“Bahkan jantung ini tak
bisa berdetak dengan normal saat mendengar namanya.”
Malam ini aku sudah berada di zona
aman, bebas melakukan apa saja, dan yang terpenting bebas menggunakan pakaian
upik abu kebanggaanku. Aku menjauhkan badanku dari tempat tidur dan melihat isi
ruangan mungil yang sangat aku rindukan sejak kemarin. Sambil mengumpulkan
kesadaran, aku melihat-lihat pesan di handphone ku yang belum sempat aku baca
sejak tadi pagi.
Vista:
Lu dimane bu??
Kuliah udah mau selesai masih aja
bolos!
Oka:
Ill, buruan balik jkt! Ada tugas
kelompok nih
Pras:
Ilang kmn lo? Nanti malem gue jemput
Jam 8 yes? Nggak boleh
telaaaaaat!!!!
08015151****:
Riza, ni gua Denis teman abang lu.
Sampe rmh dg selamat kan?
Jng lupa kl gua ke rmh lu siapin
rawon ya...
Whaaaaaattt???? Denis??? OMG, kenapa
denyut jantung ini jadi cepet banget begitu liat sms dari Denis?? Terus gua
harus jawab apa dooong? Duilee, upik abu langsung jadi panik gini!!!
Aku memejamkan mata sejenak, menarik
nafas agar pikiran tenang dan aliran darah ke otak lancar. Sepertinya aku harus
menjawab sms dari Denis dengan sewajarnya, dan jangan sampai terkesan kalau aku
senang di sms olehnya. Aku langsung membalas sms dari Denis. Nggak ada yang
sepesial dari balasanku selain menjawab pertanyaannya dengan sewajarnya
walaupun sebenarnya jantung ini masih belum berdetak dengan normal.
Obrolan
kami di sms sama serunya seperti obrolan kami kemarin. Kami nggak pernah
kehabisan bahan untuk dibicarakan. Nggak perlu menunggu lama untuk membalas sms
satu sama lain. Jari yang mulai pegal pun nggak begitu masalah ketika harus
mengetik banyak kalimat, posisi dalam mengetik pun selalu berubah-ubah. Mulai
dari tiduran dengan posisi terlentang, duduk, jongkok, dan lain sebagainya.
“Sayaaaang, makan duluuuu” teriak bunda
dari ruang tengah. Mendengar seruan itu aku langsung meletakkan HP di atas
bantal dan semangat menghampiri bunda.
“Loh,
ayah kok udah pulang?” tanyaku kaget melihat ayah duduk manis di meja makan.
“Iya,
hari ini kerjaan di kantor lagi sedikit jadi ayah bisa pulang lebih awal. Makan
dulu gih, jarang-jarang kan kita bertiga bisa makan bareng.”
Aku
senang mendengar jawaban ayah, memang benar kami bertiga jarang sekali duduk
satu meja saat makan malam karena hampir setiap hari ayah pulang diatas jam
delapan malam. Belum lagi aku sering sekali keluyuran dan makan malam diluar.
Kadang aku merasa sedih ketika harus membiarkan bunda makan malam sendirian,
tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa karena aku pun punya kegiatan sendiri di
luar rumah.
“Malam
ini kamu di rumah aja kan?”tanya bunda.
“Ehm,
nggak bund. Nanti jam delapan Pras mau ajak jalan Ilyan.”jawabku pelan.
“Loh,
sekarang kamu pacaran sama Pras? Ori gimana?”kali ini ayah yang
bertanya dengan dahi yang berkerut.
“Aku nggak pernah pacaran sama mereka berdua.” jawabaku panik, mendengar jawabanku,
ayah plus bunda menahan tawa seakan senang telah melihat eksresi yang tak biasa dari wajah putrinya..
“Eh,
baguslah. Ayah kira kamu pacaran sama salah satu dari mereka dan selingkuh.”
Tuduhan
yang nggak logis, mana mungkin aku pacaran dengan salah satu dari mereka. Mau
kencan dengan mereka aja harus pikir beribu kali. Kalau perlu sholat hajat
minta petunjuk biar nggak khilaf mengambil keputusan!hehe.
Obrolan
makan malam ini membuat selera makanku berantakan, dan aku kikuk karena
pertanyaan serta tuduhan yang ditujukan padaku. Ada-ada aja si ayah, masa iya
putri satu-satunya mau sama dua makhluk astral yang nggak jelas perilakunya
kayak mereka.
Aku
melirik jam, dan tersenyum senang melihat jarum jam menunjuk ke arah setengah delapan.
Ini tandanya aku bisa kabur ke kamar dengan alasan mau siap-siap sebelum
dijemput Pras. Aku tersenyum pada bunda dan ayah sambil menunjuk ke arah jam.
Entah mereka tau dengan bahasa isyaratku atau tidak, yang terpenting adalah aku
langsung lari ke kamar sebelum dituduhkan dengan hal-hal yang lebih aneh
dibanding tuduhan yang telah aku terima tadi.
Jeans dan kaos yang akan aku pakai sudah
tergeletak rapi di lemari dan tanpa pikir panjang aku langsung memakainya. Hari
ini aku malas sekali berdandan. Aku hanya mencuci muka lalu menaburkan bedak
bayi, bodo amat kalau nanti Pras komentar. Aku memasukan lipstik,
tissue, dompet dan juga HP ke dalam tas lalu langsung cabut ke teras menunggu
jemputan Pras. Nggak perlu menunggu lama, mobil Pras sudah terparkir di depan
rumah.
“Berdua
aja kok bawa mobil?” Tanpa menjawab pertanyaanku Pras membuka kaca bagian
belakang dan terlihat dua sejoli yang tersenyum ke arahku. Ori dan Azra.
Melihat Azra yang tampil cantik, aku menyesal karena membiarkan wajahku hanya
disentuh oleh bedak bayi saja. Maka dari itu, aku langsung mengeluarkan sebuah
jimat penyelamat berupa lipstik saat sudah berada di samping Pras yang sedang
menyetir mobil. Setidaknya benda ini akan membuat bibirku sedikit berwarna dan
fresh.
“Mata
lu kok sembab gitu? Abis nangis?” komentar Pras, penasaran.
“Nggak
lah! Lagian ngapain juga gua nangis.”
“Iya
bener Pras kata dia. Ngapain juga dia nangis, dia kan nggak punya cowok untuk
ditangisin! Hahaha” Ori ketawa lepas diikuti oleh Azra dan juga Pras, seakan
puas dengan candaan yang baru ditujukan untuk aku.
Malam
hari ini jalanan ibu kota ramai seperti biasanya, namun kami berempat menikmati
perjalanan panjang ini dengan canda tawa, dan sesekali melakukan konser di
dalam mobil dengan mengandalkan MP3 yang Ori nyalakan dari HP-nya dan aku
menggunakan senter yang terdapat di HP untuk lighting agar terkesan sungguhan. Sudah lama sekali kami tidak
merasakan kebersamaan yang seperti ini, apalagi sekarang personel kami tambah
satu lagi. Not bad laah...
Keseruan
kami nggak hanya berlangsung di dalam mobil saja, tempat tongkrongan kami yang
tadinya sepi pengunjung menjadi ramai karena kedatangan kami. Cafe ini
bernuasna taman sangat cocok untuk tongkrongan anak muda maupun untuk keluarga.
Saat memasuki parkiran cafe yang luas, kami sudah disuguhi lampu taman yang
berjejer rapi menyambut kedatangan kami. Saat memasuki cafe, kita harus
melewati sebuah pintu berbentuk bulat yang dikelilingi tanaman yang merambat ke
pagar. Belum cukup disitu, cafe ini adalah in
door namun bagi pengunjung baru pasti mereka mengira bahwa cafe ini out door karena kita dapat melihat
langit tanpa harus terhalang oleh pantulan cahaya lampu dari dalam ruangan.
Seperti
malam-malam biasanya, live music selalu hadir saat melewati jam tujuh malam.
Kini sang penyanyi membawakan sebuah lagu favoritku yaitu jatuh cinta milik Tulus.
Dan seperti judulnya, mungkin kini aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada
si penyanyi cafe tersebut. Memang wajahnya nggak bergitu terlihat karena aku
sedang nggak memakai kaca mata. Namun pembawaannya saat memainkan gitar plus
suaranya yang merdu membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Di tengah-tengah lagu sang penyanyi melihat
kearahku dan tersenyum lebar, entahlah aku nggak berani
membalas senyum itu mungkin karena aku takut ke GR-an saja atau mungkin dia
tersenyum karena tahu bahwa dari tadi aku melihat ke arahnya.
“Sadar
woiii!! Ngeliatnya biasa aja....” teriak Ori kencang sekali, aku harap nggak
terdengar oleh pengunjung lain maupun si empunya suara emas tersebut.
“Pelanin
dikit suara lu!!!”aku melotot ke arah Ori.
“Dia
paket lengkap ya kak? Cakep, tinggi, bersih, suara bagus.”kali ini Azra urun
suara.
“Nah,
gua setuju sama lu Ra” aku tersenyum bahagia karena mendapatkan teman yang
sependapat denganku.
“Waah,
ni cewek matanya pada sliwer kali ya. Jelas-jelas cakepan gua, masa kalian
nggak nyadar sih!”
“Eeeh,
udah nggak usah berantem.” Pras mencoba menenangkan suasana.
“Yan,
ada telephone tuh dari Denis.”Lanjut Pras sambil melirik HP yang ada di atas
meja.
“Denis??
Denis siapa?” tanya Ori dengan pandangan menyelidik ke arahku.
“Pacar
barunya Kak Ilyan kali.”Azra menjawab sekenanya.
Semua
mata tertuju padaku dengan pandangan yang menyelidik, aku merasa tesudutkan
bagaikan maling ayam yang ketangkap basah di depan kandang. Aku mengambil HP
dengan pelan-pelan lalu melemparkan senyum manis pada mereka bertiga dan dengan
ragu-ragu menjawab telephone dari Denis.
“Hai, Yan, kamu lagi apa? Aku ganggu nggak?” tanya Denis dari seberang sana, but waiiiit. Sejak kapan dia membiasakan
diri memanggil dengan sebutan aku-kamu?? Keringat dingin langsung meluncur di
pelipisku. Entah aku harus senang atau khawatir dengan panggilan itu.
“Nggak,
kenapa? Ini aku lagi kumpul bareng temen-temen.” mendengar obrolanku, Pras
langsung melirik ke Azra dan Ori sambil menggerakan bibir dengan sangat pelan
dan terlihat dia mengatakan “aku-kamu” kepada dua makhluk di hadapannya.
“Sayaaaang,
telpon dari siapa sih! Kamu selingkuh ya?!” Tanpa diduga teriakan Ori
mengundang tawa Azra dan Pras tapi mengagetkan aku dan juga Denis.
“Siapa?
Pacar kamu?” kali ini nada suara Denis menjadi dingin.
“Ha---ah,
bukan. Di--dia temenku, biasa lah sirik kalau ada orang lagi telpon.”jawabku
dengan gugup.
Seakan
mengerti dengan keadaanku saat ini Denis pamit dan menitipkan salam untuk
ketiga makhluk astral yang telah mengganggu obrolannya malam ini. Tentu saja
aku dengan sangat senang hati tidak menyampaikan
salam tersebut, karena aku tahu dunia akan berguncang dan ketiga makhluk itu
akan tertawa sekeras-kerasnnya.
“Lha,
kok udahan telphonnya?” tanya Azra dengan tatapan genit.
“Cieeee,
pacar baru?” kali ini Pras bertanya dengan tatapan yang tak kalah genit dari
Azra.
“Eh,
seriusan lu udah punya pacar??”Ori bertanya dengan nada penuh semangat dan rasa
penasaran. Aku bingung harus mulai menjawab pertanyaan dari siapa yang jelas
aku langsung kikuk sekaligus geli melihat ekspresi mereka bertiga yang
penasaran campur kaget.
“Diiih,
ekspresi kalian biasa aja deh. Emang kenapa kalau gua punya pacar? Nggak
boleh??”aku sengaja balik bertanya agar mereka semakin penasaran. Mendengar
pertanyaan itu, Pras yang sedang minum lemon
squash tersedak seakan tak percaya.
“Seriusan??” Azra
menatapku lekat-lekat.
“Waaa,
baru aja kemarin kita ngomongin ini. Ternyata kejadian juga” Ori bergumam dengan
dirinya sendiri tapi tak ada yang mengerti maksudnya kecuali aku.
“Udah
sejak kapan pacaran?” kali ini nada suara Pras sudah kembali normal.
“Hehe,
belum pacaran juga sih. Baru PDKT, dan gua juga nggak tau ujungnya bakalan
pacaran apa nggak, yang penting dijalanin aja dulu.”
“Ehm,
gitu... bagus deh!” lagi-lagi Ori bergumam namun kali ini kami semua mendengar
perkataan itu dan secara serempak kami bertanya “maksudnya??”
“Ya
bagus, seenggaknya jangan terburu-buru. Lu harus tau bebet bibit bobotnya. Dan
yang jelas dia harus lebih keren dari gua dan Pras.” Ori menjawab dengan sangat
percaya diri lalu diamini oleh Pras.
“Diiih,
kalian siapeee? Lagian tanpa harus lu bilang begitu, dia udah pasti lebih dari
kalian.”
“Aaah,
masa siih..” kata Pras tak percaya.
“Haaaaah,
ituuuu???” Azra setengah teriak dan menunjuk ke panggung kecil yang dari tadi
menjadi base camp si suara emas. Aku
langsung mengarahkan pandangan ke panggung tersebut dan tak kalah kagetnya
dengan Azra. Aku melihat seorang perempuan dengan dandanan modis menghampiri
laki-laki tersebut lalu mendaratkan ciuman di pipi laki-laki itu. mereka berdua
terlihat sangat akrab.
“Lho,
itu bukannya si Vista temen SMA kita dan juga satu kampus sama Ilyan?” Ori
menyipitkan matanya mencoba memperjelas pandangannya ke arah dua sosok yang
sedang menjadi perhatian kami berempat.
“Vis-vista mantan gua waktu SMA?” Pras
memastikan kebenarannya.
“Aaaah,
iya bener! Itu Kak Vista, pantesan gua nggak asing sama wajahnya dia Kak.” Azra
menjawab dengan sangat yakin. Dan kami bertiga hanya mengangguk pelan tanpa
mengalihkan pandangan pada dua sosok yang terlihat sempurna itu. Sangat mungkin
kalau mereka berdua berpacaran, apalagi mereka terlihat sangat cocok. Keduanya
memiliki paket lengkap untuk disebut dua sejoli.
***
Jatuh
Cinta TULUS
Apa
yang kini harus kulakukan
Wajahnya
selalu ada di pikiran,
tiba-tiba
aku suka.
Senyumnya
selalu terbayang-bayang
Caranya
bicara, woooo—aku sukaa
Dia
punya semua pesona
Dia
punya semua yang kudamba
Sosok
yang cantik, anggun menarik, gerak menawan
Tutur
cermelang, hati yang tulus, tak bisa aku lewatkan
Sungguh
kucinta dia,
sungguh
ku sayang dia
Dia
sangat menggoda,
sempurna...
Seolah dia menari di mataku
melekat di kulitku, dihatiku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar