Jumat, 05 Februari 2016

AMABELLE// Heartache


         "Hanya diriku yang mampu mengisi hatinya, namun aku membuat kesalahan karena menghindarinya"

        Sudah dua hari ini hujan terus  membasahi bumi Jakarta, dan sudah dua hari pula aku menghindari Kiki. Entah mengapa sejak kejadian malam itu ada rasa canggung yang menghampiriku. Bayang-bayang Kiki selalu menghantui dan menggeser sosok Denis yang selama ini tersimpan di salah satu sudut hati ini.
         
         “Yaaaaan, ada Ori di depan!!!” Teriak Bunda dengan suara delapan oktafnya.
      
       Aku mengerutkan dahi, kenapa pula Ori datang di saat yang tidak tepat! Di ruang tamu ada sosok yang sedang aku hindari. Ia dan ayah sedang mendiskusikan usaha yang akan di jalankannya. 

        Aku mengumpulkan keberanian dan segera memakai jaket tebal karena malam ini begitu dingin ditambah lagi aku sedang flu berat akibat sering kehujanan. Dengan setengah hati, aku paksakan diri ini menemui Ori namun diluar dugaan aku justru berpapasan dengan Kiki di ruang tengah. Kiki hanya menoleh kearahku tanpa menyapa lalu ia berjalan tenang menuju dapur. Kesal rasanya diperlakukan seperti ini, apakah ia marah karena selama ini aku menghindarinya? Apakah ia nggak terima karena sampai sekarang aku belum menjawab pertanyaannya?
      Rasa kecewa semakin memuncak di dada, dan dengan muka ditekuk aku menemui Ori yang bersiul santai di teras rumah.

      “Dih, kusut amat kayak jemuran kering!” protes Ori sambil menepuk pundakku dengan keras, dan seketika itu aku langsung bersin-bersin.
      “Riiiii, tangan lo pasti banyak kumannya ya sampai bikin gua bersin gini!” teriaku kesal sambil mengusap bahu yang kesakitan.
        “Enak aja, gua kan calon doker yang higienis jelas terhindar dari kuman! Lu sakit?”
        “Iya nih, gua kehujanan mulu sepulang dari kampus.”
       “Makanya kalau hujan dan butuh tebengan hubungin Pras aja. Dia kan kemana-mana bawa mobil jadi lu nggak perlu kehujanan gini.”
       “Ri, kecilin suara lu! Nggak biasa-biasanya keras begini!”
    Ori malah menahan tawa mendengar aku yang protes tentang volume suaranya. “Gua sengaja teriak biar Kiki denger! Lu gimana sama dia? Udah baikan?” tanya Ori sambil berbisik ke arahku.
      “Dasar lu! Gua nggak pernah marahan sama dia, gua cuman ngehindar dari dia aja kok!” jawabku dengan suara yang sama pelannya dengan Ori.
       “Yeee, itu sama aja kaleeee.”
    “Eh, ngomong-ngomong ngapain lu kesini?” tanyaku dengan volume suara yang kembali normal.
       “Azra ngajak balikan, menurut lu gimana?” tanya Ori dengan wajah serius.
           
        Aku menarik nafas panjang dan mencoba berpikir sejenak.
            
    “Denis juga ngajak gua balikan, sedangkan Kiki ngajak gua jadi pacarnya. Menurut lu gimana?” Aku balik bertanya pada Ori dengan wajah yang tak kalah serius dengan dia.
       “Aaah, dasar Alien! Gua jauh-jauh kemari malah nggak dapet solusi!”
       “Makanya kalau curhat tuh liat-liat dulu. Lu tau sendiri gua punya masalah yang sama kayak lu, gimana gua bisa kasih solusi?!”
     “Nasib kita kok sama mulu ya? Waktu gua putus, lu juga ikutan putus. Dan sekarang kita sama-sama diajak balikan sama mantan.”
     Ori merangkulku lalu melanjutkan kalimatnya, “Yan, lu udah gua anggap adik sendiri dan karena kita saudara maka kita juga berhak bahagia dengan keputusan yang akan kita ambil. Gua pesen, pertimbangin dengan matang siapa sosok yang harus lu perjuangin. Entah sosok yang baru lo kenal, atau sosok yang udah lama lu kenal namun pernah menghianati cinta lu.”

       Aku termenung sejenak, mencermati apa yang baru dikatakan Ori. Sepertinya kedatangan Ori bukan untuk curhat tentang masalahnya, tapi dia sengaja datang untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang sedang aku hadapi. Beginilah Ori, ia lebih suka memberi solusi dengan cara yang terkadang nggak disangka oleh orang sekitarnya.
     Setelah Ori pulang, aku kembali menuju kamar. Aku kaget saat melihat sosok tinggi dengan rambut yang diikat rapi berdiri di depan kamarku sambil memegang sebuah cangkir. Ia lalu memberikan cangir tersebut kepadaku dengan ekspresi muka yang masih datar.
            
      “Sorry teh-nya udah mulai dingin, tapi perlu lo tau perasaan gue ke lo masih sama hangat nya seperti dulu walapun lo mencoba terus menghindar dari gue.”
           
      Ya Tuhaaaaan, mataku mulai terasa panas. Aku sudah nggak kuat lagi menahan air mata yang ingin keluar dari kantung mata yang mulai berat ini. Dan akhirnya air mata ini sukses meluncur dengan lancar lalu Kiki mengusap air mata yang perlahan mulai membasahi pipiku, dan ia mengusap pelan ubun-ubunku.
           
     “Gue nggak pernah mau maksa lo buat punya perasaan yang sama kayak gue. Karena lo berhak bahagia dengan orang yang lo pilih.” Kata Kiki pelan sambil tersenyum manis kepadaku. Ia mengeluarkan sebuah plastik dari kantongnya, lalu berjalan menjauhiku. Sedangkan aku tetap berdiri kaku memandangi teh dan sebuah plastik yang berisi obat-obatan yang baru saja ia berikan.
            
       Bagaimana bisa aku mengenal sosok lelaki seperti dia? Sosok yang dewasa, hangat, dan mencintai aku dengan tulus. Tapi aku justru heran, mengapa hati ini sulit berdamai dengan cinta tulus tersebut? Apa yang membuat aku berat menyambut cintanya? Padahal sudah cukup lama aku mendambakan sosok yang memiliki sifat-sifat tersebut.
       
     Sadar karena aku telah membuat kesalahan, aku menghampirinya ke ruang tamu. Namun sayang, hanya ada Ayah di ruang tamu tersebut.
      “Yah, bang Kiki mana?”
      “Kiki baru aja pulang, kenapa?” tanya Ayah bingung.
      “Hmm, ya udah deh Ilyan balik ke kamar lagi, Yah.” Jawabku dengan suara yang pelan.

      Lagi-lagi aku kehilangan kesempatan untuk berdamai dengan Kiki. Mungkin ini resiko yang harus aku terima akibat diri yang terlalu egois memikirkan perasaan sendiri. Maafkan aku bang Kiki, maafkan aku yang telah sengaja tidak membaca ketulusan yang ada pada dirimu. Dan maafkan aku yang masih terlalu gengsi menerima cintamu yang begitu tulus kepadaku.
                                                                         ***

       “Hallo, Vis, ada apa?”
      “HP abang gue ketinggalan di rumah elo nggak? Soalnya dia cari-cari di rumah nggak ada.”
       “Hmm, gitu. Ya udah gua cari dulu ya, nanti kalau udah ketemu gua hubungin elu.”
       “Oke, thanks ya Yan. Bye!”
            
     Aku segera mencari ke tempat-tempat yang di datangi Kiki malam tadi. Mulai dari dapur, kamar mandi, ruang tamu, hingga teras rumah namun belum juga aku temui. Karena putus asa, aku mencoba menghubingi nomornya, dan benar saja Hp-nya berdering dengan lagu one ok rock yang berjudul heartache.

So this is heartache?
Jadi ini adalah sakit hati?
So this is heartache?
Jadi ini adalah sakit hati?
Ano hi no kimi no eiga wa, Omoide ni kawaru
Senyumanmu di saat itu kini berubah menjadi kenangan
I miss you
Aku merindukanmu

Boku no kokoro o Yuitsu mitashite satte yuku OKimi ga
Hanya dirimu yang dapat mengisi hatiku dan kamu pergi
Boku no kokoro ni Yuitsu furerareru koto ga dekita Kimi wa
Hanya dirimu yang bisa menyentuh hatiku

Oh baby
Oh kasih
Mou inai yo mou nanimo nai yo
Tidak ada lagi, tidak ada apapun lagi
. Yeah I wish that I could do it again
Yah aku berharap bahwa aku bisa melakukannya lagi
ooh Turnin’ back the time
Menghidupkan kembali waktu
Back when you were mine (all mine)
Saat kau milikku (milikku)

            Aku menghampiri ke arah sumber suara, dan tersenyum saat melihat foto beserta nama yang tertera di layar Hp. Di layar tertera fotoku yang sempat ia ambil saat kami sedang mendiskusikan tentang usahanya sedangkan nama yang tertera di layar tersebut adalah “Amabelle”, yah aku tersenyum karena tahu arti kata dari nama tersebut. Amabelle berasal dari bahasa romawi yang artinya adalah pantas dicintai. Aku jadi teringat akan kata-kata yang pernah disampaikan Kiki kepadaku. Betapa ia dapat dengan mudah jatuh hati padaku setiap harinya karena menurutnya aku memang pantas di cintai.
                                                                         ***

Tidak ada komentar: