“Kehadiranmu selalu membawa keceriaan di hidupku.”
Aku membuka mata lalu melihat jam
dinding menunjukan pukul tiga pagi. Vista tidur disebelahku sementara Kiki
duduk di kursi dekat meja belajar. Aku tak melihat keberadaan Pras di kamar
mungil ini. Badanku masih lemas, namun aku paksakan untuk berdiri dan mengecek
ruang TV, mungkin Pras ada disana sekarang.
Tebakanku benar, ternyata Pras sedang
tidur berbaring di sofa depan TV namun matanya masih terjaga. Dengan sekuat
tenaga aku menghampiri Pras, lalu ia bangkit dan mempersilahkan aku duduk di
sebelahnya dan memberikan selimut yang tadi ia gunakan sebagai bantal.
“Lu kok belum tidur?”tanyaku pelan.
“Gua nggak bisa tidur.”
“Hmm, gitu. By the way gimana hasil seleksinya? Lu lolos kan?”
“Gua nggak lolos, kayaknya memang bukan
rejeki gua deh.”
“Ori gimana?”
“Dia lolos, Lu tau sendiri kemampuan dia gimana.”
“Oya, Lu pasti sengaja manggil gua
kesini karena ada Vista ya?” lanjut Pras. Terdengar ada sedikit keraguan di nada
bicaranya.
“Iya, karena gua tau kalau kalian masih
saling perhatian satu sama lain. Sayangnya karena status mantan makanya kalian
nggak saling tegur sampai sekarang.”
“Keadaan lu sekarang gimana? Masih
lemes?” Pras mengalihkan pembicaraan.
“Pras, boleh nggak sekaliiii ini aja lu
jujur tentang perasaan lu ke gua. Apa yang lu rasain sekarang ceritain ke gua
supaya nggak menjadi beban buat elu.”
Pras menghela nafas panjang dan
menatapku dengan tatapan sayu.
“Sebenernya gua juga ingin menceritakan
semua yang gua rasain ke elu. Tapi gua bingung harus cerita dari mana, dan gua
udah terbiasa menyimpan ini semua.”
“Ya udah lu nggak harus buru-buru kok,
gua selalu ada buat lu kapan pun lu butuh teman curhat.”
“Gua balik kamar dulu ya mau istirahat
lagi, lu juga istirahat gih.” Aku mengembalikan selimut yang tadi diberikan Pras
lalu kembali ke kamar tidur.
Baru aku bangkit dari sofa, terdengar
suara dering telepon rumah.
“Hallo, kediaman Pak Drajad. Ada yang
bisa saya bantu?”
“Ada mbak, tolong jaga kesehatan ya.
Saya nggak mau direpotkan kalau harus mengurus anda!” jawab seorang dari
seberang sana dengan suara yang sengaja dibuat berat. Siapa lagi kalau bukan
Ilyas!
“Ngapain lu telpon pagi buta
gini?” tanyaku ketus tanpa menanggapi candaan Ilyas barusan.
“Duuh, ngambek lagi! Gua baru otw ke
jakarta nih. Lu udah diperiksa sama Pras? Kata dia apa?”
“Lu sendirian?”
“Lu udah diperiksa sama Pras? Kata dia
apa?” Ilyas kembali mengulang pertanyaannya.
“Lu sendirian?” aku pun kembali
mengulang pertanyaanku berharap dia menjawab bahwa dia ke Jakarta dengan Denis.
“Dih, ni anak. Jawab dulu pertanyaan
gua!” Ilyas mulai menaikkan volume suaranya.
“Iya, bawel!!! Udah diperiksa katanya
tipus dan magh. Sekarang Pras juga ada disini kok, Vista dan abang nya juga.”
“Syukur deh kalau banyak yang jagain
elu. Ya udah, bye!”
Ilyas menutup pembicaraan, dan aku
hanya bisa cemberut.
***
“Yan, bangun..”aku mendengar suara yang mengusik mimpi
indahku. Perlahan mata terbuka dan melihat Vista yang sedang memegang mangkuk
ditemani Pras di sebelahnya.
“Sarapan
dulu yuk.” kata Vista dengan lembut.
“Gua masih belum laper, Vis. Badan gua juga lemes banget
nih.” Jawabku yang masih tergeletak diatas tempat tidur.
“Kalau
lu nggak mau makan kapan bisa sembuh!” Pras menaikan volume suaranya. Jiwa
dokternya mulai muncul, sepertinya dia kesal melihat aku yang tak berdaya
seperti sekarang ini.
“Gua
buatin jus alpukat ya, awas kalau nggak diminum!”
Tanpa
mendengar jawabanku Pras langsung keluar kamar dan Vista memandangku dengan tatapan
simpatik.
“Bang
Kiki mana?” tanyaku begitu sadar Kiki tidak ada di ruangan ini.
“Dia
lagi ada kerjaan jadi harus pulang duluan. Lo cepet sembuh ya gue pengin jalan
bareng lagi sama elo.” Vista mengusap pelan bahuku dan kini matanya mulai berkaca-kaca.
“Harusnya
hari ini gua seleksi kejurnas, Vis...”
“Yang
terpenting sekarang kesehatan lo dan jangan banyak pikiran dulu. Kalau lo udah
sehat lo bisa bebas melakukan apa yang lo mau.” Vista menasihatiku, aku hanya
bisa menganggukan kepala tanda setuju.
“Gua
kok nggak liat Ori dari kemarin?” tanya Vista.
“Dia
lagi sibuk, kata Pras dia lolos seleksi. Mungkin beberapa hari lagi dia bakal
pergi ke jogja buat melakukan pertandingan.”
“Syukur
deh kalau dia lolos. Makanya lo cepet sembuh biar bisa dateng ke pertandingannya
Ori.”
“Iyaaa,
bawel!!!”
“Oya,
kayaknya udah ada perkembangan nih kalian.” Lanjutku dengan tatapan yang masih sayu.
“Siapa?
Gua dan Pras maksud lu?” Vista menjawab dengan malu-malu.
“Yaah,
lumayan lah. Seenggaknya kita udah nggak kaku kayak dulu. Ternyata Pras yang
sekarang masih seperti Pras dulu yang gua kenal.”
“Ada yang lagi ngomongin gua nih?” tanya Pras yang membuat
kami berdua kaget dan jadi salah tingkah.
Aku dan
Vista hanya saling melempar senyum, sedangkan Pras seperti biasa “sok cool”. Dia membantuku mendekatkan gelas
ke bibir yang masih pucat ini tanpa mengulang pertanyaannya barusan.
“Praaas..”
“Kenapa?”
jawab Pras dengan cepat dan tampak cemas.
“Tolong
antar gua ke rumah sakit aja ya, gua udah nggak kuat.” jawabku dengan nada pelan. Entah mengapa badan ini kembali nge-drop
padahal baru saja aku merasa segar saat bicara dengan Vista.
“Haloooohaaaaa.....”
Sapa seorang dari pintu kamar dengan nada yang ceria sedangkan kami hanya memasang
muka datar ke arah sumber suara.
“Ri,
kita mau antar Ilyan ke rumah sakit sekarang.” Kata Pras yang masih khawatir
dengan keadaanku.
“Oh, ya
udah ayuk! Pakai mobil lu ya, Ilyas biar gua aja yang gendong.” Senyum Ori
langsung memudar kemudian ia
menggendongku menuju mobil Pras.
Pras
mengendarai mobilnya dengan cepat, sedangkan Ori membuat keributan seperti
biasa. Jiwa ibu-ibu masih melekat di dirinya, dia ngomel ngalor ngidul, aku hanya bisa mendengarkan tanpa menanggapi
omelannya.
“Lu
gimana sih, pendekar kok malah sakit. Udah gua bilang kalau latihan nggak usah
ngodor, makan di jaga. Ngakunya pendekar, tapi stamina payah!” Ori mengusap
keringat dingin yang terus membasahi wajahku, lalu dia melepas jaket dan
menutupi badanku dengan jaket tersebut.
“Ri,
udah jangan dimarahin terus. Lu nggak liat muka dia udah kasihan gitu.”
“Nggak
gitu Pras, ini tuh tandanya gua care ke
dia. Lagian salah alien sendiri yang nggak nurutin kata-kata gua. Padahal gua
udah ngomong jauh-jauh hari, akhirnya gini kan!”
“Kalau
Azra sakit lu juga bawel gini Ri?”
“Kagak Pras, malah dia yang bawel.” jawab Ori dengan ekspresi
muka kecut yang membuat kami tersenyum geli.
“Lu
bisa bayangin kan sakit aja dia bisa bawel apalagi kalau nggak sakit. Ini aja
gua diem-diem jenguk si alien ini, kemarin gua dilarang sama dia.” Lanjutnya
dengan menggebu-gebu.
Aku
kaget mendengar pengakuan Ori, ingin rasanya menanggapi pernyataan tersebut
namun aku masih sibuk menahan sakit yang menyiksa tubuhku ini.
“Kok
bisa?” Kini Vista yang menanggapi Ori.
“Dia
cemburua banget Vis, gua heran deh sama dia. Padahal kan gua sama Ilyan cuman sahabatan
tapi dia tetap aja curiga. Dia pernah bilang kalau cowok sama cewek itu nggak
mungkin cuman sahabat. Salah satunya pasti ada yang suka. Emangnya pemikiran
cewek gitu ya?”
“Ri,
bisa diem nggak? bikin gua tambah pusing!” aku sengaja menghentikan Ori untuk
curhat panjang lebar, karena aku sadar perubahan ekspresi di wajah Vista.
Mungkin dulu Vista mempunyai pemikiran yang sama dengan Azra. Setidaknya kini
Vista sudah tahu kebenarannya bahwa aku dan Pras hanya sekedar sahabat, dan itu
cukup membuatku tenang.
Sesampainya
di rumah sakit aku langsung digiring ke UGD untuk diperiksa lagi. Tidak lama
kemudian aku ditempatkan di salah satu ruang VIP di rumah sakit tersebut. Aku
masih saja terdiam di tempat tidur, selang infus kini menusuk punggung tangan
kiriku. Vista dan Pras kembali ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian yang
sekiranya aku perlukan sedangkan Ori masih berbincang dengan salah satu dokter
muda yang tadi ikut memeriksa ku.
Jiwa playboy Ori otomatis muncul saat melihat cewek cantik
di depannya. Apalagi senyum dokter muda tersebut sangat cantik, belum lagi
tubuhnya yang menjulang tinggi semakin menunjang penampilannya. Ori tampak
bahagia dapat berbincang dengan teman barunya sampai melupakan aku yang masih
terbaring lemas di dalam ruangan.
“Ilyan,
lagi apa?” aku melihat pesan singkat yang baru datang dari Denis. Akhirnya dia
memberi kabar juga setelah kemarin hilang entah kemana. Aku menjawab pertanyaan
Denis, namun tak seperti biasanya sms ku tidak kunjung dibalas olehnya.
Tak
lama kemudian aku melihat Ori yang bersalaman dengan beberapa orang. Aku tak
bisa melihat wajah mereka dengan jelas karena pandanganku memang sedikit kabur.
Salah
satu dari mereka masuk menghampiriku, sosok tinggi besar, hidung
mancung yang menyangga kaca mata hitam melambaikan tangan dengan membentuk
senyum di wajahnya. Dan dari siluet tubuhnya aku dapat menyimpulkan siapa sosok tersebut.
“Lu
girang banget jenguk orang sakit?” tanyaku sewot.
“Dari
pada lu, sewot liat gua girang!” Ilyas membalas dengan ekspresi sengak.
“Gimana,
udah baikan?” lanjut Ilyas, kini ada tatapan serius di matanya.
“Kayaknya
sih begitu. Oya, lu ke sini sama....” belum sempat aku melanjutkan
pertanyaanku, aku melihat sosok yang ingin sekali aku tanyakan pada Ilyas. Yap!
Denis berjalan menghampiriku dengan membawa sekeranjang buah ditangannya.
Dokter
mana dokter??? Kayaknya jantung aku ada yang salah deh. Kenapa ni jantung
selalu berdetak lebih kencang waktu liat Denis? Dokter, help me pleaseeeeeeeee!!!!!
“Haiii” Sapa
Denis yang kini berada di samping kanan ku dan secara nggak sadar aku memukul
keras lengan kurusnya itu.
“Lu kok
nggak bilang kalau ikut Ilyas ke Jakarta? Mana sms gua nggak di bales!”
“Kan
surpriseeee” jawab Denis dengan senyum mengembang.
“Waduuh,
gua curiga nih. Sebenarnya kalian ada hubungan apa sih?” Ilyas menyipitkan
matanya kearah kami berdua.
“Harus
banget di jawab ya???” Seorang perempuan menghampiri kami bertiga.
“Araaa,
lu juga ikut jenguk gua?” aku kaget bercampur haru saat melihat kedatangan Ara.
“Iya,
aku pengin banget ketemu kamu” jawab Ara dengan lembut khas cewek-cewek solo.
“Hmm,
ketemu mau kasih kabar baik atau gimana nih?” aku bergantian melihat ke arah
Ilyas dan Ara.
Menurut
kamu?” Ara justru balik bertanya dan aku langsung dapat mengambil kesimpulan.
“Aaaaaa, kalian udah jadiaaaan???” aku teriak seakan lupa
kalau tadi pagi hampir seperti mayat hidup.
“Iya,
ini semua berkat lu, denis dan juga Toni. Thanks a lot guys.” Kata Ilyas dengan
tatapan penuh kebahagiaan.
“Waaah,
selamat ya buat kalian berdua. Gua ikut seneng dengernya.” Aku memegang tangan
Ilyas dan Ara.
“Tangan
gua nggak di pegang juga?” tanya Denis dengan muka sok imut yang membuat kami
bertiga tertawa terbahak-bahak.
Ori
segera bergabung dengan kami setelah urusan dengan si dokter muda selesai. Aku
pun memperkenalkan Ori kepada Ara dan juga Denis. Namun bukan Ori namanya kalau
tidak membuat rusuh.
“Hai
gua Ori, pacarnya Ilyan.” Kata Ori saat berjabat tangan dengan Denis, seketika
itu ekspresi Denis langsung berubah.
“Heiii,
gua bercanda! Hahaha, lu pasti Denis kan?” Ori tertawa lebar begitu melihat
perubahan ekspresi di wajah Denis.
“Hahaha,
gua kira beneran! Iya gua Denis salam kenal.” Denis tersenyum namun masih
tersurat ada rasa canggung yang mengganggu senyumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar