“Tepar (n) keadaan yang
memaksa seseorang menjadi manja dan tak bisa melakukan kegiatan sehari-hari”
Matahari
sudah mengintip dari sela-sela jendela, aku tak sanggup bangun dari tempat
tidur. Badan terasa lemas, mata terasa perih, dan tubuhku mulai menggigil.
Wahai badan, aku mohon
jangan tumbang dulu. Sekarang bukan waktu yang tepat! Besok aku harus mengikuti
seleksi untuk event kejuaraan
nasional.
Aku
mengumpulkan tenaga untuk bangkit dari tempat tidur, namun hasilnya nihil.
Pandanganku semakin kabur. Aku menerka-nerka makanan apa yang bisa membuatku
jadi tak berdaya seperti sekarang. Aah, aku tahu! Dari kemarin aku belum makan,
padahal tenaga ku terkuras saat latihan. Bahkan pisang goreng hasil sogokan
Bunda tak tersentuh satu pun.
Aku
meraih HP yang berada di samping tempat tidurku, siapa yang harus aku hubungi
saat ini? Pras dan Ori? Ah, sepertinya bukan ide bagus karena hari ini mereka
ada seleksi kejuaraan nasional di kampusnya. Ilyas? Nggak ada gunanya, dia ada
di Solo dan nggak memungkinkan untuk pulang kerumah. Aku menarik napas pelan
dan memejamkan mata berharap jika dibawa tidur penyakit ini bisa berkurang dan
aku bisa memeriksakannya ke dokter. Belum lama memejamkan mata, HP ku terus
bergetar. Siapa pula yang menelpon pagi-pagi begini!
“Selamat
pagi sayaaaang...”
Sapaan
ilyas melengking tinggi di telingaku.
“Hmm,
ada apa?”
“Tumben
lu nggak marah-marah? Sakit lu?”
“He’em,
gua sakit jiwa kayak lu.” Jawabku dengan nada datar dan pelan.
“Eeh,
gua serius! Lu sakit? Soalnya perasaan gua nggak enak banget nih dari semalam.”
Aku
tersenyum mendengar nada cemas dari suara Ilyas. Ada enaknya juga punya saudara
kembar, walaupun kita hidup berjauhan setidaknya dia bisa merasakan apa yang
aku rasakan.
“He’em,
badan gua nggak enak banget nih dari tadi pagi.”
“Udah
dibawa ke dokter sama bunda?”
“Bunda
lagi ikut ayah ke Kalimantan. Gua sendirian.”
“Seriusan???” nada
Ilyas semakin meninggi.
“Ya
udah ke dokter gih, lu sanggup kan ke dokter sendiri?” lanjutnya.
“Gua bangun dari tempat tidur aja nggak bisa, gimana ke
dokternya? Udah deh ya, lu mulai bawel bikin gua tambah pusing!”
Aku
memutuskan pembicaraan sepihak dan kembali memejamkan mata. Kusingkirkan
selimut yang dari tadi menutupi badanku, aku mulai kepanasan. Ya Tuhan, kepala
ku bertambah pusing. Bumi serasa berputar dengan cepat, membuat mata ini makin
pedas dan tanpa disadari tetesan air mata mulai muncul dari ujung mataku.
Beberapa jam kemudian....
Aku membuka mata dan sepertinya
keadaanku mulai baikan. Tapi tunggu! Perasaan sebelum tidur aku nggak pakai
selimut tapi kenapa sekarang badanku tertutupi oleh selimut tebal?
“Udah
bangun?”
Aku
menoleh ke sumber suara. Pras!?
“Lu
menggigil kedinginan tapi nggak pakai selimut. Cari mati lu?”
“Lu kok
bisa masuk rumah gua? Kan dikunci.”tanyaku tanpa beranjak dari tempat tidur.
“Gua
mah selalu ada ide buat bobol pintu orang yang lagi sekarat. Haha..”
“Sini
gua periksa dulu, tadi baru gua kompres soalnya.” Lanjutnya tanpa mendengar
jawabanku ia langsung mengeluarkan stetoskop dan mulai memeriksaku.
“Dari
kapan lu ngerasain begini?”
“Tadi
pagi”
“udah
minum obat apa aja?”
Aku
menggelengkan kepala, dan disusul dengan helaan nafas yang berat dari Pras.
“Untung
Ilyas telpon gua, coba kalau nggak. Mau jadi mayat hidup lu? Lain kali kalau lu
sakit hubungin gua atau Ori. Kapan lagi coba di periksa sama calon dokter yang
gantengnya ngalahin Aliando Syarif?”
Aku
mengerutkan dahi, sepertinya kali ini selera humorku hilang. Atau memang
candaan Pras saja yang garing? Entahlah...
Pras menyodorkan beberapa tablet obat dan juga segelas air
putih lalu membantuku meminum semua obat tersebut.
“Hari
ini lu sama Ori ada seleksi kan?”
“Iya,
gua masih nanti malam mainnya. Kalau Ori kayaknya siang ini deh. Nah, nanti malam
giliran Ori yang meriksa elu jadi lu nggak perlu khawatir.”
“Makasih
ya Pras bantuannya.”
“Yaelaah
Yan, kaku amat kayak sama siapa aja. Hahaha..”
Pras
memasukan stetoskop dan juga termometer ke tas ranselnya. Sambil menjinjing tas
ranselnya, ia menghampiri aku lalu menarik selimut sampai leherku kemudian
pamit ke kampus karena ia harus bersiap-siap untuk pertandingan malam nanti.
Aku kembali memejamkan mata dan
istirahat penuh. Aku harap besok pagi sudah kembali bugar dan bisa mengikuti
pertandingan yang sudah lama aku impikan. Tanpa terasa tidurku sangat pulas dan saat membuka mata ruangan kamar sangat
gelap lalu aku menyalakan lampu. Pantas saja gelap ternyata ini sudah jam
setengah sembilan malam. Kini keadaanku sudah mulai membaik. Aku mengirim pesan
pada Ori, isinya kurang lebih memberitahu dia agar tidak usah menjengukku
karena aku sudah baikan sekarang.
Aku berkeliling ke setiap sudut ruang
untuk menyalakan lampu. Saat di meja makan aku melihat piring yang terisi penuh
dengan buah pisang dan juga apel kesukaanku. Pasti Pras yang menyiapkan semua
ini. Dengan dihiasi senyum aku menikmati sebuah pisang yang entah mengapa
terasa pahit tidak seperti biasanya.
“Nasib gua gini banget yak! Ditinggal
ortu, nggak bisa lihat pertandingannya Ory dan Pras. Belum lagi seharian ini
Denis nggak menghubungi gua. Hufff, padahal disaat-saat seperti ini gua justru
ingin mendengar suara Denis” batinku dalam hati.
Telepon rumah berdering, aku berjalan
menghampiri telepon yang ada di dekat TV. Perlahan pandanganku mulai kabur,
lalu aku memutuskan untuk mempercepat langkah kemudian duduk sambil memegang
gagang telepon.
“Halo, selamat malam bisa bicara dengan
Ilyan?”
“Iya ada apa Vista?”
“Lemes amat! Lo lagi sakit?”tanya Vista panik.
“Iya
nih, badan gua nggak enak banget padahal udah minum obat dari Pras.”
“Terus
sekarang Pras dimana?”
“Mungkin
masih di kampus, hari ini--- Hoek---dia ada---Hoek---seleksi kejurnas soalnya.”
Aku menjawab sambil menahan perut yang tiba-tiba saja mual.
“Yan,
lo istirahat dulu gih nanti gue telepon lagi ya.”
“Iya,
makasih ya. Gua mau ke kamar mandi dulu, perut gua mual.”
Aku
langsung meletakkan telepon dan berlari menuju kamar mandi. Semua isi perut
meluncur dengan sempurna dan membuat tubuhku semakin lemas. Aku membaringkan
badan di sofa depan TV yang jaraknya tak jauh dari kamar mandi. Berat rasanya
untuk berjalan ke kamar dengan keadaan seperti ini, padahal suhu di ruangan ini
jauh lebih dingin dibandingkan dengan suhu di kamarku.
Terdengar
suara ketukan pintu dengan keras. Siapa pula yang malam-malam begini bertamu?
Aku berjalan pelan menuju sumber suara dan membukakan pintu.
“Ya
ampun Ilyan lo pucet banget....” Vista langsung memegang wajahku saat aku
membukakan pintu untuk dia dan Kiki. What? Kiki?? OMG, kenapa gua selalu ketemu
dia disaat gua nggak cantik!
“Mending
kita masuk aja ya, kasihan Ilyan kedinginan. Sini gua bantu.” Kiki merangkul
bahuku dan membantuku jalan menuju sofa ruang tamu sedangkan Vista menutup
pintu rumah.
“Rumah
kok sepi? Orang tua elo kemana?” tanya Kiki.
“Mereka
lagi di Kalimantan.”
“Lu
pasti kecapean ya gara-gara latihan kemarin?” tanya Kiki dengan pandangan nelangsa ke raga yang tak berdaya ini.
“Kemarin?” Vista
memandang wajah Kiki dengan pandangan bingung.
“Iya, kemarin abang ke kampus kamu mau ketemu teman dan
abang nggak sengaja ketemu Ilyan disana.” jawab Kiki.
“Kalian
kok cepet banget sampai rumah gua? Padahal perjalanan dari rumah kalian kan
jauh.” aku mengalihkan pembicaraan agar Vista tak berpikir macam-macam.
“Tadinya
gue mau ajak lo makan bertiga. Eh, by the
way lo udah makan belum?” tanya Vista
dan aku hanya bisa menggelengkan kepala.
“Dari
kapan?”
“Dari
kemarin dan tadi pun gua cuman bisa makan pisang doang.”
“Serius???”
tanya mereka kompak seakan tak percaya.
“Ya
udah gua masakin bubur ya? Abang tolong bawa Ilyan ke kamar gih kayaknya dia
perlu istirahat.”
Jiwa
ke-ibuan Vista mulai muncul, dia langsung beraksi di dapur sedangkan Kiki
mengantarku ke kamar untuk beristirahat.
“Makasih
ya Bang, maaf udah ngerepotin kalian malam-malam gini.”
“Iya
santai aja, lagian gue nggak merasa direpotin kok.”
“Bang,
boleh minta tolong ambilkan HP gua di sebelah lu? Gua mau bbm si Pras kayaknya
obat yang dia kasih nggak manjur deh.”
“Apa
nggak sebaiknya langsung dibawa ke dokter aja dibanding harus manggil Pras
malam-malam gini?” tanya Kiki sambil memberikan HP.
“Ini
bukan cuman karena penyakit gua tapi ini demi adik lu juga Bang.”
“Maksudnya?”
Kiki mulai mengerutkan dahi nya dan aku hanya membalas dengan sebuah senyuman.
Setelah
bbm berhasil dikirim, Pras langsung menghubungiku.
“Gua
kesana sekarang ya? Yang lu rasain sekarang apa?”
“Iya
gua tunggu. Gua cuman pusing, lemes, mual dan tadi juga sempat muntah.”
“Badannya masih panas?”
Aku
memegang dahi menggunakan punggung tangan, “Udah nggak kok.”
“Ya
udah tunggu gua, gua harus mampir ke rumah sakit bokap dulu buat bawa
obat-obatan yang sekiranya perlu.”
Aku
menutup telepon dan melihat Kiki yang masih setia memperhatikanku, lalu kami
diam dengan pikiran masing-masing, cukup lama kami terdiam hingga akhirnya Kiki
memecahkan keheningan malam ini.
“Maksud
lu tadi apa, Yan? Kok ini demi Vista juga?”
“Gua
sengaja manggil Pras ke sini supaya...” aku menghentikan kata-kata ku saat
melihat Vista berjalan memasuki kamar dengan semangkuk bubur serta segelas air
putih.
“Kalian
cepat banget akrabnya? Lagi ngobrolin apa sih?” Vista melepar tatapan menggoda
pada kami berdua.
“Kita
lagi ngobrolin lo yang nggak kelar-kelar masak buburnya.” Jawab Kiki sekenanya,
dan aku hanya bisa tersenyum.
“Namanya
juga masak bubur ya pasti lama! Sini gue suapin Ilyan dulu.”
Kiki
langsung bergerak cepat membantuku duduk dan meletakkan bantal di belakang
punggung agar aku nyaman bersandar.
“Ada
gunanya juga gue bawa bang Kiki.” Vista tersenyum riang lalu disusul dengan
cubitan lembut oleh sang kakak.
Aku
memakan suapan pertama dengan pelan, karena tenggorokanku masih sakit dan
rasanya perut ini menolak untuk dimasuki oleh makanan.
“Kok
nggak ada rasanya?”tanyaku pada Vista.
“Masa
sih, perasaan tadi gua udah coba dan rasanya enak.” Vista tak percaya dan
tampak sedih.
“Nggak
ding, gua bercanda! Haha”
“Hmm,
dasar! masih bisa aja bercanda! Nih makan lagi buburnya.”
Vista mendekatkan sendok yang dipenuhi bubur ke mulutku,
belum sempat aku membuka mulut tiba-tiba suara ketukan terdengar tadi pintu
kamarku. Kami bertiga langsung menoleh ke sumber suara, dan disana sudah ada
Pras yang tersenyum kaku sambil menjinjing sekotak peralatan dokter.
“Hai,
kalian disini? Pantas aja pintu rumah nggak kekunci” Sapa Pras sambil
menghampiri kami lalu bersalaman dengan Kiki dan Vista. Tampak kecanggungan
dari wajah Vista dan juga Pras sedangkan Kiki melirik kearahku seakan sudah
mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang tadi belum sempat aku jawab.
“Gimana
kabar Pras? Udah lama banget ya kita nggak ketemu?” Kiki menepuk bahu Pras
dengan pelan dan senyum sumringah.
“Iya
Bang, udah empat tahunan mungkin ya?”
“Sorry
gua boleh periksa Ilyan dulu nggak?”lanjut Pras.
“Ah—iya
boleh. Silahkan.” Kini giliran Vista yang menjawab. Lalu Vista beranjak dari
tempat tidurku dan berjalan ke arah Kiki yang kini berada di belakang Pras.
Pras
mengeluarkan stetoskopnya, lalu menghitung detak jantungku dengan memegang nadi
di tangan kananku sambil memandangi jam tangan favoritnya. Tungguuu!!! Kalau
tidak salah Ori pernah cerita jam tangan yang biasa dipakai Pras itu adalah
pemberian dari Vista sewaktu mereka masih jadian. Aku hanya tersenyum kecil
melihat Pras masih memakai jam tersebut dan tanpa sengaja aku melihat Vista
juga tersenyum kecil ke arah jam yang di pakai Pras.
“Buka
mulut lu!” Pras meletakkan termometer ke mulutku.
“Udah
makan?” tanya Pras, dan aku melemparkan pandangan ke Vista tanda bahwa aku nggak
bisa menjawab pertanyaan tersebut.
“Hari
ini dia cuman makan satu pisang aja dan tadi baru gua suapin bubur tapi baru
beberapa sendok aja.” Vista menjadi juru bicara ku, dan Pras hanya menanggapinya
dengan anggukan kepala. Malam ini Pras menjadi lebih diam dari biasanya, dia
pasti nervous karena bertemu dengan
Vista.
Pras mengetuk-ngetuk perutku diberbagai posisi, “Sakit
nggak?” tanya Pras pelan lalu aku menggelengkan kepala. Dia berpindah posisi ke
dekat uluh hati dan kembali mengetuk-ngetuk dengan jarinya.
“Sakit nggak?”tanya Pras lagi dan aku hanya
mengerutkan dahi dan membuat Pras menarik nafas panjang seakan sadar mengapa
aku tak menjawab pertanyaannya. Pras kemudian mengambil termometer yang ada di
mulutku.
“Sakit ?” Pras kembali bertanya.
“Iya.” Jawabku pendek.
“Gimana Pras?” tanya Kiki.
“Badannya udah nggak terlalu panas bang, dia
sakit tipus dan magh nya udah akut. Jadi dia harus dibawa ke rumah sakit aja
biar di infus dan bisa istirahat total.”
“Gua nggak mau ah ke rumah sakit.”
Jawabku pelan dengan tatapan nelangsa.
Pras menghela nafas berat, “Terus lu
mau gimana?”
“Gua dirumah aja ya?”
“Ya udah tapi lu gua suntik dulu ya?
Mau?”
“Nggak!” Jawabku dengan cepat.
“Ya udah kalau nggak mau disuntik
berarti lu harus dibawa ke rumah sakit.” Kiki mengancam dengan lembut.
Aku memanyunkan bibirku beberapa
centimeter dan Pras hanya tersenyum lalu mengeluarkan jarum suntik yang sudah
diisi dengan cairan yang entah apa namanya. Aku menutup mata dan mengepalkan
tangan lalu jarum suntik mulai terasa menusuk ke kulit namun tak kunjung di
lepas oleh pras.
“Pras kok lama banget sih?” tanyaku
sambil menahan rasa sakit lalu Pras mencabut jarum suntiknya.
“Hehe, sorry, Yan, gua salah. Coba
tangan yang satunya ya?” Pras menjawab dengan nada ringan tanpa dosa dan aku
hanya memandangi pras dengan ekspresi datar.
Pras kembali memasukan jarum suntik ke
tanganku kemudian dia memberikan kapas dibekas suntikan. “Nah, udah
selesai.” kata Pras dengan nada puas.
“Lu yakin Pras, nggak salah lagi?” Kiki
bertanya dengan nada ragu.
“Yakin bang, gua kan calon dokter
professional nggak mungkin salah untuk yang kedua kalinya.”
“Bagus deh...” Kiki tersenyum lega
mendengar jawaban Pras.
“Gua suapin lagi ya, Yan?” Vista
bertanya padaku.
“Hmm, gue aja yang suapin Ilyan. Ada
yang mesti gue obrolin juga ke dia.” Kiki tiba-tiba menawarkan diri, dan ini
justru menarik perhatian kami bertiga.
“Obrolin apa?” tanya kami bebarengan.
“Yaa-yaa ada deh. Mending Vista sama
Pras keluar dulu deh, gue cuman mau ngobrol empat mata. Oke?”
Tanpa mendengar jawaban mereka, Kiki
justru mendorong Pras dan Vista keluar kamar dan menutup setengah pintu
kamarku. Aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan bingung.
“Obrolin apa bang?” tanyaku penasaran dan sedikit salah tingkah.
“Nggak ada!” jawab Kiki, singkat.
“Terus ngapain lu nyuruh Vista dan Pras
keluar kamar?”
“Bukannya ini tujuan lo menghubungi
Pras? Biar dia bisa ketemu Vista kan?”
“Oooh, yayaya gua ngerti sekarang.
Hehe”
“Nah, sekarang abisin dulu nih bubur
keburu dingin.”
Kiki menyuapkan bubur dengan lembut,
melihat Kiki yang seperhatian ini aku jadi ingat Ilyas. Jika Ilyas dirumah
pasti dari tadi dia sudah merawat aku, dan membuatkan bubur kacang ijo kesukaan
ku.
“Lu punya gitar nggak?” tanya Kiki saat
menyuapkan bubur terakhir ke mulutku.
“Ada di kamar Ilyas. Kamarnya ada di
dekat ruang makan, abang ambil aja sendiri sekalian liat mereka berdua lagi
apa, oke?”
Kiki mengacungkan jempolnya ke arahku,
lalu membawa mangkuk kotor keluar dari kamar. Aku menunggu Kiki, namun dia tak
kunjung datang. Apa dia salah kamar? Karena penasaran aku keluar kamar dan
berniat menghampirinya. Namun baru sampai pintu kamar, aku terkejut melihat
Kiki yang sedang menempelkan telinganya ke diding pemisah antara ruang TV
dengan ruang tamu.
Kiki sadar dengan kedatanganku lalu dia
menempelkan telunjuk kemulutnya dan berjalan pelan kearahku sambil membawa
gitar milik Ilyas.
“Lu ngapain?” tanyaku penasaran.
“Gua lagi nguping pembicaraan mereka
berdua.” Jawab Kiki sambil mengantarku ke tempat tidur lalu membantuku
membaringkan badan yang tak berdaya ini.
“Mereka lagi ngobrolin apa?”
“Biasa, masa lalu gitu, gue juga nggak
begitu dengar dengan jelas.”
“Eh, lo mau gue nyanyiin lagu apa?”
lanjut Kiki.
“Terserah bang Kiki aja deh.” Jawabku
dengan cepat karena malas untuk mikir.hehe
Kiki mengambil ikat rambut di saku
celana lalu mengikat tinggi rambut gondrongnya. Kemudian dia memetikan senar
gitar menggunakan jarinya, dan dari intronya saja aku sudah bisa menebak kalau
Kiki akan membawakan lagu milik Tulus yang berjudul sepatu.
Aku sangat menikmati suara Kiki yang
lembut, dan mataku mulai terasa berat. Aku memposisikan badan agar terasa lebih
nyaman lalu memejamkan mata sambil menikmati suara merdu yang keluar dari mulut
Kiki. Kiki menghentikan petikan gitarnya lalu menarik selimut sampai ke
leherku. Mungkin dia berpikir kalau aku sudah tidur, namun aku tetap memejamkan
mata.
Kiki kembali memetik sinar gitar dan
kali ini dia membawakan lagu Pongki Jikustik yang berjudul Seribu tahun
lamanya.
Seribu Tahun Lamanya
Takkan
pernah terhenti, untuk selalu percaya
Walau
harus menunggu 1000 tahun lamanya
Biarkanlah
terjadi, wajar apa adanya
Walau
harus menunggu 1000 tahun lamanya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar