"Hanya perlu bersabar untuk
mendapatkan cinta yang tepat di waktu yang tepat."
Aku segera ganti baju dan bersiap-siap
pergi ke rumah Kiki. Tak peduli dengan matahari yang masih malu-malu muncul di
permukaan, aku langsung menancap gas ke tempat tujuan. Sudah tak sabar bertemu
dengannya untuk meminta maaf atas semua tingkahku yang kurang dewasa
akhir-akhir ini. Saat di lampu lalu lintas, aku penasaran dengan isi galery di
Hp Kiki. Dengan antusias aku membukanya satu persatu. Tak ada yang spesial dari
foto-foto yang ia miliki, sampai akhirnya aku menemukan satu video singkat yang
mengulas tentang kebersamaanku dengannya. Ada juga beberapa foto candid yang dia ambil tanpa
sepengetahuanku, dan aku tersentuh dibuatnya.
Sadar karena klakson mobil yang berasal
dari kendaraan belakangku, aku langsung tancap gas kembali melanjutkan
perjalanan. Entah mengapa perjalanan kali ini terasa begitu lama padahal jarum
spidometer berada di atas batas normal.
Jantung ini pun berdetak lebih kencang dari biasanya, nafas pun terasa lebih
berat saat memikirkan kata-kata apa yang harus aku keluarkan saat berada
dihadapan Kiki.
Sesampainya di pintu rumahnya, aku
berpapasan dengan Vista yang terbalut dress panjang dengan menenteng clutch bag di tangan kanannya.
“Lu mau kemana? Kok pagi-pagi gini udah
cantik banget?” tanyaku dengan penuh rasa bingung.
“Gue mau kondangan. Nah, lo sendiri mau
ngapain?” tanya Vista yang juga bingung karena kedatanganku yang terlalu pagi.
“Gua mau balikin Hp-nya Kiki, dia di
rumah nggak?”
“Udah ketemu? Syukurlaaah. Tapi si
abang lagi kondangan juga, atau hp-nya gue bawa aja? Nanti gue kasih ke bang
Kiki.”
Aku menggelengkan kepala dengan cepat,
“Tapi gua mau ketemu langsung sama dia, lu bisa hubungin dia nggak?”
“Kagak bisa atuh neng, kan hp dia ada
di elu! Gimana kalau lo ikut gue kondangan, nanti Pras juga ikut kok jadi lo
nggak perlu khawatir.”
“Oke! Ya udah yuk berangkat sekarang?”
ajak ku tanpa pikir panjang.
“Eh, mau kemana lo? Masuk dulu, ganti
baju terus gue dandanin. Gua nggak mau datang ke kondangan sama upik abu!” jawab
Vista, bak ibu tiri yang jahat.
Mendengar perintah ibu tiri yang jahat
tersebut, sang upik abu pun menurutinya. Aku mengikuti Vista yang berjalan menuju
kamarnya. Lalu Vista mencari dress di lemari tempat koleksi baju mahalnya
berada. Alhasil Vista memberikanku sagetech
womens elegent bodycon formal knit dress berwarna merah hati yang baru ia
beli beberapa minggu lalu di salah satu online shop terkenal, selain itu ia
juga memberikan sepatu highheels hitam
dengan punggung kaki yang terbuka.
Beres dengan pakain dan sepatu yang
akan aku pakai, Vista menggiringku ke meja rias. Ia dengan cekatan membiarkan
jari lentiknya mengoleskan BB cream dan kawan-kawan ke wajah mungilku. Hanya dalam
waktu sepuluh menit sang upik abu dapat berubah menjadi cinderella yang manis
jelita.
Tanpa buang waktu kami berdua langsung
berangkat ke tempat acara ditemani dengan Pras sebagai supir pribadi kami.
“Lu kenal sama yang punya acara?” tanya
Pras yang masih bingung kenapa aku bisa bersama mereka di mobil ini.
“Enggak.” Jawabku cuek.
“lha, terus lu mau ngapain ikut kita
dengan dandanan gitu?”
“Lu cerewet dah! Gua mau ketemu sama
bang Kiki nih, terus kata Vista suruh ikut kalian.”
“Iya Pras, biarin dah sekali-kali kita
biarin si preman kampus ini ikut kita kondangan.” Sahut Vista yang mencoba membelaku,
sedangkan pras hanya menganggukan kepala tanda setuju.
Sesampainya di tempat acara aku dibuat
heran dengan dekorasi dari tempat tersebut. Dekorasinya sangat sederhana, tak
ada panggung besar maupun meja untuk menulis buku tamu. Yang ada hanyalah
sebuah taman yang dihiasi dengan sebuah panggung kecil yang sepertinya untuk
sang pengantin, selain itu hanya terdapat beberapa tempat duduk panjang dari
kayu yang berbaris rapi di atas panggung tersebut.
Tamu yang datang pun baru sedikit, dan
aku tidak mengenal mereka semua. Aku bagaikan orang asing yang terdampar di
komunitas yang salah. Kami bertiga duduk di bangku paling depan, lalu di susul
oleh beberapa orang yang mulai berdatangan memenuhi bangku tersebut.
“yang punya acara ini saudara gue,
nanti gue kenalin ke elo.” Bisik vista di telingaku.
“Oke, tapi bang Kiki-nya mana? Tujuan gua
ke sini kan untuk ketemu sama dia.”
“Ya elaaah, sabar atuh neng. Bang Kiki
nggak bakal kemana-mana, ntar lu juga bakal ketemu.”
“Lu sebegitu kangennya sama Kiki?” tanya
Pras dengan tatapan yang menggoda.
“Dih, kebiasaan deh sukanya ngegodain
gua!” aku memukul lengan Pras dengan keras.
Tak lama kemudian seorang MC memulai
acara pada pagi hari ini dengan penuh keceriaan. Namun, ada sedikit masalah
dimana beberapa orang yang harusnya menjadi pengiring pengantin tidak datang. Akhirnya
aku dan Vista diminta untuk menjadi pengiring pengantin dengan membawa
masing-masing satu buket bunga. Buket bunga yang aku pegang mengundang decak
kagum. Buket tersebut tersusun dari ranuculuc, lavender, dedaunan, dan ranting
yang memang pas untuk jadi pegangan saat acara pernikahan di taman seperti saat
ini.
Aku,
Vista dan beberapa wanita pengiring pengantin lainnya sudah berdiri di belakang
pengantin putri yang menggunakan gaun putih yang sangat memikat hati. Pengantin
tersebut tampak cantik, bak model professional yang ada di majalah-majalah
terkenal. Saat MC mempersilahkan pengantin putri untuk naik keatas panggung,
kami para pengiring pengantin berjalan di belakangnya lalu mendampinginya
berdiri di atas panggung sambil menunggu pengantin pria datang. Namun, upacara pengantin saat
ini berbeda dari upacara yang pernah aku ikuti. Sang pengantin pria baru akan
naik keatas panggung setelah mengutarakan beberapa kalimat yang ia sampaikan
untuk sang pengantin putri.
Sudah
tak sabar rasanya menyelesaikan acara pernikahan yang terkesan lama ini,
apalagi aku tak melihat tanda-tanda kedatangan orang yang aku cari. Perasaanku mulai
cemas, bagaimana kalau nanti aku tak bertemu dengan Kiki? Atau bagaimana kalau
Kiki tak mau menemui aku? Aaaah, entahlah yang pasti aku harus pasang muka
tenang karena sang pengantin pria akan mengutarakan isi hatinya untuk si
pengantin putri.
“Teruntuk wanita yang selalu ada di
dalam hatiku. Aku tahu betul perasaanku padamu tulus berasal dari dalam hati. Ada asa yang
besar untuk memperjuangkan hidup bersama denganmu wahai kasihku.”Sang pengantin
pria menghentikan kalimatnya, lalu menarik nafas panjang sebelum melanjutkannya.
Hatiku langsung bergetar saat mendengar suara mempelai pria yang menggema
karena efek dari sound system.
“Sungguh sudah lama aku mengenal
dirimu, dan sudah lama juga aku jatuh hati padamu. Namun, Tuhan punya cerita
yang berbeda. Ia baru memperkenalkanku pada mu beberapa bulan lalu. Jujur aku
tak pernah masalah dengan seberapa lama aku menunggumu, yang aku sesalkan
adalah kau sempat jatuh ke pelukan orang yang salah lalu kau mengadu padaku. Kau
menangis, dan tangisanmu itu membuat hati ini mulai memberontak. Andai saja aku
lebih dulu dekat denganmu dibandingkan dia, andai saja aku lebih sering memberi
kasih sayangku padaku dibanding dia. Mungkin kau akan bahagia dan tak perlu
merasakan sakit hati. Namun, inilah kehendak Tuhan yang harus tetap di syukuri karena Ia
mendekatkan kita dengan cara yang indah menurut-Nya.”
Sang mempelai pria kembali menarik
nafas panjang, semua tamu yang datang dengan khidmat menunggu lanjutan dari
kalimat indah yang akan disampaikannya. Termasuk aku.
“Teruntuk wanita yang selalu ada di
dalam hatiku, perlu kau tahu setiap harinya kau telah berhasil membuatku jatuh
hati karena kau memang pantas dicintai. Wahai “Amabelle”, wanitaku yang pantas
dicintai: Ilyan Riza Nahari, maukah menikah denganku?”
Saat namaku disebut semua tamu undangan
berdiri dan memberi tepuk tangan dengan meriah, begitu juga dengan Pras yang
sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari atas panggung. Vista merangkul
bahuku dengan senyum yang merekah, sang pengantin putri ikut bertepuk tangan
lalu mundur beberapa langkah dari tempat semula ia berdiri, sedangkan aku masih
sibuk mengerutkan dahi sambil berpikir apa yang baru aku dengar barusan adalah
benar atau memang aku yang salah dengar?
Belum selesai dengan pikiran yang ada
di kepala, tiba-tiba muncul sosok yang dari tadi aku cari yaitu Kiki. Dari belakang
panggung ia datang menghampiriku ditemani Ayah, Bunda, Ilyas, dan juga Ori. Melihat
ekspresi mukaku yang masih kaget bercampur rasa bingung, Vista menggiringku
agar berdiri lebih dekat dengan kakaknya.
“Ilyan, sekali lagi gue tanya. Maukah
kamu menikah denganku?” tanya Kiki dengan lembut, lalu ia menyodorkan mic ke mulutku.
“Tapi gua belum lulus!” Jawabku spontan
karena saking bingungnya, dan ini justru membuat geli para tamu yang datang.
“Nanti gue bantu lo biar cepet lulus.”
“Tapi gua nggak bisa masak!”
“Nanti gue ajarin lo masak sampai bisa.”
“Tapi gua nggak pinter dandan!”
“Ehm, kalau masalah yang satu itu biar
Vista yang ngajarin elu.” Mendengar jawaban Kiki semua tamu undangan langsung
tertawa lepas sedangkan aku mengutuk dalam hati mengapa kalimat bodoh seperti
itu bisa aku katakan di hadapan banyak orang.
“Tapi gua...” belum sempat melanjutkan
kalimatku, Kiki langsung menghentikan alasan yang akan aku keluarkan.
“Lo nggak perlu ragu, gua jatuh hati
sama semua yang lo punya dan yang nggak lo punya. Dan gue ngelakuin ini semua
karena gue serius dengan perasaan yang gue miliki. Jadi gue ulangin untuk yang
ketiga kalinya: Ilyan Riza Nahari, will you marry me??”
Deg.... speechless mendengar pertanyaan
yang kembali ia lontarkan. Saking kakunya bibir ini, aku hanya mengangguk dan
meneteskan air mata, lalu seluruh tamu kembali bertepuk tangan dengan meriah
dan Vista berlari kearahku sambil memelukku dengan erat. Sepertinya pagi ini
bukan hanya aku dan Kiki yang bahagia, keluarga, teman-teman, serta semua yang
hadir ikut meneteskan air mata haru bercampur senang melihat pertunjukan
singkat ini.
***
Kiki telah berhasil membuatku jatuh
hati setiap harinya. Hampir setiap hari kami berdebat, namun perdebatan
tersebut tidak mengurangi rasa cinta kami terhadap satu sama lain. Akhir-akhir
ini aku baru tahu bahwa yang terjadi kemarin adalah rekayasa antara Kiki dan
Vista. Mulai dari Hp Kiki yang sengaja ia tinggal, lalu video yang ia simpan di
galery, lagu heartache yang sengaja dijadikan dering telpon, sampai pada
puncaknya yaitu saat Kiki melamar di acara kondangan gadungan.
Apapun yang terjadi aku tetap bersyukur
dan menikmati semua proses yang telah aku jalankan. Aku pun juga bahagia karena
sahabat-sahabatku juga merasakan kebahagian dengan jalan ceritanya
masing-masing. Pras dan Vista akan melangsungkan pernikahan tahun depan, Ilyas
dan Ara masih harmonis sampai sekarang, sedangkan Ori tetap bahagia walaupun berstatus
jomblo.
Kini aku tak lagi mengeluh akan cinta
yang salah, dan masa lalu yang aku hadapi menjadikan sebuah pelajaran bahwa aku
hanya perlu bersabar untuk mendapatkan cinta yang tepat di waktu yang tepat. Karena
Tuhan pasti telah menulis jalan ceritaku dengan sangat indah, walaupun pada
awalnya aku harus jatuh merasakan rasa sakit agar nantinya aku tahu bagaimana
caranya bangkit serta menghargai kebahagiaan yang Ia berikan padaku lewat
orang-orang di sekitarku.
*T.A.M.A.T*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar