Jumat, 31 Juli 2015

AMABELLE// Maaf....

“Kau harus tahu, rasa sakit ini melebihi rasa sakit hatimu karena aku.”

      Ilyas tertarik pada sosok perempuan yang berdiri di depan gedung fakultasnya. Bahasa tubuh perempuan itu sangat dia kenal, namun dia nggak yakin dengan pendapatnya. Beberapa kali dia menyipitkan matanya tapi percuma, pandangannya tetap saja nggak jelas. Akhirnya dia menyerah dan mengambil kacamata yang ada didalam tas. Setelah memakai kacamata, dia baru yakin, bahwa dia mengenal perempuan itu dengan baik. Dia tersenyum geli, lalu melihat perempuan tersebut dari ujung rambut sampai ujung kaki“Cantik juga adek gua” kata Ilyas dalam hati. Tapi begitu dia sadar kalau Ilyan menggunakan dress pendek, dia langsung memasang muka terkejut. Dress yang dipakai Ilyan terlalu “berbahaya”untuk berkunjung di kampus, apalagi dia kenal betul watak teman-teman satu angkatannya.
   
      Langkah kaki Ilyan semakin mendekati Ilyas, dan dia berusaha senatural mungkin berpura-pura seperti nggak tau kedatangan saudara kembarnya. Sambil mendengarkan teman-temannya bercerita dia sesekali melirik ke arah Ilyas, memastikan bahwa saudara kembarnya mendarat dengan aman ke tempat tujuan tanpa ada adegan jatuh karena heels yang dipakainya.
    Seketika jantung Ilyas berdebar sangat kencang saat melihat Ilyan mendekati Ara, teman satu angkatannya yang dari tadi juga ikut bercerita dan tertawa bersama-sama. Namun Ilyas nggak bisa mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan, yang dia tau Ara sempat melirik kearahnya lalu mengarahkan jarinya ke tempat Ilyas duduk. Takut terjadi perbincangan yang mengkhawatirkan Ilyas langsung saja memanggil saudara kembarnya, namun dengan nama berbeda.
    
     “Riza??”seru Ilyas dengan nada yang dibuat seperti orang terkejut. Setelah Ilyan sadar bahwa seruan itu ditujukan untuk dirinya, ia langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
    “Haiii, saa-yaang”Ilyan menyapa saudara kembarnya dengan nada yang sangat manis, dan kali ini dia benar-benar terkejut, speachless.
    
     Setelah basa-basi yang dianggapnya cukup, kali ini Ilyas menggiring Ilyan untuk bergabung dengan teman-temannya. Tanpa disangka dia sangat cepat akrab dengan teman satu kampusnya. Ia nggak sepenuhnya senang dengan hal itu, karena ada sesuatu yang mengganjal perasaannya saat ini. Ara,
   
      “Bagaimana perasaan Ara sekarang? Apakah ini sangat keterlaluan? Apa ini terlalu blak-blak kan kalau aku sengaja menghindarinya??”. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba memenuhi isi otaknya saat ini. Terlebih lagi saat teman-temannya mulai bertanya seputar awal mula Ilyas berpacaran dengan Riza (pacar gadungannya). Saat pertanyaan itu dilontarkan kepadanya, Ilyas menjawab dengan lugas, namun pandangannya sesekali mengarah ke Ara. Ia memperhatikan setiap perubahan ekspresi Ara, dari yang ketawa lepas, lalu tersenyum manis, dan berubah lagi jadi tersenyum kecut yang akhirnya membuat Ara melangkahkan kakinya pergi memasuki gedung tanpa berpamitan. Bersamaan dengan kepergian Ara, si Toni yang tadinya sedang menggebu-gebu bertanya soal percintaan Ilyas tiba-tiba menghentikan pertanyaannya dan membuat semua anak yang berada dalam kerumunan itu terdiam lalu memperhatikan kepergian Ara.
    
       Jantung Ilyas kembali berdetak dengan sangat kencang, matanya terasa panas, ia bingung harus berbuat apa. Disisi lain dia juga merasa nggak enak karena suasana yang tadinya ramai karena canda tawa kini berubah jadi hening dan anak-anak mulai salah tingkah sendiri karena mereka pun juga bingung dengan keadaan yang terjadi saat ini. Ilyas semakin sibuk dengan pikiran-pikiran yang ada di otaknya sampai Ilyan menyadarkannya dari lamunan. “Lu samperin dia gih”kata Ilyan menasehatinya dengan lembut. Mendengar nasehat bijak yang baru kali ini didengar dari mulut saudara kembarnya, ia pun berlari ke arah Ara pergi. Semakin kencang langkah kakinya, maka semakin kencang pula jantungnya berdetak. Nafasnya menjadi nggak beraturan, belum lagi pikiran tentang kata-kata yang harus dia katakan ke Ara semakin membuatnya resah.
   
       Ilyas menghentikan kaki jenjangnya di lobby gedung tempat kuliahnya, namun dia tak menemukan Ara. Gedung ini sudah sepi dan satpam pasti sudah mengunci setiap ruang kelas di gedung ini, maka dia bisa dengan cepat menyimpulkan keberadaan orang yang dicarinya. Ia merasa putus asa dan memutuskan untuk kembali menemui teman-temannya. Dengan langkah yang berat dia berjalan dengan pandangan ke arah tanah. Kali ini ia merasakan penyesalan yang begitu dalam. Ia tak berpikir panjang sebelum bertindak.

      Baru beberapa meter dia meninggalkan lobby, dilihatnya sepasang kaki menggunakan flat shoes berwarna merah hati menghalangi jalannya. Ia tau betul siapa pemilik sepasang sepatu manis itu, lalu dia tegakkan kepalanya dan tersenyum kecil pada sang pemilik.
     “Maaf...”kata itu langsung dia sampaikan pelan ke Ara, dan dia melihat sebutir air mata jatuh ke pipi Ara.
    
     Ara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Harusnya aku yang minta maaf, karena aku pasti sekarang cewek kamu salah paham”. Mendengar jawaban Ara, Ilyas hanya bisa terdiam. Ingin sekali rasanya untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan sekarang.
   
      “Sekarang aku mulai tau alasannya kenapa selama ini kamu cuek dan nggak menanggapi perasaan aku. Kalau aja aku mikir dari dulu pasti kejadiannya nggak akan seperti ini. aku akui ini cukup menyakitkan, tapi aku hanya bisa berharap yang terbaik buat kalian berdua.”lanjut Ara dengan air mata yang terus menetes membasahi pipi lembutnya.
 
      Ilyas hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Mulutnya terkunci, susah mengeluarkan kata-kata yang ingin diucapkannya. Alhasil kata-kata itu hanya bisa didengar oleh hati kecilnya.“Bukan, Ra! Bukan itu alasannya! Gua sayang sama lu, tapi gua nggak bisa. Dan perlu elu tau bahwa gua pun ngerasain sakit hati. Bahkan rasa sakit ini lebih dalam karena gua terlalu lama memendam dan nggak berani mengatakannya”.
                                                                        ***

      Ilyas mengirim pesan pada Toni dan Denis untuk mengantar saudara kembarnya ke rumah kontrakan mereka. Ilyas masih terlalu rapuh jika bertemu mereka dengan keadaanya saat ini. Setelah perbincangannya dengan Ara sore tadi, dia semakin yakin bahwa perasaan itu benar adanya padahal selama ini dia mencoba menepis dan selalu mencari cara untuk menjauhi Ara.
 
      Apa yang harus gua lakukan sekarang? Percuma selama ini gua memendam perasaan ini karena ujungnya akan sama. Sakit! Kalau saja ada sedikit ke-egoisan dalam diri gua yang bisa memberanikan gua menyatakan perasaan sayang gue ke Ara, pasti udah gua lakukan dari dulu. Tapi gua nggak bisa! Gua lebih memilih persahabatan dari pada perasaan gua. Bahkan gua nggak mikirin perasaan Ara, asal persahabatan gua nggak rusak hanya karena masalah perempuan.
 
      Tanpa disadari air mata yang dari tadi tertahan kini justru mengalir deras, untunglah kampus sudah sepi dan hanya dia sendiri yang duduk di gazebo yang berada di depan gedung kuliahnya. Baru kali ini dia bisa menangis hanya karena perempuan. Entahlah, mungkin luka itu terlalu dalam dan terlalu lama bersarang di salah satu sudut hatinya. Karena luka itu pula, hari-hari Ilyas dipenuhi oleh rasa bersalah, namun ia nggak pernah memperlihatkan.
 
       Di temani suara jangkring di malam yang dingin ini, Ilyas merenungkan kejadian tadi sore. Mungkin ia terlalu gegabah mengambil keputusan, dia nggak berpikir panjang tentang akibat yang bisa ditimbulkan jika dia membawa saudara kembarnya ke kampus hanya untuk menunjukkan kebohongan ini. Dia hanya memikirkan kalau ini akan membuat Ara menjauh tapi dia lupa nggak memikirkan perasaannya. Perasaan yang akan timbul jika Ara mulai menjauhinya. Dia baru menyadarinya sekarang, ternyata dia sangat rapuh jika membayangkan besok nggak melihat senyum Ara dan jika dia nggak di sapa lagi oleh perempuan yang telah bertahun-tahun menemani kuliahnya.
   
       Ilyas melihat layar handphone yang sedang dipegangnya, muncul foto Ara di layar tersebut pertanda bahwa ia mendapat panggilan telephone dari Ara. Nafasnya seperti berhenti saat ia sadar bahwa Ara menghubunginya. Dengan ragu-ragu dia menjawab panggilan telephone itu.
    
      “Bisa ke rumah aku sekarang? Ada yang mau aku tanyakan ke kamu.”samber Ara sebelum Ilyas menyapa dia.
       “Mau tanya apa? Gua udah siap-siap mau tidur jadi nggak bisa ke rumah Lu.” Jawab Ilyas dengan nada dingin.
     “Kamu nggak usah bohong, baru aja aku telpon Denis dan dia bilang kamu nggak ada di rumah sekarang. Pokoknya kamu harus ke rumah aku sekarang!” Ara menutup perbicaraan sepihak, terlihat jelas bahwa dia sedang kesal.  Ilyas semakin bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah dia harus ke rumah Ara dan menyatakan yang sejujurnya atau malah dia pulang saja ke rumah kontrakannya.
   
    Lagi sibuk-sibuknya memikirkan tentang Ara, kini handphonenya kembali bergetar dan dia mengangkatnya dengan segera.
      “Hoi, lu sekarang dimana?” teriak seorang di sebrang sana. Ilyan.
      “Kampus, kenapa?”jawab dia dingin.
    “Huuuuh, syukurlah. Gua kira lagi nangis meratapi nasib dipinggir jembatan.” Jawab Ilyan dengan sekenanya. Mendengar jawaban itu Ilyas hanya tersenyum, ia tau betul bahwa saudara kembarnya khawatir dan ingin mengiburnya.
      “Gila lu! Gua masih inget sama Tuhan, nggak mungkin lah gua bunuh diri!!”
     “Eh, sokem, tadi Ara telphon gua dan minta gua untuk ke rumahnya sekarang. Menurut lu gimana?” lanjut Ilyas dengan nada serius.
      “Ya udah berangkat sekarang, tunggu apa lagi?”
     “Apa nggak masalah gua ke rumahnya?”    
     “Hei, dengan lu nyuruh gua pura-pura jadi pacar lu itu udah menimbulkan masalah diantara kalian berdua! Sekarang udah terlanjur jadi lu harus bertindak. Pilihannya Cuma dua, lu jujur ke dia atau lu tetap pertahanin kebohongan ini. Udah ya gua nggak mau ikut pusing karena masalah ini, bye.” Lagi-lagi orang yang menelphone nya selalu menutup pembicaraan tanpa ucapan salam dan ini selalu membuat Ilyas kesal.
    
      Dari lubuk hati yang paling dalam Ilyas ingin tahu bagaimana keadaan Ara sekarang dan ingin sekali memenuhi permintaan Ara untuk datang kerumahnya, tapi di sisi lain dia bingung harus bersikap apa di depan Ara. Apakah dia harus sok cool, diam, atau ceria seperti biasanya. Ilyas melihat jam ditangannya, jarum jam itu menunjuk ke arah angka delapan. Sepertinya belum terlalu malam kalau berkunjung ke rumah Ara, lalu dia langkahkan kaki ke parkiran dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya.
   
      Kali ini ia mengendarai honda jazz nya dengan pelan, berharap bisa mengulur waktu sambil memikirkan kata-kata apa yang harus ia katakan. Namun sayang lima belas menit perjalanan nggak membuahkan hasil sama sekali. Dia nggak mendapatkan kata-kata yang bagus untuk diucapkan, padahal kini honda jazz nya sudah berhenti di depan rumah Ara dan dia melihat lewat jendela. Kini Ara sudah menunggunya di teras rumahnya. Ilyas memejamkan matanya sejenak sambil berkata dalam hati “you can do it, you can do it!!!”. Merasa keberaniannya sudah terkumpul, kini dia keluar dari mobil lalu menghampiri Ara dengan langkah pasti.
    
      “Makasih udah dateng, duduk dulu gih aku mau ambil sesuatu.”
   
      Ilyas hanya menganggukan kepala dan duduk di kursi yang berada di teras sambil memandangi langit malam ini. Malam terlihat  lebih gelap dari biasanya bahkan bintang pun sama sekali nggak menampakkan dirinya. Belum lama dia memandangi langit malam ini, Ara kembali dengan membawa kotak yang berisi barang-barang dan meletakannya di meja yang berada di antara mereka.
    
      “Tadi aku benar-benar  kaget liat pacar kamu ke kampus. Aku kira kamu nggak punya pacar, bahkan dari dulu aku ngerasa kalau kamu juga punya rasa sama aku. Tapi bedanya kamu nggak memperlihatkannya di depan teman-teman kita.”Kata Ara sambil memandangi lantai dengan pandangan kosong dan sesekali menghiasi wajahnya dengan senyum yang dipaksakan. Mendengar perkataan Ara membuat jantung Ilyas berdetak melebihi batas. Dia memandangi Ara dan melihat setiap tingkah Ara. Terlihat jelas ada perasaan sedih yang dirasakannya.
      “Aku juga bingung, entah kenapa kalau kita lagi berdua tatapan kamu ke aku beda Yas. Tatapan itu yang ngasih harapan kalau cinta aku nggak bertepuk sebelah tangan. Dan ini...” Ara menggeser kotak ke arah Ilyas.
    “Barang- barang ini kamu kasih ke aku bahkan ketika aku lagi nggak ulang tahun. Kalau kamu nggak sayang sama aku, terus arti semua ini apa Yas??”
    
      Ara menatap Ilyas dengan mata yang berkaca-kaca, lalu Ilyas melihat isi kotak itu. Ah, pantas aja Ara sadar kalau dia sayang pada Ara karena ternyata barang-barang pemberiannya sangat banyak. Mulai dari gantungan kunci saat ia KKN di kalimantan, jam tangan, boneka tangan, dan masih banyak lagi.
    
      “Sorry Ra, gua kasih semua barang-barang ini karena gua pengin kasih aja ke lu. Nggak ada maksud lain. Selama ini gua anggap lu udah kayak sahabat gua sendiri. Lu selalu ada buat gua, begitu juga gua yang selalu ada buat lu. Dan kalau cowok ngasih barang ke cewek belum tentu dia punya perasaan yang lebih ke cewek itu.” Ilyas menjelaskannya dengan sangat hati-hati, tapi sayang perkataannya barusan justru membuat air mata Ara mengalir deras.
      “Terus kenapa kamu masih pakai jam pemberian aku? Dan kamu masih inget nggak waktu dulu jam itu ketinggalan di kantin? Kamu keliatan panik banget Yas, bahkan kamu nolak waktu aku berniat mau beliin jam yang sama. Kamu bilang kalau kamu bakalan nyari itu jam sampai ketemu.”

       Mendengar hal itu, ia langsung melihat jam yang sedang dipakainya. Alasan apa lagi yang harus dia keluarkan agar Ara percaya bahwa dia nggak mempunyai perasaan lebih pada Ara. Lalu ia melihat kunci mobilnya.
   
    “Ra, pemberian orang itu harus gua jaga. Jangankan jam, lu liat deh gantungan kunci mobil gua ini pemberian Toni waktu dia liburan di jepang. Dan kalau gantungan ini ilang, gua pasti bakalan panik kayak dulu.”
    “Udah lah Yas, aku capek ngomong sama kamu. Mungkin aku ke GR-an aja. Lagian sekarang aku udah tau kok kalau kamu udah punya pacar, dan aku janji nggak bakal ganggu hubungan kalian. Aku yakin pacar kamu bukan hanya cantik, tapi pasti baik juga. Lagi pula muka kalian mirip dan kalau kata orang jaman dulu itu pertanda kalau kalian jodoh.” Ara menghapus air matanya dan menatap Ilyas dengan senyum manisnya. Kali ini senyuman itu terlihat tulus dan nggak dipaksakan. Mendengar hal itu, Ilyas dengan spontan berdiri di depan Ara dan memeluknya. Dan ini adalah kali pertama dia memeluk Ara.
 
 “Maafin gua Ra....” Ilyas berbisik ke telinga Ara.

                                                                            ***

AMABELLE// Pacar Gadungan

“Adakalanya kebohongan yang kita lakukan akan meninggalkan goresan luka bagi orang lain.”

        Hari sudah berganti, adzan subuh pun sudah dikumandangkan setengah jam yang lalu, namun langit masih saja gelap, seakan tak rela jika matahari muncul dari permukaan. Aku memandangi langit lewat jendela kamarnya, menghirup segarnya udara pagi yang selalu aku tunggu-tunggu. Lagi senang-senangnya memandangi langit, si plagiat muka muncul dari balik pintu kamar dan membuat keributan dengan mengetuk pintu keras-keras.
       Aku hanya menoleh kearahnya sebentar dan kembali memandangi langit lewat jendela. Aku sedang malas menanggapi kekacauan yang Ilyas ciptakan. Wajar saja Ilyas begitu, karena hari ini dia akan kembali ke Solo untuk memulai perkuliahan di Universitas Sebelas Maret.    

      “Lagi galau lu? Masalah pacar? Emang lu punya pacar???” tanya Ilyas, sambil merebahkan badanya ke tempat tidurku.
       “Pagi-pagi nggak usah sok tau deh! Gua lagi males ribut!!!”
       “Jangan gitu, ntar lu kangen sama gua loh. Hari ini gua mau berangkat lagi ke Solo.”
      “Nggak sudi kangen sama lu!” jawabku dengan penuh keyakinan. Walaupun kenyataannya pasti terbalik. Akan ada masanya aku kangen dengan kejahilan Ilyas, dan akan ada masanya ingin melihat Ilyas membuat keributan di rumah ini.
     “Sial!!! Eh, gua mau minta tolong dong, boleh?”Ilyas menegakkan badannya, dan memandangi saudara kembarnya yang masih setia nangkring di jendela kamar. Belum sempat  aku menjawab, handphone di meja belajar bergetar tanda ada penggilan masuk.
     
     “Hallo, ada apa Ka, pagi-pagi gini telpon gua?”
      “Jam 6 nanti gua siaran, dengerin ya?”
     “Yaelaah, Ka, udah harus berapa kali gua bilang ke elo kalo gua nggak mau dengerin lu siaran!” jawabku  ketus.
    “Yan, hampir empat tahun kita berteman dan elo nggak pernah sekalipun dengerin gua siaran. Keterlaluan!” balas Oka dengan nada suara yang dibuat-buat.
     “Bodo amat! Bye!”
    
       Aku menutup pembicaraan dengan sepihak dan menghela nafas panjang. aku pandangi lagi langit pagi ini. Entah mengapa aku nggak pernah sekalipun tertarik untuk mendengarkan Oka, teman satu kampusku siaran di radio. Padahal hampir setiap hari Oka selalu meneror ku untuk mendengarkannya siaran.
    
      Akibat telepon dari Oka, aku melupakan saudara kembarku yang pasti dari tadi memperhatikanku.
      “sial!!!” celetukku  dalam hati.
     “Tadi lu minta tolong apa?”tanyaku dengan nada pelan.
    “A-apa? min-minta tolong? Si-siapa??”Ilyas balik bertanya dengan nada yang berantakan karena ketahuan kalau sedang menguping pembicaraanku dengan Oka.
      “A—gua minta lu ke Solo ya? Lu pura-pura jadi pacar gua, gua mau ngehindarin satu cewek yang dari dulu ngejar-ngejar gua.”jawab Ilyas, kali ini dengan nada normal, mungkin sekarang dia sudah bisa menguasai dirinya, hehe.
    
        Mendengar permintaan Ilyas barusan, aku langsung tertawa terbahak-bahak. Entah pertanyaannya yang lucu atau karena ekspresi wajahnya yang aneh. Lagi pula aku nggak menebak kalau Ilyas akan berkata seperti itu. Sulit dipercaya, cowok seperti Ilyas bisa dikejar-kejar cewek sampai sebegitunya. Aku yakin banget  cewek itu pasti jelek, dekil, nggak cantik, sampai-sampai Ilyas menolak. Lagi pula, memangnya Ilyas nggak punya temen cewek lain yang bisa dijadikan pacar bohongannya? Muka kami berdua kan mirip banget, pasti cewek yang ngejar-ngejar Ilyas akan curiga.
   
      “Dih, lu kenapa ketawa deh?” tanya Ilyas dengan muka datarnya.
      “Hahahaha, lu kalau bohong yang pinter dikit dong. Muka kita kan mirip banget, pasti dia bakal curiga.”
      “Lu nggak usah khawatirin masalah itu lagian dia nggak tau kok kalau gua punya kembaran. Temen  gua juga udah gua suap supaya tutup mulut.”
     “Gimana ya.. gua lagi nggak ada duit buat transport ke Solo nih.” Jawabku kasih kode keras, karena nggak mungkin kan aku bantuin Ilyas, tapi uangku malah tekor, hehe.
     “Nih, gua kasih atm gua, lu tinggal ambil seperlunya ya? Ingat, jangan boros!”Ilyas mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, dengan cepat aku mengambil dan memasukannya di saku celana.
     “Kapan gua harus ke Bandung?”
    “Sore ini. Lu naik pesawat aja. Ini tiketnya.” Jawab Ilyas dengan cepat dan meletakan tiket pesawat di tempat tidur. Mendengar jawaban itu aku langsung kaget nggak percaya.
      “Gila lu, lu pikir gua nggak kuliah?”
    “Yaelah, Sokem, sekali-kali titip absen deh demi gua. Rencananya gua mau ajak lu ke kampus biar dia bisa liat. Lagian lu harusnya seneng gua ajak ke kampus terkenal kayak kampus gua, haha.”
      “Udah ya, gua mau siap-siap dulu, abis ini gua langsung jalan. Bye!”Lanjut Ilyas.

       Ilyas berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan. Aku melihat jadwal yang tertera di time table yang menempel di dinding. Nggak ada jadwal ujian, mungkin ini rejekinya Ilyas, tapi ini juga akan menyumbangkan poin dosaku yang sudah menumpuk. “Ya Tuhan, maafkan hambamu ini yang harus berbohong demi Ilyas.” Ucapku dalam hati.
                                                                                 ***
       
       Aku berjalan menelusuri kantin fakultas, namun nggak ada tanda-tanda kehadiran orang yang aku cari. Cewek super modis dengan gaya berpakaian yang harus serasi dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan nggak ketinggalan juga kuku dengan cat berwarna terang plus sepatu serta tas yang senada.
 
      “Vista mana?” tanyaku pada Oka yang sedang asyik makan bakso sembari mengelap keringat di dahinya.
        “Sial!! Kenapa dia tetep cakep walaupun lg keringetan gitu!” gerutuku dalam hati.
       “Udah pulang dari tadi. Emang kenapa?”
       “Gua mau pinjem baju nih buat ketemu ilyas. Mana acaranya sore ini!”
     “Huh-haaah,, ssssssttt, percuma, dia siang ini mau ke surabaya, ada saudaranya yang menikah.”jawab Oka dengan susah payah akibat kepedesan.
     “Emang kenapa deh, mau ketemu ilyas aja ribet banget? Lagian bajunya si Vista kan feminim semua, tumben lu mau pake?” lanjut Oka dengan pandangan menyelidik.
 
       Aku menceritakan semuanya ke Oka, dan dia mendengarkan ceritaku dengan tatapan yang selalu tertuju padaku tanpa lupa menyuapkan beberapa butir bakso ke mulutnya.
Setelah selesai mendengar ceritaku, Oka langsung menariku dari kursi dan memandangi dari ujung rambut ke ujung kaki. Dia memasang ekspresi yang sama ketika dia mengerjakan ujian tengah semester lalu.
 
      “Ikut gua yuk!” tanpa mendengar jawabanku, dia langsung menarik pergelangan tanganku dan kami memasuki mobilnya. Selama diperjalanan Oka nggak banyak bicara, dan aku hanya memandangi wajahnya dengan tatapan bingung.
 
       Nggak perlu menunggu waktu lama, kami sampai ke sebuah kompleks kost-kostan mahasiswa. Oka langsung turun dari mobil dan mengambil handphone. Entah siapa yang dia ajak bicara, yang jelas aku nggak bisa mendengar percakapan mereka. Beberapa menit kemudian ada seorang perempuan dengan pakaian yang minim menghampiri Oka, dan nggak ketinggalan senyum manisnya pun menyambut hangat kedatangan Oka. Bersamaan dengan itu, Oka melambaikan tangannya ke aku sebagai isyarat agar aku turun dari mobil. Saat menghampiri mereka, senyum perempuan itu langsung memudar dan memandangiku dengan tatapan sinis.

          “Ehmm, Tiara, kenalin ini Ilyan, yang aku ceritain tadi. Tolong bantu ya?”
        “Ooh, ini temen Kakak yang mau nge-date sama pacarnya yaa.. ya udah yuk langsung aja ke kamar aku.”
 
        Aku melotot ke arah Oka yang sedari tadi menahan tawa. Whaaat??? Nge-date?? sama pacar??? OMG, kebohongan apa lagi ini. Ya Tuhan maafin hamba-Mu ini. Aamiin.
 
        Di kamar Tiara, aku dengan cepat dapat beradaptasi. Kini Tiara lebih ramah dibanding saat kami berdiri didepan kost. Aku mulai curiga, apakah Tiara adalah pacar Oka, atau malah salah satu gebetanya.
       “Kakak mau nge-date kan? Pakai baju ini aja, pasti cantik deh.” Tiara menyodorkan dress pendek berwarna pastel dengan pita yang melingkar di daerah pinggul. Aku menelan ludah dan menatap dress tersebut. Entah setan apa yang membujukku melakukan sejauh ini demi Ilyas.
         “Lu yakin gua pakai baju ini?”tanyaku memastikan.
         “Yakin atuh. Nah, jangan lupa pakai heels dan tas ini juga ya, pasti cantik binggo deh.”
 
         Aku melihat jam, sudah nggak ada waktu lagi untuk memprotes apa yang direkomendasikan oleh Tiara. Aku langsung memakai dress tersebut dan jari-jari Tiara dengan cepat menyapukan make-up dengan sempurna diwajahku. Setengah jam berlalu, aku menghampiri Oka yang sedari tadi menungguku di ruang tamu. Dia tersenyum melihat upik abu berubah menjadi cinderalla, dan dengan sigap dia merebut tas jinjing yang berisi sepatu, kaos dan kemeja flanel andalanku.
 
       Selama diperjalanan Oka hanya senyum-senyum sendiri, dia selalu bergantian memandangiku lalu memandang jalanan. Aku jadi salah tingkah, rasanya baju ini terlalu berlebihan hanya untuk menjadi pacar gadungan si Ilyas. Ilyas harus membayar mahal untuk masalah satu ini!
          “Lu kalau mau ketawa nggak usah ditahan deh! Sebel gua liatnya!”
       “Cielaah, ngambek. Hahaha. Kalau udah jadi cewek beneran, ngambeknya harus diilangin neng, biar lebih anggun kesannya.”kali ini Oka tertawa dengan sangat puas, dan aku hanya bisa menghela nafas panjang.
          “Ka, lu bisa tolong antar gua langsung ke bandara nggak? Gua takut telat.”
         “Lu nggak bawa pakaian ganti?”Oka balik bertanya.
 
        Aku menggelengkan kepala dan Oka langsung menancap gas dengan sangat cepat. Aku memandangi oka dengan ekspresi ketakutan, dan Oka hanya memasang senyum manisnya. Aku berharap segera sampai Solo karena sudah nggak sabar untuk bertemu perempuan yang dimaksud oleh Ilyas. Sudah bisa dipastikan, aku lebih cantik dari dia, apalagi dengan dandananku hari ini. Aku rasa bukan hanya cewek itu yang terpesona, bahkan si plagiat muka itu bakalan klepek-klepek melihat saudara kembarnya cantik melebihi Ayu Azhari yang saat aku SD berperan menjadi Ibu Peri di film Bidadari.
                                                                              ***

        Sore ini aku berdiri tepat di depan gedung fakultas Hukum UNS sambil menjinjing tas kecil yang berisi baju dan sepatu. Aku menyapu seluruh gedung dengan pandanganku, namun sosok Ilyas tak bisa ditemukan. Kampus masih saja ramai, padahal matahari sudah bersiap-siap untuk tenggelam dari permukaan. Aku menyeka keringat yang menetes di pelipisku, lalu kuperbaiki letak jepit rambut disisi kanan kepala. Entah cairan apa yang diberikan Tiara pada rambut panjangku, rasanya ingin sekali mengelus terus rambut yang terurai rapi ini. Mungkin karena ramuan itu rambutku jadi lembut dan harumnya sangat menenangkan.
 
       Handphone bergetar tanda bbm masuk. “Gua liat lu, lu samperin gua dah, arah jam 4 dr tempat lu berdiri”. Aku hanya bisa tersenyum kecut. Kalimat ucapan selamat datang macam apa ini? Bukankah seharusnya aku dijemput di bandara dan disambut dengan hangat!!?
          Aku melihat kearah jam empat dari tempatku berdiri sekarang, dan Wakwaaaaaw!!!! Aku melihat Ilyas dikelilingi teman-temannya yang berjumlah enam. Eh, kayaknya pandanganku sudah mulai buram! Ternyata enam orang yang bersama Ilyas adalah laki-laki, dan kalau digabungkan dengan teman perempuan maka jumlahnya ada tigabelas orang! Aku menelan ludah dan memberanikan diri mendekati kerumunan “harimau” yang sedang bersenda gurau. Entah mengapa langkah ini begitu berat ditambah lagi heels yang kupakai membuat kaki mungilku nggak nyaman. Aku hanya bisa berharap semoga aku tidak jatuh akibat heels yang tingginya seperti penggaris anak SD ini.
 
        Tiga meter lagi aku akan sampai di kerumunan “harimau”yang dimaksud oleh Ilyas. Tapi banyak hal yang aku pikirkan.  Kata-kata apa yang harus pertama kali aku katakan? Aku harus memasang ekspresi wajah seperti apa? Atau aku langsung menghampiri Ilyas dan memeluknya? Ah, sepertinya itu terlalu berlebihan.
       “Sorry, mau tanya. kenal Ilyas nggak?”. Aku bertanya pada seorang perempuan yang duduk paling pinggir, dan aku pura-pura nggak melihat Ilyas. Padahal aku tau bahwa Ilyas dari tadi memandangiku. Aku selalu berdoa agar penyamaranku kali ini berhasil.
      “Ilyas Mashar Nahari?”perempuan itu balik bertanya padaku dengan tatapan penuh tanya dan aku menganggungkan kepala sambil mencoba tersenyum manis padanya.
       “Riza?”belum sempat perempuan tersebut menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari tengah kerumunan tersebut. Aku segera menoleh ke sumber suara, dan ternyata itu suara Ilyas.
 
       Dengan spontan aku tersenyum sengit padanya. Riza??? Itu kan nama tengahku! Kenapa pula dia menyamarkan nama cantiku yang sudah dikenal di seantero dunia?!!
 
     Aku mengangkat tangan sebahu, dan mulai mencoba memasang senyum manis ke Ilyas. “Haaiii, saa-yaang.”sapaku ragu-ragu. Dan sialnya karena sapa-an ku barusan semua mata tertuju pada kami berdua. Ilyas hanya bisa berdiri kaku tanpa mengalihkan pandangannya dariku.
       Aku rasa ekspresi Ilyas terlalu berlebihan, atau malah sapa-an ku yang berlebihan?? Entahlah, yang penting aku harus menyadarkan Ilyas dari semua pikiran yang ada dipikirannya. Aku melotot ke arahnya, dan setidaknya ini bisa menyadarkan Ilyas dari lamunannya,
 
        Ilyas langsung menghampiri aku dengan senyuman yang manis luar biasa. “haiii, kok nggak bilang kalau mau ke kampus aku?”tanya Ilyas  dengan nada dibuat-buat sebagaimana orang terkejut.
      “Ha-haa.. iya sayaaaang,  kan surprise  masa aku bilang ke kamu.”jawabku dengan ragu-ragu. Ah, entahlah, sepertinya aku nggak punya bakat untuk menjadi pacar gadungan.
Ilyas langsung menghampiriku dan merungkul bahuku di depan para “harimau”.
       “Guys, kenalin ini pacar gua. Riza namanya.”dan dengan serempak mereka menjawab dengan kata “halo, Rizaaaaaaaa”. Belum sempat aku menjawab, Ilyas menggandengku ke tempat dia duduk. Bisa juga dia melakukan hal manis seperti ini. Begitu kami duduk, Ilyas  menggelar jaketnya dan meletakkannya di pahaku. Semua orang melihat kejadian itu, dan lagi-lagi mereka serempak mengeluarkan suara, “So sweeeeeet.”
 
         Ilyas langsung salah tingkah, begitu pula dengan aku. “banyak nyamuk guys, kasian pacar gua.” Jawab Ilyas sekenanya. Padahal aku tau, dia melakukan ini karena aku menggunakan dress pendek.
Aku mulai beradaptasi dengan kerumunan “harimau” ini, ternyata mereka sangat ramai dan lucu. Aku merasa seperti sudah mengenal mereka sejak lama. Kami saling melemparkan hina-an satu sama lain, tapi nggak ada satu bahasa pun yang menyinggung satu sama lain. Obrolan kami nggak jauh-jauh dari seputar hubungan percintaan Ilyas dengan aku (baca: pacar gadungannya).

       Ditengah-tengah perbincangan yang seru ini, tiba-tiba seorang perempuan melangkah menjauhi kami. Perbincangan pun berhenti, dan pandangan penuh tanya tertuju pada perempuan tersebut. Perempuan itu berjalan membelakangi kami dengan punggung sedikit membungkuk. Rambutnya yang panjang terurai bergoyang mengikuti langkah kakinya yang berat dan seakan berkata bahwa “aku harus pergi dari sini!”.Ternyata perempuan itu adalah orang yang pertama kali aku tanya tentang keberadaan Ilyas.
 
        Aku langsung bisa menemukan alasan mengapa perempuan itu pergi meninggalkan kami. Aku sangat yakin dia adalah perempuan yang dimaksud oleh Ilyas. Aku memandangi Ilyas  dengan sungguh-sungguh, dan tampak mata Ilyas mulai memerah. Pandangannya pun nggak lepas dari perempuan itu. Jika dilihat dari tatapan Ilyas, maka aku bisa menyimpulkan bahwa Ilyas merasa nggak enak hati telah membuat perempuan itu sakit hati, dan tatapannya bukan sebatas rasa bersalah. Dari mata Ilyas terlihat jelas bahwa dia punya perasaan pada perempuan itu, tapi entah hal apa yang menghalangi perasaanya selama ini.
 
       Aku  memegang lengan dia dan berkata pelan “Lu samperin dia gih!”. Ilyas memandangiku dengan matanya yang mulai sayu, lalu memaksakan bibirnya untuk membentuk senyum dan mengelus kepalaku dengan lembut. “Tunggu sebentar ya..”
                                                                            ***





Rabu, 29 Juli 2015

AMABELLE// Suatu Saat Aku Ingin Seperti Dia

“Kesendirian selalu bisa membuat kita nyaman, namun kita juga butuh partner dalam segala hal di hidup kita”

         Aku mematutkan diri di depan kaca, dan  jelas terlihat kece dari sudut manapun walaupun hanya menggunakan celana jeans, dan kaos hitam yang dilapisi oleh kemeja flanel, setidaknya itu menurut pendapatku. Aku memoleskan lipstik mango peach andalanku, lalu dilanjut dengan pelembab, dan melapisinya dengan bedak gemes.  D’you know why i called “bedak gemes"?.  Bedak gemes adalah bedak yang biasanya digunakan ibu-ibu untuk bayinya yang menggemaskan, maka dari itu aku menyebutnya dengan bedak gemes. Mungkin terdengar sedikit aneh, tapi ini sudah menjadi ritualku dalam berdandan, tak perlu banyak peralatan make up, lipstik, pelembab, dan bedak bayi sudah cukup bagiku.

        Suara klakson motor Ori sudah terdengar, itu tandanya aku harus cepat-cepat keluar menghampirinya sebelum oli kering yang satu itu mengamuk. Aku lari keluar kamar, pamit dengan ayah, bunda dan langsung memakai sepatu di teras rumah dengan memasang senyum manis ke sahabat yang satu itu, tapi sia-sia karena dia tidak menanggapinya. Dia hanya membalas dengan helaan nafas panjang diiringi dengan alis kanannya yang bergerak naik-turun.

        “Yuk, cap-cus beli kado.”Sahutku dengan penuh semangat.

       Ori langsung memberiku helm yang biasa dipakai oleh ceweknya yang bernama Azra. Eiits... tunggu dulu! Sebelum Azra menjadi ceweknya Ori, aku lah satu-satunya pemakai paten helm itu. Bahkan si Pras pun jarang memakai helm itu. Jadi untuk sekarang anggap saja aku meminjamkan sementara helm ini untuk digunakan Azra.

       “Napa lu senyum-senyum sendiri?”tanya Ori penasaran, dan aku hanya bisa membalasnya dengan jawaban andalannya “nggak apa-apa kok.”

        Seperti biasanya, Ori mengendarai motor dengan sangat pelan, bahkan kura-kura pun jauh lebih cepat dibanding Ori. Angin malam ini membuat mataku sayup-sayup, dan terasa berat. Apalagi Ori mengendarai motornya dengan sangat pelan, sehingga membuat perjalanan terasa sangat jauh.

       “Ri, kagak bisa lebih cepet lagi apa ngendarain motornya?” protesku yang sudah tak kuat menahan ngantuk.
        “Yaelaah, yan, Azra aja seneng kalau gua naik motornya pelan, kok elu kagak?”
        “Diih, Azra kan pacar lu, pantes aja seneng, lha gua??? Bukannya seneng malah ngantuk!”
       “Hahaha, alieen-alieen, kalau ngantuk tidur aja. Nanti kalau udah sampai mall gua bangunin, lagian kita kan udah lama nggak jalan bareng kayak gini.”
 
       Aku memejamkan mata dan menyandarkan tubuhku ke punggung Ori. Benar juga katanya, semenjak dia jadian dengan Azra, kami berdua jadi jarang main dan pergi bareng. Ini sudah berjalan dua tahun lebih. Bukannya apa-apa, aku sengaja menghindar dari Ori karena aku nggak mau kalau Azra jadi salah paham. Aku sudah kebal kalau anak-anak kampus atau teman-teman satu SMA menganggap kami pacaran tapi aku nggak mau kalau Azra mengangap bahwa aku suka dengan Ori, karena sebenarnya aku sudah mati rasa dengannya. Aku memang sayang sama Ori, dan juga Pras, tapi ini semua hanya sebatas sahabat, tidak lebih dari itu.
        Pras tau betul kalau aku menghindari Ori karena takut Azra salah paham. Setiap Ori mengajaknya pergi, aku lebih sering menolak dan Pras selalu bersedia menggantikan posisiku. Aku cukup berterima kasih atas bantuan Pras selama ini.
 
        “Yan, bangun udah sampai parkiran nih.” Ori menggerakkan punggungnya pelan-pelan.
      “lu susah banget sih dibangunin, gua malu nih diliatin sama orang-orang!” Lanjutnya sambil menoleh kanan-kiri. Sedangkan aku masih sibuk berusaha membuka mata dan mengumpulkan nyawa. Begitu tersadar kalau kami sudah sampai, aku langsung menjauhkan tubuhnku dari punggung Ori dan mencoba membersihkan bibirku yang siapa tau meninggalkan jejak yang nggak enak dilihat.
 
     Tanpa banyak kata aku langsung turun dari motor dan meletakkan helm di spion motor Ori lalu melangkah menuju pintu masuk mall. Begitu masuk mall aku melihat sekeliling ruko, tapi nggak ada yang menarik perhatianku. Setengah jam berkeliling aku hampir putus asa karena belum menemukan barang yang cocok untuk Azra.
        
       “Ri, Azra mau lu kado apa? Dari tadi nggak ada yang menarik”
       “Gimana lu mau tertarik, orang lu aja nggak masuk ruko, Cuma liat-liat dari luar!” Jawab Ori kesal.
      “Ciee, ngambek. Lu kan tau, gua nggak suka masuk mall makanya gua males liat-liat, nah ntar kalau ada yang menarik baru deh gua mau masuk.” aku mencoba membela diri, tapi Ori malah meniru dengan mimik bibir yang lebay.
 
      Tiba-tiba Ori menghentikan langkahnya, lalu menarik tanganku agar aku mengikutinya ke dalam toko perhiasan. Seluruh karyawan toko tersebut menyambut kami dengan gembira, mungkin para karyawan melihat kami seperti pundi-pundi uang yang akan memenuhi dompetnya.
 
       “Selamat malam kakak, ada yang bisa saya bantu?” tanya si koko ganteng, salah satu karyawan toko tersebut.
       “Mas, saya mau lihat kalung yang bagus dong mas untuk pacar saya”jawab Ori sambil melihat perhiasan yang terdapat di dalam etalase.
       “Oh, buat mbaknya ya? Wah pacarnya cantik ya mas?” kata si koko yang mulai sok tau.
     “Pacar???” tanyaku dengan nada terkejut. Lalu aku melihat tangan Ori yang masih erat menggenggam tanganku sambil melihat-lihat perhiasan.
 
        “Ri, tangan gua Ri lepasin. Si koko ngiranya gua pacar lu!”
       “Eh, iya sorry, nggak sadar gua. Hehe, ni bukan pacar saya, nggak mungkin jeruk makan jeruk” kata Ori sekenanya, dan sialnya si koko malah ketawa puas.
       “Ehm, Koh, ada kalung yang paling murah dan paling jelek nggak? Kalau perlu yang udah cacat juga nggak apa-apa”
       “Buat apa mbak?” tanya koko polos.
      “Buat kado ceweknya temen saya yang satu ini, kokooo” jawabku  sewot dan sialnya  si koko lagi-lagi ketawa puas sambil geleng-geleng, sedangkan Ori melotot kearahku.
 
       Setelah koko mengambil beberapa contoh kalung, koko langsung meletakkannya di meja dengan rapi. Terlihat jelas kalung-kalung itu sangat berkilau dan aku yakin pasti Azra akan tambah cantik jika menggunakannya. 

        Sungguh beruntung cewek satu itu, dalam hati aku terbesit doa yang membuatku sedikit geli. “Ya Tuhan, aku juga ingin suatu saat merasakan seperti apa yang Azra rasakan sekarang. Dia punya sosok yang menganggap bahwa dia adalah orang yang sempurna.”
 
      “Pilih yang mana Yan?” Ori meminta pendapat. Aku menimbang dengan sungguh-sungguh karena memilih terbaik dari yang terbaik memang susah. Setelah beberapa pertimbangan aku menjatuhkan pilihan pada kalung dengan sebuah batu permata. Jika dilihat sekilas tidak ada istimewanya, namun jika kalung tersebut digoyang-goyangkan, di dalam permata tersebut tampak  gambar dua orang yang saling menatap dan semoga itu menandakan mereka berdua yang akan saling menatap sampai Tuhan memisahkan mereka karena usia.
                                                                            ***

       Sebelum pulang mereka mampir ke tea house, kali ini aku ditraktir oleh Ori. Ini adalah ritual saat aku sudah membantunya, dan aku sangat senang dengan ritual ini, hehehe. Dari awal kami duduk di tea house, Ori nggak berhenti menatap kalung yang baru saja dibelinya. Wajahnya tampak berseri-seri, dia pasti membayangkan ekspresi Azra saat dipasangkan kalung tersebut dilehernya. Aih... aku nggak bisa berbuat apa-apa jika melihat sahabatku yang satu ini sedang dirundung rasa gembira.
 
        Aku mengambil HP lalu memotretnya, dengan cepat aku mengirim foto itu ke Pras lewat bbm. “Nih, liat kelakuan temen lu! Gua dicuekin nih, gua kalah saing sama kalung yang lagi dipegang dia. Ckckck”
 
         “Mampus lu! Itu kalung apa jimat? Kok bisa bikin dia senyum-senyum sendiri kayak orang gila!!?.”
          “Sial!!! Buruan samperin kita di tea House nih, bisa gila gua kalau ngadepin dia sendirian”
        “Yaellaah yan, gua lagi sibuk nulis laporan praktikum, lu sadarin gih sebelum dia keblabasan. Good luck yaa! Hahahhaaaaaa”
 
       Membaca bbm dari Pras malah nggak ada gunanya, disaat seperti ini Pras malah nggak bisa diandalkan. Dengan terpaksa aku merusak lamunan orang yang ada di depannya dengan menendang kakinya pelan-pelan.
       “Uuust..uuuust, mau sampai kapan senyum-senyum sendiri?” tanyaku dengan memasang muka datar.
       “Eh, ada neng ilyan. Udah lama neng disini?” balas Ori dengan candaan yang garing.
     “Au ah, gelap! Gua laper nih, jadi traktrik gua nggak? Kalo nggak... eh bentar nyokap gua telpon nih” belum sempat mengancam Ori, bunda keburu telephone.
 
       “Hallo bund, ada apa?” tanyaku dengan nada yang dibuat semanis mungkin.
      “Tolong beliin bunda nasi goreng mang Kardi ya, yang pedes. Sekarang, kalau enggak liat aja nanti!” 

      Begitulah bunda, selalu ada ancaman setelah tragedi pemecahan gelas kesayangannya.
     “Aduh, bundaku yang cantik, adek sekarang lagi keluar sama Ori mending ilyas aja yang beli gimana?” aku coba bernegosiasi dengan bunda.
     “Aduh, anak bunda yang cantiiiik, abang kamu yang satu itu lagi main juga, lagian kamu nggak inget udah mecahin dua belas gelas? Oya, buruan ya, beli dua porsi, buat ayah kamu juga, tapi punya ayah nggak pedes. Oke?”
       “Iyaaa, okeeee, kanjeng mamiiiiih”
 
      Aku menghela nafas panjang, belum juga ditraktir makan malah udah disuruh pulang! Mungkin belum rejeki. Ini semua karena gelas-gelas itu! Liat aja besok, aku ganti semua gelas kaca di rumah dengan gelas plastik yang anti banting, udah gitu lebih murah lagi, kan lumayan pengeluaran bunda jadi sedikit lebih hemat, hehehe.
 
      “Kenape lagi lu? Kok manyun?”
      “Balik yuk, anter gua ke mang Kardi. Kanjeng mamih ngidam nasi goreng.”
     “Lha, kita belum makan loh. Nggak mau makan dulu?”tanya Ori dengan muka serba salah.
    “Tunda aja deh, dari pada gua dipecat jadi anak”jawabku sekenanya. 

      Kami berdua pun langsung berjalan menuju parkiran. Saat diperjalanan, Ori lain dari biasanya, dia mengendarai si “ninja hatori” dengan sangat cepat, perjalanan dari mall ke mang Kardi tapi kini terasa singkat. Memang cuma kanjeng mamih yang bisa bikin spidometer si “ninja hatori” naik dengan cepat, hahaha.
        
       Malam ini, warung mang Kardi lebih ramai dari biasanya, maklumlah nasi gorang mang Kardi memang sudah terkenal dimana-mana, makanya nggak heran, walaupun hanya warung kecil dipinggir jalan tapi pelanggannya nggak kalah dengan restoran kelas atas. Melihat antrian orang yang berjejer di samping gerobak mang Kardi, aku hanya berdoa semoga Tuhan memberi kesabaran lebih banyak untuk bunda, jadi aku nggak perlu kena marah lagi.

      “Hai, mbak ilya, lama nggak kesini, mau pesen berapa porsi?”sapa mang Kardi yang selalu salah menyebut namaku.
       “Pesen dua ya mang, yang satu nggak pedes, nah yang pedes tolong dikasih cabe  level abnormal ya mang, buat bunda soalnya”
      “Lha, mba ilya berantem lagi sama bundanya? Ntar kalau perut bundanya kenapa-kenapa, si mamang nggak nanggung ya?”kata Mang Kardi yang selalu takut mengambil resiko, dan aku hanya mengacungkan jempolku tanda setuju.
 
      Sudah menjadi kebiasaanku dengan mang Kardi, jika aku sedang berantem dengan bunda pasti aku memesankan bunda nasi goreng dengan level abnormal. Entah bunda sadar atau tidak dengan perbuatanku ini , tapi yang jelas nggak ada komplain dari bunda tentang rasa nasi goreng itu. Biasanya yang tahu kejahilannya ini adalah ayah, dan ayah hanya menahan tawa saat melihat bunda kepedasan.
      
      “Tapi agak lama nih mbak, hampir satu jam, yang antri banyak soalnya.” Lanjut mang Kardi, aku pun mengacungkan jempolnya lagi tanda nggak masalah dengan itu, yang terpenting nasi goreng  untuk bunda sesuai dengan pesanan, level abnormal! Hahaha.
 
       Aku menyapu pandangan ke sekeliling warung mang Kardi, mencari bangku kosong untuk kami berdua, tapi semua bangku sudah diisi penuh oleh pelanggan mang Kardi yang lain. Dari tadi Ori memperhatikanku, mungkin Ori tau apa yang sedang aku pikirkan. Ori mencolek punggungku lalu menunjuk ke warung mie ayam yang bersebelahan dengan Mang Kardi.
       “Katanya lu laper, ayuk makan dulu.” Mendengar ajakan Ori, aku langsung senyum sumringah tanda setuju. Apalagi aku sangat senang makan mie ayam. Pernah saking senangnya, dalam sehari menu makananku adalah makan mie ayam. Nggak bisa dibayangin, mungkin ususku sudah keriting karena makanan tersebut. Untung saja untuk masalah yang satu ini bunda nggak tau,  kalau bunda tau, aku akan disemprot habis-habisan.
 
     “Bang, dua porsi ya, minumannya es teh” Ori langsung memesan mie ayam. Dan mereka duduk bersebelahan sambil memandangi jalanan yang ramai dengan kendaraan.
      “Ri, gua bingung deh, lu kok rela sih beli kado mahal-mahal cuma buat cewek lu, nggak sayang sama duit?”tanyaku penasaran.
      “Yaelah Yan, buat ngado ulang tahun lu aja gua rela ngabisin duit hampir sejuta, masa buat pacar gua sendiri pelit. Kan nggak etis.” Jawab Ori ringan sambil tersenyum geli. Dan aku langsung teringat saat aku ulang tahun, Ori menghadiahkan sepatu yang saat ini aku pakai.
      
      “Makanya, cari cowok gih, biar lu ngerti gimana rasanya ngasih sesuatu buat orang yang lu sayang. Lu pasti nggak bakal itung-itungan kalau sama masalah duit, yang terpentingkan kebahagiaan orang yang kita sayangi.” Lanjut Ori dengan gaya sok bijak. Belum sempat aku menjawab, mie ayam kami datang dan aku langsung menyerbunya sampai lupa kalau tadi abis diceramahin sama si oli kering. Hehehe
     “Lu kenapa sih nggak punya pacar? Perasaan lu nggak jelek-jelek banget deh yan.” Mendengar pertanyaan Ori barusan, aku langsung tersedak dan sedikit berfikir. Bener juga kata Ori, aku sudah menjomblo hampir empat tahun ini.
      “Nggak dulu deh, gua males kalau mau kemana-mana harus lapor dulu sama pacar gua. Lagian gua udah nyaman sendiri Ri”
    “Lu kan cewek, nggak bakal selamanya bisa ngerjain apa-apanya sendiri. Lu butuh sosok yang ngelindungi lu, dan bisa lu andalin. Percaya deh, sendiri emang nyaman, tapi kalau berdua itu lebih baik, semua terasa berwarna dan kalau ada masalah ada teman sharing. Itu yang terpenting!”mendengar nasihat yang lagi-lagi keluar dari mulut Ori yang dipenuhi mie ayam, aku hanya bisa menghela nafas panjang.
       “Iya, gua percaya, tapi gua juga nggak mau kalau ntar gua jadi ngejauh dari lu sama Pras, lu tau sendiri, nggak gampang cari pacar yang bisa menerima persahabatan macam kita gini.”

       Kali ini justru Ori yang menghela nafas panjang, dia meletakkan sumpit yang dari tadi dipegangnya, lalu memandangiku lekat-lekat. Aku paling malas kalau Ori sudah memandangku dengan tatapan seperti ini, entah mengapa tatapan itu membuatku canggung.
 
      “Lu nyindir gua Yan? Maaf ya semenjak gua pacaran sama Azra, kita bertiga jadi jarang jalan bareng. Gua jadi jarang juga nganter lu kemana-mana, gua kadang nggak tega harus liat lu naik angkot sendirian. Belum lagi si Pras yang sibuk sama praktikumnya, jadi dia nggak bisa ngegantiin posisi gua.”Ori menatapku dengan perasaan bersalah, suasana pun jadi hening. aku nggak bisa mengatakan satu kata pun, jadi salah tingkah sendiri harus berbuat apa. aku hanya memaksa bibirku agar tersenyum, setidaknya bisa melelehkan rasa bersalah yang Ori rasakan.
                                                                               ***



Minggu, 05 Juli 2015

AMABELLE// Pecahkan Saja gelasnya...

“Waktu akan terus berjalan, tak peduli kau menikmatinya atau tidak dan tak peduli apakah kau berpihak padanya atau tidak.”
 
         Aku nggak pernah menyangka kehidupanku akan berjalan dengan sangat cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan gelas yang sering aku jatuhkan dari meja makan, dan jauh lebih cepat dibanding amarah bunda setelah tau bahwa gelas kesayangannya telah aku pecahkan. Nggak ada yang menarik dari kisah hidupku selama ini. Aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana, dengan beranggotakan ayah, bunda, dan saudara kembar yang dari dulu sampai sekarang nggak ada patut-patutnya disebut sebagai saudara kembarku. Kalau dihitung-hitung, lebih banyak perbedaan yang mencolok diantara kami dari pada persamaannya. Aku terlalu tangguh untuk seorang perempuan, sedangkan dia terlalu manja untuk ukuran laki-laki. Aku orang yang mandiri, bisa melakukan segala pekerjaan rumah (kecuali memasak), ahli bela diri, sopan, baik, dan aku adalah perempuan. Sedangkan dia? Yah, dia kebalikan dari semua yang aku miliki. Atas dasar semua itu, makanya aku nggak menganggap dia sebagai saudara kembar meskipun wajah kami memang benar-benar kembar. Untuk masalah wajah aku nggak pernah menyangkal karena ini sudah kehendak Tuhan memasangkan wajah kami berdua dengan cetakan yang sama, bahkan garis kegantengan saudara kembarku itu juga tersurat di wajahku. 

         “Illyaaaaaaan!!! Sudah berapa gelas yang kamu pecahkan!?” teriak bunda dari ruang tamu setelah medengar suara gelas pecah. Hukum alam akan selalu berlaku. Siapa yang memecahkan barang-barang kesayangan bunda, dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal (baca:menurut bunda). Itu artinya, aku akan dijadikan budak malang selama beberapa hari kedepan.
           “Sudah berapa gelas yang kamu pecahkan?”ulang bunda, sambil berlari menghampiriku.
        “Baru empat kok bund, lagian ini gelas yang jelek kok”sahutku dengan memasang ekspresi seperti terdakwa yang besok akan dihukum mati.
           “Iya, minggu ini empat, minggu kemarin tiga, minggu kemarinnya lagi lima, jadi total yang sudah kamu pecahkan ada dua belas gelas. Ckckck padahal beberapa minggu lagi teman-teman ayah mau ngadain acara di rumah ini!” Bahkan dalam keadaan marahpun kemampuan bunda dalam menghitung sangat tepat
           “Yaaah, terus gimana dong bund? maafin illyan deh.”
         “Dari kemarin minta maaf mulu, emangnya lagi lebaran! Kita liat besok aja, hukuman apa yang mau bunda kasih ke kamu!!!”

         Mendadak saja sekelilingku terlihat gelap, banyak burung berterbangan di atas kepalaku seakan senang dengan apa yang barusan terjadi. Mungkin ini tontonan yang menarik buat mereka!
         “Sokem.. lu kenapa sih?!” tanya si plagiat muka yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamarnya.
         “Lu bisa nggak sih panggil nama gua?”sahutku. “Kanjeng mamih tuh marah-marah mulu cuma karena gelasnya gua pecahin, padahal nggak sengaja.”
     “Jiaaah, sokem-sokem... Kalau setiap minggu mecahin gelas bukan nggak sengaja namanya, tapi ceroboh!”
      “Lu sekali lagi panggil sokem, gua tendang lu sampe ke ujung monas biar tau rasa!”jawabku kesal. Gimana nggak kesal sokem itu adalah singkatan dari sodara kembar, padahal aku paling malas kalau menganggap dia sebagai saudara kembarku.
          Dia tertawa renyah, aih aih, ini yang bikin aku sebal, tawanya!! Seandainya aku nggak ingat kalau dia kakakku, pasti sudah aku habisi dia. Aku gantungin di tengah lapangan lalu aku jadikan samsak untuk latihan bela diri. Terlalu berlebihan ya? Ya sudah, lupakan!.

         Saat suasana hati belum kembali ceria HP berdering, dan muncul nama “Ori”dilayar. Ori adalah salah satu sahabatku, kami sama-sama anggota bela diri di SMA kami dulu. Kini, walaupun kami kuliah di kampus yang berbeda persahabatan kami masih tetap terjaga dengan baik sampai sekarang.
         “Hallo. Napa lu siang-siang telpon gua?!”
         “Diih, galak banget sih neng? Lagi PMS?”
       “Heh oli kering, nggak usah bikin gua tambah bete deh! Bilang aja keperluan lu apa, kalau nggak gua matiin ni telpon!” balasku, sengit.
       “Dasar nenek lampir, gitu aja ngambek. Gini, gua mau minta temenin beli kado buat cewek gua. Mau ya? Lu kan cewek tuh, pasti lu tau kado yang cocok buat dia”
          “Kalau ada maunya aja lu anggep gua cewek! Ya udah, ntar abis maghrib lu jemput gua ya di rumah?”
          “lha, kagak langsung ketemuan aja ditempatnya?”protes Ori.
        “Ya kagak lah oli keriiiiing, malem-malem kagak mungkin gua naik angkot sendirian. Lu mau nggak? Kalau nggak mending lu ajak si perias aja sono.” Jawabku sedikit mengancam.
        “Duilee, masa gua beli kado sama si perias manten. Iya deh ntar gua jemput lu. Bye!” Ori langsung memotong pembicaraan. Aku hanya bisa menghela nafas, akhirnya perbincangan yang menguras kesabaran ini selesai juga. Mau minta beli kado aja harus ada acara ancam-mengancam.
 
Did I forget something?!!   
 
          Ah..iya. orang yang disebut“perias/ perias manten” adalah sahabatku juga. Kalau dilihat dari KTP yang dia punya, nama sebenarnya adalah Prastama Mahendra atau biasa dipanggil Pras. Kami bertiga sudah bersahabat sejak SMA. Kini Pras dan Ori satu kampus, sedangkan aku terdampar di kampus sebelah yang tentunya nggak kalah bagus dengan kampus mereka.
                                                                                 ***

AMABELLE

Amabelle merupakan novel pertama yang aku terbitkan di blog dadakan ini. Amabelle diambil dari bahasa romawi yang artinya pantas dicintai. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Ilyan. Tapi Ilyan yang diceritakan dalam novel ini berbeda dengan Ilyan di kehidupan nyata ya gaeeees!!!

Ilyan dalam cerita ini merupakan sosok cewek yang mempunyai saudara kembar bernama Ilyas. Ia mempunyai sahabat yang selalu ada di saat dia jatuh bangun mencari cinta yang dicarinya. Saat ia putus cinta ia menganggap bahwa dirinya tidak pantas dicintai. Ia berpikiran kalau ada sesuatu yang salah dengan dirinya yang membuat ia tidak juga mendapatkan pacar. Tapi diam-diam ada seseorang yang mencintai dia dalam diam dan menganggap dia adalah sosok yang pantas untuk dicintai banyak orang. Siapa sih cowok yang punya perasaan tersebut? Apakah ia merupakan sahabatnya?Atau mungkin orang yang tidak ia duga sebelumnya???

Monggoh dibaca novelnya. Nggak perlu sok-sok galau dan langsung teringat dek'e setelah baca narasi diatas yak!!!