Selasa, 02 Februari 2016

AMABELLE// Sabtu Kelabu


“Yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada”


Sore ini aku sudah siap untuk melewati kebersamaan yang terakhir kalinya dengan Denis. Aku pun mempersiapkan diriku sedemikian rupa untuk berpenampilan berbeda dari biasanya. Aku menyapukan bedak di wajah lalu dilanjut dengan eye shadow, eye liner, maskara, blash on, dan tak lupa lipstik berwarna merah merona yang belum pernah aku pakai sekalipun. Bahkan aku pun membuat model winged eyeliner agar terlihat elegan dan tampil beda. Sebagai gantinya aku harus betah berlama-lama di depan cermin karena prosesnya yang susah dan hampir membuatku frustasi.
Make up sudah beres, rambut sudah tergerai rapi, kini aku tinggal memilih pakaian apa yang pas untuk aku gunakan hang out dengan Denis. Berbagai dress aku keluarkan dari lemari namun pilahanku jatuh pada kaos hitam dengan kerah V-neck, serta celana jeans berwarna biru. Setidaknya ini adalah gayaku yang sebenarnya, walaupun kini aku lebih memilih heels dibanding sepatu sneakers.
Tak perlu menunggu lama, sosok yang sedari tadi aku tunggu kini berdiri di hadapanku. Dia memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu tersenyum ke arahku.

“Cantik!” hanya itu kata yang keluar dari bibirnya, lalu ia mempersilahkan aku memasuki mobil yang baru saja ia pinjam dari sang ayah.
“Kamu tambah cantik kalau pakai make up.” kata Denis sambil sesekali melihat ke arahku, aku pun hanya membalasnya dengan senyuman.
“Hari ini kok kamu lebih pendiam dari biasanya. Ada apa?” Protes Denis.
“Hmm, nggak ada apa-apa. Aku senang aja bisa jalan sama kamu.” Jawabku dengan nada yang sengaja dibuat gembira.
 
          Disepanjang perjalanan Denis lebih sering bicara dibanding aku. Mood ku hari ini kacau berat, dan aku tidak bisa mengaturnya. Aku pun mengajak Denis untuk pergi ke game center agar aku bisa melampiaskan seluruh kekesalanku disana. Alhasil, mood ku bisa sedikit membaik dan aku kembali seperti Ilyan yang ceria. Selama permainan Denis sibuk menemaniku sambil sesekali menghapus keringat yang menetes dari pelipisku. Aku pun begitu, aku ingin sekali menjadi sosok pacar yang perhatian baginya maka aku juga melakukan hal yang sama seperti yang Denis lakukan. Walaupun hanya untuk satu hari ini.
Setelah lelah bermain kami nongkrong di cafe yang tak jauh dari game center yang tadi kami kunjungi. Suasana cafe tergolong ramai pengunjung, karena hari ini adalah hari sabtu. Hari dimana seluruh pasangan bersuka cita untuk merayakan malam minggu, termasuk kami. Aku senang melihat senyum Denis yang tak pernah pudar sejak kebersamaan kami sore tadi. Namun masih saja ada yang mengusik ketenanganku, yaitu soal percakapan Denis dengan Ina di bbm. Ingin sekali aku menyinggung masalah tersebut, tapi dari tadi belum ada waktu yang tepat untuk membicarakan masalah tersebut.

“Sayang, senyuuuum.” Pinta Denis yang duduk disampingku sambil mengarahkan kamera HP-nya ke wajah kami.
“Tumben selfie?”
“Iya, mau aku upload di instagram.”
“Nggak usah di upload, nanti ada yang cemburu kan bahaya!” protesku pelan, dan Denis mengerutkan dahinya tanda tak mengerti. Aku segera memperlihatkan hasil percakapan dirinya dengan Ina di bbm, tak perlu menunggu waktu lama Denis langsung terlihat pucat dan senyum yang dari tadi mengembang kini menghilang.

“Kamu pacaran sama dia?” tanyaku dengan nada datar.
“Ka-kamu dapat dari mana?” dia balik bertanya dengan gugup.
“Nggak penting dapat dari mana. Aku tanya sekali lagi sama kamu, kamu pacaran sama Ina? Dia yang marah-marah waktu kita jalan di Solo kan?”
“Aku nggak pacaran sama dia sayaaang.”
“Kalau nggak pacaran sama dia ngapain panggil sayang-sayangan?”

Denis diam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela cafe. Kini dia tak berani menatapku yang mulai geram karena kebohongannya.

“Kalau kamu suka sama cewek lain, kamu harusnya jujur ke aku. Nggak usah pakai acara selingkuh segala! Pasti aku mundur kok, aku nggak akan ganggu hubungan kamu dengan cewek yang kamu suka!”
“Sorry Yan, tapi gua nggak bermaksud untuk selingkuh di belakang lu.”

Aku terdiam sejenak saat sadar Denis sudah memakai kata “gua-elu”, ini berarti dia tidak memposisikan aku sebagai pacarnya lagi. Karena aku tahu betul dia paling tidak suka memakai panggilan itu ketika kami awal pacaran.

“Jujur Yan, gua orangnya paling nggak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Dan saat mengenal elu, gua juga nggak tahu kenapa gua justru sayang dan ingin jadi pacar elu. Walaupun akhirnya gua sadar yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada.”
“Jadi maksud lu dengan adanya Ina di Solo mengalahkan posisi gua di hati lu yang notabene adalah cewek elu? Gitu?” aku semakin naik pitam.
“Yan, dengerin baik-baik ya... gua sadar lu terlalu baik buat gua, dan gua juga sadar kalau gua nggak bisa mengimbangi kebaikan lu. Gua yakin di luar sana ada cowok yang jauh lebih baik dari gua, dan dia patut jadi cowok elu.”

Whattt?? Terlalu baik? Terus gua harus jahat gitu ke elu???Alasan klise!!!

“Kalau lu pegang komitmen kita dari awal harusnya masalah jarak nggak akan mempengaruhi hubungan kita.”
“Iya gua ngerti, tapi udah gua bilang yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada. Dan gua nggak selalu ada buat elu, jadi gua merasa nggak berguna jadi cowok elu.”
“Lu kalau udah selingkuh jangan banyak alasan deh, gua paling nggak suka cowok yang selingkuh!”
“Ya udah gua minta maaf. Terus mau lu gimana?” Denis mulai menurunkan nada bicaranya.
“Harusnya gua yang tanya, mau elu gimana sekarang?!” Aku mencoba menekan emosi yang makin memuncak.
“Kalau gua mending kita jalani dulu deh, kedepannya kan kita nggak tahu...” Ucap Denis dengan nada tak bersalah.
“Jalani gimana maksudnya? Gua di gantung dan elu tetep jalan bareng gua dan Ina, gitu??”
“Yan, bukan gitu maksud gua....”
 “Okay kalau itu keputusan yang lu ambil, tapi gua ingin kita putus. Silahkan lu jalan dengan Ina atau siapapun yang menurut lu nggak sebaik gua, dan cari aja cewek yang bisa mendampingi lu kapan pun dan dimana pun!”

Aku langsung beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Denis yang masih terdiam merenungi kesalahannya, atau mungkin merenungi mengapa ia bisa ceroboh sehingga ia ketahuan selingkuh!!!

Aku berjalan cepat agar semakin menjauh dari Denis, namun langkah ku berhenti ketika Denis berhasil mengejarku dan memegang erat lengan kananku.
“Yan, maafin gue...”
“Gua bisa maafin kalau lu jarang kasih kabar saat kita pacaran dulu, tapi untuk yang perselingkuhan ini gua nggak mau pikir dua kali. Kita putus!”
“Lu kok gampang banget ngomong putus, kita baru seumur jagung loh pacarannya!” Denis mulai menaikan nada bicaranya.
“Gua bisa ngomong gini karena gua ada alasan, dan lu jauh lebih tahu tentang alasan gua mutusin hubungan ini. Ngerti?!” aku mengecilkan volume suara namun memberikan penekanan di setiap kata yang aku keluarkan.

Semua pengunjung cafe memperhatikan kami yang bertengkar di depan halaman cafe, malu rasanya jadi tontonan seperti ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan secepatnya harus aku lahap habis bubur ini!
“Oke tapi lu harus tahu satu hal kalau gua masih sayang sama lu, dan sejujurnya dari awal kita jadian, gua paling nggak suka liat lu dekat dengan Ori. Dan itu bikin gua nggak nyaman menjalin hubungan LDR ini.”
“Lu nggak usah bawa-bawa Ori dipermasalahan kita kali ini. Asal lu tahu Ori itu sahabat gua jauh sebelum gua kenal lu dan dia jauh lebih baik dibanding lu!” aku kembali menaikan volume suara seakan lupa kalau sedang menjadi tontonan gratis.

Kesal mendengar pernyataanku barusan Denis melepaskan genggamannya dengan kasar sehingga membuat tubuhku limbung dan hampir terjatuh karena tidak bisa mengontrol keseimbangan akibat heels yang aku pakai. Untung saja ada seseorang yang menopang tubuhku dari belakang, namun aroma tubuh itu sangat aku kenal. Kiki.
“Lu kasar banget jadi cowok?!” Bentak Kiki dengan mata melotot.
“Urusan elu apa?” Denis membalas membentak, dan aku ketakutan melihat suasana yang mulai tegang malam ini.
Sadar dengan perubahan di raut wajahku, Kiki menggenggam lembut pergelangan tanganku dan menarikku agar bersembunyi di belakang punggungnya. Seketika itu aku mulai merasa aman dan nyaman.
“Dia sahabat lu juga? Hebat ya, ternyata di sini lu dikelilingi cowok-cowok tanpa sepengetahuan gua!”
Aku kembali geram mendengar kata-kata yang dikeluarkan Denis, hampir saja aku menghampirinya dan memberi sebuah tamparan keras tetapi Kiki menghalangiku. Ia semakin menggenggam erat pergelangan tanganku.
“Lu nggak malu berantem dan jadi tontonan orang banyak begini? Mending lu balik deh sebelum gua bikin lu lebih malu lagi!” Kiki memperingatkan.
Mendengar peringatan Kiki barusan, Denis pun menyapu pandangan ke dalam cafe. Benar saja kini ia menjadi tontonan banyak orang. Bahkan ada pengunjung yang rela naik ke atas kursi demi melihat pertunjukan gratis yang menguras hati. Beberapa pengunjung yang lain mengacungkan ibu jari yang sengaja terbalik ke arah Denis sambil menyorakinya.

“Oke, urusan kita selesai sampai disini Yan, kita putus!” Denis berjalan menuju mobilnya dan segera menancap gas dengan kencang.
“Diih, kok kesannya jadi dia yang mutusin gua?!” aku mengumpat pelan tapi malang nasibku karena Kiki mendengarnya dan tertawa.
“Ya udah sih, yang penting urusannya udah kelar kan?”
“Iyaa, by the way  makasih ya? Lu datang tepat pada waktunya.”
“Iya sama-sama, tapi kenapa lu nangis?”

Aku mengusap air mata yang entah mengapa tidak aku sadari kapan ia mulai meluncur deras di pipiku. Kiki mencoba menenangkan aku dengan mengusap pelan bahuku, namun air mataku justru semakin deras dan aku larut dalam kesedihan.


Semenjak kejadian tadi malam aku menjadi semakin pendiam dan mengurung diri di kamar. Kini hari sudah berganti, matahari pun sudah muncul di permukaan sejak beberapa jam yang lalu tapi aku tak jua muncul dihadapan anggota keluarga yang lain. Aku pun absen untuk sarapan bersama keluargaku pagi ini, alhasil Ilyas mengantarkan makanan ke kamar walaupun sampai siang ini makanan tersebut tidak aku sentuh sama sekali.
Sebuah boneka melayang cantik ke kepalaku, aku segera bangkit dari tidurku lalu melihat Ilyas dan Pras yang sudah berada di samping tempat tidur. Aku hanya bisa memajukan bibir beberapa centimeter lalu menjatuhkan tubuhku kembali ke posisi semula sambil memeluk boneka yang baru saja dilempar oleh Pras.
Pras menyuapkan dengan paksa sepotong sandwich ke mulutku, tanpa membenarkan posisi, aku mengunyah sambil menutup mataku menggunakan boneka tadi. Pras kembali menyuapkan beberapa potong sandwich tanpa bertanya ataupun mengungkapkan kata yang bisa menenangkanku dari rasa patah hati ini. Begitu juga dengan Ilyas, ia lebih memilih diam memperhatikan Pras yang menyuapkan makanan ke mulutku.

“Lu kenapa?” tanya Pras.
“Gua nggak papa!” jawabku ketus.
“Bukan elu! Tapi dia...” jawab Pras sambil menyingkirkan boneka yang sedari tadi aku gunakan untuk menutup mata.

Aku kaget sekaligus heran melihat Ori yang sedang memeluk Pras dan Ilyas dari belakang, wajah Ori masih saja lesu persis seperti terakhir kali saat aku bertemu dengannya. Ilyas mulai risih dan melepaskan pelukan Ori, begitu juga dengan Pras yang mulai jijik dipeluk oleh sesama jenis.

Ori duduk disampingku dengan merebut bantal yang menjadi tumpuan tidurku. Seketika itu aku langsung duduk dan memukul Ori dengan keras.
“Kenapa lagi sekarang?” tanyaku lesu.
“Azra udah mulai dekat dengan cowok lain.” Jawab Ori yang tak kalah lesu dari ku.
“Haduuh, kamar ini berasa penampungan orang-orang patah hati deh!” Ilyas bergumam dan langsung disusul dengan pukulan pelan dari Pras.
“Lu juga lagi patah hati?” tanya Ori kaget.
“Iya, gua diselingkuhi Denis. Baru tadi malam gua putus.”
“Demi apa, kok kita bisa sama gini!”
“Ya bagus dong, seenggaknya kalian punya teman buat galau dan menyemangati satu sama lain kan?” Pras mulai ceramah. Aku dan Ori hanya bisa menundukan kepala meratapi kemalangan kami.

HP Pras berbunyi, ia pun langsung mengangkat telephone dan menjauh dari kami. Walaupun begitu masih terdengar apa yang ia bicarakan dan membuat kami bertanya-tanya siapa yang sedang menghubunginya.
“Lu telpon sama siapa? Kok manggil sayang?” Tanya Ori dengan volume suara tinggi persis ketika aku bertanya pada Denis apakah ia pacaran dengan Ina atau tidak.
“Hehe, sama pacar. Gua pamit dulu ya, mau jalan dulu bareng PACAR!” Pras sengaja pamer di depan kami.
“Lu udah punya pacar?” tanya Ilyas seolah tak percaya.
“Siapa?” lanjut Ori.
“Vista lu kemana-in???” tanyaku geram.
“Waduh, gua harus jawab pertanyaan yang mana dulu nih! Haha, gua udah balikan lagi sama Vista.”
“Demi apa!!! Kalian balikan sedangkan kita berdua baru aja putus!” protes Ori yang merasa cemburu dengan kebahagiaan Pras.
“Lu juga Yas, udah punya cewek sekarang! Berarti yang jomblo tinggal gua dan Ilyan dong!” lanjut Ori.
“Kok lu jadi salahin kita yang baru jadian sih? Rejeki orang berbeda Ri, mungkin kali ini rejekinya gua dan Pras. Iya nggak Pras?” jawab Ilyas dengan santai dan meminta pendapat Pras.
“Iya, sekarang nikmatin dulu status jomblo kalian. Paling beberapa minggu lagi kalian udah terbiasa. Dan perlu kalian inget dulu kalian tetap bahagia walaupun tanpa mantan-mantan kalian itu!” Pras kembali ceramah untuk yang kedua kalinya.

Aku mengangguk pelan, setuju dengan apa yang Pras katakan barusan. Benar saja dulu aku tetap bisa bahagia walaupun tanpa Denis. Aku tetap bisa tertawa walaupun tanpa status berpacaran dengan Denis, lagi pula aku sudah terbiasa tidak melihat Denis disisiku jadi apa yang harus aku resahkan? Aku hanya perlu waktu sedikit untuk menghapus rasa sayang yang aku miliki begitu juga dengan kenangan yang telah kami ukir selama lima bulan ini.








Tidak ada komentar: