Selasa, 02 Februari 2016

AMABELLE// Surprise!!!


“Kehadiranmu  selalu membawa keceriaan di hidupku.”


Aku membuka mata lalu melihat jam dinding menunjukan pukul tiga pagi. Vista tidur disebelahku sementara Kiki duduk di kursi dekat meja belajar. Aku tak melihat keberadaan Pras di kamar mungil ini. Badanku masih lemas, namun aku paksakan untuk berdiri dan mengecek ruang TV, mungkin Pras ada disana sekarang.
Tebakanku benar, ternyata Pras sedang tidur berbaring di sofa depan TV namun matanya masih terjaga. Dengan sekuat tenaga aku menghampiri Pras, lalu ia bangkit dan mempersilahkan aku duduk di sebelahnya dan memberikan selimut yang tadi ia gunakan sebagai bantal.

“Lu kok belum tidur?”tanyaku pelan.
“Gua nggak bisa tidur.”
“Hmm, gitu. By the way gimana hasil seleksinya? Lu lolos kan?”
“Gua nggak lolos, kayaknya memang bukan rejeki gua deh.”
“Ori gimana?”
“Dia lolos,  Lu tau sendiri kemampuan dia gimana.”
“Oya, Lu pasti sengaja manggil gua kesini karena ada Vista ya?” lanjut Pras. Terdengar ada sedikit keraguan di nada bicaranya.
“Iya, karena gua tau kalau kalian masih saling perhatian satu sama lain. Sayangnya karena status mantan makanya kalian nggak saling tegur sampai sekarang.”
“Keadaan lu sekarang gimana? Masih lemes?” Pras mengalihkan pembicaraan.
“Pras, boleh nggak sekaliiii ini aja lu jujur tentang perasaan lu ke gua. Apa yang lu rasain sekarang ceritain ke gua supaya nggak menjadi beban buat elu.”

Pras menghela nafas panjang dan menatapku dengan tatapan sayu.

“Sebenernya gua juga ingin menceritakan semua yang gua rasain ke elu. Tapi gua bingung harus cerita dari mana, dan gua udah terbiasa menyimpan ini semua.”
“Ya udah lu nggak harus buru-buru kok, gua selalu ada buat lu kapan pun lu butuh teman curhat.”
“Gua balik kamar dulu ya mau istirahat lagi, lu juga istirahat gih.” Aku mengembalikan selimut yang tadi diberikan Pras lalu kembali ke kamar tidur.

Baru aku bangkit dari sofa, terdengar suara dering telepon rumah.

“Hallo, kediaman Pak Drajad. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ada mbak, tolong jaga kesehatan ya. Saya nggak mau direpotkan kalau harus mengurus anda!” jawab seorang dari seberang sana dengan suara yang sengaja dibuat berat. Siapa lagi kalau bukan Ilyas!
“Ngapain lu telpon pagi buta gini?” tanyaku ketus tanpa menanggapi candaan Ilyas barusan.
“Duuh, ngambek lagi! Gua baru otw ke jakarta nih. Lu udah diperiksa sama Pras? Kata dia apa?”
“Lu sendirian?”
“Lu udah diperiksa sama Pras? Kata dia apa?” Ilyas kembali mengulang pertanyaannya.
“Lu sendirian?” aku pun kembali mengulang pertanyaanku berharap dia menjawab bahwa dia ke Jakarta dengan Denis.
“Dih, ni anak. Jawab dulu pertanyaan gua!” Ilyas mulai menaikkan volume suaranya.
“Iya, bawel!!! Udah diperiksa katanya tipus dan magh. Sekarang Pras juga ada disini kok, Vista dan abang nya juga.”
“Syukur deh kalau banyak yang jagain elu. Ya udah, bye!”

Ilyas menutup pembicaraan, dan aku hanya bisa cemberut.
                                                                      ***

       “Yan, bangun..”aku mendengar suara yang mengusik mimpi indahku. Perlahan mata terbuka dan melihat Vista yang sedang memegang mangkuk ditemani Pras di sebelahnya.
             “Sarapan dulu yuk.” kata Vista dengan lembut.
          “Gua masih belum laper, Vis. Badan gua juga lemes banget nih.” Jawabku yang masih tergeletak diatas tempat tidur.
         “Kalau lu nggak mau makan kapan bisa sembuh!” Pras menaikan volume suaranya. Jiwa dokternya mulai muncul, sepertinya dia kesal melihat aku yang tak berdaya seperti sekarang ini.
          “Gua buatin jus alpukat ya, awas kalau nggak diminum!”
                 
       Tanpa mendengar jawabanku Pras langsung keluar kamar dan Vista memandangku dengan tatapan simpatik.
            “Bang Kiki mana?” tanyaku begitu sadar Kiki tidak ada di ruangan ini.
        “Dia lagi ada kerjaan jadi harus pulang duluan. Lo cepet sembuh ya gue pengin jalan bareng lagi sama elo.” Vista mengusap pelan bahuku dan kini matanya mulai berkaca-kaca.
            “Harusnya hari ini gua seleksi kejurnas, Vis...”
          “Yang terpenting sekarang kesehatan lo dan jangan banyak pikiran dulu. Kalau lo udah sehat lo bisa bebas melakukan apa yang lo mau.” Vista menasihatiku, aku hanya bisa menganggukan kepala tanda setuju.
            “Gua kok nggak liat Ori dari kemarin?” tanya Vista.
          “Dia lagi sibuk, kata Pras dia lolos seleksi. Mungkin beberapa hari lagi dia bakal pergi ke jogja buat melakukan pertandingan.”
      “Syukur deh kalau dia lolos. Makanya lo cepet sembuh biar bisa dateng ke pertandingannya Ori.”
                “Iyaaa, bawel!!!”
         “Oya, kayaknya udah ada perkembangan nih kalian.” Lanjutku dengan tatapan yang masih sayu.
             “Siapa? Gua dan Pras maksud lu?” Vista menjawab dengan malu-malu.
            “Yaah, lumayan lah. Seenggaknya kita udah nggak kaku kayak dulu. Ternyata Pras yang sekarang masih seperti Pras dulu yang gua kenal.”
         “Ada yang lagi ngomongin gua nih?” tanya Pras yang membuat kami berdua kaget dan jadi salah tingkah.
              
          Aku dan Vista hanya saling melempar senyum, sedangkan Pras seperti biasa “sok cool”. Dia membantuku mendekatkan gelas ke bibir yang masih pucat ini tanpa mengulang pertanyaannya barusan.
           “Praaas..”
           “Kenapa?” jawab Pras dengan cepat dan tampak cemas.
        “Tolong antar gua ke rumah sakit aja ya, gua udah nggak kuat.” jawabku dengan nada pelan. Entah mengapa badan ini kembali nge-drop padahal baru saja aku merasa segar saat bicara dengan Vista.
            
          “Haloooohaaaaa.....” Sapa seorang dari pintu kamar dengan nada yang ceria sedangkan kami hanya memasang muka datar ke arah sumber suara.
        “Ri, kita mau antar Ilyan ke rumah sakit sekarang.” Kata Pras yang masih khawatir dengan keadaanku.
     “Oh, ya udah ayuk! Pakai mobil lu ya, Ilyas biar gua aja yang gendong.” Senyum Ori langsung memudar kemudian ia  menggendongku menuju mobil Pras.
        
       Pras mengendarai mobilnya dengan cepat, sedangkan Ori membuat keributan seperti biasa. Jiwa ibu-ibu masih melekat di dirinya, dia ngomel ngalor ngidul, aku hanya bisa mendengarkan tanpa menanggapi omelannya.
            
      “Lu gimana sih, pendekar kok malah sakit. Udah gua bilang kalau latihan nggak usah ngodor, makan di jaga. Ngakunya pendekar, tapi stamina payah!” Ori mengusap keringat dingin yang terus membasahi wajahku, lalu dia melepas jaket dan menutupi badanku dengan jaket tersebut.
          “Ri, udah jangan dimarahin terus. Lu nggak liat muka dia udah kasihan gitu.”
         “Nggak gitu Pras, ini tuh tandanya gua care ke dia. Lagian salah alien sendiri yang nggak nurutin kata-kata gua. Padahal gua udah ngomong jauh-jauh hari, akhirnya gini kan!”
          “Kalau Azra sakit lu juga bawel gini Ri?”
      “Kagak Pras, malah dia yang bawel.” jawab Ori dengan ekspresi muka kecut yang membuat kami tersenyum geli.
       “Lu bisa bayangin kan sakit aja dia bisa bawel apalagi kalau nggak sakit. Ini aja gua diem-diem jenguk si alien ini, kemarin gua dilarang sama dia.” Lanjutnya dengan menggebu-gebu.
                 
       Aku kaget mendengar pengakuan Ori, ingin rasanya menanggapi pernyataan tersebut namun aku masih sibuk menahan sakit yang menyiksa tubuhku ini.
          “Kok bisa?” Kini Vista yang menanggapi Ori.
         “Dia cemburua banget Vis, gua heran deh sama dia. Padahal kan gua sama Ilyan cuman sahabatan tapi dia tetap aja curiga. Dia pernah bilang kalau cowok sama cewek itu nggak mungkin cuman sahabat. Salah satunya pasti ada yang suka. Emangnya pemikiran cewek gitu ya?”
       Ri, bisa diem nggak? bikin gua tambah pusing!” aku sengaja menghentikan Ori untuk curhat panjang lebar, karena aku sadar perubahan ekspresi di wajah Vista. Mungkin dulu Vista mempunyai pemikiran yang sama dengan Azra. Setidaknya kini Vista sudah tahu kebenarannya bahwa aku dan Pras hanya sekedar sahabat, dan itu cukup membuatku tenang.
               
       Sesampainya di rumah sakit aku langsung digiring ke UGD untuk diperiksa lagi. Tidak lama kemudian aku ditempatkan di salah satu ruang VIP di rumah sakit tersebut. Aku masih saja terdiam di tempat tidur, selang infus kini menusuk punggung tangan kiriku. Vista dan Pras kembali ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian yang sekiranya aku perlukan sedangkan Ori masih berbincang dengan salah satu dokter muda yang tadi ikut memeriksa ku.
       Jiwa playboy  Ori otomatis muncul saat melihat cewek cantik di depannya. Apalagi senyum dokter muda tersebut sangat cantik, belum lagi tubuhnya yang menjulang tinggi semakin menunjang penampilannya. Ori tampak bahagia dapat berbincang dengan teman barunya sampai melupakan aku yang masih terbaring lemas di dalam ruangan.
               
       “Ilyan, lagi apa?” aku melihat pesan singkat yang baru datang dari Denis. Akhirnya dia memberi kabar juga setelah kemarin hilang entah kemana. Aku menjawab pertanyaan Denis, namun tak seperti biasanya sms ku tidak kunjung dibalas olehnya.
          Tak lama kemudian aku melihat Ori yang bersalaman dengan beberapa orang. Aku tak bisa melihat wajah mereka dengan jelas karena pandanganku memang sedikit kabur. Salah
satu dari mereka masuk menghampiriku, sosok tinggi besar, hidung mancung yang menyangga kaca mata hitam melambaikan tangan dengan membentuk senyum di wajahnya. Dan dari siluet tubuhnya aku dapat menyimpulkan siapa sosok tersebut.

            “Lu girang banget jenguk orang sakit?” tanyaku sewot.
            “Dari pada lu, sewot liat gua girang!”  Ilyas membalas dengan ekspresi sengak.
                “Gimana, udah baikan?” lanjut Ilyas, kini ada tatapan serius di matanya.
      “Kayaknya sih begitu. Oya, lu ke sini sama....” belum sempat aku melanjutkan pertanyaanku, aku melihat sosok yang ingin sekali aku tanyakan pada Ilyas. Yap! Denis berjalan menghampiriku dengan membawa sekeranjang buah ditangannya.
                
       Dokter mana dokter??? Kayaknya jantung aku ada yang salah deh. Kenapa ni jantung selalu berdetak lebih kencang waktu liat Denis? Dokter, help me pleaseeeeeeeee!!!!!
        
      “Haiii” Sapa Denis yang kini berada di samping kanan ku dan secara nggak sadar aku memukul keras lengan kurusnya itu.
           “Lu kok nggak bilang kalau ikut Ilyas ke Jakarta? Mana sms gua nggak di bales!”
           “Kan surpriseeee” jawab Denis dengan senyum mengembang.
        “Waduuh, gua curiga nih. Sebenarnya kalian ada hubungan apa sih?” Ilyas menyipitkan matanya kearah kami berdua.
           “Harus banget di jawab ya???” Seorang perempuan menghampiri kami bertiga.
        
         “Araaa, lu juga ikut jenguk gua?” aku kaget bercampur haru saat melihat kedatangan Ara.
         “Iya, aku pengin banget ketemu kamu” jawab Ara dengan lembut khas cewek-cewek solo.
         “Hmm, ketemu mau kasih kabar baik atau gimana nih?” aku bergantian melihat ke arah Ilyas dan Ara.
           Menurut kamu?” Ara justru balik bertanya dan aku langsung dapat mengambil kesimpulan.
       “Aaaaaa, kalian udah jadiaaaan???” aku teriak seakan lupa kalau tadi pagi hampir seperti mayat hidup.
      “Iya, ini semua berkat lu, denis dan juga Toni. Thanks a lot guys.” Kata Ilyas dengan tatapan penuh kebahagiaan.
    “Waaah, selamat ya buat kalian berdua. Gua ikut seneng dengernya.” Aku memegang tangan Ilyas dan Ara.
       “Tangan gua nggak di pegang juga?” tanya Denis dengan muka sok imut yang membuat kami bertiga tertawa terbahak-bahak.
        
       Ori segera bergabung dengan kami setelah urusan dengan si dokter muda selesai. Aku pun memperkenalkan Ori kepada Ara dan juga Denis. Namun bukan Ori namanya kalau tidak membuat rusuh.
      “Hai gua Ori, pacarnya Ilyan.” Kata Ori saat berjabat tangan dengan Denis, seketika itu ekspresi Denis langsung berubah.
     “Heiii, gua bercanda! Hahaha, lu pasti Denis kan?” Ori tertawa lebar begitu melihat perubahan ekspresi di wajah Denis.
      “Hahaha, gua kira beneran! Iya gua Denis salam kenal.” Denis tersenyum namun masih tersurat ada rasa canggung yang mengganggu senyumnya.



Tidak ada komentar: