Selasa, 02 Februari 2016

AMABELLE// Love is Magic


“Pada akhirnya aku kenal apa itu cinta yang selama ini aku pertanyakan”


         
        Aku selalu mencoba bersyukur atas segala yang aku alami di hidupku. Tentang kesehatan, harapan, persahabatan dan terutama tentang cinta yang sudah lama tidak menempati sudut hati ini. Seiring berjalannya waktu aku jadi menghargai setiap orang yang memberikan kasih sayangnya untukku. Mungkin ini belum bisa dikatakan sebagai bentuk cinta yang aku maksud tetapi setidaknya mereka membuat hariku semakin berwarna dengan kasih sayang yang mereka tunjukkan kepadaku. Kini aku semakin mengucap syukur semenjak dipertemukan dengan Denis, sosok yang entah mengapa membuat hati ini merasakan kenyamanan yang sudah lama sekali tidak pernah aku rasakan. Dia juga sosok yang menganggap dan memperlakukan aku sebagai seorang wanita. Sikap inilah yang tidak aku dapatkan dari sahabat maupun teman-teman kampusku. Dan, dari Denis lah aku mendapatkan cinta yang selama ini aku dambakan.
    Segelintir peristiwa telah merekatkan hubungan kami. Dari yang awalnya tidak kenal menjadi kenal, dari awalnya yang merasa hanya teman kini menjadi demen (suka). Aku tak pernah bisa marah jika dia membuat kesalahan, aku juga tak pernah merasa tersinggung ketika dia melarangku makan makanan yang aku sukai, bahkan aku tak pernah merasakan ilfil saat dia melakukan hal yang bisa dikatakan aneh. Apakah ini yang dinamakan cinta? Ia tak pernah merasa keberatan dengan apa yang dilarang oleh orang yang dicintainya? Ia juga tak pernah bisa marah saat orang yang dicintainya melakukan kesalahan yang biasanya membuat ia marah?.
       Ini adalah hari ke empat aku menginap di rumah sakit dan selama empat hari ini Ilyas, Ara, serta Denis selalu mendampingi aku. Bahkan Denis tak pernah sekalipun meninggalkan aku. Saat Ara dan Ilyas pergi makan di kantin, Denis selalu enggan bergabung dengan mereka. Karena itulah Ilyas selalu membawa nasi kotak untuk Denis yang telah berjasa menjaga saudara kembarnya dengan baik.
                
    “Gimana keadaan kamu sekarang?”tanya Denis saat aku terbangun dari tidur, ia juga menggenggam tanganku dengan lembut. Semenjak di rumah sakit tangan ini menjadi terbiasa di genggam oleh Denis.
          “Udah baikan kok.”
        “Udah nggak pusing lagi?”
        
      Aku menggelengkan kepala
 
      “Syukurlaah....” Denis mengusap punggung tanganku, aku pun tersenyum ke arahnya.
      “Kok senyum, kenapa?”
     “Kita kok bisa dipertemukan gini ya?” kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulutku.
     “Aku malah jauh lebih nggak ngerti kenapa bisa sampai punya perasaan ke kamu.”
     “Hah, maksudnya??” aku kaget mendengar jawaban Denis barusan.
                 
        Denis menegakkan punggungnya lalu menatap mataku, dan tentunya ia tidak melepaskan genggaman tangannya.
      “Aku sayang sama kamu. Semenjak pertama kali kita bertemu kamu selalu bikin hari aku nggak tenang. Aku nggak bisa sedetik pun nggak mikirin kamu!”
                 
       Suasana menjadi hening. Aku bingung harus bagaimana mengekspresikan perasaanku. Kaget, nggak percaya, dan bahagia bercampur jadi satu. Aku terus menatap mata sipit Denis, berharap ini bukan sekedar mimpi.
        “Gimana? Kamu punya perasaan yang sama kan ke aku?”
                 
       Aku tersenyum ke arahnya, lalu senyum Denis mulai mengembang. Ia pun memelukku erat. Haaaah, akhirnya pertanyaanku selama ini terjawab sudah. Nggak akan ada lagi rasa takut kehilangan Denis, karena ia sudah menjadi pacarku dan dia pun memiliki rasa yang sama terhadapku.

      “Cieeee, jadian ciyeeeee!!!!” Ilyas dan Ara setengah teriak dari jendela kamar lalu berlari menghampiri kami.
      “Huuust, jangan ribut, ini rumah sakit!” aku memperingatkan mereka namun tetap saja tidak bisa menyembunyikan pipiku yang mulai memerah.
       “Selamat ya, Den. Awas kalau lu buat kembaran gua nangis!”
     “Iya tenang aja. Lu juga awas ya kalau buat si Ara nangis!” Denis mengatakan dengan serius ke Ilyas yang justru membuat aku cemburu.
      “Diiih, lu siapanya Ara? Kok sampai segitunya?” aku mengerutkan dahi.
    “Aku kan temennya dia sayaaaang.” Denis menjawab dengan wajah sok imut dan justru membuatku tersenyum manis karena mendengar kata “sayang” langsung dari mulutnya.

               

      “Sayang, aku balik ke solo besok ya?” Tanya Denis saat kami sedang duduk-duduk di teras rumah. Sore ini aku sudah kembali ke rumah yang sangat aku rindukan dari empat hari yang lalu. Dokter sudah memperbolehkan aku pulang karena keadaanku sudah baik.
      “Kok cepet banget? Lu balik sama Ilyas dan Ara juga?”
    Hmm, udah dibilangin kalau ngobrol jangan pakai gua-elu! Kita kan udah pacaran...” Denis melotot gemas kearahku.
               
      Aku menarik nafas sejenak lalu menuruti kata Denis, “Huufff, iya. Kok sayang udah mau pulang aja. Kenapa? Pulangnya bareng sama Ilyas dan Ara juga?”
        “Naaah gitu dong. Kan enak didenger. Hehe.”
      “Besok aku balik sama Ara doang, naik kereta. Ilyas kan harus jagain kamu, katanya ortu baliknya diundur.” Lanjut Denis.
       
       Benar juga, aku baru ingat kalau ayah dan bunda mengundur jadwal penerbangan karena keadaan di kalimantan sedang tidak mendukung akibat adanya kebakaran hutan beberapa hari ini. Baru saja menyandang sebagai pacaranya Denis, besok aku harus menjalankan hubungan ini secara long distance.
             
   “Mereka dimana?” tanyaku begitu sadar Ara dan Ilyas tidak ada di rumah setelah mengantarku pulang.
        “Mereka lagi jalan. Kenapa? Sayang juga pengin jalan-jalan?”
        “Nggak deh gua....” aku menghentikan kalimatku begitu melihat Denis yang melotot lagi ke arahku, lalu aku membenarkan kalimatku.
         “Aku dirumah aja, masih males gerak.”
   “Hmm, bagus deh. Kan kita bisa quality time kalau berdua gini.” Lagi-lagi Denis mengeluarkan kata-kata gombalnya.
                 
        Aku tersenyum ke arah lantai, nikmat sekali suasana hari ini. Senja yang dihiasi mega nan cantik, berpadu dengan suara ketukan abang batagor yang mangkal di depan rumah. Ditambah lagi ditemani sang pujaan hati yang sudah lama dinanti. Beuuh, syedaaaaap beneer!!!!
        “Yang, kamu kapan balik ke Jakarta lagi?”
                
      Denis berpikir agak lama sebelum menjawab pertanyaanku, mungkin dia juga menanyakan pertanyaan yang sama pada dirinya. Kini dia menatapku diam, memandang ekspresiku yang mulai tampak sedih saat tau bahwa ternyata hubungan LDR yang akan dijalankan ini terasa berat.
     
      “Aku belum tahu, yang penting kamu percaya sama aku dan aku pun juga percaya ke kamu.” Denis mengusap pelan ubun-ubunku yang mulai panas memikirkan hubungan ini.
        “Aku pasti percaya sama kamu, yang terpenting kan kita komitmen sama hubungan ini. Dan menurut aku kalau kita udah punya komitmen pasti semua permasalahan bisa diselesaikan kok.”
              
          Denis tersenyum ke arahku, dan kearah abang batagor. Entahlah aku tak mengerti apa yang ada di pikirannya, mungkin dia ingin cari perhatian agar dapat gratisan sepiring batagor~Lol!
              
          “Kamu masih inget cewek yang marah-marah ke aku waktu kita nongkrong di solo?”
             
           Denis mengangguk pelan, namun tatapannya tak lepas dari abang batagor.
               
           “Dia siapa? Kok bisa marah begitu?”
           “Dia sahabatnya Ara, wajar aja kalau marah begitu. Jangan dimasukkan ke hati ya?”
         “Iya, tapi kayaknya dia juga keliatan deket ya sama kamu? Sampai-sampai kamu panggil dia adek.” aku menelan ludah dan mengumpat dalam hati. Pertanyaan macam apa ini? Aku segera memasang wajah sewajarnya agar tak kelihatan cemburu.
                 
           “Kenapa? Cemburu nih?”
         “Diih, kagak! Cuman tanya doang kok, kalau nggak mau jawab ya nggak masalah.” Kini aku benar-benar salah tingkah.
       “Kalau di Solo kita panggil orang dengan sebutan adek itu wajar. Yang nggak wajar itu manggil orang yang bukan pacarnya dengan sebutan sayang.”
               
         Untuk kesekian kalinya aku kembali tertawa mendengar kata-kata Denis. Dia selalu bisa membuat suasana hatiku berbunga-bunga hanya karena kata-kata yang keluar dari bibirnya. Aku sangat bersyukur atas apa yang telah terjadi padaku akhir-akhir ini. Selalu ada hikmah disetiap kejadian yang aku alami. Awalnya aku sangat kecewa ketika sakit dan harus menelan kesedihan ketika aku tidak bisa mengikuti seleksi kejuaraan yang sudah aku tunggu-tunggu. Tapi aku sadar, kalau saja aku tidak sakit mungkin hubunganku dengan Denis tidak akan seperti sekarang dan yang mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengan Denis.
        Belum lama aku menikmati kebersamaan dengan Denis, muncul sosok cowok dengan tampang lesu memarkirkan motor ninja-nya di depan pagar rumah. Dia menghampiri kami dengan mata yang memerah dan tanpa senyum kegembiraan seperti biasanya.
             
        “Ori ngapain kesini?” Tanya denis dengan nada pelan sambil mengerutkan Dahi, terlihat dia kecewa karena kedatangan tamu yang tak diundang.
         “Kayaknya dia lagi ada masalah deh, mukanya murung gitu. Sayang tolong kedalam dulu ya? Mungkin Ori mau curhat.” Jawabku dengan nada yang pelan juga namun pandanganku tak berpaling dari sosok Ori yang semakin mendekat kearahku.

Tanpa menjawab Denis langsung masuk ke dalam rumah dan tak lupa sebelumnya melambaikan tangan ke arah Ori yang masih memasang wajah murung. Ori kini duduk di sampingku sambil mengusap wajahnya lalu menyandarkan kepalanya ke punggung kursi.
“Lu kenapa sih? Lesu banget?!”
“Gua putus sama Azra.”

Aku menghela nafas sejenak, bingung harus melontarkan kalimat penenang seperti apa jika melihat keadaan Ori yang tak seperti biasanya.

“Kok bisa? Ada masalah apa?”
“Gua capek sama kelaukan dia yang kekanak-kanakan, marah karena hal kecil!”
            “Terus lu putusin dia?”
              
            Ori mengangguk cepat dan aku hanya bisa menggelengkan kepala.
              
          “Terus sekarang lu nyesel kan udah putusin dia?” mendengar pertanyaanku barusan Ori menegakkan posisi duduknya dan menghela nafas panjang.
          “Kalau lu nyesel lebih baik lu obrolin lagi deh sama Azra. Kalau bisa diperbaiki kenapa nggak? Iya kan?”
        “Kagak deh, gua masih butuh waktu untuk sendiri. Lagian gua juga udah capek harus nurutin sikap dia yang nggak dewasa gitu.”
       “Ya udah kalau itu mau lu, tapi jangan galau gini dong kalau didepan gua! Senyum doong...”
                
     Ori melaksanakan perintahku, senyumnya kini menghiasi wajah lesunya. Lalu dia mengucapkan terima kasih sambil memelukku erat. Aku senang melihat dia kembali bahagia namun aku juga khawatir jika Denis melihat kejadian ini dan salah sangka.
              
        “Oiya gua lupa, lu udah punya cowok ya. Main peluk aja gue!” Ori melepaskan pelukannya dan memukul pelan dahinya.
        “Emang dasar lu aja yang ganjen!” jawabku cepat.
         “Ye, lagian lu mau aja gua peluk! Bukannya menghindar atau gimana gitu!”
     “Huusst, pelanin dikit suara lu! Bahaya kalau Denis dengar dan salah paham!” aku mencubit lengan Ori dengan kencang dan kami tertawa lepas seperti sedia kala.
               
       Aku bersyukur bisa mendengar tawa Ori, ini baru sahabat yang aku kenal. Sahabat yang selalu ceria dalam keadaan apapun. Aku harap Ori bisa tegar menghadapi permasalahan yang sedang dihadapinya, dan aku berharap semoga tawanya tidak pernah lepas menghiasai wajah lonjongnya.



Tidak ada komentar: