Selasa, 02 Februari 2016

AMABELLE// Berlagak Tangguh


“Aku ingin bisa tertawa seperti biasanya, namun apa daya hati ini enggan melakukannya.”



Lima bulan kemudian....

      “Pagi sayaaang, udah bangun belum?” tanya Denis dari seberang. Senang rasanya pagi-pagi begini sudah dapat ucapan selamat pagi dari pujaan hati.
          “Udah dong, tumben pagi-pagi telepon?”
          “Besok jalan yuk?”
          “Gimana ceritanya kita bisa jalan? Kamu kan di Solo.”
      “Besok aku ke Jakarta kok, lagian kita udah tiga bulan nggak ketemu. Kamu nggak kangen?”
         “Kangen lah! Namanya juga LDR, udah gitu kalau  kamu balas bbm-nya lama bikin bete!”
      “Ya ampuuun, sayang ngambek? Maaf deh, jangan ngambek dong besok kan aku ke Jakarta nyamperin kamu.”
          “Iya, ya udah deh aku mau bantu Bunda dulu ya malam ini ada pertemuan di rumah.”
          “Hmm gitu, berarti kamu bakal jarang ngabarin aku dong hari ini?”
          “Yaelaah, sekali-kali nggak masalah kali! Biasanya kan kamu yang nggak ngabarin aku!”
          “Waduh dibahas lagi, ya udah deh semangat sayaaang.”
              
          Aku menutup telepon tanpa menggubris pernyataan Denis barusan. Aku berlari ke kamar Ilyas untuk memberi kabar bahwa besok Denis akan datang ke Jakarta. Namun saat masuk ke kamarnya, Ilyas tidak ada.
               
        “Bundaaa, Ilyas kemana?” teriakku dari pintu kamar Ilyas, namun bunda tidak menjawab pertanyaanku.

        Aku melihat handpone Ilyas yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Kemana pula abang aku satu ini? Baru saja sampai Jakarta udah pergi lagi! Melihat keadaan kamar Ilyas yang lengang aku mulai iseng melihat galeri di handphone Ilyas. Barangkali ada foto-foto dia bersama Denis selama tiga bulan ini.
           Aku ketawa-ketawa sendiri melihat isi foto-foto di dalam handphone Ilyas yang dipenuhi dengan wajah cantik Ara. Sepertinya hubungan mereka semakin erat, mereka memang pasangan yang cocok. Coba saja aku nggak LDR-an sama Denis, mungkin galeri yang ada di handphone ku akan dipenuhi oleh wajah oriental Denis.
               
          But, Wait!!!

       Aku melihat screenshot percakapan antara Denis dan juga Ina. Siapa Ina? Aku baru mendengar nama itu.

        Mereka memanggil satu sama lain dengan sebutan sayang. Aku segera melihat waktu diambilnya screenshot percakapan tersebut. Dan mataku mulai berkaca-kaca saat tahu bahwa percakapan tersebut adalah percakapan satu bulan yang lalu. Aku segera mengirimkan foto tersebut ke HP milikku. Sulit dipercaya Denis tega selingkuh dibelakangku. Belum lagi Ilyas yang dengan sengaja menyembunyikan semua ini sejak satu bulan yang lalu.
         Aku merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa dan dijadikan tontonan bagi mereka yang tahu tentang perselingkuhan Denis. Apakah mereka tidak mengerti perasaan aku? Sampai mereka tega membiarkan aku diselingkuhi oleh teman mereka sendiri?!
                
          “Sokem, Hp gua kok ada di elu?” tanya Ilyas panik saat berdiri disampingku dan melihat HP miliknya ada di genggaman tanganku.
                
 Aku menyodorkan HP tersebut dan memperlihatkan screenshot yang telah membuatku panas dingin.
“Lu nyembunyiin ini semua dari gua?” tanyaku dengan nada dibuat setenang mungkin walaupun mataku masih berkaca-kaca.

Ilyas tidak menjawab pertanyaanku, dia memandangku dengan tatapan bersalah.
               
             "Lu tau kalau Denis selingkuh, dan lu diem aja liat saudara kembar lu diselingkuhin?” Aku mulai geram karena tidak mendapat jawaban dari Ilyas dan tanpa terasa air mata  mengalir deras.
         “Sorry, gua nggak tega mau nunjukin percakapan ini ke elu karena gua tahu banget kalau lu bakal kecewa.”
        “Terlambat Yas, gua udah double kecewa kalau gini ceritanya! Besok Denis ke jakarta, lu nggak usah kasih tau Denis kalau gua tahu tentang kebusukan dia. Biar gua aja yang menyelesaikan masalah gua!” aku bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan Ilyas sendirian.
               
       Aku berlari kearah kamar mandi dan membasuh wajahku agar bunda tidak khawatir. Kalau begini ceritanya ingin sekali aku melampiaskan kekesalanku pada samsak yang biasa menemaniku latihan.
    
     “Sokem, udah dong ngambeknya... maafin gua ya??” kata Ilyas sambil mengetuk pintu kamar mandi.
               
       Pintu kamar mandi aku buka dengan kasar, Ilyas masih berdiri kaku di depan pintu sambil memperhatikan raut wajahku yang kesal akibat ulahnya. Dari sisi dapur bunda melihat ke arah kami sambil menggelengkan kepala.
                
     “Kalian udah besar kan? Selesaikan masalah kalian sendiri ya, jangan terlalu lama kalau marahan.” Bunda menasihati kami dari arah dapur.
                
      Mendengar nasihat bunda aku justru semakin kesal. Ingin rasanya melampiaskan semua kekesalan langsung ke Ilyas, tapi apa daya aku masih malas untuk membicarakan semua ini. Aku juga sudah tak sabar menyinggung Ina di depan Denis. Aku memang sengaja menunggu kedatangan Denis dulu baru membahas semua uneg-uneg yang aku rasakan, karena menurutku bertemu dengannya langsung akan lebih efektif. Setidaknya dia tidak akan mengelak dan aku bisa melihat bahasa tubuhnya apakah dia berbohong atau tidak.
     

        Hari sudah mulai gelap, tamu ayah satu persatu mulai berdatangan. Pakaian mereka masih saja formal seperti layaknya di kantor. Kemeja, jas, dasi dan juga sepatu yang mengkilap menjadi padu padan yang pas dalam acara kali ini. Karena acara ini pun aku berubah menjadi putri kerajaan nan cantik jelita. Tubuh tinggi ku dibalut oleh dress panjang dengan lengan se siku, rambutku pun dibiarkan tergerai dihiasi oleh jepit berbentuk kupu-kupu. Moment ini sempat aku abadikan dalam bentuk foto dan sengaja aku kirimkan ke Denis, walaupun sampai sekarang belum ada balasan dari Denis yang bisa membuat hati ku berbunga-bunga.
         Ayah melambaikan tangan dari kejauhan dan dengan hati-hati aku menghampiri ayah yang masih dikelilingi oleh beberapa rekan kerjanya yang jauh lebih muda dibanding ayah.
                 
         “Nah, ini putri saya yang kuliah di jurusan manajemen bisnis.” Ayah memperkenalkan putri cantiknya di depan rekan kerjanya. Aku tidak tahu apa maksud dibalik perkenalan ini, hanya saja aku cukup bersyukur dikenalkan di depan mereka. Siapa tahu salah satu dari mereka adalah jodohku kelak. Kalau dilihat dari tampilannya, mereka hanya lebih tua dariku 5 tahun, hihihi.
                
      “Ilyan?” sapa salah seorang yang berada disebelah ayah, dan spontan membuat kami semua kaget.
         “Bang Kiki?”
         “Loh, kalian saling kenal?” tanya Ayah memandangi kami secara bergantian.
         “Iya Pak, kebetulan adik saya temannya Ilyan.”
         “Iya, Yah, Vista yang waktu itu sempat nginep dirumah kita. Dia adiknya Bang Kiki.”
      “Hmm, bagus kalau kalian udah kenal. Nah, begini nak Kiki, saya sudah membaca proposal kamu dan saya ingin kamu mendapat bimbingan dari Ilyan agar usaha kamu makin berkembang. Apalagi saya tahu, basic kamu bukan di dunia bisnis.”
         “Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.
           "Kiki kemarin mengajukan proposal, dan ayah jadi investor dari usaha Kiki tersebut. Nah, biar usaha Kiki makin berkembang kamu harus bantu dia. Itung-itung kamu menerapkan ilmu yang selama ini didapat di kampus. Gimana?”

       Aku hanya mengangguk sambil melihat Kiki yang dari tadi memperhatikanku. Entahlah, aku hanya bingung harus menjawab apa. Lagi pula aku bukan mahasiswa dengan predikat berprestasi, dan ini yang membuatku ragu untuk membantu usaha Kiki.
               
        “Yah, aku pinjem Ilyan sebentar ya...” ijin Ilyas yang langsung menarik tanganku menjauh dari kerumunan cowok-cowok good looking.
          “Mau apalagi?” tanyaku ketus.
        “Masih marah? Gua sebenernya udah mau cerita tapi elu keburu buka hp gua jadi gini deh.”
           “Lu dapet percakapan mereka dari siapa?”
        “Ara yang ngirim semua ke gua. Dia udah curiga sama sahabatnya yang akhir-akhir ini sering jalan sama Denis. Karena kecurigaannya itulah dia kepo bbm si Ina, sahabatnya itu.”
          “Kayaknya gua pernah ketemu Ina sebelumnya deh.”
          “Dimana?” tanya Ilyas penasaran.
      “Waktu gua jalan sama Denis di Solo. Kalau nggak salah nama tempatnya itu jagung angsa.”
          “Jagung naga kali!!!”
         “Iya, maksud gua gitu. Ya udah deh, gua makasih juga berkat elu, gua jadi tahu kebusukan Denis dibelakang gua.”
     “Lu, kalau mau nangis boleh kok.” Ilyas mengelus ubun-ubunku dan alhasil membuat rambutku sedikit berantakan.
       “Gua juga ingin nangis, tapi kok rasanya percuma ya gua nangisin cowok macam dia gitu!”
                
      Ilyas memelukku erat tanpa memperhatikan lingkungan sekitar yang masih ramai oleh tamu ayah. Dan akibat sikapnya ini kami justru menjadi tontonan, mungkin mereka senang melihat saudara kembar yang terlihat harmonis ini.
              
       “Eheem...” seorang batuk di samping kami dengan sengaja.
      “Boleh ganggu sebentar?” lanjutnya dengan nada ragu-ragu.
    “Boleh Bang, mau ngobrol sama gua atau Ilyan?” tanya Ilyas polos, dan Kiki menunjuk ke arahku. Dengan sopan Ilyas langsung meninggalkan kami berdua.
      “Besok gua jemput ya? Gua mau nunjukin tempat usaha gua.”
      “Besok jam berapa ya?”
      “Jam tujuh malam gimana?”
      “Boleh, tapi langsung ketemu ditempat aja ya? Jangan lupa kirimin alamatnya ke gua.”
      “Oke. By the way lu lagi ada masalah? Kok tumben ada yang beda dari mata elu.”
   “Mata gua kenapa? Ada kotorannya ya?” aku menimpali dengan candaan dan justru membuat Kiki tertawa dengan lebar.
              
     Aku ingin sekali bisa tertawa seperti dia, tapi apa daya ada yang mengusik hatiku sehingga bibir ini tak bisa  mengembangkan senyum yang biasa mewarnai hari-hari ku. Walaupun begitu aku tetap berlagak tangguh meskipun hatiku rapuh karena cinta yang baru seumur jagung.
                                                                      ***



               




Tidak ada komentar: