"Masa lalu akan terus menghantui ketika hati kita belum berdamai dengan rasa sakit yang terjadi akibat di masa lalu."
Hari sudah sore namun aku masih sibuk dengan pikiran yang menggangguku. Aku ingin sekali bertemu dengan Denis, rindu rasanya tidak melihat wajah orientalnya yang selalu memikat hati. Namun rasa kecewa masih menguasai perasaan ini walaupun aku akui bahwa perasaan sayangku padanya belum sepenuhnya pudar.
Aku melihat foto-foto kami yang sengaja tidak aku hapus dari memori handpone ku. Sulit untuk percaya kalau Denis tega selingkuh di belakangku, karena senyum Denis selalu terlihat tulus dan bahagia saat foto denganku.
"Kenapa buka foto-foto lama? Lu kangen sama Denis?" tanya Ilyas yang entah sejak kapan berdiri di sampingku.
Aku menghela nafas panjang saat mendengar pertanyaan dari Ilyas. "Denis ngajak gua ketemu. Menurut lu gimana?"
"Ya udah sih ketemu aja apa susahnya. Dua hari kemarin gua juga ketemu sama dia di blok M, dan dia nyesel udah selingkuhin elu."
"Dua hari yang lalu?"
"Iya, dia langsung menghubungi gue begitu sampai di Jakarta dua hari yang lalu."
"Kalau dia nyesel, ngapain juga dia nggak langsung menghubungi gua?" tanyaku kesal.
"Yan, nggak semua orang bisa dengan mudah menghubungi orang yang pernah ada di masa lalunya. Apalagi dia sadar kalau dia pernah berbuat salah."
Ilyas mendekatkan wajahnya ke arahku, dan mulai melanjutkan kalimatnya dengan lembut, "Nah tugas lu sekarang adalah memaafkan kesalahan yang pernah dia buat dan semua kembali seperti dulu atau memaafkan tapi hanya sebatas teman."
Ilyas meninggalkanku dan ini membuatku berpikir keras. Aku bingung harus mengikuti logika yang aku miliki ataukah mengikuti kata hatiku. Namun yang jelas aku berhak bahagia dengan ataupun tanpa Denis di sisiku.
Aku beranjak dari teras rumah dan segera siap-siap untuk bertemu dengan Denis karena jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Tak perlu memerlukan waktu lama untuk berdandan dan sampai ketempat tujuan.
Aku sudah berada di depan pintu mencoba menenangkan perasaanku akibat tergesa-gesa dan rasa canggung yang sedari tadi menghampiriku. Aku melihat keberadaan Denis yang tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Ia sibuk termenung melihat keluar jendela dengan tangan yang menyangga dagu.
"Denis, gua cinta sama lu, gua sayang sama lu. Tapi kenapa lu tega selingkuh disaat gua punya perasaan yang besar buat lu?" tanyaku dalam hati, dan mataku sudah mulai berkaca-kaca.
Sesaat kemudian aku menghampiri Denis.
"Sorry gua telat."
Denis hanya tersenyum dan menyipitkan matanya. Ia terus memandangiku tanpa berkata sedikit pun. Sedangkan aku hanya menelan ludah berharap apa yang dikatakan Denis tidak membuatku mengubah keputusan yang telah aku buat.
Lima menit kita berada dalam diam dan ini membuatku tak sabar dibuatnya.
"Mau sampai kapan diam terus?" tanya ku kesal.
Denis meraih tanganku dan mengusap pelan penuh perasaan. Ingin rasanya menghindar, namun hati enggan melakukannya.
"Maafin aku karena baru menemui kamu sekarang. Aku salah dan terlalu egois nggak memikirkan perasaan kamu. Sempat terpikir kalau aku nggak pantas mendampingi kamu karena aku sadar nggak bisa menjaga komitmen yang udah kita bangun sejak awal."
"Aku malu sama kamu yang dengan setia menjaga hati kamu hanya untuk aku, padahal ada banyak pria disekitar kamu yang jauh lebih baik dari aku. Kamu mau nggak memaafkan semua kesalahan yang pernah aku buat dan kita kembali seperti dulu?" Lanjut Denis dengan nafas yang mulai berat.
Aku terus menatap matanya, berharap menemukan kebenaran akan kata-kata yang telah dia sampaikan. Namun, entah mengapa hati kecilku mengatakan bahwa tak sepenuhnya yang ia katakan berasal dari hatinya.
Aku memang ingin sekali kembali seperti dulu, tapi masalahnya adalah alasanku untuk kembali pada Denis itu karena memang masih cinta dengannya atau hanya rindu akan kenangan manis serta kebiasaan yang sering kami lakukan pada saat pacaran??
"Gua udah bisa maafin lu, tapi maaf gua masih belum bisa yakin kalau hubungan kita akan sama seperti dulu." aku melepaskan genggaman tangan Denis, dan ada raut kekecewaan di wajah Denis.
"Aku masih bisa menunggu jawaban kamu, karena aku tahu kamu sebenarnya masih punya perasaan yang sama seperti dulu. Aku hanya nggak ingin kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya, karena aku tahu kamu adalah perempuan terbaik yang pernah aku kenal."
Hatiku mulai bergetar, baru kali ini aku mendengar ada orang yang bilang kalau aku terbaik baginya. Andai saja kejadian itu tidak pernah terjadi pasti aku juga berpikir bahwa Denis adalah seseorang yang terbaik untukku.
Aku melemparkan pandangan keluar jendela, dan kenangan pahit lainnya mulai muncul dengan jelas. Kenangan saat aku dan Denis bertengkar hebat di depan cafe ini, untung saat itu ada Kiki yang tiba-tiba muncul, setidaknya bisa lebih membuatku tenang dan tidak terlalu cemas melihat amarah Denis untuk yang pertama kalinya.
"Udah malam, gua pamit dulu ya?" Aku segera bangkit dari tempat duduk.
"Aku antar ya?"
"Nggak usah, gua udah biasa naik taxi sendiri kok." jawabku dengan sinis, berharap Denis merasa tersindir dengan jawabanku.
Denis menghampiriku dan memeluk dengan erat. "Aku harap kita bisa jalan seperti dulu." bisik Denis tepat di telingaku.
***
Aku mengeluarkan handphone dari dalam tas, dan aku kaget saat melihat lima belas panggilan tak terjawab dari Kiki serta lima chat yang belum aku buka dari orang rumah. Tanpa pikir panjang aku langsung meminta supir taxi untuk putar balik ke rumah Kiki sambil mencoba menghubingi Kiki, namun hasilnya nihil. Kiki tidak menjawab panggilanku dan ketika aku mencoba menghubunginya lagi nomornya justru tidak aktif.
Aku langsung berlari saat taxi sampai di depan rumah Kiki.
"Bi, bang Kiki ada?" tanyaku panik.
"Ada, masuk dulu neng, nanti Bibi panggilkan." jawab Bi Minah dengan raut wajah yang bingung.
"Maaf neng, Abang belum bisa di temui sekarang katanya." Kata Bi Minah beberapa saat kemudian dengan nada ragu dan aku kaget mendengarnya.
Salah apa aku sampai Bang Kiki nggak mau menemuiku? dan apa kenapa pula dia sampai menelponku berkali-kali?
"Tapi bang Kiki baik-baik aja kan? dia nggak sakit kan Bi?" tanyaku dengan rasa panik yang masih sama.
"Abang sehat kok neng. Tapi nggak tau kenapa wajah abang kelihatan sedih saat pulang tadi."
"Ehm, gitu ya. Bibi tau alasannya nggak?"
"Wah, kurang tau saya neng."
"Ya udah Bi, saya pamit dulu ya. Tolong sampaikan maaf saya ke bang Kiki karena telponnya nggak sempat saya angkat."
Aku pamit namun tetap berdiri di depan rumah Kiki saat Bi Minah sudah menutup pintu. Entah mengapa aku merasa bersalah, namun aku juga bingun kenapa Kiki sampai tidak mau menemui aku. Kesalahan apa yang aku buat sampai Kiki kesal seperti ini.
Aku menghadap ke atas dimana kamar Kiki berada, dan terlihat jelas ada siluet yang mengintip dari jendela. Aku tahu benar itu adalah Kiki, dan dengan sengaja aku terus melihat kearahnya lama sekali. Iya lama!!! Sampai-sampai tetesan hujan membasahiku yang berdiri diam memandangi sosok Kiki yang tiba-tiba dingin terhadapku.
Hujan membasuh mukaku yang lusuh, aku harus kuat menahan angin yang kencang dan udara yang semakin dingin malam ini dengan harapan mendapat belas kasih dari Kiki. Namun, siluet Kiki justru hilang dari jendela kamarnya. Harapanku hilang, dan aku memutuskan untuk pulang dengan tangan hampa.
"Neng Ilyan!!!" Seru Bi Minah saat aku membalikan badan.
"Ini dari Abang." Bi Minah menyodorkan payung dan sebuah jaket yang aku tahu betul itu adalah jaket yang sering digunakan Kiki.
"Nggak usah bi, kembalikan saja ke Abang!"
"Jangan gitu atuh neng, Abang nggak mau kalau neng jatuh sakit." kata Bibi sambil membuka payung dan membalut bahuku dengan jaket.
"Neng pulangnya hati-hati ya, kabarin Abang kalau neng udah sampai rumah."
"Kenapa harus kasih kabar?" tanyaku kesal.
"Neng, denger kata Bibi. Abang itu sebenarnya perhatian hanya saja gengsinya terlalu tinggi kalau lagi ngambek. Jadi neng yang sabar ya?"
Aku hanya mengangguk pelan dan berjalan menjauhi Bibi. Benar saja, Kiki pasti marah sama aku, tapi kesalahan apa yang aku buat sampai dia kesal begitu? Aku rasa semua pekerjaanku sudah aku kerjakan dengan baik. Laporan keuangan usahanya pun masih dua hari lagi jadwalnya! Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Minta maaf? tapi bagaimana caranya? Ketemu saja dia nggak mau!
Telponku berdering, ada panggilan masuk dari Ilyas namun aku enggan menjawabnya. Aku masih berjalan menikmati deranya hujan dan aku pun masih menggerutu di dalam hati atas apa yang baru saja terjadi. Berat rasanya harus memikirkan dua hal sekaligus, antara Denis dan Kiki.
Langkahku berhenti saat merasakan perih di tumit. Pasti karena ku terlalu lelah berjalan menggunakan high heels cantik ini! Aku memutuskan untuk berhenti di depan ruko yang terdapat tempat duduk. Setidaknya aku bisa istirahat sebentar sambil menunggu hujan reda dan menunggu taxi lewat.
Ya Tuhan, kenapa nasibku seperti ini? Ditinggalkan seseorang dengan cara yang menyedihkan, dan sekarang di jauhi seseorang yang sampai sekarang aku nggak tahu alasannya. Apakah cinta sesakit ini Tuhan? Tidak bisakah aku merasakan cinta seperti apa yang dirasakan oleh Ilyas dan Ara? Tidak bisakah aku bahagia karena cinta yang Kau kirimkan lewat ciptaan-Mu??
Aku menanggalkan Jaket dan mengahampiri hujan yang masih saja deras. Aku membiarkan tubuh ini kembali dibasahi air hujan dan sangat menikmatinya. Kupejamkan mata, mencoba menenangkan perasaan yang sedang kacau. Ternyata menangis dibawah tetesan hujan bisa membuat perasaan lebih baik.
Sadar hujan telah berhenti, aku membuka mata, namun aku terkejut saat melihat seseorang memegang payung di sebelahku.
"Jadi ini alasan lo belum ngabarin gue?" tanya Kiki dengan raut wajah yang masih dingin.
"Lu marah kenapa?" tanyaku pelan sambil melihat ke tanah.
"Gimana nggak marah, tadi sore kan ada jadwal ketemu investor dan lo malah ketemu mantan yang udah nyakitin lo!"
"Investor??" aku terkejut mendengar Kiki yang blak-blakan mengutarakan kesalahanku.
"Ya, udah lah, nggak usah dipikirin lagi. Masuk mobil yuk, gue antar pulang!"
Kiki menyeretku untuk masuk ke dalam mobilnya. Selama perjalanan aku hanya melihat keluar jendela dan terdiam. Aku nggak berani menatap wajah Kiki, apalagi aku sudah mengecewakan dia.
"Mantan lo bilang apa waktu kalian ketemu? Hmm, sorry kalau gue terkesan kepo."
"Nggak bilang apa-apa bang."
"Yan, sebenarnya gue nggak mau ikut campur masalah lo. Gue cuman ingin berbagi aja karena gue pernah ada di posisi lo. Lo tau kenapa lo masih galau saat di hubungin mantan?"
Aku menggelengkan kepala, lalu Kiki melanjutkan kalimatnya, "karena lo belum bisa berdamai dengan rasa sakit yang terjadi di masa lalu. Percaya sama gue, semua akan baik-baik saja walaupun lo sendirian, yang perlu lo lakukan sekarang adalah nikmatin proses ini dan perluas pergaulan sambil membuka hati."
"Gua udah pernah nyoba buka hati buat orang lain bang, tapi semua berhenti di tengah jalan. Kadang gua bertanya pada diri gua sendiri, apa yang salah dari diri gua sampai nggak bisa menjalin hubungan sama orang. Bahkan gua pernah berpikir kalau gua orang yang nggak pantas untuk dicintai."
Aku diam sejenak, seakan tak percaya sudah mengatakan ini semua ke Kiki yang belum lama aku kenal. Tapi ada rasa lega di dada yang tak bisa aku jelaskan setelah mengatakan masalah yang mengganggu pikiranku.
"Jangan pernah menganggap diri lo rendah. Menurut gue, lo adalah sosok wanita yang bisa dicintai siapa saja. Lo mandiri, kuat, tegar, sederhana, humble, dan semua orang akan mudah mencintai lo. Buktinya waktu lo sakit, banyak yang nolongin. Ada Vista, Ilyas, Ori, Pras, dan gue."
"Tapi bang, gue juga berhak kan dicintai oleh seseorang yang menganggap dan memperlakukan gue selayaknya perempuan lain?"
"Heii, semua orang tau kalau lo perempuan, Yan. Lo harus percaya dengan apa yang lo miliki dan hargai semua pemberian dari Tuhan, pasti semua akan berjalan indah."
Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatan kecil ini. Aku kesal dan juga malas melanjutkan, aku yakin Kiki tak sepenuhnya mengerti apa yang aku rasakan. Andaikata Kiki pernah mengalami hal yang sama, pasti dia lebih bisa melewati masalah hidupnya dengan mudah karena ia adalah laki-laki.
Mobil sudah berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah, Aku membuka pintu mobil namun Kiki menghentikannya.
"Lo berhak bahagia, Yan. Lo mau nggak menjalani hari-hari bersama gue?"
Aku menelan ludah. Keadaan apa lagi ini Tuhan? di hari yang sama dua orang menyatakan perasaannya kepadaku.
"Bang, kayaknya ini terlalu cepat. Makasih ya tumpangannya." Segera ku buka pintu mobil dan lagi-lagi Kiki menghentikanku lalu memelukku erat. Seketika jantungku berdetak sangat kencang, belum lagi tarikan nafas Kiki yang berat semakin membuatku susah mengambil nafas.
"Udah cukup lama gue diam dan menunggu sampai kita bisa benar-benar dekat seperti sekarang. Dan perlu lo tau, nggak butuh waktu banyak untuk membuat gue jatuh cinta ke elo karena semua yang lo punya selalu membuat gue jatuh hati setiap harinya." bisik Kiki lirih di telinga kiriku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar