“Pada akhirnya aku kenal
apa itu cinta yang selama ini aku pertanyakan”
Aku selalu mencoba bersyukur atas segala yang aku alami di
hidupku. Tentang kesehatan, harapan, persahabatan dan terutama tentang cinta
yang sudah lama tidak menempati sudut hati ini. Seiring berjalannya waktu aku
jadi menghargai setiap orang yang memberikan kasih sayangnya untukku. Mungkin
ini belum bisa dikatakan sebagai bentuk cinta yang aku maksud tetapi setidaknya
mereka membuat hariku semakin berwarna dengan kasih sayang yang mereka
tunjukkan kepadaku. Kini aku semakin mengucap syukur semenjak dipertemukan
dengan Denis, sosok yang entah mengapa membuat hati ini merasakan kenyamanan
yang sudah lama sekali tidak pernah aku rasakan. Dia juga sosok yang menganggap
dan memperlakukan aku sebagai seorang wanita. Sikap inilah yang tidak aku
dapatkan dari sahabat maupun teman-teman kampusku. Dan, dari Denis lah aku
mendapatkan cinta yang selama ini aku dambakan.
Segelintir
peristiwa telah merekatkan hubungan kami. Dari yang awalnya tidak kenal menjadi
kenal, dari awalnya yang merasa hanya teman kini menjadi demen (suka). Aku tak pernah bisa marah jika dia membuat kesalahan,
aku juga tak pernah merasa tersinggung ketika dia melarangku makan makanan yang
aku sukai, bahkan aku tak pernah merasakan ilfil saat dia melakukan hal yang
bisa dikatakan aneh. Apakah ini yang dinamakan cinta? Ia tak pernah merasa
keberatan dengan apa yang dilarang oleh orang yang dicintainya? Ia juga tak
pernah bisa marah saat orang yang dicintainya melakukan kesalahan yang biasanya
membuat ia marah?.
Ini
adalah hari ke empat aku menginap di rumah sakit dan selama empat hari ini
Ilyas, Ara, serta Denis selalu mendampingi aku. Bahkan Denis tak pernah
sekalipun meninggalkan aku. Saat Ara dan Ilyas pergi makan di kantin, Denis
selalu enggan bergabung dengan mereka. Karena itulah Ilyas selalu membawa nasi
kotak untuk Denis yang telah berjasa menjaga saudara kembarnya dengan baik.
“Gimana
keadaan kamu sekarang?”tanya Denis saat aku terbangun dari tidur, ia juga
menggenggam tanganku dengan lembut. Semenjak di rumah sakit tangan ini menjadi
terbiasa di genggam oleh Denis.
“Udah baikan kok.”
“Udah
nggak pusing lagi?”
Aku menggelengkan kepala
“Syukurlaah....” Denis
mengusap punggung tanganku, aku pun tersenyum ke arahnya.
“Kok senyum, kenapa?”
“Kita kok bisa dipertemukan gini ya?” kata-kata itu akhirnya keluar
juga dari mulutku.
“Aku
malah jauh lebih nggak ngerti kenapa bisa sampai punya perasaan ke kamu.”
“Hah,
maksudnya??” aku kaget mendengar jawaban Denis barusan.
Denis
menegakkan punggungnya lalu menatap mataku, dan tentunya ia tidak melepaskan
genggaman tangannya.
“Aku
sayang sama kamu. Semenjak pertama kali kita bertemu kamu selalu bikin hari aku
nggak tenang. Aku nggak bisa sedetik pun nggak mikirin kamu!”
Suasana
menjadi hening. Aku bingung harus bagaimana mengekspresikan perasaanku. Kaget,
nggak percaya, dan bahagia bercampur jadi satu. Aku terus menatap mata sipit
Denis, berharap ini bukan sekedar mimpi.
“Gimana?
Kamu punya perasaan yang sama kan ke aku?”
Aku
tersenyum ke arahnya, lalu senyum Denis mulai mengembang. Ia pun memelukku
erat. Haaaah, akhirnya pertanyaanku selama ini terjawab sudah. Nggak akan ada
lagi rasa takut kehilangan Denis, karena ia sudah menjadi pacarku dan dia pun
memiliki rasa yang sama terhadapku.
“Cieeee,
jadian ciyeeeee!!!!” Ilyas dan Ara setengah teriak dari jendela kamar lalu
berlari menghampiri kami.
“Huuust,
jangan ribut, ini rumah sakit!” aku memperingatkan mereka namun tetap saja tidak
bisa menyembunyikan pipiku yang mulai memerah.
“Selamat
ya, Den. Awas kalau lu buat kembaran gua nangis!”
“Iya
tenang aja. Lu juga awas ya kalau buat si Ara nangis!” Denis mengatakan dengan
serius ke Ilyas yang justru membuat aku cemburu.
“Diiih,
lu siapanya Ara? Kok sampai segitunya?” aku mengerutkan dahi.
“Aku kan temennya dia sayaaaang.” Denis
menjawab dengan wajah sok imut dan justru membuatku tersenyum manis karena
mendengar kata “sayang” langsung dari mulutnya.
“Sayang,
aku balik ke solo besok ya?” Tanya Denis saat kami sedang duduk-duduk di teras rumah.
Sore ini aku sudah kembali ke rumah yang sangat aku rindukan dari empat hari
yang lalu. Dokter sudah memperbolehkan aku pulang karena keadaanku sudah baik.
“Kok
cepet banget? Lu balik sama Ilyas dan Ara juga?”
“Hmm,
udah dibilangin kalau ngobrol jangan pakai gua-elu! Kita kan udah pacaran...”
Denis melotot gemas kearahku.
Aku
menarik nafas sejenak lalu menuruti kata Denis, “Huufff, iya. Kok sayang udah
mau pulang aja. Kenapa? Pulangnya bareng sama Ilyas dan Ara juga?”
“Naaah
gitu dong. Kan enak didenger. Hehe.”
“Besok
aku balik sama Ara doang, naik kereta. Ilyas kan harus jagain kamu, katanya
ortu baliknya diundur.” Lanjut Denis.
Benar juga,
aku baru ingat kalau ayah dan bunda mengundur jadwal penerbangan karena keadaan
di kalimantan sedang tidak mendukung akibat adanya kebakaran hutan beberapa
hari ini. Baru saja menyandang sebagai pacaranya Denis, besok aku harus
menjalankan hubungan ini secara long
distance.
“Mereka
dimana?” tanyaku begitu sadar Ara dan Ilyas tidak ada di rumah setelah mengantarku
pulang.
“Mereka
lagi jalan. Kenapa? Sayang juga pengin jalan-jalan?”
“Nggak
deh gua....” aku menghentikan kalimatku begitu melihat Denis yang melotot lagi
ke arahku, lalu aku membenarkan kalimatku.
“Aku
dirumah aja, masih males gerak.”
“Hmm,
bagus deh. Kan kita bisa quality time kalau berdua gini.” Lagi-lagi Denis
mengeluarkan kata-kata gombalnya.
Aku
tersenyum ke arah lantai, nikmat sekali suasana hari ini. Senja yang dihiasi
mega nan cantik, berpadu dengan suara ketukan abang batagor yang mangkal di depan
rumah. Ditambah lagi ditemani sang pujaan hati yang sudah lama dinanti. Beuuh,
syedaaaaap beneer!!!!
“Yang,
kamu kapan balik ke Jakarta lagi?”
Denis
berpikir agak lama sebelum menjawab pertanyaanku, mungkin dia juga menanyakan
pertanyaan yang sama pada dirinya. Kini dia menatapku diam, memandang
ekspresiku yang mulai tampak sedih saat tau bahwa ternyata hubungan LDR yang
akan dijalankan ini terasa berat.
“Aku
belum tahu, yang penting kamu percaya sama aku dan aku pun juga percaya ke
kamu.” Denis mengusap pelan ubun-ubunku yang mulai panas memikirkan hubungan
ini.
“Aku
pasti percaya sama kamu, yang terpenting kan kita komitmen sama hubungan ini.
Dan menurut aku kalau kita udah punya komitmen pasti semua permasalahan bisa
diselesaikan kok.”
Denis
tersenyum ke arahku, dan kearah abang batagor. Entahlah aku tak mengerti apa
yang ada di pikirannya, mungkin dia ingin cari perhatian agar dapat gratisan
sepiring batagor~Lol!
“Kamu
masih inget cewek yang marah-marah ke aku waktu kita nongkrong di solo?”
Denis
mengangguk pelan, namun tatapannya tak lepas dari abang batagor.
“Dia
siapa? Kok bisa marah begitu?”
“Dia
sahabatnya Ara, wajar aja kalau marah begitu. Jangan dimasukkan ke hati ya?”
“Iya,
tapi kayaknya dia juga keliatan deket ya sama kamu? Sampai-sampai kamu panggil
dia adek.” aku menelan ludah dan mengumpat dalam hati. Pertanyaan macam apa ini?
Aku segera memasang wajah sewajarnya agar tak kelihatan cemburu.
“Kenapa?
Cemburu nih?”
“Diih,
kagak! Cuman tanya doang kok, kalau nggak mau jawab ya nggak masalah.” Kini aku
benar-benar salah tingkah.
“Kalau di Solo kita panggil orang dengan sebutan adek itu
wajar. Yang nggak wajar itu manggil orang yang bukan pacarnya dengan sebutan
sayang.”
Untuk
kesekian kalinya aku kembali tertawa mendengar kata-kata Denis. Dia selalu bisa
membuat suasana hatiku berbunga-bunga hanya karena kata-kata yang keluar dari
bibirnya. Aku sangat bersyukur atas apa yang telah terjadi padaku akhir-akhir
ini. Selalu ada hikmah disetiap kejadian yang aku alami. Awalnya aku sangat
kecewa ketika sakit dan harus menelan kesedihan ketika aku tidak bisa mengikuti
seleksi kejuaraan yang sudah aku tunggu-tunggu. Tapi aku sadar, kalau saja aku
tidak sakit mungkin hubunganku dengan Denis tidak akan seperti sekarang dan
yang mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengan Denis.
Belum
lama aku menikmati kebersamaan dengan Denis, muncul sosok cowok dengan tampang
lesu memarkirkan motor ninja-nya di depan pagar rumah. Dia menghampiri kami
dengan mata yang memerah dan tanpa senyum kegembiraan seperti biasanya.
“Ori
ngapain kesini?” Tanya denis dengan nada pelan sambil mengerutkan Dahi,
terlihat dia kecewa karena kedatangan tamu yang tak diundang.
“Kayaknya
dia lagi ada masalah deh, mukanya murung gitu. Sayang tolong kedalam dulu ya?
Mungkin Ori mau curhat.” Jawabku dengan nada yang pelan juga namun pandanganku
tak berpaling dari sosok Ori yang semakin mendekat kearahku.
Tanpa menjawab Denis langsung masuk ke
dalam rumah dan tak lupa sebelumnya melambaikan tangan ke arah Ori yang masih
memasang wajah murung. Ori kini duduk di sampingku sambil mengusap wajahnya
lalu menyandarkan kepalanya ke punggung kursi.
“Lu kenapa sih? Lesu banget?!”
“Gua putus sama Azra.”
Aku menghela nafas sejenak, bingung
harus melontarkan kalimat penenang seperti apa jika melihat keadaan Ori yang
tak seperti biasanya.
“Kok bisa? Ada masalah apa?”
“Gua capek sama kelaukan dia yang
kekanak-kanakan, marah karena hal kecil!”
“Terus lu putusin dia?”
Ori
mengangguk cepat dan aku hanya bisa menggelengkan kepala.
“Terus
sekarang lu nyesel kan udah putusin dia?” mendengar pertanyaanku barusan Ori
menegakkan posisi duduknya dan menghela nafas panjang.
“Kalau
lu nyesel lebih baik lu obrolin lagi deh sama Azra. Kalau bisa diperbaiki
kenapa nggak? Iya kan?”
“Kagak
deh, gua masih butuh waktu untuk sendiri. Lagian gua juga udah capek harus
nurutin sikap dia yang nggak dewasa gitu.”
“Ya
udah kalau itu mau lu, tapi jangan galau gini dong kalau didepan gua! Senyum
doong...”
Ori melaksanakan
perintahku, senyumnya kini menghiasi wajah lesunya. Lalu dia mengucapkan terima
kasih sambil memelukku erat. Aku senang melihat dia kembali bahagia namun aku
juga khawatir jika Denis melihat kejadian ini dan salah sangka.
“Oiya
gua lupa, lu udah punya cowok ya. Main peluk aja gue!” Ori melepaskan pelukannya
dan memukul pelan dahinya.
“Emang
dasar lu aja yang ganjen!” jawabku cepat.
“Ye,
lagian lu mau aja gua peluk! Bukannya menghindar atau gimana gitu!”
“Huusst,
pelanin dikit suara lu! Bahaya kalau Denis dengar dan salah paham!” aku
mencubit lengan Ori dengan kencang dan kami tertawa lepas seperti sedia kala.
Aku
bersyukur bisa mendengar tawa Ori, ini baru sahabat yang aku kenal. Sahabat
yang selalu ceria dalam keadaan apapun. Aku harap Ori bisa tegar menghadapi
permasalahan yang sedang dihadapinya, dan aku berharap semoga tawanya tidak
pernah lepas menghiasai wajah lonjongnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar