Selasa, 02 Februari 2016

AMABELLE// Tepar!!!


“Tepar (n) keadaan yang memaksa seseorang menjadi manja dan tak bisa melakukan kegiatan sehari-hari”


Matahari sudah mengintip dari sela-sela jendela, aku tak sanggup bangun dari tempat tidur. Badan terasa lemas, mata terasa perih, dan tubuhku mulai menggigil. Wahai badan, aku  mohon jangan tumbang dulu. Sekarang bukan waktu yang tepat! Besok aku harus mengikuti seleksi untuk event kejuaraan nasional.
    Aku mengumpulkan tenaga untuk bangkit dari tempat tidur, namun hasilnya nihil. Pandanganku semakin kabur. Aku menerka-nerka makanan apa yang bisa membuatku jadi tak berdaya seperti sekarang. Aah, aku tahu! Dari kemarin aku belum makan, padahal tenaga ku terkuras saat latihan. Bahkan pisang goreng hasil sogokan Bunda tak tersentuh satu pun.
       Aku meraih HP yang berada di samping tempat tidurku, siapa yang harus aku hubungi saat ini? Pras dan Ori? Ah, sepertinya bukan ide bagus karena hari ini mereka ada seleksi kejuaraan nasional di kampusnya. Ilyas? Nggak ada gunanya, dia ada di Solo dan nggak memungkinkan untuk pulang kerumah. Aku menarik napas pelan dan memejamkan mata berharap jika dibawa tidur penyakit ini bisa berkurang dan aku bisa memeriksakannya ke dokter. Belum lama memejamkan mata, HP ku terus bergetar. Siapa pula yang menelpon pagi-pagi begini!

          “Selamat pagi sayaaaang...”
          Sapaan ilyas melengking tinggi di telingaku.
          “Hmm, ada apa?”
         “Tumben lu nggak marah-marah? Sakit lu?”
          “He’em, gua sakit jiwa kayak lu.” Jawabku dengan nada datar dan pelan.
         “Eeh, gua serius! Lu sakit? Soalnya perasaan gua nggak enak banget nih dari semalam.”
             
        Aku tersenyum mendengar nada cemas dari suara Ilyas. Ada enaknya juga punya saudara kembar, walaupun kita hidup berjauhan setidaknya dia bisa merasakan apa yang aku rasakan.
               
      “He’em, badan gua nggak enak banget nih dari tadi pagi.”
       “Udah dibawa ke dokter sama bunda?”
       “Bunda lagi ikut ayah ke Kalimantan. Gua sendirian.”
       “Seriusan???” nada Ilyas semakin meninggi.
       “Ya udah ke dokter gih, lu sanggup kan ke dokter sendiri?” lanjutnya.
      “Gua bangun dari tempat tidur aja nggak bisa, gimana ke dokternya? Udah deh ya, lu mulai bawel bikin gua tambah pusing!”
               
     Aku memutuskan pembicaraan sepihak dan kembali memejamkan mata. Kusingkirkan selimut yang dari tadi menutupi badanku, aku mulai kepanasan. Ya Tuhan, kepala ku bertambah pusing. Bumi serasa berputar dengan cepat, membuat mata ini makin pedas dan tanpa disadari tetesan air mata mulai muncul dari ujung mataku.
                 
         Beberapa jam kemudian....
    
     Aku membuka mata dan sepertinya keadaanku mulai baikan. Tapi tunggu! Perasaan sebelum tidur aku nggak pakai selimut tapi kenapa sekarang badanku tertutupi oleh selimut tebal?
         “Udah bangun?”
            
        Aku menoleh ke sumber suara. Pras!?
        “Lu menggigil kedinginan tapi nggak pakai selimut. Cari mati lu?”
        “Lu kok bisa masuk rumah gua? Kan dikunci.”tanyaku tanpa beranjak dari tempat tidur.
        “Gua mah selalu ada ide buat bobol pintu orang yang lagi sekarat. Haha..”
    “Sini gua periksa dulu, tadi baru gua kompres soalnya.” Lanjutnya tanpa mendengar jawabanku ia langsung mengeluarkan stetoskop dan mulai memeriksaku.
        “Dari kapan lu ngerasain begini?”
        “Tadi pagi”
        “udah minum obat apa aja?”
           
         Aku menggelengkan kepala, dan disusul dengan helaan nafas yang berat dari Pras.
      
       “Untung Ilyas telpon gua, coba kalau nggak. Mau jadi mayat hidup lu? Lain kali kalau lu sakit hubungin gua atau Ori. Kapan lagi coba di periksa sama calon dokter yang gantengnya ngalahin Aliando Syarif?”
         Aku mengerutkan dahi, sepertinya kali ini selera humorku hilang. Atau memang candaan Pras saja yang garing? Entahlah...

      Pras menyodorkan beberapa tablet obat dan juga segelas air putih lalu membantuku meminum semua obat tersebut.
         “Hari ini lu sama Ori ada seleksi kan?”
        “Iya, gua masih nanti malam mainnya. Kalau Ori kayaknya siang ini deh. Nah, nanti malam giliran Ori yang meriksa elu jadi lu nggak perlu khawatir.”
         “Makasih ya Pras bantuannya.”
         “Yaelaah Yan, kaku amat kayak sama siapa aja. Hahaha..”
                
 Pras memasukan stetoskop dan juga termometer ke tas ranselnya. Sambil menjinjing tas ranselnya, ia menghampiri aku lalu menarik selimut sampai leherku kemudian pamit ke kampus karena ia harus bersiap-siap untuk pertandingan malam nanti.
Aku kembali memejamkan mata dan istirahat penuh. Aku harap besok pagi sudah kembali bugar dan bisa mengikuti pertandingan yang sudah lama aku impikan. Tanpa terasa tidurku sangat pulas  dan saat membuka mata ruangan kamar sangat gelap lalu aku menyalakan lampu. Pantas saja gelap ternyata ini sudah jam setengah sembilan malam. Kini keadaanku sudah mulai membaik. Aku mengirim pesan pada Ori, isinya kurang lebih memberitahu dia agar tidak usah menjengukku karena aku sudah baikan sekarang.
Aku berkeliling ke setiap sudut ruang untuk menyalakan lampu. Saat di meja makan aku melihat piring yang terisi penuh dengan buah pisang dan juga apel kesukaanku. Pasti Pras yang menyiapkan semua ini. Dengan dihiasi senyum aku menikmati sebuah pisang yang entah mengapa terasa pahit tidak seperti biasanya.

“Nasib gua gini banget yak! Ditinggal ortu, nggak bisa lihat pertandingannya Ory dan Pras. Belum lagi seharian ini Denis nggak menghubungi gua. Hufff, padahal disaat-saat seperti ini gua justru ingin mendengar suara Denis” batinku dalam hati.

Telepon rumah berdering, aku berjalan menghampiri telepon yang ada di dekat TV. Perlahan pandanganku mulai kabur, lalu aku memutuskan untuk mempercepat langkah kemudian duduk sambil memegang gagang telepon.

“Halo, selamat malam bisa bicara dengan Ilyan?”
“Iya ada apa Vista?”
            “Lemes amat! Lo lagi sakit?”tanya Vista panik.
            “Iya nih, badan gua nggak enak banget padahal udah minum obat dari Pras.”
            “Terus sekarang Pras dimana?”
              “Mungkin masih di kampus, hari ini--- Hoek---dia ada---Hoek---seleksi kejurnas soalnya.” 

         Aku menjawab sambil menahan perut yang tiba-tiba saja mual.
              
            “Yan, lo istirahat dulu gih nanti gue telepon lagi ya.”
            “Iya, makasih ya. Gua mau ke kamar mandi dulu, perut gua mual.”
               
       Aku langsung meletakkan telepon dan berlari menuju kamar mandi. Semua isi perut meluncur dengan sempurna dan membuat tubuhku semakin lemas. Aku membaringkan badan di sofa depan TV yang jaraknya tak jauh dari kamar mandi. Berat rasanya untuk berjalan ke kamar dengan keadaan seperti ini, padahal suhu di ruangan ini jauh lebih dingin dibandingkan dengan suhu di kamarku.
      Terdengar suara ketukan pintu dengan keras. Siapa pula yang malam-malam begini bertamu? Aku berjalan pelan menuju sumber suara dan membukakan pintu.
               
    “Ya ampun Ilyan lo pucet banget....” Vista langsung memegang wajahku saat aku membukakan pintu untuk dia dan Kiki. What? Kiki?? OMG, kenapa gua selalu ketemu dia disaat gua nggak cantik!
      “Mending kita masuk aja ya, kasihan Ilyan kedinginan. Sini gua bantu.” Kiki merangkul bahuku dan membantuku jalan menuju sofa ruang tamu sedangkan Vista menutup pintu rumah.
        “Rumah kok sepi? Orang tua elo kemana?” tanya Kiki.
         “Mereka lagi di Kalimantan.”
      “Lu pasti kecapean ya gara-gara latihan kemarin?” tanya Kiki dengan pandangan nelangsa ke raga yang tak berdaya ini.
       “Kemarin?” Vista memandang wajah Kiki dengan pandangan bingung.
     “Iya, kemarin abang ke kampus kamu mau ketemu teman dan abang nggak sengaja ketemu Ilyan disana.” jawab Kiki.
            “Kalian kok cepet banget sampai rumah gua? Padahal perjalanan dari rumah kalian kan jauh.” aku mengalihkan pembicaraan agar Vista tak berpikir macam-macam.
       “Tadinya gue mau ajak lo makan bertiga. Eh, by the way  lo udah makan belum?” tanya Vista dan aku hanya bisa menggelengkan kepala.
          “Dari kapan?”
          “Dari kemarin dan tadi pun gua cuman bisa makan pisang doang.”
          “Serius???” tanya mereka kompak seakan tak percaya.
        “Ya udah gua masakin bubur ya? Abang tolong bawa Ilyan ke kamar gih kayaknya dia perlu istirahat.”
                 
     Jiwa ke-ibuan Vista mulai muncul, dia langsung beraksi di dapur sedangkan Kiki mengantarku ke kamar untuk beristirahat.
           “Makasih ya Bang, maaf udah ngerepotin kalian malam-malam gini.”
           “Iya santai aja, lagian gue nggak merasa direpotin kok.”
        “Bang, boleh minta tolong ambilkan HP gua di sebelah lu? Gua mau bbm si Pras kayaknya obat yang dia kasih nggak manjur deh.”
       “Apa nggak sebaiknya langsung dibawa ke dokter aja dibanding harus manggil Pras malam-malam gini?” tanya Kiki sambil memberikan HP.
            “Ini bukan cuman karena penyakit gua tapi ini demi adik lu juga Bang.”
         “Maksudnya?” Kiki mulai mengerutkan dahi nya dan aku hanya membalas dengan sebuah senyuman.
               
          Setelah bbm berhasil dikirim, Pras langsung menghubungiku.
               
          “Gua kesana sekarang ya? Yang lu rasain sekarang apa?”
         “Iya gua tunggu. Gua cuman pusing, lemes, mual dan tadi juga sempat muntah.”
         “Badannya masih panas?”
               
          Aku memegang dahi menggunakan punggung tangan, “Udah nggak kok.”
               
       “Ya udah tunggu gua, gua harus mampir ke rumah sakit bokap dulu buat bawa obat-obatan yang sekiranya perlu.”
        Aku menutup telepon dan melihat Kiki yang masih setia memperhatikanku, lalu kami diam dengan pikiran masing-masing, cukup lama kami terdiam hingga akhirnya Kiki memecahkan keheningan malam ini.
               
         “Maksud lu tadi apa, Yan? Kok ini demi Vista juga?”
        “Gua sengaja manggil Pras ke sini supaya...” aku menghentikan kata-kata ku saat melihat Vista berjalan memasuki kamar dengan semangkuk bubur serta segelas air putih.
      “Kalian cepat banget akrabnya? Lagi ngobrolin apa sih?” Vista melepar tatapan menggoda pada kami berdua.
       “Kita lagi ngobrolin lo yang nggak kelar-kelar masak buburnya.” Jawab Kiki sekenanya, dan aku hanya bisa tersenyum.
              “Namanya juga masak bubur ya pasti lama! Sini gue suapin Ilyan dulu.”
               
       Kiki langsung bergerak cepat membantuku duduk dan meletakkan bantal di belakang punggung agar aku nyaman bersandar.
       “Ada gunanya juga gue bawa bang Kiki.” Vista tersenyum riang lalu disusul dengan cubitan lembut oleh sang kakak.
               
      Aku memakan suapan pertama dengan pelan, karena tenggorokanku masih sakit dan rasanya perut ini menolak untuk dimasuki oleh makanan.
          “Kok nggak ada rasanya?”tanyaku pada Vista.
       “Masa sih, perasaan tadi gua udah coba dan rasanya enak.” Vista tak percaya dan tampak sedih.
          “Nggak ding, gua bercanda! Haha”
          “Hmm, dasar! masih bisa aja bercanda! Nih makan lagi buburnya.”

         Vista mendekatkan sendok yang dipenuhi bubur ke mulutku, belum sempat aku membuka mulut tiba-tiba suara ketukan terdengar tadi pintu kamarku. Kami bertiga langsung menoleh ke sumber suara, dan disana sudah ada Pras yang tersenyum kaku sambil menjinjing sekotak peralatan dokter.
               
       “Hai, kalian disini? Pantas aja pintu rumah nggak kekunci” Sapa Pras sambil menghampiri kami lalu bersalaman dengan Kiki dan Vista. Tampak kecanggungan dari wajah Vista dan juga Pras sedangkan Kiki melirik kearahku seakan sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang tadi belum sempat aku jawab.
       “Gimana kabar Pras? Udah lama banget ya kita nggak ketemu?” Kiki menepuk bahu Pras dengan pelan dan senyum sumringah.
           “Iya Bang, udah empat tahunan mungkin ya?”
        “Sorry gua boleh periksa Ilyan dulu nggak?”lanjut Pras.
      “Ah—iya boleh. Silahkan.” Kini giliran Vista yang menjawab. Lalu Vista beranjak dari tempat tidurku dan berjalan ke arah Kiki yang kini berada di belakang Pras.
                
       Pras mengeluarkan stetoskopnya, lalu menghitung detak jantungku dengan memegang nadi di tangan kananku sambil memandangi jam tangan favoritnya. Tungguuu!!! Kalau tidak salah Ori pernah cerita jam tangan yang biasa dipakai Pras itu adalah pemberian dari Vista sewaktu mereka masih jadian. Aku hanya tersenyum kecil melihat Pras masih memakai jam tersebut dan tanpa sengaja aku melihat Vista juga tersenyum kecil ke arah jam yang di pakai Pras.
              
         “Buka mulut lu!” Pras meletakkan termometer ke mulutku.
        “Udah makan?” tanya Pras, dan aku melemparkan pandangan ke Vista tanda bahwa aku nggak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
     “Hari ini dia cuman makan satu pisang aja dan tadi baru gua suapin bubur tapi baru beberapa sendok aja.” Vista menjadi juru bicara ku, dan Pras hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Malam ini Pras menjadi lebih diam dari biasanya, dia pasti nervous karena bertemu dengan Vista.
  
 Pras mengetuk-ngetuk perutku diberbagai posisi, “Sakit nggak?” tanya Pras pelan lalu aku menggelengkan kepala. Dia berpindah posisi ke dekat uluh hati dan kembali mengetuk-ngetuk dengan jarinya.
“Sakit nggak?”tanya Pras lagi dan aku hanya mengerutkan dahi dan membuat Pras menarik nafas panjang seakan sadar mengapa aku tak menjawab pertanyaannya. Pras kemudian mengambil termometer yang ada di mulutku.
“Sakit ?” Pras kembali bertanya.
“Iya.” Jawabku pendek.
“Gimana Pras?” tanya Kiki.
“Badannya udah nggak terlalu panas bang, dia sakit tipus dan magh nya udah akut. Jadi dia harus dibawa ke rumah sakit aja biar di infus dan bisa istirahat total.”
“Gua nggak mau ah ke rumah sakit.” Jawabku pelan dengan tatapan nelangsa.
Pras menghela nafas berat, “Terus lu mau gimana?”
“Gua dirumah aja ya?”
“Ya udah tapi lu gua suntik dulu ya? Mau?”
“Nggak!” Jawabku dengan cepat.
“Ya udah kalau nggak mau disuntik berarti lu harus dibawa ke rumah sakit.” Kiki mengancam dengan lembut.

Aku memanyunkan bibirku beberapa centimeter dan Pras hanya tersenyum lalu mengeluarkan jarum suntik yang sudah diisi dengan cairan yang entah apa namanya. Aku menutup mata dan mengepalkan tangan lalu jarum suntik mulai terasa menusuk ke kulit namun tak kunjung di lepas oleh pras.
“Pras kok lama banget sih?” tanyaku sambil menahan rasa sakit lalu Pras mencabut jarum suntiknya.
“Hehe, sorry, Yan, gua salah. Coba tangan yang satunya ya?” Pras menjawab dengan nada ringan tanpa dosa dan aku hanya memandangi pras dengan ekspresi datar.

Pras kembali memasukan jarum suntik ke tanganku kemudian dia memberikan kapas dibekas suntikan. “Nah, udah selesai.” kata Pras dengan nada puas.
“Lu yakin Pras, nggak salah lagi?” Kiki bertanya dengan nada ragu.
“Yakin bang, gua kan calon dokter professional nggak mungkin salah untuk yang kedua kalinya.”
“Bagus deh...” Kiki tersenyum lega mendengar jawaban Pras.
“Gua suapin lagi ya, Yan?” Vista bertanya padaku.
“Hmm, gue aja yang suapin Ilyan. Ada yang mesti gue obrolin juga ke dia.” Kiki tiba-tiba menawarkan diri, dan ini justru menarik perhatian kami bertiga.
“Obrolin apa?” tanya kami bebarengan.
“Yaa-yaa ada deh. Mending Vista sama Pras keluar dulu deh, gue cuman mau ngobrol empat mata. Oke?”

Tanpa mendengar jawaban mereka, Kiki justru mendorong Pras dan Vista keluar kamar dan menutup setengah pintu kamarku. Aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan bingung.
“Obrolin apa bang?” tanyaku penasaran dan sedikit salah tingkah.
“Nggak ada!” jawab Kiki, singkat.
“Terus ngapain lu nyuruh Vista dan Pras keluar kamar?”
“Bukannya ini tujuan lo menghubungi Pras? Biar dia bisa ketemu Vista kan?”
“Oooh, yayaya gua ngerti sekarang. Hehe”
“Nah, sekarang abisin dulu nih bubur keburu dingin.”

Kiki menyuapkan bubur dengan lembut, melihat Kiki yang seperhatian ini aku jadi ingat Ilyas. Jika Ilyas dirumah pasti dari tadi dia sudah merawat aku, dan membuatkan bubur kacang ijo kesukaan ku.
“Lu punya gitar nggak?” tanya Kiki saat menyuapkan bubur terakhir ke mulutku.
“Ada di kamar Ilyas. Kamarnya ada di dekat ruang makan, abang ambil aja sendiri sekalian liat mereka berdua lagi apa, oke?”

Kiki mengacungkan jempolnya ke arahku, lalu membawa mangkuk kotor keluar dari kamar. Aku menunggu Kiki, namun dia tak kunjung datang. Apa dia salah kamar? Karena penasaran aku keluar kamar dan berniat menghampirinya. Namun baru sampai pintu kamar, aku terkejut melihat Kiki yang sedang menempelkan telinganya ke diding pemisah antara ruang TV dengan ruang tamu.
Kiki sadar dengan kedatanganku lalu dia menempelkan telunjuk kemulutnya dan berjalan pelan kearahku sambil membawa gitar milik Ilyas.

“Lu ngapain?” tanyaku penasaran. 
Gua lagi nguping pembicaraan mereka berdua.” Jawab Kiki sambil mengantarku ke tempat tidur lalu membantuku membaringkan badan yang tak berdaya ini.
“Mereka lagi ngobrolin apa?”
“Biasa, masa lalu gitu, gue juga nggak begitu dengar dengan jelas.”
“Eh, lo mau gue nyanyiin lagu apa?” lanjut Kiki.
“Terserah bang Kiki aja deh.” Jawabku dengan cepat karena malas untuk mikir.hehe

Kiki mengambil ikat rambut di saku celana lalu mengikat tinggi rambut gondrongnya. Kemudian dia memetikan senar gitar menggunakan jarinya, dan dari intronya saja aku sudah bisa menebak kalau Kiki akan membawakan lagu milik Tulus yang berjudul sepatu.
Aku sangat menikmati suara Kiki yang lembut, dan mataku mulai terasa berat. Aku memposisikan badan agar terasa lebih nyaman lalu memejamkan mata sambil menikmati suara merdu yang keluar dari mulut Kiki. Kiki menghentikan petikan gitarnya lalu menarik selimut sampai ke leherku. Mungkin dia berpikir kalau aku sudah tidur, namun aku tetap memejamkan mata.
Kiki kembali memetik sinar gitar dan kali ini dia membawakan lagu Pongki Jikustik yang berjudul Seribu tahun lamanya.

Seribu Tahun Lamanya

Takkan pernah terhenti, untuk selalu percaya
Walau harus menunggu 1000 tahun lamanya
Biarkanlah terjadi, wajar apa adanya
Walau harus menunggu 1000 tahun lamanya....










Tidak ada komentar: