“Setiap orang memiliki
porsinya masing-masing untuk memberikan sebuah pelajaran berharga bagi orang
lain.”
Malam
ini aku memaksakan diri untuk keluar kamar dan bergabung dengan keluargaku di
ruang makan. Menu makan malam kali ini tergolong mewah. Buah-buahan lengkap
tersaji di atas meja, belum lagi menu utama yang membuat aku mengerutkan dahi.
Guramih asam manis, cah kangkung, iga bakar, dan sup yang masih panas tersaji
rapi di atas meja ditemani dengan beberapa gelas orange jus.
“Ada acara apa nih?” tanyaku dengan
wajah polos.
“Acara memperingati patah hati putri
ayah!”Jawab ayah sambil tersenyum lebar dan aku hanya menelan ludah.
Bel rumah berbunyi sebelum aku sempat
menggigit iga yang dari tadi menyita perhatianku. aku segera berlari membukakan
pintu untuk tamu yang tak aku harapkan kedatangannya.
“Bang Kiki, ada apa malam-malam gini ke
rumah?”
“Siapa Yaaaan?” teriak ayah dari ruang
tamu.
“Saya Om!” teriak Kiki dengan lantang.
Ayah menghampiri kami yang masih saling
berhadapan di depan pintu rumah.
“Akhirnya kamu datang juga, ayuk kita
makan malam bersama. Tante sudah menyiapkan makanan yang lezat di ruang makan.” Kata
ayah sambil merangkul Kiki dan mengawalnya menuju ruang makan. Sedangkan aku
ditinggalkan sendiri di depan pintu, mungkin mereka lupa kalau ada sosok wanita
yang sedari tadi tak mengerti apa arti dari kedatangan Kiki malam ini.
Aku menyusul mereka ke ruang makan,
tampak kegembiraan di wajah ayah dan bunda semenjak kedatangan Kiki. Bahkan
saking gembiranya bunda memberikan beberapa centong nasi ke piring Kiki, dan
ini membuatku cemburu.
Selama makan malam berlangsung aku dan
Ilyas lebih banyak diam sambil mendengar percakapan antara ayah dengan Kiki.
Sedangkan bunda sibuk menuangkan beberapa lauk ke piring Kiki sambil sesekali
menimpali percakapan mereka.
“Oiya Om, saya juga bawa beberapa
contoh bangunan yang sempat saya ambil dari internet. Siapa tau bisa jadi
referensi kita.”
“Hmm, bagus itu! pasti sangat membantu kerja kita malam ini. “
“Om minta maaf ya harus mengganggu
waktu. Tadinya Om mau mengundang kamu ke kantor tapi suasana di kantor sedang
tidak kondusif karena sekarang akhir tahun jadi semua karyawan om sibuk dengan
laporannya masing-masing.”lanjut Ayah.
Aku mengerutkan dahi, sampai sekarang
aku masih belum mengerti apa yang mereka bicarakan.
“Oya, Yan, gimana tentang proposal yang
Kiki ajukan waktu itu? sudah ada perkembangan?” tanya ayah yang membuatku kaget
dan tersedak makanan.
Mampus!
Gimana ada perkembangan, malam minggu kemarin kan gua lagi sibuk nangis, sampai
lupa membahas proposal yang diajukan Bang Kiki!!
“Hmm, malam minggu kemarin kami sudah ketemu
Om. Dan masih ada beberapa hal yang harus dibahas, kalau sudah ada perkembangan
yang berarti saya akan kasih laporannya ke Om Drajad.” Jawab Kiki dengan
ragu-ragu namun itu sangat membantu.
Seakan mengerti ada yang kami tutupi,
Ilyas menatapku sambil menyipitkan matanya. Aku hanya tersenyum dan memberikan
potongan iga yang paling besar ke Ilyas agar ia tidak mengutarakan apa yang ada
dipikirannya sekarang.
Setelah makan malam, Ayah dan juga Kiki
pindah ke gazebo belakang rumah sambil membawa beberapa perlengkapan yang biasa
digunakan ayah untuk menggambar gedung-gedung megah. Aku segera mendekati Bunda
yang sibuk mencuci piring.
“Bund, Bang Kiki ngapain kerumah?”
“Loh Kiki nggak cerita ke kamu?” Aku
menggelengkan kepala.
“Ayah minta bantuan dia untuk merevisi rancangan
mall yang dibuat anak buahnya.” lanjut Bunda.
“Bang Kiki lulusan arsitek?” tanyaku
tak percaya.
“Iya, kamu tahu tempat makan yang biasa
kita kunjungi? Itu adalah hasil karya dia.”
Aku masih tak percaya kalau Kiki adalah
lulusan arsitek, belum lagi hasil karyanya ternyata sering aku nikmati
beserta keluargaku. Bahkan tempat tersebut adalah tempat pertama kali aku melihat sosok Kiki dengan
gitar dan suara emasnya saat menyanyikan lagu kesukaan ku.
Tak mau ambil pusing dengan nilai plus
Kiki yang semakin membuatku terkejut, aku langsung kabur ke ruang keluarga dan
menyalakan televisi ditemani dengan kentang goreng kesukaanku. Saking lamanya
menonton tv aku jadi tertidur beberapa menit di sofa pajang yang terdapat di
ruangan tersebut. Begitu aku membuka mata, aku langsung teriak karena kaget
melihat Kiki yang sedang khidmat menggambar di bawah lantai. Belum lagi lampu
ruangan gelap sedangkan Kiki hanya diterangi oleh lampu meja belajarku. Karena
itu, aku sempat mengira jika Kiki adalah makhluk astral yang akan mengganggu
ketenanganku malam ini.
“Lu ngapain disini?” tanyaku terkejut.
“Gue nggak bisa begadang sendirian.
Makanya begitu liat lo disini, gue samperin.”
“Loh, bukannya tadi Bang Kiki bareng
Ayah?”
“Iya, tapi sekarang bokap lo udah di
kamar. Besok harus bangun pagi dan mempresentasikan kerjaan gue. Makannya gue
harus begadang.”
“Hmm, gitu.... Ya udah lanjutin aja gua
temenin disini.”
“Eh, Yan, masih ada makanan nggak? Gue
laper nih dari tadi.”
“Buseeet!!! Perasaan tadi udah makan
banyak, masih kurang Bang?”
“Aaah, itu hanya perasaan dik Ilyan
saja.” Jawab Kiki dengan senyum manisnya.
“Hahaha, bisa aja lu! Gua liat di dapur
dulu ya, kali aja ada makanan.” Jawabku yang segera berjalan ke dapur dan tak
disangka Kiki mengikutiku dari belakang.
“Yaah, udah nggak ada makanan. Nasi
juga udah habis. Roti tawar mau?”ucapku begitu sampai di dapur.
“Eh, ada madu nih. Bikin french toast yuk?” Kiki langsung
menemukan ide saat melihat sebotol madu.
“Gua nggak bisa...”
“Gue aja yang bikin. Lo tolong ambil
beberapa stroberi dan anggur ya, setelah itu cuci dan dipotong jadi tiga
bagian.”
Aku mengikuti apa yang diperintahkan
Kiki, setelah tugasku selesai aku hanya memperhatikan Kiki membuat olahan roti
yang terkenal di Eropa ini. Kiki mengocok telur pada mangkok hingga lepas lalu
menuangkan bahan-bahan lain dan mengaduk dengan rata. Kemudian larutan telur
tersebut ia pindahkan ke dalam loyang.
Empat lembar roti tawar ia celupkan
pada larutan tersebut hingga basah dan tenggelam. Setelah itu aku membantu memanaskan
margarine pada teflon lalu menggoreng roti tersebut hingga berwarna kecoklatan.
Kegiatan menggoreng sudah selesai kini
Kiki meletakan roti tersebut di atas piring lalu mengguyurnya dengan madu dan
menambahkan beberapa stoberi serta anggur yang tadi sempat aku potong menjadi
beberapa bagian.
Tampilan french toast yang disajikan Kiki sangat cantik. Mungkin insting
arsiteknya juga bermain disini. Kiki membawa dua piring french toast ke ruang tamu lalu aku mengikutinya sambil membawa dua
gelas orange jus.
Kami menikmati olahan roti tawar ini
dengan khidmat sambil ditemani TV yang dari tadi belum sempat aku matikan.
“Lu nggak takut makan malam-malam
begini?”
Aku melirik jam di dinding yang
menunjukkan pukul setengah dua pagi lalu mengerutkan dahi.
“Apa yang perlu ditakutkan?”
“Biasanya cewek takut gemuk dan nggak
mau makan malam.”
Mendengar pernyataan Kiki barusan aku
justru ketawa dan hampir tersedak. Untung saja Kiki langsung memberikan gelas
yang berisi orange jus kepadaku.
“Gua mah makannya banyak, Bang. Tapi
tetap aja kurus!”
Kiki pun tertawa mendengar jawabanku,
lalu ia segera melahap habis makanan yang baru ia buat dan segera melanjutkan
pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sudah
satu bulan ini aku dan Kiki sering bertemu untuk membicarakan usaha yang ingin
ia bangun. Dan hari ini kami berada di sebuah cafe yang menyajikan beberapa
jenis kopi. Tujuan kami ke tempat ini bukan hanya ingin membicarakan usahanya
namun kami juga ingin membandingkan konsep yang kami miliki dengan konsep dari
cafe ini.
Usaha yang akan dibangun oleh Kiki tak
jauh berbeda dengan tempat yang sedang kami kunjungi. Kiki ingin sekali
memiliki sebuah cafe yang menjajakan kopi seperti cafe ini.
“Menurut lo gimana dengan konsep yang
sempat kita bicarakan kemarin?” tanya Kiki dengan wajah berseri-seri.
“Kayaknya hampir setiap tempat memakai
konsep yang persis dengan apa yang kita bicarakan Bang. Gua punya ide baru nih,
mau?”
“Lha, lo kok baru bilang sekarang? Kita
udah jalan cukup jauh Yan, ibarat kata kita tinggal selangkah lagi untuk
merealisasikannya!” Kiki mulai menggunakan penekanan disetiap katanya.
“Sekarang coba di pikir deh, Bang,
kalau kita memakai konsep yang sama dengan cafe lain mana mungkin kita bisa
menarik minat konsumen.”
“Tapi kan kita lebih menonjolkan dalam
hal pelayanan.”
“Pelayanan aja nggak cukup untuk
menarik konsumen. Sekarang kita balik ke pembicaraan awal ya. Target pasar lu
siapa?”
“Mahasiswa!”
“Nah, itu dia. Tapi kalau lu setuju
menggunakan konsep yang gua punya, gua yakin bukan hanya mahasiswa yang menjadi
pangsa pasar kita. Bahkan pelajar serta orang yang sudah kerja pun akan suka
dengan konsep ini.”
“Selain itu kita bisa menekan modal
karena konsep ini lebih sederhana dibanding konsep sebelumnya. Tapi gua yakin
untuk jangka panjang usaha ini akan terus berkembang dan menjadi tempat
nongkrong favorit.” lanjutku mencoba meyakinkan Kiki.
Kiki diam sejenak lalu memikirkan
penjelasan yang baru saja aku utarakan. Kini raut ketegangan di wajahnya
perlahan mulai memudar dan ada sebentuk senyum yang terkadang mengembang di
wajahnya saat ia puas dengan pendapatku.
Di akhir pembicaraan akhirnya Kiki
setuju dengan konsep yang aku punya. Untuk masalah desain tempat usaha aku
serahkan ke Kiki sedangkan pemasaran usahanya kami laksanakan secara
bersama-sama. Kami mengandalkan sosial media yang kini berkembang pesat selain
itu kami juga mengerahkan teman-teman kami agar mau berkunjung dan membawa
teman sebanyak-banyaknya.
Aku bersyukur bisa istirahat sejenak
dari kesibuk yang sempat menyita waktuku ini. Setidaknya sampai konsep usaha
ini diajukan ke Ayah dan di acc. Setelah itu aku baru kembali terjun ikut
membantu Kiki dalam merealisasikan usaha ini.
Besar harapanku, usaha ini dapat
berkembang dengan pesat dan mempunyai prospek yang baik kedepannya. Setidaknya
ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagiku sebagai mahasiswa tingkat
akhir jurusan manajemen bisnis. Andai saja saat kuliah aku selalu memperhatikan
penjelasan dosen pasti aku bisa menyumbangkan ilmu ku yang jauh lebih
bermanfaat dibanding sekarang.
Sedang asik-asiknya mendengarkan Kiki bercerita, tiba-tiba ada panggilan masuk dan seketika aku mengerutkan dahi saat melihat nama Denis ada di layar handpone ku. Aku memberanikan diri untuk mengangkat telepon darinya, karena aku sadar rasa sayangku padanya belum sepenuhnya pudar.
"Hai, Yan, lagi dimana?" sapa Denis sedikit ragu.
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menata hatiku. "Lagi di cafe, ada apa Den?"
"Gua masih belum bisa lupa sama elu dan kenangan-kenangan kita."
"Ehm, terus?" tanya ku tak mengerti.
Jantungku berdetak lebih kencang dan mataku mulai berkaca-kaca. Sadar akan perubahan ekspresi wajahku, Kiki menggenggam erat tangan kananku yang sedari tadi sibuk memainkan tutup bolpoin. Setidaknya ini membuatku lebih tenang dan siap mendengar apa yang dikatakan Denis.
"Kita ketemuan besok yuk, kebetulan gua lagi di jakarta. Gimana?"
Aku memandang ke arah Kiki yang sedari tadi memperhatikanku, namun dia hanya tersenyum tipis.
"Gua nggak bisa, kalau mau ketemu sebaiknya lusa aja." jawabku pelan namun pasti.
"Lusa gua harus balik Solo lagi. Tolonglah, Yan, sekali ini aja ya. Gua tunggu jam lima sore di cafe terakhir kita ketemu.See youu"
Denis menutup telepon dengan sepihak, dan aku hanya dapat terdiam saat Kiki bertanya tentang apa yang baru saja Denis katakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar