Selasa, 02 Februari 2016

AMABELLE// All About Denis

“Bahkan jantung ini tak bisa berdetak dengan normal saat mendengar namanya.”

 
Malam ini aku sudah berada di zona aman, bebas melakukan apa saja, dan yang terpenting bebas menggunakan pakaian upik abu kebanggaanku. Aku menjauhkan badanku dari tempat tidur dan melihat isi ruangan mungil yang sangat aku rindukan sejak kemarin. Sambil mengumpulkan kesadaran, aku melihat-lihat pesan di handphone ku yang belum sempat aku baca sejak tadi pagi.

Vista:
Lu dimane bu??
Kuliah udah mau selesai masih aja bolos!

Oka:
Ill, buruan balik jkt! Ada tugas kelompok nih

Pras:
Ilang kmn lo? Nanti malem gue jemput
Jam 8 yes? Nggak boleh telaaaaaat!!!!

08015151****:
Riza, ni gua Denis teman abang lu.
Sampe rmh dg selamat kan?
Jng lupa kl gua ke rmh lu siapin rawon ya...

Whaaaaaattt???? Denis??? OMG, kenapa denyut jantung ini jadi cepet banget begitu liat sms dari Denis?? Terus gua harus jawab apa dooong? Duilee, upik abu langsung jadi panik gini!!!
Aku memejamkan mata sejenak, menarik nafas agar pikiran tenang dan aliran darah ke otak lancar. Sepertinya aku harus menjawab sms dari Denis dengan sewajarnya, dan jangan sampai terkesan kalau aku senang di sms olehnya. Aku langsung membalas sms dari Denis. Nggak ada yang sepesial dari balasanku selain menjawab pertanyaannya dengan sewajarnya walaupun sebenarnya jantung ini masih belum berdetak dengan normal.

Obrolan kami di sms sama serunya seperti obrolan kami kemarin. Kami nggak pernah kehabisan bahan untuk dibicarakan. Nggak perlu menunggu lama untuk membalas sms satu sama lain. Jari yang mulai pegal pun nggak begitu masalah ketika harus mengetik banyak kalimat, posisi dalam mengetik pun selalu berubah-ubah. Mulai dari tiduran dengan posisi terlentang, duduk, jongkok, dan lain sebagainya.
         “Sayaaaang, makan duluuuu” teriak bunda dari ruang tengah. Mendengar seruan itu aku langsung meletakkan HP di atas bantal dan semangat menghampiri bunda.
          “Loh, ayah kok udah pulang?” tanyaku kaget melihat ayah duduk manis di meja makan.
         “Iya, hari ini kerjaan di kantor lagi sedikit jadi ayah bisa pulang lebih awal. Makan dulu gih, jarang-jarang kan kita bertiga bisa makan bareng.”
              
         Aku senang mendengar jawaban ayah, memang benar kami bertiga jarang sekali duduk satu meja saat makan malam karena hampir setiap hari ayah pulang diatas jam delapan malam. Belum lagi aku sering sekali keluyuran dan makan malam diluar. Kadang aku merasa sedih ketika harus membiarkan bunda makan malam sendirian, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa karena aku pun punya kegiatan sendiri di luar rumah.
          “Malam ini kamu di rumah aja kan?”tanya bunda.
          “Ehm, nggak bund. Nanti jam delapan Pras mau ajak jalan Ilyan.”jawabku pelan.
       “Loh, sekarang kamu pacaran sama Pras? Ori gimana?”kali ini ayah yang bertanya dengan dahi yang berkerut.
      “Aku nggak pernah pacaran sama mereka berdua.” jawabaku panik, mendengar jawabanku, ayah plus bunda menahan tawa seakan senang telah melihat eksresi yang tak biasa dari wajah putrinya..
             “Eh, baguslah. Ayah kira kamu pacaran sama salah satu dari mereka dan selingkuh.”
                
Tuduhan yang nggak logis, mana mungkin aku pacaran dengan salah satu dari mereka. Mau kencan dengan mereka aja harus pikir beribu kali. Kalau perlu sholat hajat minta petunjuk biar nggak khilaf mengambil keputusan!hehe.
Obrolan makan malam ini membuat selera makanku berantakan, dan aku kikuk karena pertanyaan serta tuduhan yang ditujukan padaku. Ada-ada aja si ayah, masa iya putri satu-satunya mau sama dua makhluk astral yang nggak jelas perilakunya kayak mereka.
Aku melirik jam, dan tersenyum senang melihat jarum jam menunjuk ke arah setengah delapan. Ini tandanya aku bisa kabur ke kamar dengan alasan mau siap-siap sebelum dijemput Pras. Aku tersenyum pada bunda dan ayah sambil menunjuk ke arah jam. Entah mereka tau dengan bahasa isyaratku atau tidak, yang terpenting adalah aku langsung lari ke kamar sebelum dituduhkan dengan hal-hal yang lebih aneh dibanding tuduhan yang telah aku terima tadi.
        
 Jeans dan kaos yang akan aku pakai sudah tergeletak rapi di lemari dan tanpa pikir panjang aku langsung memakainya. Hari ini aku malas sekali berdandan. Aku hanya mencuci muka lalu menaburkan bedak bayi, bodo amat kalau nanti Pras komentar. Aku memasukan lipstik, tissue, dompet dan juga HP ke dalam tas lalu langsung cabut ke teras menunggu jemputan Pras. Nggak perlu menunggu lama, mobil Pras sudah terparkir di depan rumah.

“Berdua aja kok bawa mobil?” Tanpa menjawab pertanyaanku Pras membuka kaca bagian belakang dan terlihat dua sejoli yang tersenyum ke arahku. Ori dan Azra. Melihat Azra yang tampil cantik, aku menyesal karena membiarkan wajahku hanya disentuh oleh bedak bayi saja. Maka dari itu, aku langsung mengeluarkan sebuah jimat penyelamat berupa lipstik saat  sudah berada di samping Pras yang sedang menyetir mobil. Setidaknya benda ini akan membuat bibirku sedikit berwarna dan fresh.
            “Mata lu kok sembab gitu? Abis nangis?” komentar Pras, penasaran.
            “Nggak lah! Lagian ngapain juga gua nangis.”
        “Iya bener Pras kata dia. Ngapain juga dia nangis, dia kan nggak punya cowok untuk ditangisin! Hahaha” Ori ketawa lepas diikuti oleh Azra dan juga Pras, seakan puas dengan candaan yang baru ditujukan untuk aku.
                 
          Malam hari ini jalanan ibu kota ramai seperti biasanya, namun kami berempat menikmati perjalanan panjang ini dengan canda tawa, dan sesekali melakukan konser di dalam mobil dengan mengandalkan MP3 yang Ori nyalakan dari HP-nya dan aku menggunakan senter yang terdapat di HP untuk lighting agar terkesan sungguhan. Sudah lama sekali kami tidak merasakan kebersamaan yang seperti ini, apalagi sekarang personel kami tambah satu lagi. Not bad laah...
          Keseruan kami nggak hanya berlangsung di dalam mobil saja, tempat tongkrongan kami yang tadinya sepi pengunjung menjadi ramai karena kedatangan kami. Cafe ini bernuasna taman sangat cocok untuk tongkrongan anak muda maupun untuk keluarga. Saat memasuki parkiran cafe yang luas, kami sudah disuguhi lampu taman yang berjejer rapi menyambut kedatangan kami. Saat memasuki cafe, kita harus melewati sebuah pintu berbentuk bulat yang dikelilingi tanaman yang merambat ke pagar. Belum cukup disitu, cafe ini adalah in door namun bagi pengunjung baru pasti mereka mengira bahwa cafe ini out door karena kita dapat melihat langit tanpa harus terhalang oleh pantulan cahaya lampu dari dalam ruangan.
         Seperti malam-malam biasanya, live music selalu hadir saat melewati jam tujuh malam. Kini sang penyanyi membawakan sebuah lagu favoritku yaitu jatuh cinta milik Tulus. Dan seperti judulnya, mungkin kini aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada si penyanyi cafe tersebut. Memang wajahnya nggak bergitu terlihat karena aku sedang nggak memakai kaca mata. Namun pembawaannya saat memainkan gitar plus suaranya yang merdu membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama.  Di tengah-tengah lagu sang penyanyi melihat kearahku dan tersenyum lebar, entahlah aku nggak berani membalas senyum itu mungkin karena aku takut ke GR-an saja atau mungkin dia tersenyum karena tahu bahwa dari tadi aku melihat ke arahnya.
     
      “Sadar woiii!! Ngeliatnya biasa aja....” teriak Ori kencang sekali, aku harap nggak terdengar oleh pengunjung lain maupun si empunya suara emas tersebut.
           “Pelanin dikit suara lu!!!”aku melotot ke arah Ori.
           “Dia paket lengkap ya kak? Cakep, tinggi, bersih, suara bagus.”kali ini Azra urun suara.
         “Nah, gua setuju sama lu Ra” aku tersenyum bahagia karena mendapatkan teman yang sependapat denganku.
        “Waah, ni cewek matanya pada sliwer kali ya. Jelas-jelas cakepan gua, masa kalian nggak nyadar sih!”
            “Eeeh, udah nggak usah berantem.” Pras mencoba menenangkan suasana.
          “Yan, ada telephone tuh dari Denis.”Lanjut Pras sambil melirik HP yang ada di atas meja.
           “Denis?? Denis siapa?” tanya Ori dengan pandangan menyelidik ke arahku.
            “Pacar barunya Kak Ilyan kali.”Azra menjawab sekenanya.
               
         Semua mata tertuju padaku dengan pandangan yang menyelidik, aku merasa tesudutkan bagaikan maling ayam yang ketangkap basah di depan kandang. Aku mengambil HP dengan pelan-pelan lalu melemparkan senyum manis pada mereka bertiga dan dengan ragu-ragu menjawab telephone dari Denis.
       “Hai, Yan, kamu lagi apa? Aku ganggu nggak?” tanya Denis dari seberang sana, but waiiiit. Sejak kapan dia membiasakan diri memanggil dengan sebutan aku-kamu?? Keringat dingin langsung meluncur di pelipisku. Entah aku harus senang atau khawatir dengan panggilan itu.
      “Nggak, kenapa? Ini aku lagi kumpul bareng temen-temen.” mendengar obrolanku, Pras langsung melirik ke Azra dan Ori sambil menggerakan bibir dengan sangat pelan dan terlihat dia mengatakan “aku-kamu” kepada dua makhluk di hadapannya.
     “Sayaaaang, telpon dari siapa sih! Kamu selingkuh ya?!” Tanpa diduga teriakan Ori mengundang tawa Azra dan Pras tapi mengagetkan aku dan juga Denis.      
         “Siapa? Pacar kamu?” kali ini nada suara Denis menjadi dingin.
      “Ha---ah, bukan. Di--dia temenku, biasa lah sirik kalau ada orang lagi telpon.”jawabku dengan gugup.
       Seakan mengerti dengan keadaanku saat ini Denis pamit dan menitipkan salam untuk ketiga makhluk astral yang telah mengganggu obrolannya malam ini. Tentu saja aku dengan sangat senang hati tidak menyampaikan salam tersebut, karena aku tahu dunia akan berguncang dan ketiga makhluk itu akan tertawa sekeras-kerasnnya.
          
         “Lha, kok udahan telphonnya?” tanya Azra dengan tatapan genit.
       “Cieeee, pacar baru?” kali ini Pras bertanya dengan tatapan yang tak kalah genit dari Azra.
         “Eh, seriusan lu udah punya pacar??”Ori bertanya dengan nada penuh semangat dan rasa penasaran. Aku bingung harus mulai menjawab pertanyaan dari siapa yang jelas aku langsung kikuk sekaligus geli melihat ekspresi mereka bertiga yang penasaran campur kaget.
       “Diiih, ekspresi kalian biasa aja deh. Emang kenapa kalau gua punya pacar? Nggak boleh??”aku sengaja balik bertanya agar mereka semakin penasaran. Mendengar pertanyaan itu, Pras yang sedang minum lemon squash tersedak seakan tak percaya.
           “Seriusan??” Azra menatapku lekat-lekat.
       “Waaa, baru aja kemarin kita ngomongin ini. Ternyata kejadian juga” Ori bergumam dengan dirinya sendiri tapi tak ada yang mengerti maksudnya kecuali aku.
            “Udah sejak kapan pacaran?” kali ini nada suara Pras sudah kembali normal.
         “Hehe, belum pacaran juga sih. Baru PDKT, dan gua juga nggak tau ujungnya bakalan pacaran apa nggak, yang penting dijalanin aja dulu.”
           “Ehm, gitu... bagus deh!” lagi-lagi Ori bergumam namun kali ini kami semua mendengar perkataan itu dan secara serempak kami bertanya “maksudnya??”
         “Ya bagus, seenggaknya jangan terburu-buru. Lu harus tau bebet bibit bobotnya. Dan yang jelas dia harus lebih keren dari gua dan Pras.” Ori menjawab dengan sangat percaya diri lalu diamini oleh Pras.
       “Diiih, kalian siapeee? Lagian tanpa harus lu bilang begitu, dia udah pasti lebih dari kalian.”
           “Aaah, masa siih..” kata Pras tak percaya.
                 
         “Haaaaah, ituuuu???” Azra setengah teriak dan menunjuk ke panggung kecil yang dari tadi menjadi base camp si suara emas. Aku langsung mengarahkan pandangan ke panggung tersebut dan tak kalah kagetnya dengan Azra. Aku melihat seorang perempuan dengan dandanan modis menghampiri laki-laki tersebut lalu mendaratkan ciuman di pipi laki-laki itu. mereka berdua terlihat sangat akrab.
      “Lho, itu bukannya si Vista temen SMA kita dan juga satu kampus sama Ilyan?” Ori menyipitkan matanya mencoba memperjelas pandangannya ke arah dua sosok yang sedang menjadi perhatian kami berempat. 

         “Vis-vista mantan gua waktu SMA?” Pras memastikan kebenarannya.
        “Aaaah, iya bener! Itu Kak Vista, pantesan gua nggak asing sama wajahnya dia Kak.” Azra menjawab dengan sangat yakin. Dan kami bertiga hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan pada dua sosok yang terlihat sempurna itu. Sangat mungkin kalau mereka berdua berpacaran, apalagi mereka terlihat sangat cocok. Keduanya memiliki paket lengkap untuk disebut dua sejoli.
                                                                     ***
 
Jatuh Cinta                                                                                  TULUS

Apa yang kini harus kulakukan
Wajahnya selalu ada di pikiran,
tiba-tiba aku suka.
Senyumnya selalu terbayang-bayang
Caranya bicara, woooo—aku sukaa

Dia punya semua pesona
Dia punya semua yang kudamba
Sosok yang cantik, anggun menarik, gerak menawan
Tutur cermelang, hati yang tulus, tak bisa aku lewatkan

Sungguh kucinta dia,
sungguh ku sayang dia
Dia sangat menggoda,
sempurna...

Seolah dia menari di mataku
melekat di kulitku, dihatiku...


 

Tidak ada komentar: