Selasa, 02 Februari 2016

AMABELLE// Tugas Negara

“Setiap orang memiliki porsinya masing-masing untuk memberikan sebuah pelajaran berharga bagi orang lain.”


Malam ini aku memaksakan diri untuk keluar kamar dan bergabung dengan keluargaku di ruang makan. Menu makan malam kali ini tergolong mewah. Buah-buahan lengkap tersaji di atas meja, belum lagi menu utama yang membuat aku mengerutkan dahi. Guramih asam manis, cah kangkung, iga bakar, dan sup yang masih panas tersaji rapi di atas meja ditemani dengan beberapa gelas orange jus.

“Ada acara apa nih?” tanyaku dengan wajah polos.
“Acara memperingati patah hati putri ayah!”Jawab ayah sambil tersenyum lebar dan aku hanya menelan ludah.

Bel rumah berbunyi sebelum aku sempat menggigit iga yang dari tadi menyita perhatianku. aku segera berlari membukakan pintu untuk tamu yang tak aku harapkan kedatangannya.

“Bang Kiki, ada apa malam-malam gini ke rumah?”
“Siapa Yaaaan?” teriak ayah dari ruang tamu.
“Saya Om!” teriak Kiki dengan lantang.

Ayah menghampiri kami yang masih saling berhadapan di depan pintu rumah.

“Akhirnya kamu datang juga, ayuk kita makan malam bersama. Tante sudah menyiapkan makanan yang lezat di ruang makan.” Kata ayah sambil merangkul Kiki dan mengawalnya menuju ruang makan. Sedangkan aku ditinggalkan sendiri di depan pintu, mungkin mereka lupa kalau ada sosok wanita yang sedari tadi tak mengerti apa arti dari kedatangan Kiki malam ini.
Aku menyusul mereka ke ruang makan, tampak kegembiraan di wajah ayah dan bunda semenjak kedatangan Kiki. Bahkan saking gembiranya bunda memberikan beberapa centong nasi ke piring Kiki, dan ini membuatku cemburu.
Selama makan malam berlangsung aku dan Ilyas lebih banyak diam sambil mendengar percakapan antara ayah dengan Kiki. Sedangkan bunda sibuk menuangkan beberapa lauk ke piring Kiki sambil sesekali menimpali percakapan mereka.

“Oiya Om, saya juga bawa beberapa contoh bangunan yang sempat saya ambil dari internet. Siapa tau bisa jadi referensi kita.”
“Hmm, bagus itu!  pasti sangat membantu kerja kita malam ini. “
“Om minta maaf ya harus mengganggu waktu. Tadinya Om mau mengundang kamu ke kantor tapi suasana di kantor sedang tidak kondusif karena sekarang akhir tahun jadi semua karyawan om sibuk dengan laporannya masing-masing.”lanjut Ayah.

Aku mengerutkan dahi, sampai sekarang aku masih belum mengerti apa yang mereka bicarakan.

“Oya, Yan, gimana tentang proposal yang Kiki ajukan waktu itu? sudah ada perkembangan?” tanya ayah yang membuatku kaget dan tersedak makanan.

Mampus! Gimana ada perkembangan, malam minggu kemarin kan gua lagi sibuk nangis, sampai lupa membahas proposal yang diajukan Bang Kiki!!

“Hmm, malam minggu kemarin kami sudah ketemu Om. Dan masih ada beberapa hal yang harus dibahas, kalau sudah ada perkembangan yang berarti saya akan kasih laporannya ke Om Drajad.” Jawab Kiki dengan ragu-ragu namun itu sangat membantu.

Seakan mengerti ada yang kami tutupi, Ilyas menatapku sambil menyipitkan matanya. Aku hanya tersenyum dan memberikan potongan iga yang paling besar ke Ilyas agar ia tidak mengutarakan apa yang ada dipikirannya sekarang.
Setelah makan malam, Ayah dan juga Kiki pindah ke gazebo belakang rumah sambil membawa beberapa perlengkapan yang biasa digunakan ayah untuk menggambar gedung-gedung megah. Aku segera mendekati Bunda yang sibuk mencuci piring.

“Bund, Bang Kiki ngapain kerumah?”
“Loh Kiki nggak cerita ke kamu?” Aku menggelengkan kepala.
“Ayah minta bantuan dia untuk merevisi rancangan mall yang dibuat anak buahnya.” lanjut Bunda.
“Bang Kiki lulusan arsitek?” tanyaku tak percaya.
“Iya, kamu tahu tempat makan yang biasa kita kunjungi? Itu adalah hasil karya dia.”

Aku masih tak percaya kalau Kiki adalah lulusan arsitek, belum lagi hasil karyanya  ternyata sering aku nikmati beserta keluargaku. Bahkan tempat tersebut adalah tempat  pertama kali aku melihat sosok Kiki dengan gitar dan suara emasnya saat menyanyikan lagu kesukaan ku.
Tak mau ambil pusing dengan nilai plus Kiki yang semakin membuatku terkejut, aku langsung kabur ke ruang keluarga dan menyalakan televisi ditemani dengan kentang goreng kesukaanku. Saking lamanya menonton tv aku jadi tertidur beberapa menit di sofa pajang yang terdapat di ruangan tersebut. Begitu aku membuka mata, aku langsung teriak karena kaget melihat Kiki yang sedang khidmat menggambar di bawah lantai. Belum lagi lampu ruangan gelap sedangkan Kiki hanya diterangi oleh lampu meja belajarku. Karena itu, aku sempat mengira jika Kiki adalah makhluk astral yang akan mengganggu ketenanganku malam ini.

“Lu ngapain disini?” tanyaku terkejut.
“Gue nggak bisa begadang sendirian. Makanya begitu liat lo disini, gue samperin.”
“Loh, bukannya tadi Bang Kiki bareng Ayah?”
“Iya, tapi sekarang bokap lo udah di kamar. Besok harus bangun pagi dan mempresentasikan kerjaan gue. Makannya gue harus begadang.”
“Hmm, gitu.... Ya udah lanjutin aja gua temenin disini.”
“Eh, Yan, masih ada makanan nggak? Gue laper nih dari tadi.”
“Buseeet!!! Perasaan tadi udah makan banyak, masih kurang Bang?”
“Aaah, itu hanya perasaan dik Ilyan saja.” Jawab Kiki dengan senyum manisnya.
“Hahaha, bisa aja lu! Gua liat di dapur dulu ya, kali aja ada makanan.” Jawabku yang segera berjalan ke dapur dan tak disangka Kiki mengikutiku dari belakang.
“Yaah, udah nggak ada makanan. Nasi juga udah habis. Roti tawar mau?”ucapku begitu sampai di dapur.
“Eh, ada madu nih. Bikin french toast yuk?” Kiki langsung menemukan ide saat melihat sebotol madu.
“Gua nggak bisa...”
“Gue aja yang bikin. Lo tolong ambil beberapa stroberi dan anggur ya, setelah itu cuci dan dipotong jadi tiga bagian.”

Aku mengikuti apa yang diperintahkan Kiki, setelah tugasku selesai aku hanya memperhatikan Kiki membuat olahan roti yang terkenal di Eropa ini. Kiki mengocok telur pada mangkok hingga lepas lalu menuangkan bahan-bahan lain dan mengaduk dengan rata. Kemudian larutan telur tersebut ia pindahkan ke dalam loyang. 
Empat lembar roti tawar ia celupkan pada larutan tersebut hingga basah dan tenggelam. Setelah itu aku membantu memanaskan margarine pada teflon lalu menggoreng roti tersebut hingga berwarna kecoklatan.
Kegiatan menggoreng sudah selesai kini Kiki meletakan roti tersebut di atas piring lalu mengguyurnya dengan madu dan menambahkan beberapa stoberi serta anggur yang tadi sempat aku potong menjadi beberapa bagian.
Tampilan french toast yang disajikan Kiki sangat cantik. Mungkin insting arsiteknya juga bermain disini. Kiki membawa dua piring french toast ke ruang tamu lalu aku mengikutinya sambil membawa dua gelas orange jus.
Kami menikmati olahan roti tawar ini dengan khidmat sambil ditemani TV yang dari tadi belum sempat aku matikan.

“Lu nggak takut makan malam-malam begini?”

Aku melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah dua pagi lalu mengerutkan dahi.
“Apa yang perlu ditakutkan?”
“Biasanya cewek takut gemuk dan nggak mau makan malam.”

Mendengar pernyataan Kiki barusan aku justru ketawa dan hampir tersedak. Untung saja Kiki langsung memberikan gelas yang berisi orange jus kepadaku.
“Gua mah makannya banyak, Bang. Tapi tetap aja kurus!”
Kiki pun tertawa mendengar jawabanku, lalu ia segera melahap habis makanan yang baru ia buat dan segera melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Sudah satu bulan ini aku dan Kiki sering bertemu untuk membicarakan usaha yang ingin ia bangun. Dan hari ini kami berada di sebuah cafe yang menyajikan beberapa jenis kopi. Tujuan kami ke tempat ini bukan hanya ingin membicarakan usahanya namun kami juga ingin membandingkan konsep yang kami miliki dengan konsep dari cafe ini.
Usaha yang akan dibangun oleh Kiki tak jauh berbeda dengan tempat yang sedang kami kunjungi. Kiki ingin sekali memiliki sebuah cafe yang menjajakan kopi seperti cafe ini.
“Menurut lo gimana dengan konsep yang sempat kita bicarakan kemarin?” tanya Kiki dengan wajah berseri-seri.
“Kayaknya hampir setiap tempat memakai konsep yang persis dengan apa yang kita bicarakan Bang. Gua punya ide baru nih, mau?”
“Lha, lo kok baru bilang sekarang? Kita udah jalan cukup jauh Yan, ibarat kata kita tinggal selangkah lagi untuk merealisasikannya!” Kiki mulai menggunakan penekanan disetiap katanya.
“Sekarang coba di pikir deh, Bang, kalau kita memakai konsep yang sama dengan cafe lain mana mungkin kita bisa menarik minat konsumen.”
“Tapi kan kita lebih menonjolkan dalam hal pelayanan.”
“Pelayanan aja nggak cukup untuk menarik konsumen. Sekarang kita balik ke pembicaraan awal ya. Target pasar lu siapa?”
“Mahasiswa!”
“Nah, itu dia. Tapi kalau lu setuju menggunakan konsep yang gua punya, gua yakin bukan hanya mahasiswa yang menjadi pangsa pasar kita. Bahkan pelajar serta orang yang sudah kerja pun akan suka dengan konsep ini.”
“Selain itu kita bisa menekan modal karena konsep ini lebih sederhana dibanding konsep sebelumnya. Tapi gua yakin untuk jangka panjang usaha ini akan terus berkembang dan menjadi tempat nongkrong favorit.” lanjutku mencoba meyakinkan Kiki.

Kiki diam sejenak lalu memikirkan penjelasan yang baru saja aku utarakan. Kini raut ketegangan di wajahnya perlahan mulai memudar dan ada sebentuk senyum yang terkadang mengembang di wajahnya saat ia puas dengan pendapatku.
Di akhir pembicaraan akhirnya Kiki setuju dengan konsep yang aku punya. Untuk masalah desain tempat usaha aku serahkan ke Kiki sedangkan pemasaran usahanya kami laksanakan secara bersama-sama. Kami mengandalkan sosial media yang kini berkembang pesat selain itu kami juga mengerahkan teman-teman kami agar mau berkunjung dan membawa teman sebanyak-banyaknya.
Aku bersyukur bisa istirahat sejenak dari kesibuk yang sempat menyita waktuku ini. Setidaknya sampai konsep usaha ini diajukan ke Ayah dan di acc. Setelah itu aku baru kembali terjun ikut membantu Kiki dalam merealisasikan usaha ini.
Besar harapanku, usaha ini dapat berkembang dengan pesat dan mempunyai prospek yang baik kedepannya. Setidaknya ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagiku sebagai mahasiswa tingkat akhir jurusan manajemen bisnis. Andai saja saat kuliah aku selalu memperhatikan penjelasan dosen pasti aku bisa menyumbangkan ilmu ku yang jauh lebih bermanfaat dibanding sekarang.

Sedang asik-asiknya mendengarkan Kiki bercerita, tiba-tiba ada panggilan masuk dan seketika aku mengerutkan dahi saat melihat nama Denis ada di layar handpone ku. Aku memberanikan diri untuk mengangkat telepon darinya, karena aku sadar rasa sayangku padanya belum sepenuhnya pudar.
"Hai, Yan, lagi dimana?" sapa Denis sedikit ragu.
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menata hatiku. "Lagi di cafe, ada apa Den?"
"Gua masih belum bisa lupa sama elu dan kenangan-kenangan kita."
"Ehm, terus?" tanya ku tak mengerti.

Jantungku berdetak lebih kencang dan mataku mulai berkaca-kaca. Sadar akan perubahan ekspresi wajahku, Kiki menggenggam erat tangan kananku yang sedari tadi sibuk memainkan tutup bolpoin. Setidaknya ini membuatku lebih tenang dan siap mendengar apa yang dikatakan Denis.

"Kita ketemuan besok yuk, kebetulan gua lagi di jakarta. Gimana?"

Aku memandang ke arah Kiki yang sedari tadi memperhatikanku, namun dia hanya tersenyum tipis.
"Gua nggak bisa, kalau mau ketemu sebaiknya lusa aja." jawabku pelan namun pasti.
"Lusa gua harus balik Solo lagi. Tolonglah, Yan, sekali ini aja ya. Gua tunggu jam lima sore di cafe terakhir kita ketemu.See youu"

Denis menutup telepon dengan sepihak, dan aku hanya dapat terdiam saat Kiki bertanya tentang apa yang baru saja Denis katakan.



Tidak ada komentar: