Selasa, 02 Februari 2016

AMABELLE// Hari Pertama Tanpa Ayah dan Bunda


“Kita tak perlu berjalan bersama, melihatmu bahagia sudah cukup membuatku sempurna”



"Sayang, sore ini bunda mau ikut ayah dines ke kalimantan jadi nggak bisa nonton kamu seleksi kejurnas. Nggak apa-apa ya?” teriak bunda dari arah dapur dan aku pun menjawab dengan teriakan juga dari ruang tengah tanpa mengalihkan pandanganku dari TV. 
“Sore ini? berarti Ilyan sendirian dong dirumah?”
            “Iya dong, emang sama siapa lagi? Lagian bunda cuman sebentar.”
            “Sebentarnya berapa hari bund?”
        “Satu minggu.” Jawab bunda dengan nada tak bersalah. Mungkin bagi bunda satu minggu adalah waktu yang sebentar tapi bagiku seminggu tanpa bunda serasa nggak ada kehidupan di rumah ini.
           “Mobil ayah tinggal, jadi kamu bisa pakai sesuka kamu.” Kini giliran ayah yang berteriak dari kamar.
               
         Aku mulai sadar mengapa telingaku akhir-akhir ini sering bermasalah. Mungkin karena setiap hari aku selalu mendengar teriakan orang tuaku. Aku jadi sanksi sepertinya bukan hanya aku saja yang terganggu dengan teriakan itu, barang kali tetangga sebelahku sering terganggu dengan teriakan delapan oktaf tersebut.
        Aku menghampiri ayah yang sedang sibuk berkemas di kamar. Kujatuhkan badan ini ketempat tidur sambil memasang tampang memelas tapi sayangnya ayah tak terpengaruh, beliau masih sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.
               
       “Kamu jaga kesehatan ya, udah H-2 sebelum pertandingan jadi jangan terlalu keras latihannya.” Aku memasang muka ngambek, menghela nafas berat dan kembali ke ruang TV. Bunda memperhatikan tingkahku namun Bunda tetap sibuk memasak.
               
             “Ayah sama Bunda berangkat jam berapa?”
            “Dua jam lagi berangkat, kamu antar kita ke bandara ya?” kali ini Bunda menghampiri ku sambil membawa sepiring pisang goreng.
            “Ceritanya nyogok nih?” tanyaku sambil melihat pisang goreng yang disodorkan Bunda.
      “Menurut maneh? udah ah bunda mau mandi dulu. Jangan lupa dihabiskan pisang gorengnya atau kamu mau teh? Nanti bunda siapkan.”
                “Nggak usah deh, lagian Bunda Cuma mau nyogok ilyan doang!”
               
            Bunda tersenyum sambil berlalu ke arah kamar mandi. Heran! Bagaimana bisa harga diriku ditukar dengan sepiring pisang goreng? Mau nyogok saja, bunda masih perhitungan dan
nggak ada pengorbanan sama sekali. Beuuh, pantas saja tabungan Bunda di bank sangat banyak karena ia sangat pandai mengatur uangnya.

Berat rasanya ditinggal Ayah dan Bunda. Aku memang bukan anak manja tapi kalau ditinggal orang tua selama lima hari rasanya aku nggak bisa mengurus semuanya sendiri terutama masalah makan. Kalau saja Ilyas ada di rumah ini pasti dia akan mengatur jam makan ku sebaik mungkin. Dia akan menggantikan Bunda mengurus kegiatan dapur saat pagi, siang, maupun malam hari. Aaaah, kalau begini ceritanya aku jadi kangen dengan Ilyas.

Dua jam kemudian...
“Sayang, ayok anter Ayah Bunda sekarang!” teriak Bunda dari ruang tamu.
“Sebentar Bund, Ilyan lagi nyiapin baju untuk latihan.” Aku bergegas memasukan seragam dan juga sebotol air minum ke tas ransel lalu berlari menghampiri Bunda yang ada di ruang tamu. Aku menarik koper dan memasukkannya ke bagasi mobil di bantu oleh ayah.
“Kamu langsung berangkat latihan?” tanya Ayah.
“Iya, udah mepet banget nih Yah, takut telat. Buruan yuk?” kali ini aku yang memaksa Ayah dan Bunda untuk cepat-cepat berangkat menuju Bandara. Ayah melemparkan kunci mobil padaku.

Hmm, sebenarnya aku paling malas kalau harus mengendarai mobil tapi apa boleh buat hari ini aku harus menjadi anak yang berbakti dengan mengantar orang tuaku ke bandara belum lagi aku sudah hampir terlambat latihan.
Aku menginjak gas dengan sangat kencang, tak lupa menutup jendela mobil agar rambut Bunda tidak berantakan akibat angin yang menyelinap lewat kaca jendela. Ayah dengan tenang duduk dibangku belakang, namun aku tahu betul beliau pasti sedang berdzikir dalam hati agar sampai bandara dengan selamat.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya kami sampai di bandara. Ayah keluar menuju bagasi mengambil koper dan Bunda memberikan sejumlah uang untuk bekalku satu minggu kedepan.
 
      “Makasih ya Bund? Maaf ya Ilyan nggak bisa nganter sampai dalam, udah telat nih latihannya.” Bunda tersenyum padaku dibarengi dengan anggukan kepala, dan Ayah menghampiri kami lalu melambaikan tangannya. Sedangkan aku “Wuuuuus..” menginjak pedal gas dengan kencang, berharap sang pelatih juga terlambat datang.
                                                                                             ***

Aku memakai seragam dan juga sabuk silat dengan terburu-buru. Dari kejauhan sang pelatih memandangiku dengan tatapan bengis. Bencana akan datang! Aku melangkah sambil mengatur detak jantungku yang tak jua berdetak dengan normal.
“Lariiiiiii!!!!” teriak pelatih dari kejuhan dan semua mata tertuju padaku. Aku langsung berlari ke arahnya dan memberikan hormat.
“Telat berapa menit?” tanya sang pelatih dengan nada dingin.
“Tiga puluh menit Bang.” Jawabku lirih dengan menatap wajah pelatih yang masih bengis.
“Oke, push up enam puluh kali!” perintah sang pelatih. Tanpa meminta keringanan aku langsung melakukan push up dengan jumlah yang diminta sang. Saat push up  sang pelatih masih berada disampingku sambil ngomel tanpa henti. Mulai dari membahas atlit itu harus disiplin, seleksi event kejurnas yang tinggal dua hari lagi, sampai merembet ke masalah pribadi seperti misalnya status jomblo yang aku miliki. Dia bilang status jomblo mempengaruhi ketidak disiplinanku. Apa pula ini?? Secara ilmiah nggak bisa diketahui kebenarannya tapi dia malah menyinggung persoalan ini dan membuat anak-anak lain tertawa keras.
Aku menghentikan kegiatan hukumanku lalu melotot ke arah pelatih.
           “Eh, lu berani melotot ke pelatih? Lanjutin push up nya!” teriak sang pelatih yang diakhiri dengan ketawa kecil.
               
         Aku menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan hukumanku yang sempat tertunda.  “Awas lu Bang Zaki, selesai latihan kita lanjutin urusan kita!” celetukku dalam hati.
           
       Selesai melaksanakan hukuman, aku bergabung dengan teman-teman yang sedang serius berlatih.  Latihan kali ini tak ada yang mengganjal pikiranku, maka dari itu aku bisa fokus berlatih seperti biasanya. Saking fokusnya tak terasa jam istirahat untuk latihan tiba tapi aku harus tetap berlatih karena tadi waktu latihanku sudah terbuang tiga puluh menit. Aku melatih kecepatanku dalam menendang dan melampiaskan pada samsak yang tergantung di lapangan.
                
        “Tadi telat kenapa?” tanya Bang Zaki yang kini berdiri di sampingku.
       “Bodo amat ah Bang! Mestinya pertanyaan ini lu tanyain tadi.” Aku kesal dan masih fokus mengarahkan kakiku ke samsak.
    “Duileee, ngambek! Eh, tapi tadi gua serius loh tentang status kejombloan lu yang berpengaruh sama disiplin.”
            
         Mendengar hal ini aku langsung berdiri kaku menghadap Zaki yang terlihat jelas manahan tawa.
         “Maksudnya?”
        “Hmm, gini deh, to the point aja ya. Lu masih inget kan temen gua yang pengin kenalan sama lu? Gimana? Dia udah tanya-tanya terus nih.”
        “Enggak dulu deh. Tolong sampaikan permintaan maaf gua ke dia. Lagi pula sekarang gua lagi deket sama orang, dari pada nantinya PHP doang, kasiahan dianya bang.”
           “Lu deket sama siapa??” Zaki mendekatkan wajahnya ke arahku.
           “Ada deeeeh...”
                 
        Aku kembali fokus dengan samsak dan tidak memperdulikan Zaki yang masih manatapku dengan tatapan serius. Aku yakin pasti dia penasaran setengah mati siapa yang sedang dekat denganku saat ini. Setidaknya ini bisa menjadi bahan balas dendamku akibat kejadian tadi yang sempat mempermalukan aku di depan anak-anak.

        Matahari sudah meninggalkan permukaan dua jam yang lalu, aku menyandarkan tubuhku ke dinding sambil memegang botol air minum. Entah mengapa latiahan hari ini sangat menguras tenaga. Anak-anak sudah pulang ke rumah masing-masing dan yang tersisa hanya aku sendiri ditemani suara jangkring yang setia menjadi back sound malam ini. Rasanya malas pulang kerumah, nggak ada kehidupan disana. Nggak ada teriakan Bunda yang protes dengan muka kusam ku saat selesai latihan dan nggak ada Ayah yang minta dibuatkan secangkir kopi saat aku menginjakan kaki di ruang tamu.

                Aku menghela nafas berat dan “Huwaaaaaa!!!!” teriakku kencang saat melihat sosok yang entah sejak kapan berada disampingku dengan ekspresi muka datar.
               
             “Kenapa yan??”
           “Ya ampun, Bang Kiki! Kenapa sih selalu bikin gua kaget?!” aku mengelus dada sambil mengatur nafas yang tiba-tiba berat.
            “Hehe, maaf, gue nggak sengaja. Lo belum pulang?”
             “Belum. Lu ngapain Bang di sini?”
             “Gua janjian sama temen tapi dia udah balik duluan.”
                
           Bang Kiki masih memanatapku, dan ini membuat keadaan menjadi kikuk.
           “Ada apa bang? Ada kotoran ya di muka gua?”
         “Kagak, tapi kayaknya ada yang lagi lu pikirin ya? Siapa? Pacar?” Kiki membombardir dengan pertanyaan. Dan belum sempat aku jawab, handphone bergetar, ada panggilan dari Denis. Aku pamit kepada Kiki dan langsung masuk ke dalam mobil.
                
       “Hai, tumben telphon. Ada apa?” Sapa ku dengan nada suara yang dibuat senormal mungkin. Padahal panah cupit sudah memenuhi hati ini.
            “Nggak ada apa-apa, lagi pengin aja. Kamu dimana?”
             “Di kampus nih, tadi baru selesai latihan.”
             “Ehm, pantesan sms ku nggak di bales. Kamu sendiri?”
            “Ooh, lu sms. Sorry gua belum nge-cek HP dari tadi.” aku terpaksa memakai Lu-gua lagi, karena panggilan ini lebih nyaman bagiku.
            “Kamu kapan ke Solo lagi? Kita jalan yuk?”
            “So- Solo? Ehm, ka-kapan ya?” aku balik bertanya dengan gugup.
          “Iyaaa. Kamu main ke Solo lagi gih, nanti kita jalan. Oiya, tadi aku baru latihan sama band aku, kita mainin lagu baru. Mau denger?”
              “Mau-mau-mauuu” jawabku dengan antusias.
                
       Aku mendengarkan lagu itu dalam diam, begitu juga Denis. Lagu dengan aliran pop tersebut sangat easy going dan mudah dihafal. Liriknya romantis, petikan gitarnya pun menambah keromantisan lagu tersebut. Aku paling suka bait kedua dari lagu itu.

          Kita tak perlu berjalan bersama
          Melihatmu bahagia sudah cukup membuatku sempurna

                “Gimana? Bagus nggak?”
           “Bagus, gua suka liriknya. Suara vokalisnya juga bagus, udah gitu petikan gitarnya asik.”
           “Kok cuma mereka yang dikomentarin? Drummer-nya nggak?”
        “Nggak usah lah, gua males ngomentarin drummer-nya.” Jawabku sekenanya. Padahal aku tahu betul dia adalah drummer dari band tersebut.
       “Diih kok gitu! Kamu perlu tau drummer-nya itu main dengan sepenuh hati, dan penuh skills.” Denis mulai menyombongkan diri.
          “Beuuh, mulai dah sombong! Eh, gua tanya dong maksud lirik bait ke dua apa?”
        “Ehm, kamu pernah nggak suka sama orang tapi kamu takut buat nyatain perasaan? Nah di lagu itu ceritanya dia takut ngungkapin karena dia nggak mau orang yang dia suka menjauh. Dan dia lebih memilih orang yang dia suka bahagia walau dia bukan jadi alasan kebahagiaan itu.”
               
           Aku terdiam merenungi perkataan Denis barusan. Aku tak tahu lagu itu menggambarkan perasaan siapa. Yang aku tahu, aku pun kini sedang merasakannya. Aku tak punya keberanian mengatakannya pada Denis karena aku ragu kalau perasaan ini hanya ilusi sesaat. Aku takut jika perasaan yang aku miliki hanya karena haus kasih sayang bukan berdasarkan cinta. Belum lagi, aku baru kenal dengan Denis. Entah kharisma apa yang Denis punya sehingga bisa membuat hati yang sudah lama membeku dengan cepat mencair lalu menyambut ia dengan hangat.
                                                                          ***

Tidak ada komentar: