa mikir sekarang yang terpenting jalani aja dulu.
Lu nanti tidur di tempat tidur ya biar gua tidur di lantai.” Ilyas beranjak meninggalkanku
dan menggelar tikar lalu tidur dengan menutupi wajahnya menggunakan selimut.
Aku memutuskan untuk ke teras rumah dulu untuk mencari
udara segar, namun saat keluar kamar aku justru dikejutkan dengan dua sosok
yang terduduk diam di ruang tamu.
“Kalian
sejak kapan disitu?”tanyaku panik kepada Denis dan Toni.
“Ilyas
udah tidur?” tanya Toni pelan dan aku menganggukan kepala.
Denis
berjalan menghampiriku, menutup pintu kamar Ilyas lalu menarik tanganku menuju
sofa ruang tamu.
“Gua
dengar pembicaraan kalian barusan, dan Denis juga sempat cerita kalau kalian
sebenarnya saudara kembar.” Toni memulai pembicaraan dengan suara yang berat.
“Jujur
gua emang sayang sama Ara tapi gua nggak mungkin egois sama perasaan gua.”
Lanjut Toni.
“Maksudnya?” aku
mengerutkan dahi tanda tak mengerti.
“Kalian
mau bantu gua nggak?”
“Bantu apa?”tanya Denis penasaran.
“Kalian
tolong jelasin semuanya ke Ara, karena gua yakin Ilyas nggak bakal ngelakuin
ini. Dan untuk masalah gua dengan Ilyas, biar gua aja yang beresin. Gimana?”
Aku
menatap Denis dengan tatapan bingung lalu Denis menganggukan kepalanya tanda
agar aku mau setuju dengan apa yang Toni minta.
“Iya
deh gua setuju.” Jawabku pelan.
“Oke,
berarti besok gua dan Ilyan ketemu Ara sedangkan elu ngobrolin semuanya ke
Ilyas. Gitu kan?”
“Iya.
Makasih ya kalian semua udah mau bantuin gua.” Kata Toni dengan senyum
kecilnya.
“Justru
gua yang harusnya makasih ke elu. Lu udah mau berkorban dan makasih juga karena
lu nggak benci abang gua.” aku menatap Toni dengan mata berkaca-kaca.
“Nggak
mungkin lah gua benci sama Ilyas. Gua malah merasa bodoh banget kenapa gua
nggak tau tentang perasaannya ke Ara padahal dia sahabat baik gua.”
“Ya
udah bro, nggak ada gunanya untuk menyesali semua ini. Apapun yang terjadi lu
berhak bahagia dengan atau pun tanpa Ara.” Denis menenangkan Toni lalu
memeluknya dengan erat. Dia pun sempat melirik ke arahku dan memperlihatkan senyum manisnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar