Jumat, 05 Februari 2016

AMABELLE// The End

"Hanya perlu bersabar untuk mendapatkan cinta yang tepat di waktu yang tepat."



Aku segera ganti baju dan bersiap-siap pergi ke rumah Kiki. Tak peduli dengan matahari yang masih malu-malu muncul di permukaan, aku langsung menancap gas ke tempat tujuan. Sudah tak sabar bertemu dengannya untuk meminta maaf atas semua tingkahku yang kurang dewasa akhir-akhir ini. Saat di lampu lalu lintas, aku penasaran dengan isi galery di Hp Kiki. Dengan antusias aku membukanya satu persatu. Tak ada yang spesial dari foto-foto yang ia miliki, sampai akhirnya aku menemukan satu video singkat yang mengulas tentang kebersamaanku dengannya. Ada juga beberapa foto candid yang dia ambil tanpa sepengetahuanku, dan aku tersentuh dibuatnya.

Sadar karena klakson mobil yang berasal dari kendaraan belakangku, aku langsung tancap gas kembali melanjutkan perjalanan. Entah mengapa perjalanan kali ini terasa begitu lama padahal jarum spidometer berada di atas batas  normal. Jantung ini pun berdetak lebih kencang dari biasanya, nafas pun terasa lebih berat saat memikirkan kata-kata apa yang harus aku keluarkan saat berada dihadapan Kiki.

Sesampainya di pintu rumahnya, aku berpapasan dengan Vista yang terbalut dress panjang dengan menenteng clutch bag di tangan kanannya.
“Lu mau kemana? Kok pagi-pagi gini udah cantik banget?” tanyaku dengan penuh rasa bingung.
“Gue mau kondangan. Nah, lo sendiri mau ngapain?” tanya Vista yang juga bingung karena kedatanganku yang terlalu pagi.
“Gua mau balikin Hp-nya Kiki, dia di rumah nggak?”
“Udah ketemu? Syukurlaaah. Tapi si abang lagi kondangan juga, atau hp-nya gue bawa aja? Nanti gue kasih ke bang Kiki.”

Aku menggelengkan kepala dengan cepat, “Tapi gua mau ketemu langsung sama dia, lu bisa hubungin dia nggak?”
“Kagak bisa atuh neng, kan hp dia ada di elu! Gimana kalau lo ikut gue kondangan, nanti Pras juga ikut kok jadi lo nggak perlu khawatir.”
“Oke! Ya udah yuk berangkat sekarang?” ajak ku tanpa pikir panjang.
“Eh, mau kemana lo? Masuk dulu, ganti baju terus gue dandanin. Gua nggak mau datang ke kondangan sama upik abu!” jawab Vista, bak ibu tiri yang jahat. 

Mendengar perintah ibu tiri yang jahat tersebut, sang upik abu pun menurutinya. Aku mengikuti Vista yang berjalan menuju kamarnya. Lalu Vista mencari dress di lemari tempat koleksi baju mahalnya berada. Alhasil Vista memberikanku sagetech womens elegent bodycon formal knit dress berwarna merah hati yang baru ia beli beberapa minggu lalu di salah satu online shop terkenal, selain itu ia juga memberikan sepatu highheels hitam dengan punggung kaki yang terbuka.

Beres dengan pakain dan sepatu yang akan aku pakai, Vista menggiringku ke meja rias. Ia dengan cekatan membiarkan jari lentiknya mengoleskan BB cream dan kawan-kawan ke wajah mungilku. Hanya dalam waktu sepuluh menit sang upik abu dapat berubah menjadi cinderella yang manis jelita.
Tanpa buang waktu kami berdua langsung berangkat ke tempat acara ditemani dengan Pras sebagai supir pribadi kami.
“Lu kenal sama yang punya acara?” tanya Pras yang masih bingung kenapa aku bisa bersama mereka di mobil ini.
“Enggak.” Jawabku cuek.
“lha, terus lu mau ngapain ikut kita dengan dandanan gitu?”
“Lu cerewet dah! Gua mau ketemu sama bang Kiki nih, terus kata Vista suruh ikut kalian.”
“Iya Pras, biarin dah sekali-kali kita biarin si preman kampus ini ikut kita kondangan.” Sahut Vista yang mencoba membelaku, sedangkan pras hanya menganggukan kepala tanda setuju.

Sesampainya di tempat acara aku dibuat heran dengan dekorasi dari tempat tersebut. Dekorasinya sangat sederhana, tak ada panggung besar maupun meja untuk menulis buku tamu. Yang ada hanyalah sebuah taman yang dihiasi dengan sebuah panggung kecil yang sepertinya untuk sang pengantin, selain itu hanya terdapat beberapa tempat duduk panjang dari kayu yang berbaris rapi di atas panggung tersebut.
Tamu yang datang pun baru sedikit, dan aku tidak mengenal mereka semua. Aku bagaikan orang asing yang terdampar di komunitas yang salah. Kami bertiga duduk di bangku paling depan, lalu di susul oleh beberapa orang yang mulai berdatangan memenuhi bangku tersebut.
“yang punya acara ini saudara gue, nanti gue kenalin ke elo.” Bisik vista di telingaku.
“Oke, tapi bang Kiki-nya mana? Tujuan gua ke sini kan untuk ketemu sama dia.”
“Ya elaaah, sabar atuh neng. Bang Kiki nggak bakal kemana-mana, ntar lu juga bakal ketemu.”
“Lu sebegitu kangennya sama Kiki?” tanya Pras dengan tatapan yang menggoda.
“Dih, kebiasaan deh sukanya ngegodain gua!” aku memukul lengan Pras dengan keras.

Tak lama kemudian seorang MC memulai acara pada pagi hari ini dengan penuh keceriaan. Namun, ada sedikit masalah dimana beberapa orang yang harusnya menjadi pengiring pengantin tidak datang. Akhirnya aku dan Vista diminta untuk menjadi pengiring pengantin dengan membawa masing-masing satu buket bunga. Buket bunga yang aku pegang mengundang decak kagum. Buket tersebut tersusun dari ranuculuc, lavender, dedaunan, dan ranting yang memang pas untuk jadi pegangan saat acara pernikahan di taman seperti saat ini.
Aku, Vista dan beberapa wanita pengiring pengantin lainnya sudah berdiri di belakang pengantin putri yang menggunakan gaun putih yang sangat memikat hati. Pengantin tersebut tampak cantik, bak model professional yang ada di majalah-majalah terkenal. Saat MC mempersilahkan pengantin putri untuk naik keatas panggung, kami para pengiring pengantin berjalan di belakangnya lalu mendampinginya berdiri di atas panggung sambil menunggu pengantin  pria datang. Namun, upacara pengantin saat ini berbeda dari upacara yang pernah aku ikuti. Sang pengantin pria baru akan naik keatas panggung setelah mengutarakan beberapa kalimat yang ia sampaikan untuk sang pengantin putri.

Sudah tak sabar rasanya menyelesaikan acara pernikahan yang terkesan lama ini, apalagi aku tak melihat tanda-tanda kedatangan orang yang aku cari. Perasaanku mulai cemas, bagaimana kalau nanti aku tak bertemu dengan Kiki? Atau bagaimana kalau Kiki tak mau menemui aku? Aaaah, entahlah yang pasti aku harus pasang muka tenang karena sang pengantin pria akan mengutarakan isi hatinya untuk si pengantin putri.

“Teruntuk wanita yang selalu ada di dalam hatiku. Aku tahu betul perasaanku padamu  tulus berasal dari dalam hati. Ada asa yang besar untuk memperjuangkan hidup bersama denganmu wahai kasihku.”Sang pengantin pria menghentikan kalimatnya, lalu menarik nafas panjang sebelum melanjutkannya. Hatiku langsung bergetar saat mendengar suara mempelai pria yang menggema karena efek dari sound system.

“Sungguh sudah lama aku mengenal dirimu, dan sudah lama juga aku jatuh hati padamu. Namun, Tuhan punya cerita yang berbeda. Ia baru memperkenalkanku pada mu beberapa bulan lalu. Jujur aku tak pernah masalah dengan seberapa lama aku menunggumu, yang aku sesalkan adalah kau sempat jatuh ke pelukan orang yang salah lalu kau mengadu padaku. Kau menangis, dan tangisanmu itu membuat hati ini mulai memberontak. Andai saja aku lebih dulu dekat denganmu dibandingkan dia, andai saja aku lebih sering memberi kasih sayangku padaku dibanding dia. Mungkin kau akan bahagia dan tak perlu merasakan sakit hati. Namun, inilah kehendak Tuhan  yang harus tetap di syukuri karena Ia mendekatkan kita dengan cara yang indah menurut-Nya.”

Sang mempelai pria kembali menarik nafas panjang, semua tamu yang datang dengan khidmat menunggu lanjutan dari kalimat indah yang akan disampaikannya. Termasuk aku.
“Teruntuk wanita yang selalu ada di dalam hatiku, perlu kau tahu setiap harinya kau telah berhasil membuatku jatuh hati karena kau memang pantas dicintai. Wahai “Amabelle”, wanitaku yang pantas dicintai: Ilyan Riza Nahari, maukah menikah denganku?”

Saat namaku disebut semua tamu undangan berdiri dan memberi tepuk tangan dengan meriah, begitu juga dengan Pras yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari atas panggung. Vista merangkul bahuku dengan senyum yang merekah, sang pengantin putri ikut bertepuk tangan lalu mundur beberapa langkah dari tempat semula ia berdiri, sedangkan aku masih sibuk mengerutkan dahi sambil berpikir apa yang baru aku dengar barusan adalah benar atau memang aku yang salah dengar?


Belum selesai dengan pikiran yang ada di kepala, tiba-tiba muncul sosok yang dari tadi aku cari yaitu Kiki. Dari belakang panggung ia datang menghampiriku ditemani Ayah, Bunda, Ilyas, dan juga Ori. Melihat ekspresi mukaku yang masih kaget bercampur rasa bingung, Vista menggiringku agar berdiri lebih dekat dengan kakaknya.

“Ilyan, sekali lagi gue tanya. Maukah kamu menikah denganku?” tanya Kiki dengan lembut, lalu ia menyodorkan mic ke mulutku.
“Tapi gua belum lulus!” Jawabku spontan karena saking bingungnya, dan ini justru membuat geli para tamu yang datang.
“Nanti gue bantu lo biar cepet lulus.”
“Tapi gua nggak bisa masak!”
“Nanti gue ajarin lo masak sampai bisa.”
“Tapi gua nggak pinter dandan!”
“Ehm, kalau masalah yang satu itu biar Vista yang ngajarin elu.” Mendengar jawaban Kiki semua tamu undangan langsung tertawa lepas sedangkan aku mengutuk dalam hati mengapa kalimat bodoh seperti itu bisa aku katakan di hadapan banyak orang.

“Tapi gua...” belum sempat melanjutkan kalimatku, Kiki langsung menghentikan alasan yang akan aku keluarkan.
“Lo nggak perlu ragu, gua jatuh hati sama semua yang lo punya dan yang nggak lo punya. Dan gue ngelakuin ini semua karena gue serius dengan perasaan yang gue miliki. Jadi gue ulangin untuk yang ketiga kalinya: Ilyan Riza Nahari, will you marry me??”

Deg.... speechless mendengar pertanyaan yang kembali ia lontarkan. Saking kakunya bibir ini, aku hanya mengangguk dan meneteskan air mata, lalu seluruh tamu kembali bertepuk tangan dengan meriah dan Vista berlari kearahku sambil memelukku dengan erat. Sepertinya pagi ini bukan hanya aku dan Kiki yang bahagia, keluarga, teman-teman, serta semua yang hadir ikut meneteskan air mata haru bercampur senang melihat pertunjukan singkat ini.
                                                                ***


Kiki telah berhasil membuatku jatuh hati setiap harinya. Hampir setiap hari kami berdebat, namun perdebatan tersebut tidak mengurangi rasa cinta kami terhadap satu sama lain. Akhir-akhir ini aku baru tahu bahwa yang terjadi kemarin adalah rekayasa antara Kiki dan Vista. Mulai dari Hp Kiki yang sengaja ia tinggal, lalu video yang ia simpan di galery, lagu heartache yang sengaja dijadikan dering telpon, sampai pada puncaknya yaitu saat Kiki melamar di acara kondangan gadungan.

Apapun yang terjadi aku tetap bersyukur dan menikmati semua proses yang telah aku jalankan. Aku pun juga bahagia karena sahabat-sahabatku juga merasakan kebahagian dengan jalan ceritanya masing-masing. Pras dan Vista akan melangsungkan pernikahan tahun depan, Ilyas dan Ara masih harmonis sampai sekarang, sedangkan Ori tetap bahagia walaupun berstatus jomblo.

Kini aku tak lagi mengeluh akan cinta yang salah, dan masa lalu yang aku hadapi menjadikan sebuah pelajaran bahwa aku hanya perlu bersabar untuk mendapatkan cinta yang tepat di waktu yang tepat. Karena Tuhan pasti telah menulis jalan ceritaku dengan sangat indah, walaupun pada awalnya aku harus jatuh merasakan rasa sakit agar nantinya aku tahu bagaimana caranya bangkit serta menghargai kebahagiaan yang Ia berikan padaku lewat orang-orang di sekitarku. 

                                                              *T.A.M.A.T*

AMABELLE// Heartache


         "Hanya diriku yang mampu mengisi hatinya, namun aku membuat kesalahan karena menghindarinya"

        Sudah dua hari ini hujan terus  membasahi bumi Jakarta, dan sudah dua hari pula aku menghindari Kiki. Entah mengapa sejak kejadian malam itu ada rasa canggung yang menghampiriku. Bayang-bayang Kiki selalu menghantui dan menggeser sosok Denis yang selama ini tersimpan di salah satu sudut hati ini.
         
         “Yaaaaan, ada Ori di depan!!!” Teriak Bunda dengan suara delapan oktafnya.
      
       Aku mengerutkan dahi, kenapa pula Ori datang di saat yang tidak tepat! Di ruang tamu ada sosok yang sedang aku hindari. Ia dan ayah sedang mendiskusikan usaha yang akan di jalankannya. 

        Aku mengumpulkan keberanian dan segera memakai jaket tebal karena malam ini begitu dingin ditambah lagi aku sedang flu berat akibat sering kehujanan. Dengan setengah hati, aku paksakan diri ini menemui Ori namun diluar dugaan aku justru berpapasan dengan Kiki di ruang tengah. Kiki hanya menoleh kearahku tanpa menyapa lalu ia berjalan tenang menuju dapur. Kesal rasanya diperlakukan seperti ini, apakah ia marah karena selama ini aku menghindarinya? Apakah ia nggak terima karena sampai sekarang aku belum menjawab pertanyaannya?
      Rasa kecewa semakin memuncak di dada, dan dengan muka ditekuk aku menemui Ori yang bersiul santai di teras rumah.

      “Dih, kusut amat kayak jemuran kering!” protes Ori sambil menepuk pundakku dengan keras, dan seketika itu aku langsung bersin-bersin.
      “Riiiii, tangan lo pasti banyak kumannya ya sampai bikin gua bersin gini!” teriaku kesal sambil mengusap bahu yang kesakitan.
        “Enak aja, gua kan calon doker yang higienis jelas terhindar dari kuman! Lu sakit?”
        “Iya nih, gua kehujanan mulu sepulang dari kampus.”
       “Makanya kalau hujan dan butuh tebengan hubungin Pras aja. Dia kan kemana-mana bawa mobil jadi lu nggak perlu kehujanan gini.”
       “Ri, kecilin suara lu! Nggak biasa-biasanya keras begini!”
    Ori malah menahan tawa mendengar aku yang protes tentang volume suaranya. “Gua sengaja teriak biar Kiki denger! Lu gimana sama dia? Udah baikan?” tanya Ori sambil berbisik ke arahku.
      “Dasar lu! Gua nggak pernah marahan sama dia, gua cuman ngehindar dari dia aja kok!” jawabku dengan suara yang sama pelannya dengan Ori.
       “Yeee, itu sama aja kaleeee.”
    “Eh, ngomong-ngomong ngapain lu kesini?” tanyaku dengan volume suara yang kembali normal.
       “Azra ngajak balikan, menurut lu gimana?” tanya Ori dengan wajah serius.
           
        Aku menarik nafas panjang dan mencoba berpikir sejenak.
            
    “Denis juga ngajak gua balikan, sedangkan Kiki ngajak gua jadi pacarnya. Menurut lu gimana?” Aku balik bertanya pada Ori dengan wajah yang tak kalah serius dengan dia.
       “Aaah, dasar Alien! Gua jauh-jauh kemari malah nggak dapet solusi!”
       “Makanya kalau curhat tuh liat-liat dulu. Lu tau sendiri gua punya masalah yang sama kayak lu, gimana gua bisa kasih solusi?!”
     “Nasib kita kok sama mulu ya? Waktu gua putus, lu juga ikutan putus. Dan sekarang kita sama-sama diajak balikan sama mantan.”
     Ori merangkulku lalu melanjutkan kalimatnya, “Yan, lu udah gua anggap adik sendiri dan karena kita saudara maka kita juga berhak bahagia dengan keputusan yang akan kita ambil. Gua pesen, pertimbangin dengan matang siapa sosok yang harus lu perjuangin. Entah sosok yang baru lo kenal, atau sosok yang udah lama lu kenal namun pernah menghianati cinta lu.”

       Aku termenung sejenak, mencermati apa yang baru dikatakan Ori. Sepertinya kedatangan Ori bukan untuk curhat tentang masalahnya, tapi dia sengaja datang untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang sedang aku hadapi. Beginilah Ori, ia lebih suka memberi solusi dengan cara yang terkadang nggak disangka oleh orang sekitarnya.
     Setelah Ori pulang, aku kembali menuju kamar. Aku kaget saat melihat sosok tinggi dengan rambut yang diikat rapi berdiri di depan kamarku sambil memegang sebuah cangkir. Ia lalu memberikan cangir tersebut kepadaku dengan ekspresi muka yang masih datar.
            
      “Sorry teh-nya udah mulai dingin, tapi perlu lo tau perasaan gue ke lo masih sama hangat nya seperti dulu walapun lo mencoba terus menghindar dari gue.”
           
      Ya Tuhaaaaan, mataku mulai terasa panas. Aku sudah nggak kuat lagi menahan air mata yang ingin keluar dari kantung mata yang mulai berat ini. Dan akhirnya air mata ini sukses meluncur dengan lancar lalu Kiki mengusap air mata yang perlahan mulai membasahi pipiku, dan ia mengusap pelan ubun-ubunku.
           
     “Gue nggak pernah mau maksa lo buat punya perasaan yang sama kayak gue. Karena lo berhak bahagia dengan orang yang lo pilih.” Kata Kiki pelan sambil tersenyum manis kepadaku. Ia mengeluarkan sebuah plastik dari kantongnya, lalu berjalan menjauhiku. Sedangkan aku tetap berdiri kaku memandangi teh dan sebuah plastik yang berisi obat-obatan yang baru saja ia berikan.
            
       Bagaimana bisa aku mengenal sosok lelaki seperti dia? Sosok yang dewasa, hangat, dan mencintai aku dengan tulus. Tapi aku justru heran, mengapa hati ini sulit berdamai dengan cinta tulus tersebut? Apa yang membuat aku berat menyambut cintanya? Padahal sudah cukup lama aku mendambakan sosok yang memiliki sifat-sifat tersebut.
       
     Sadar karena aku telah membuat kesalahan, aku menghampirinya ke ruang tamu. Namun sayang, hanya ada Ayah di ruang tamu tersebut.
      “Yah, bang Kiki mana?”
      “Kiki baru aja pulang, kenapa?” tanya Ayah bingung.
      “Hmm, ya udah deh Ilyan balik ke kamar lagi, Yah.” Jawabku dengan suara yang pelan.

      Lagi-lagi aku kehilangan kesempatan untuk berdamai dengan Kiki. Mungkin ini resiko yang harus aku terima akibat diri yang terlalu egois memikirkan perasaan sendiri. Maafkan aku bang Kiki, maafkan aku yang telah sengaja tidak membaca ketulusan yang ada pada dirimu. Dan maafkan aku yang masih terlalu gengsi menerima cintamu yang begitu tulus kepadaku.
                                                                         ***

       “Hallo, Vis, ada apa?”
      “HP abang gue ketinggalan di rumah elo nggak? Soalnya dia cari-cari di rumah nggak ada.”
       “Hmm, gitu. Ya udah gua cari dulu ya, nanti kalau udah ketemu gua hubungin elu.”
       “Oke, thanks ya Yan. Bye!”
            
     Aku segera mencari ke tempat-tempat yang di datangi Kiki malam tadi. Mulai dari dapur, kamar mandi, ruang tamu, hingga teras rumah namun belum juga aku temui. Karena putus asa, aku mencoba menghubingi nomornya, dan benar saja Hp-nya berdering dengan lagu one ok rock yang berjudul heartache.

So this is heartache?
Jadi ini adalah sakit hati?
So this is heartache?
Jadi ini adalah sakit hati?
Ano hi no kimi no eiga wa, Omoide ni kawaru
Senyumanmu di saat itu kini berubah menjadi kenangan
I miss you
Aku merindukanmu

Boku no kokoro o Yuitsu mitashite satte yuku OKimi ga
Hanya dirimu yang dapat mengisi hatiku dan kamu pergi
Boku no kokoro ni Yuitsu furerareru koto ga dekita Kimi wa
Hanya dirimu yang bisa menyentuh hatiku

Oh baby
Oh kasih
Mou inai yo mou nanimo nai yo
Tidak ada lagi, tidak ada apapun lagi
. Yeah I wish that I could do it again
Yah aku berharap bahwa aku bisa melakukannya lagi
ooh Turnin’ back the time
Menghidupkan kembali waktu
Back when you were mine (all mine)
Saat kau milikku (milikku)

            Aku menghampiri ke arah sumber suara, dan tersenyum saat melihat foto beserta nama yang tertera di layar Hp. Di layar tertera fotoku yang sempat ia ambil saat kami sedang mendiskusikan tentang usahanya sedangkan nama yang tertera di layar tersebut adalah “Amabelle”, yah aku tersenyum karena tahu arti kata dari nama tersebut. Amabelle berasal dari bahasa romawi yang artinya adalah pantas dicintai. Aku jadi teringat akan kata-kata yang pernah disampaikan Kiki kepadaku. Betapa ia dapat dengan mudah jatuh hati padaku setiap harinya karena menurutnya aku memang pantas di cintai.
                                                                         ***