“Yang istimewa akan kalah
dengan yang selalu ada”
Sore ini aku sudah siap untuk melewati
kebersamaan yang terakhir kalinya dengan Denis. Aku pun mempersiapkan diriku
sedemikian rupa untuk berpenampilan berbeda dari biasanya. Aku menyapukan bedak
di wajah lalu dilanjut dengan eye shadow, eye liner, maskara, blash on, dan tak
lupa lipstik berwarna merah merona yang belum pernah aku pakai sekalipun.
Bahkan aku pun membuat model winged
eyeliner agar terlihat elegan dan tampil beda. Sebagai gantinya aku harus
betah berlama-lama di depan cermin karena prosesnya yang susah dan hampir
membuatku frustasi.
Make up sudah beres, rambut sudah
tergerai rapi, kini aku tinggal memilih pakaian apa yang pas untuk aku gunakan hang out dengan Denis. Berbagai dress
aku keluarkan dari lemari namun pilahanku jatuh pada kaos hitam dengan kerah
V-neck, serta celana jeans berwarna biru. Setidaknya ini adalah gayaku yang
sebenarnya, walaupun kini aku lebih memilih heels dibanding sepatu sneakers.
Tak perlu menunggu lama, sosok yang
sedari tadi aku tunggu kini berdiri di hadapanku. Dia memperhatikanku dari
ujung kepala sampai ujung kaki lalu tersenyum ke arahku.
“Cantik!” hanya itu kata yang keluar
dari bibirnya, lalu ia mempersilahkan aku memasuki mobil yang baru saja ia
pinjam dari sang ayah.
“Kamu tambah cantik kalau pakai make
up.” kata Denis sambil sesekali melihat ke arahku, aku pun hanya membalasnya
dengan senyuman.
“Hari ini kok kamu lebih pendiam dari
biasanya. Ada apa?” Protes Denis.
“Hmm, nggak ada apa-apa. Aku senang aja
bisa jalan sama kamu.” Jawabku dengan nada yang sengaja dibuat gembira.
Disepanjang perjalanan Denis lebih sering bicara
dibanding aku. Mood ku hari ini kacau berat, dan aku tidak bisa mengaturnya.
Aku pun mengajak Denis untuk pergi ke game
center agar aku bisa melampiaskan seluruh kekesalanku disana. Alhasil, mood
ku bisa sedikit membaik dan aku kembali seperti Ilyan yang ceria. Selama permainan
Denis sibuk menemaniku sambil sesekali menghapus keringat yang menetes dari
pelipisku. Aku pun begitu, aku ingin sekali menjadi sosok pacar yang perhatian
baginya maka aku juga melakukan hal yang sama seperti yang Denis lakukan.
Walaupun hanya untuk satu hari ini.
Setelah lelah bermain kami nongkrong di
cafe yang tak jauh dari game center
yang tadi kami kunjungi. Suasana cafe tergolong ramai pengunjung, karena hari
ini adalah hari sabtu. Hari dimana seluruh pasangan bersuka cita untuk
merayakan malam minggu, termasuk kami. Aku senang melihat senyum Denis yang tak
pernah pudar sejak kebersamaan kami sore tadi. Namun masih saja ada yang
mengusik ketenanganku, yaitu soal percakapan Denis dengan Ina di bbm. Ingin
sekali aku menyinggung masalah tersebut, tapi dari tadi belum ada waktu yang
tepat untuk membicarakan masalah tersebut.
“Sayang, senyuuuum.” Pinta Denis yang
duduk disampingku sambil mengarahkan kamera HP-nya ke wajah kami.
“Tumben selfie?”
“Iya, mau aku upload di instagram.”
“Nggak usah di upload, nanti ada yang
cemburu kan bahaya!” protesku pelan, dan Denis mengerutkan dahinya tanda tak
mengerti. Aku segera memperlihatkan hasil percakapan dirinya dengan Ina di bbm,
tak perlu menunggu waktu lama Denis langsung terlihat pucat dan senyum yang
dari tadi mengembang kini menghilang.
“Kamu pacaran sama dia?” tanyaku dengan
nada datar.
“Ka-kamu dapat dari mana?” dia balik
bertanya dengan gugup.
“Nggak penting dapat dari mana. Aku
tanya sekali lagi sama kamu, kamu pacaran sama Ina? Dia yang marah-marah waktu
kita jalan di Solo kan?”
“Aku nggak pacaran sama dia sayaaang.”
“Kalau nggak pacaran sama dia ngapain
panggil sayang-sayangan?”
Denis diam sejenak, lalu mengalihkan
pandangannya ke jendela cafe. Kini dia tak berani menatapku yang mulai geram
karena kebohongannya.
“Kalau kamu suka sama cewek lain, kamu
harusnya jujur ke aku. Nggak usah pakai acara selingkuh segala! Pasti aku
mundur kok, aku nggak akan ganggu hubungan kamu dengan cewek yang kamu suka!”
“Sorry Yan, tapi gua nggak bermaksud
untuk selingkuh di belakang lu.”
Aku terdiam sejenak saat sadar Denis
sudah memakai kata “gua-elu”, ini berarti dia tidak memposisikan aku sebagai
pacarnya lagi. Karena aku tahu betul dia paling tidak suka memakai panggilan
itu ketika kami awal pacaran.
“Jujur Yan, gua orangnya paling nggak
bisa menjalin hubungan jarak jauh. Dan saat mengenal elu, gua juga nggak tahu
kenapa gua justru sayang dan ingin jadi pacar elu. Walaupun akhirnya gua sadar
yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada.”
“Jadi maksud lu dengan adanya Ina di
Solo mengalahkan posisi gua di hati lu yang notabene adalah cewek elu? Gitu?” aku
semakin naik pitam.
“Yan, dengerin baik-baik ya... gua
sadar lu terlalu baik buat gua, dan gua juga sadar kalau gua nggak bisa
mengimbangi kebaikan lu. Gua yakin di luar sana ada cowok yang jauh lebih baik
dari gua, dan dia patut jadi cowok elu.”
Whattt??
Terlalu baik? Terus gua harus jahat gitu ke elu???Alasan klise!!!
“Kalau lu pegang komitmen kita dari
awal harusnya masalah jarak nggak akan mempengaruhi hubungan kita.”
“Iya gua ngerti, tapi udah gua bilang
yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada. Dan gua nggak selalu ada buat
elu, jadi gua merasa nggak berguna jadi cowok elu.”
“Lu kalau udah selingkuh jangan banyak
alasan deh, gua paling nggak suka cowok yang selingkuh!”
“Ya udah gua minta maaf. Terus mau lu
gimana?” Denis mulai menurunkan nada bicaranya.
“Harusnya gua yang tanya, mau elu
gimana sekarang?!” Aku mencoba menekan emosi yang makin memuncak.
“Kalau gua mending kita jalani dulu
deh, kedepannya kan kita nggak tahu...” Ucap Denis dengan nada tak bersalah.
“Jalani gimana maksudnya? Gua di
gantung dan elu tetep jalan bareng gua dan Ina, gitu??”
“Yan, bukan gitu maksud gua....”
“Okay
kalau itu keputusan yang lu ambil, tapi gua ingin kita putus. Silahkan lu jalan
dengan Ina atau siapapun yang menurut lu nggak sebaik gua, dan cari aja cewek
yang bisa mendampingi lu kapan pun dan dimana pun!”
Aku langsung beranjak dari tempat duduk
dan meninggalkan Denis yang masih terdiam merenungi kesalahannya, atau mungkin
merenungi mengapa ia bisa ceroboh sehingga ia ketahuan selingkuh!!!
Aku berjalan cepat agar semakin menjauh
dari Denis, namun langkah ku berhenti ketika Denis berhasil mengejarku dan memegang
erat lengan kananku.
“Yan, maafin gue...”
“Gua bisa maafin kalau lu jarang kasih
kabar saat kita pacaran dulu, tapi untuk yang perselingkuhan ini gua nggak mau
pikir dua kali. Kita putus!”
“Lu kok gampang banget ngomong putus,
kita baru seumur jagung loh pacarannya!” Denis mulai menaikan nada bicaranya.
“Gua bisa ngomong gini karena gua ada
alasan, dan lu jauh lebih tahu tentang alasan gua mutusin hubungan ini.
Ngerti?!” aku mengecilkan volume suara namun memberikan penekanan di setiap
kata yang aku keluarkan.
Semua pengunjung cafe memperhatikan
kami yang bertengkar di depan halaman cafe, malu rasanya jadi tontonan seperti
ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan secepatnya harus aku lahap habis bubur
ini!
“Oke tapi lu harus tahu satu hal kalau
gua masih sayang sama lu, dan sejujurnya dari awal kita jadian, gua paling
nggak suka liat lu dekat dengan Ori. Dan itu bikin gua nggak nyaman menjalin
hubungan LDR ini.”
“Lu nggak usah bawa-bawa Ori
dipermasalahan kita kali ini. Asal lu tahu Ori itu sahabat gua jauh sebelum gua
kenal lu dan dia jauh lebih baik dibanding lu!” aku kembali menaikan volume
suara seakan lupa kalau sedang menjadi tontonan gratis.
Kesal mendengar pernyataanku barusan
Denis melepaskan genggamannya dengan kasar sehingga membuat tubuhku limbung dan
hampir terjatuh karena tidak bisa mengontrol keseimbangan akibat heels yang aku
pakai. Untung saja ada seseorang yang menopang tubuhku dari belakang, namun
aroma tubuh itu sangat aku kenal. Kiki.
“Lu kasar banget jadi cowok?!” Bentak
Kiki dengan mata melotot.
“Urusan elu apa?” Denis membalas
membentak, dan aku ketakutan melihat suasana yang mulai tegang malam ini.
Sadar dengan perubahan di raut wajahku,
Kiki menggenggam lembut pergelangan tanganku dan menarikku agar bersembunyi di
belakang punggungnya. Seketika itu aku mulai merasa aman dan nyaman.
“Dia sahabat lu juga? Hebat ya,
ternyata di sini lu dikelilingi cowok-cowok tanpa sepengetahuan gua!”
Aku kembali geram mendengar kata-kata
yang dikeluarkan Denis, hampir saja aku menghampirinya dan memberi sebuah
tamparan keras tetapi Kiki menghalangiku. Ia semakin menggenggam erat
pergelangan tanganku.
“Lu nggak malu berantem dan jadi
tontonan orang banyak begini? Mending lu balik deh sebelum gua bikin lu lebih
malu lagi!” Kiki memperingatkan.
Mendengar peringatan Kiki barusan, Denis
pun menyapu pandangan ke dalam cafe. Benar saja kini ia menjadi tontonan banyak
orang. Bahkan ada pengunjung yang rela naik ke atas kursi demi melihat
pertunjukan gratis yang menguras hati. Beberapa pengunjung yang lain
mengacungkan ibu jari yang sengaja terbalik ke arah Denis sambil menyorakinya.
“Oke, urusan kita selesai sampai disini
Yan, kita putus!” Denis berjalan menuju mobilnya dan segera menancap gas dengan
kencang.
“Diih, kok kesannya jadi dia yang
mutusin gua?!” aku mengumpat pelan tapi malang nasibku karena Kiki mendengarnya
dan tertawa.
“Ya udah sih, yang penting urusannya
udah kelar kan?”
“Iyaa, by the way makasih ya? Lu
datang tepat pada waktunya.”
“Iya sama-sama, tapi kenapa lu nangis?”
Aku mengusap air mata yang entah
mengapa tidak aku sadari kapan ia mulai meluncur deras di pipiku. Kiki mencoba
menenangkan aku dengan mengusap pelan bahuku, namun air mataku justru semakin
deras dan aku larut dalam kesedihan.
Semenjak
kejadian tadi malam aku menjadi semakin pendiam dan mengurung diri di kamar.
Kini hari sudah berganti, matahari pun sudah muncul di permukaan sejak beberapa
jam yang lalu tapi aku tak jua muncul dihadapan anggota keluarga yang lain. Aku
pun absen untuk sarapan bersama keluargaku pagi ini, alhasil Ilyas mengantarkan
makanan ke kamar walaupun sampai siang ini makanan tersebut tidak aku sentuh
sama sekali.
Sebuah boneka melayang cantik ke
kepalaku, aku segera bangkit dari tidurku lalu melihat Ilyas dan Pras yang
sudah berada di samping tempat tidur. Aku hanya bisa memajukan bibir beberapa
centimeter lalu menjatuhkan tubuhku kembali ke posisi semula sambil memeluk
boneka yang baru saja dilempar oleh Pras.
Pras menyuapkan dengan paksa sepotong
sandwich ke mulutku, tanpa membenarkan posisi, aku mengunyah sambil menutup
mataku menggunakan boneka tadi. Pras kembali menyuapkan beberapa potong
sandwich tanpa bertanya ataupun mengungkapkan kata yang bisa menenangkanku dari
rasa patah hati ini. Begitu juga dengan Ilyas, ia lebih memilih diam
memperhatikan Pras yang menyuapkan makanan ke mulutku.
“Lu kenapa?” tanya Pras.
“Gua nggak papa!” jawabku ketus.
“Bukan elu! Tapi dia...” jawab Pras
sambil menyingkirkan boneka yang sedari tadi aku gunakan untuk menutup mata.
Aku kaget sekaligus heran melihat Ori
yang sedang memeluk Pras dan Ilyas dari belakang, wajah Ori masih saja lesu
persis seperti terakhir kali saat aku bertemu dengannya. Ilyas mulai risih dan
melepaskan pelukan Ori, begitu juga dengan Pras yang mulai jijik dipeluk oleh
sesama jenis.
Ori duduk disampingku dengan merebut
bantal yang menjadi tumpuan tidurku. Seketika itu aku langsung duduk dan
memukul Ori dengan keras.
“Kenapa lagi sekarang?” tanyaku lesu.
“Azra udah mulai dekat dengan cowok
lain.” Jawab Ori yang tak kalah lesu dari ku.
“Haduuh, kamar ini berasa penampungan
orang-orang patah hati deh!” Ilyas bergumam dan langsung disusul dengan pukulan
pelan dari Pras.
“Lu juga lagi patah hati?” tanya Ori
kaget.
“Iya, gua diselingkuhi Denis. Baru tadi
malam gua putus.”
“Demi apa, kok kita bisa sama gini!”
“Ya bagus dong, seenggaknya kalian
punya teman buat galau dan menyemangati satu sama lain kan?” Pras mulai ceramah.
Aku dan Ori hanya bisa menundukan kepala meratapi kemalangan kami.
HP Pras berbunyi, ia pun langsung
mengangkat telephone dan menjauh dari kami. Walaupun begitu masih terdengar apa
yang ia bicarakan dan membuat kami bertanya-tanya siapa yang sedang
menghubunginya.
“Lu telpon sama siapa? Kok manggil
sayang?” Tanya Ori dengan volume suara tinggi persis ketika aku bertanya pada
Denis apakah ia pacaran dengan Ina atau tidak.
“Hehe, sama pacar. Gua pamit dulu ya,
mau jalan dulu bareng PACAR!” Pras sengaja pamer di depan kami.
“Lu udah punya pacar?” tanya Ilyas
seolah tak percaya.
“Siapa?” lanjut Ori.
“Vista lu kemana-in???” tanyaku geram.
“Waduh, gua harus jawab pertanyaan yang
mana dulu nih! Haha, gua udah balikan lagi sama Vista.”
“Demi apa!!! Kalian balikan sedangkan
kita berdua baru aja putus!” protes Ori yang merasa cemburu dengan kebahagiaan
Pras.
“Lu juga Yas, udah punya cewek
sekarang! Berarti yang jomblo tinggal gua dan Ilyan dong!” lanjut Ori.
“Kok lu jadi salahin kita yang baru
jadian sih? Rejeki orang berbeda Ri, mungkin kali ini rejekinya gua dan Pras.
Iya nggak Pras?” jawab Ilyas dengan santai dan meminta pendapat Pras.
“Iya, sekarang nikmatin dulu status
jomblo kalian. Paling beberapa minggu lagi kalian udah terbiasa. Dan perlu
kalian inget dulu kalian tetap bahagia walaupun tanpa mantan-mantan kalian
itu!” Pras kembali ceramah untuk yang kedua kalinya.
Aku mengangguk pelan, setuju dengan apa
yang Pras katakan barusan. Benar saja dulu aku tetap bisa bahagia walaupun
tanpa Denis. Aku tetap bisa tertawa walaupun tanpa status berpacaran dengan
Denis, lagi pula aku sudah terbiasa tidak melihat Denis disisiku jadi apa yang
harus aku resahkan? Aku hanya perlu waktu sedikit untuk menghapus rasa sayang
yang aku miliki begitu juga dengan kenangan yang telah kami ukir selama lima
bulan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar