“Aku ingin bisa tertawa
seperti biasanya, namun apa daya hati ini enggan melakukannya.”
Lima bulan kemudian....
“Pagi
sayaaang, udah bangun belum?” tanya Denis dari seberang. Senang rasanya
pagi-pagi begini sudah dapat ucapan selamat pagi dari pujaan hati.
“Udah
dong, tumben pagi-pagi telepon?”
“Besok
jalan yuk?”
“Gimana
ceritanya kita bisa jalan? Kamu kan di Solo.”
“Besok
aku ke Jakarta kok, lagian kita udah tiga bulan nggak ketemu. Kamu nggak
kangen?”
“Kangen
lah! Namanya juga LDR, udah gitu kalau kamu balas bbm-nya lama bikin bete!”
“Ya
ampuuun, sayang ngambek? Maaf deh, jangan ngambek dong besok kan aku ke Jakarta
nyamperin kamu.”
“Iya,
ya udah deh aku mau bantu Bunda dulu ya malam ini ada pertemuan di rumah.”
“Hmm
gitu, berarti kamu bakal jarang ngabarin aku dong hari ini?”
“Yaelaah,
sekali-kali nggak masalah kali! Biasanya kan kamu yang nggak ngabarin aku!”
“Waduh
dibahas lagi, ya udah deh semangat sayaaang.”
Aku
menutup telepon tanpa menggubris pernyataan Denis barusan. Aku berlari ke kamar
Ilyas untuk memberi kabar bahwa besok Denis akan datang ke Jakarta. Namun saat
masuk ke kamarnya, Ilyas tidak ada.
“Bundaaa,
Ilyas kemana?” teriakku dari pintu kamar Ilyas, namun bunda tidak menjawab
pertanyaanku.
Aku melihat handpone Ilyas yang tergeletak di atas tempat
tidurnya. Kemana pula abang aku satu ini? Baru saja sampai Jakarta udah pergi
lagi! Melihat keadaan kamar Ilyas yang lengang aku mulai iseng melihat galeri
di handphone Ilyas. Barangkali ada foto-foto dia bersama Denis selama tiga
bulan ini.
Aku
ketawa-ketawa sendiri melihat isi foto-foto di dalam handphone Ilyas yang
dipenuhi dengan wajah cantik Ara. Sepertinya hubungan mereka semakin erat,
mereka memang pasangan yang cocok. Coba saja aku nggak LDR-an sama Denis, mungkin
galeri yang ada di handphone ku akan dipenuhi oleh wajah oriental Denis.
But, Wait!!!
Aku
melihat screenshot percakapan antara Denis dan juga Ina. Siapa Ina? Aku baru mendengar nama itu.
Mereka memanggil satu
sama lain dengan sebutan sayang. Aku segera melihat waktu diambilnya screenshot
percakapan tersebut. Dan mataku mulai berkaca-kaca saat tahu bahwa percakapan
tersebut adalah percakapan satu bulan yang lalu. Aku segera mengirimkan foto
tersebut ke HP milikku. Sulit dipercaya Denis tega selingkuh dibelakangku.
Belum lagi Ilyas yang dengan sengaja menyembunyikan semua ini sejak satu bulan
yang lalu.
Aku
merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa dan dijadikan tontonan bagi
mereka yang tahu tentang perselingkuhan Denis. Apakah mereka tidak mengerti
perasaan aku? Sampai mereka tega membiarkan aku diselingkuhi oleh teman mereka
sendiri?!
“Sokem,
Hp gua kok ada di elu?” tanya Ilyas panik saat berdiri disampingku dan melihat
HP miliknya ada di genggaman tanganku.
Aku
menyodorkan HP tersebut dan memperlihatkan screenshot yang telah membuatku
panas dingin.
“Lu nyembunyiin ini semua dari gua?” tanyaku
dengan nada dibuat setenang mungkin walaupun mataku masih berkaca-kaca.
Ilyas tidak menjawab pertanyaanku, dia
memandangku dengan tatapan bersalah.
"Lu tau
kalau Denis selingkuh, dan lu diem aja liat saudara kembar lu
diselingkuhin?” Aku mulai geram karena tidak mendapat jawaban dari Ilyas dan
tanpa terasa air mata mengalir deras.
“Sorry, gua nggak tega mau nunjukin percakapan ini ke elu
karena gua tahu banget kalau lu bakal kecewa.”
“Terlambat
Yas, gua udah double kecewa kalau
gini ceritanya! Besok Denis ke jakarta, lu nggak usah kasih tau Denis kalau gua
tahu tentang kebusukan dia. Biar gua aja yang menyelesaikan masalah gua!” aku
bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan Ilyas sendirian.
Aku
berlari kearah kamar mandi dan membasuh wajahku agar bunda tidak khawatir.
Kalau begini ceritanya ingin sekali aku melampiaskan kekesalanku pada samsak
yang biasa menemaniku latihan.
“Sokem,
udah dong ngambeknya... maafin gua ya??” kata Ilyas sambil mengetuk pintu kamar
mandi.
Pintu
kamar mandi aku buka dengan kasar, Ilyas masih berdiri kaku di depan pintu
sambil memperhatikan raut wajahku yang kesal akibat ulahnya. Dari sisi dapur
bunda melihat ke arah kami sambil menggelengkan kepala.
“Kalian
udah besar kan? Selesaikan masalah kalian sendiri ya, jangan terlalu lama kalau
marahan.” Bunda menasihati kami dari arah dapur.
Mendengar
nasihat bunda aku justru semakin kesal. Ingin rasanya melampiaskan semua
kekesalan langsung ke Ilyas, tapi apa daya aku masih malas untuk membicarakan
semua ini. Aku juga sudah tak sabar menyinggung Ina di depan Denis. Aku memang
sengaja menunggu kedatangan Denis dulu baru membahas semua uneg-uneg yang aku rasakan, karena menurutku bertemu dengannya
langsung akan lebih efektif. Setidaknya dia tidak akan mengelak dan aku bisa
melihat bahasa tubuhnya apakah dia berbohong atau tidak.
Hari sudah mulai gelap, tamu ayah satu persatu
mulai berdatangan. Pakaian mereka masih saja formal seperti layaknya di kantor.
Kemeja, jas, dasi dan juga sepatu yang mengkilap menjadi padu padan yang pas dalam acara
kali ini. Karena acara ini pun aku berubah menjadi putri kerajaan nan cantik
jelita. Tubuh tinggi ku dibalut oleh dress panjang dengan lengan se siku,
rambutku pun dibiarkan tergerai dihiasi oleh jepit berbentuk kupu-kupu. Moment
ini sempat aku abadikan dalam bentuk foto dan sengaja aku kirimkan ke Denis,
walaupun sampai sekarang belum ada balasan dari Denis yang bisa membuat hati ku
berbunga-bunga.
Ayah
melambaikan tangan dari kejauhan dan dengan hati-hati aku menghampiri ayah yang
masih dikelilingi oleh beberapa rekan kerjanya yang jauh lebih muda dibanding
ayah.
“Nah,
ini putri saya yang kuliah di jurusan manajemen bisnis.” Ayah memperkenalkan
putri cantiknya di depan rekan kerjanya. Aku tidak tahu apa maksud dibalik
perkenalan ini, hanya saja aku cukup bersyukur dikenalkan di depan mereka.
Siapa tahu salah satu dari mereka adalah jodohku kelak. Kalau dilihat dari
tampilannya, mereka hanya lebih tua dariku 5 tahun, hihihi.
“Ilyan?”
sapa salah seorang yang berada disebelah ayah, dan spontan membuat kami semua
kaget.
“Bang
Kiki?”
“Loh,
kalian saling kenal?” tanya Ayah memandangi kami secara bergantian.
“Iya
Pak, kebetulan adik saya temannya Ilyan.”
“Iya,
Yah, Vista yang waktu itu sempat nginep dirumah kita. Dia adiknya Bang Kiki.”
“Hmm,
bagus kalau kalian udah kenal. Nah, begini nak Kiki, saya sudah membaca
proposal kamu dan saya ingin kamu mendapat bimbingan dari Ilyan agar usaha kamu
makin berkembang. Apalagi saya tahu, basic
kamu bukan di dunia bisnis.”
“Maksudnya?” tanyaku
tak mengerti.
"Kiki
kemarin mengajukan proposal, dan ayah jadi investor dari usaha Kiki tersebut.
Nah, biar usaha Kiki makin berkembang kamu harus bantu dia. Itung-itung kamu
menerapkan ilmu yang selama ini didapat di kampus. Gimana?”
Aku hanya
mengangguk sambil melihat Kiki yang dari tadi memperhatikanku. Entahlah, aku
hanya bingung harus menjawab apa. Lagi pula aku bukan mahasiswa dengan predikat
berprestasi, dan ini yang membuatku ragu untuk membantu usaha Kiki.
“Yah,
aku pinjem Ilyan sebentar ya...” ijin Ilyas yang langsung menarik tanganku
menjauh dari kerumunan cowok-cowok good
looking.
“Mau
apalagi?” tanyaku ketus.
“Masih
marah? Gua sebenernya udah mau cerita tapi elu keburu buka hp gua jadi gini
deh.”
“Lu
dapet percakapan mereka dari siapa?”
“Ara
yang ngirim semua ke gua. Dia udah curiga sama sahabatnya yang akhir-akhir ini
sering jalan sama Denis. Karena kecurigaannya itulah dia kepo bbm si Ina, sahabatnya itu.”
“Kayaknya
gua pernah ketemu Ina sebelumnya deh.”
“Dimana?” tanya
Ilyas penasaran.
“Waktu
gua jalan sama Denis di Solo. Kalau nggak salah nama tempatnya itu jagung
angsa.”
“Jagung
naga kali!!!”
“Iya,
maksud gua gitu. Ya udah deh, gua makasih juga berkat elu, gua jadi tahu
kebusukan Denis dibelakang gua.”
“Lu,
kalau mau nangis boleh kok.” Ilyas mengelus ubun-ubunku dan alhasil membuat
rambutku sedikit berantakan.
“Gua
juga ingin nangis, tapi kok rasanya percuma ya gua nangisin cowok macam dia
gitu!”
Ilyas
memelukku erat tanpa memperhatikan lingkungan sekitar yang masih ramai oleh
tamu ayah. Dan akibat sikapnya ini kami justru menjadi tontonan, mungkin mereka
senang melihat saudara kembar yang terlihat harmonis ini.
“Eheem...”
seorang batuk di samping kami dengan sengaja.
“Boleh
ganggu sebentar?” lanjutnya dengan nada ragu-ragu.
“Boleh
Bang, mau ngobrol sama gua atau Ilyan?” tanya Ilyas polos, dan Kiki menunjuk ke
arahku. Dengan sopan Ilyas langsung meninggalkan kami berdua.
“Besok gua jemput ya? Gua mau nunjukin tempat usaha gua.”
“Besok
jam berapa ya?”
“Jam
tujuh malam gimana?”
“Boleh,
tapi langsung ketemu ditempat aja ya? Jangan lupa kirimin alamatnya ke gua.”
“Oke. By the way lu lagi ada masalah? Kok
tumben ada yang beda dari mata elu.”
“Mata
gua kenapa? Ada kotorannya ya?” aku menimpali dengan candaan dan justru membuat
Kiki tertawa dengan lebar.
Aku
ingin sekali bisa tertawa seperti dia, tapi apa daya ada yang mengusik hatiku
sehingga bibir ini tak bisa mengembangkan
senyum yang biasa mewarnai hari-hari ku. Walaupun begitu aku tetap berlagak
tangguh meskipun hatiku rapuh karena cinta yang baru seumur jagung.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar