"Hanya diriku yang mampu mengisi hatinya, namun aku membuat kesalahan karena menghindarinya"
Sudah
dua hari ini hujan terus membasahi bumi
Jakarta, dan sudah dua hari pula aku menghindari Kiki. Entah mengapa sejak
kejadian malam itu ada rasa canggung yang menghampiriku. Bayang-bayang Kiki selalu
menghantui dan menggeser sosok Denis yang selama ini tersimpan di salah satu
sudut hati ini.
“Yaaaaan, ada Ori di depan!!!”
Teriak Bunda dengan suara delapan oktafnya.
Aku mengerutkan dahi, kenapa pula
Ori datang di saat yang tidak tepat! Di ruang tamu ada sosok yang sedang aku
hindari. Ia dan ayah sedang mendiskusikan usaha yang akan di jalankannya.
Aku mengumpulkan keberanian dan
segera memakai jaket tebal karena malam ini begitu dingin ditambah lagi aku
sedang flu berat akibat sering kehujanan. Dengan setengah hati, aku paksakan
diri ini menemui Ori namun diluar dugaan aku justru berpapasan dengan Kiki di ruang
tengah. Kiki hanya menoleh kearahku tanpa menyapa lalu ia berjalan tenang menuju
dapur. Kesal rasanya diperlakukan seperti ini, apakah ia marah karena selama
ini aku menghindarinya? Apakah ia nggak terima karena sampai sekarang aku belum
menjawab pertanyaannya?
Rasa kecewa semakin memuncak di dada, dan
dengan muka ditekuk aku menemui Ori yang bersiul santai di teras rumah.
“Dih, kusut amat kayak jemuran
kering!” protes Ori sambil menepuk pundakku dengan keras, dan seketika itu aku
langsung bersin-bersin.
“Riiiii, tangan lo pasti banyak
kumannya ya sampai bikin gua bersin gini!” teriaku kesal sambil mengusap bahu
yang kesakitan.
“Enak aja, gua kan calon doker yang
higienis jelas terhindar dari kuman! Lu sakit?”
“Iya nih, gua kehujanan mulu
sepulang dari kampus.”
“Makanya kalau hujan dan butuh
tebengan hubungin Pras aja. Dia kan kemana-mana bawa mobil jadi lu nggak perlu
kehujanan gini.”
“Ri, kecilin suara lu! Nggak biasa-biasanya
keras begini!”
Ori malah menahan tawa mendengar aku
yang protes tentang volume suaranya. “Gua sengaja teriak biar Kiki denger! Lu
gimana sama dia? Udah baikan?” tanya Ori sambil berbisik ke arahku.
“Dasar lu! Gua nggak pernah marahan
sama dia, gua cuman ngehindar dari dia aja kok!” jawabku dengan suara yang sama
pelannya dengan Ori.
“Yeee, itu sama aja kaleeee.”
“Eh, ngomong-ngomong ngapain lu
kesini?” tanyaku dengan volume suara yang kembali normal.
“Azra ngajak balikan, menurut lu
gimana?” tanya Ori dengan wajah serius.
Aku menarik nafas panjang dan
mencoba berpikir sejenak.
“Denis juga ngajak gua balikan,
sedangkan Kiki ngajak gua jadi pacarnya. Menurut lu gimana?” Aku balik bertanya
pada Ori dengan wajah yang tak kalah serius dengan dia.
“Aaah, dasar Alien! Gua jauh-jauh
kemari malah nggak dapet solusi!”
“Makanya kalau curhat tuh liat-liat
dulu. Lu tau sendiri gua punya masalah yang sama kayak lu, gimana gua bisa
kasih solusi?!”
“Nasib kita kok sama mulu ya? Waktu
gua putus, lu juga ikutan putus. Dan sekarang kita sama-sama diajak balikan
sama mantan.”
Ori merangkulku lalu melanjutkan
kalimatnya, “Yan, lu udah gua anggap adik sendiri dan karena kita saudara maka
kita juga berhak bahagia dengan keputusan yang akan kita ambil. Gua pesen,
pertimbangin dengan matang siapa sosok yang harus lu perjuangin. Entah sosok
yang baru lo kenal, atau sosok yang udah lama lu kenal namun pernah menghianati
cinta lu.”
Aku termenung sejenak, mencermati
apa yang baru dikatakan Ori. Sepertinya kedatangan Ori bukan untuk curhat tentang masalahnya, tapi dia sengaja datang untuk memberikan solusi terhadap
permasalahan yang sedang aku hadapi. Beginilah Ori, ia lebih suka memberi
solusi dengan cara yang terkadang nggak disangka oleh orang sekitarnya.
Setelah Ori pulang, aku kembali
menuju kamar. Aku kaget saat melihat sosok tinggi dengan rambut yang diikat
rapi berdiri di depan kamarku sambil memegang sebuah cangkir. Ia lalu memberikan
cangir tersebut kepadaku dengan ekspresi muka yang masih datar.
“Sorry teh-nya udah mulai dingin,
tapi perlu lo tau perasaan gue ke lo masih sama hangat nya seperti dulu walapun
lo mencoba terus menghindar dari gue.”
Ya Tuhaaaaan, mataku mulai terasa
panas. Aku sudah nggak kuat lagi menahan air mata yang ingin keluar dari
kantung mata yang mulai berat ini. Dan akhirnya air mata ini sukses meluncur dengan lancar lalu Kiki mengusap air mata yang perlahan
mulai membasahi pipiku, dan ia mengusap pelan ubun-ubunku.
“Gue nggak pernah mau maksa lo buat
punya perasaan yang sama kayak gue. Karena lo berhak bahagia dengan orang yang
lo pilih.” Kata Kiki pelan sambil tersenyum manis kepadaku. Ia mengeluarkan
sebuah plastik dari kantongnya, lalu berjalan menjauhiku. Sedangkan aku tetap
berdiri kaku memandangi teh dan sebuah plastik yang berisi obat-obatan yang baru saja ia berikan.
Bagaimana bisa aku mengenal sosok
lelaki seperti dia? Sosok yang dewasa, hangat, dan mencintai aku dengan tulus. Tapi
aku justru heran, mengapa hati ini sulit berdamai dengan cinta tulus tersebut? Apa
yang membuat aku berat menyambut cintanya? Padahal sudah cukup lama aku
mendambakan sosok yang memiliki sifat-sifat tersebut.
Sadar karena aku telah membuat
kesalahan, aku menghampirinya ke ruang tamu. Namun sayang, hanya ada Ayah di
ruang tamu tersebut.
“Yah, bang Kiki mana?”
“Kiki baru aja pulang, kenapa?”
tanya Ayah bingung.
“Hmm, ya udah deh Ilyan balik ke
kamar lagi, Yah.” Jawabku dengan suara yang pelan.
Lagi-lagi aku kehilangan kesempatan
untuk berdamai dengan Kiki. Mungkin ini resiko yang harus aku terima akibat
diri yang terlalu egois memikirkan perasaan sendiri. Maafkan aku bang Kiki,
maafkan aku yang telah sengaja tidak membaca ketulusan yang ada pada dirimu. Dan
maafkan aku yang masih terlalu gengsi menerima cintamu yang begitu tulus
kepadaku.
***
“Hallo, Vis, ada apa?”
“HP abang gue ketinggalan di rumah
elo nggak? Soalnya dia cari-cari di rumah nggak ada.”
“Hmm, gitu. Ya udah gua cari dulu ya,
nanti kalau udah ketemu gua hubungin elu.”
“Oke, thanks ya Yan. Bye!”
Aku segera mencari ke tempat-tempat
yang di datangi Kiki malam tadi. Mulai dari dapur, kamar mandi, ruang tamu,
hingga teras rumah namun belum juga aku temui. Karena putus asa, aku mencoba
menghubingi nomornya, dan benar saja Hp-nya berdering dengan lagu one ok rock
yang berjudul heartache.
So this is
heartache?
Jadi ini
adalah sakit hati?
So this is
heartache?
Jadi ini
adalah sakit hati?
Ano hi no
kimi no eiga wa, Omoide ni kawaru
Senyumanmu
di saat itu kini berubah menjadi kenangan
I miss you
Aku
merindukanmu
Boku no
kokoro o Yuitsu mitashite satte yuku OKimi ga
Hanya dirimu
yang dapat mengisi hatiku dan kamu pergi
Boku no
kokoro ni Yuitsu furerareru koto ga dekita Kimi wa
Hanya dirimu
yang bisa menyentuh hatiku
Oh baby
Oh kasih
Mou inai yo
mou nanimo nai yo
Tidak ada
lagi, tidak ada apapun lagi
.
Yeah I wish
that I could do it again
Yah aku
berharap bahwa aku bisa melakukannya lagi
ooh Turnin’
back the time
Menghidupkan
kembali waktu
Back when
you were mine (all mine)
Saat kau
milikku (milikku)
Aku menghampiri ke arah sumber
suara, dan tersenyum saat melihat foto beserta nama yang tertera di layar Hp. Di
layar tertera fotoku yang sempat ia ambil saat kami sedang mendiskusikan
tentang usahanya sedangkan nama yang tertera di layar tersebut adalah “Amabelle”,
yah aku tersenyum karena tahu arti kata dari nama tersebut. Amabelle berasal
dari bahasa romawi yang artinya adalah pantas dicintai. Aku jadi teringat akan kata-kata
yang pernah disampaikan Kiki kepadaku. Betapa ia dapat dengan mudah jatuh hati
padaku setiap harinya karena menurutnya aku memang pantas di cintai.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar