“Kita tak perlu berjalan
bersama, melihatmu bahagia sudah cukup membuatku sempurna”
"Sayang, sore ini bunda mau ikut ayah
dines ke kalimantan jadi nggak bisa nonton kamu seleksi kejurnas. Nggak apa-apa
ya?” teriak bunda dari arah dapur dan aku pun menjawab dengan teriakan juga dari
ruang tengah tanpa mengalihkan pandanganku dari TV.
“Sore ini? berarti Ilyan
sendirian dong dirumah?”
“Iya dong, emang sama siapa lagi? Lagian bunda cuman
sebentar.”
“Sebentarnya
berapa hari bund?”
“Satu minggu.” Jawab bunda dengan nada tak bersalah. Mungkin bagi bunda satu minggu
adalah waktu yang sebentar tapi bagiku seminggu tanpa bunda serasa nggak ada
kehidupan di rumah ini.
“Mobil
ayah tinggal, jadi kamu bisa pakai sesuka kamu.” Kini giliran ayah yang
berteriak dari kamar.
Aku
mulai sadar mengapa telingaku akhir-akhir ini sering bermasalah. Mungkin karena
setiap hari aku selalu mendengar teriakan orang tuaku. Aku jadi sanksi sepertinya
bukan hanya aku saja yang terganggu dengan teriakan itu, barang kali tetangga
sebelahku sering terganggu dengan teriakan delapan oktaf tersebut.
Aku
menghampiri ayah yang sedang sibuk berkemas di kamar. Kujatuhkan badan ini
ketempat tidur sambil memasang tampang memelas tapi sayangnya ayah tak
terpengaruh, beliau masih sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.
“Kamu
jaga kesehatan ya, udah H-2 sebelum pertandingan jadi jangan terlalu keras
latihannya.” Aku memasang muka ngambek, menghela nafas berat dan kembali ke
ruang TV. Bunda memperhatikan tingkahku namun Bunda tetap sibuk memasak.
“Ayah
sama Bunda berangkat jam berapa?”
“Dua jam
lagi berangkat, kamu antar kita ke bandara ya?” kali ini Bunda menghampiri ku
sambil membawa sepiring pisang goreng.
“Ceritanya
nyogok nih?” tanyaku sambil melihat pisang goreng yang disodorkan Bunda.
“Menurut maneh? udah ah bunda mau mandi dulu.
Jangan lupa dihabiskan pisang gorengnya atau kamu mau teh? Nanti bunda siapkan.”
“Nggak
usah deh, lagian Bunda Cuma mau nyogok ilyan doang!”
Bunda
tersenyum sambil berlalu ke arah kamar mandi. Heran! Bagaimana bisa harga
diriku ditukar dengan sepiring pisang goreng? Mau nyogok saja, bunda masih
perhitungan dan
nggak ada pengorbanan sama sekali. Beuuh, pantas saja
tabungan Bunda di bank sangat banyak karena ia sangat pandai mengatur uangnya.
Berat rasanya ditinggal Ayah dan Bunda.
Aku memang bukan anak manja tapi kalau ditinggal orang tua selama lima hari
rasanya aku nggak bisa mengurus semuanya sendiri terutama masalah makan. Kalau
saja Ilyas ada di rumah ini pasti dia akan mengatur jam makan ku sebaik
mungkin. Dia akan menggantikan Bunda mengurus kegiatan dapur saat pagi, siang,
maupun malam hari. Aaaah, kalau begini ceritanya aku jadi kangen dengan Ilyas.
Dua jam kemudian...
“Sayang, ayok anter Ayah Bunda sekarang!”
teriak Bunda dari ruang tamu.
“Sebentar Bund, Ilyan lagi nyiapin baju
untuk latihan.” Aku bergegas memasukan seragam dan juga sebotol air minum ke
tas ransel lalu berlari menghampiri Bunda yang ada di ruang tamu. Aku menarik
koper dan memasukkannya ke bagasi mobil di bantu oleh ayah.
“Kamu langsung berangkat latihan?” tanya
Ayah.
“Iya, udah mepet banget nih Yah, takut
telat. Buruan yuk?” kali ini aku yang memaksa Ayah dan Bunda untuk cepat-cepat
berangkat menuju Bandara. Ayah melemparkan kunci mobil padaku.
Hmm, sebenarnya aku paling malas kalau
harus mengendarai mobil tapi apa boleh buat hari ini aku harus menjadi anak
yang berbakti dengan mengantar orang tuaku ke bandara belum lagi aku sudah
hampir terlambat latihan.
Aku menginjak gas dengan sangat
kencang, tak lupa menutup jendela mobil agar rambut Bunda tidak berantakan
akibat angin yang menyelinap lewat kaca jendela. Ayah dengan tenang duduk
dibangku belakang, namun aku tahu betul beliau pasti sedang berdzikir dalam
hati agar sampai bandara dengan selamat.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya kami
sampai di bandara. Ayah keluar menuju bagasi mengambil koper dan Bunda
memberikan sejumlah uang untuk bekalku satu minggu kedepan.
“Makasih ya Bund? Maaf ya Ilyan nggak bisa
nganter sampai dalam, udah telat nih latihannya.” Bunda tersenyum padaku
dibarengi dengan anggukan kepala, dan Ayah menghampiri
kami lalu melambaikan tangannya. Sedangkan aku “Wuuuuus..” menginjak pedal gas dengan kencang, berharap sang pelatih juga terlambat datang.
***
Aku memakai seragam dan juga sabuk
silat dengan terburu-buru. Dari kejauhan sang pelatih memandangiku dengan
tatapan bengis. Bencana akan datang! Aku melangkah sambil mengatur detak
jantungku yang tak jua berdetak dengan normal.
“Lariiiiiii!!!!” teriak pelatih dari
kejuhan dan semua mata tertuju padaku. Aku langsung berlari ke arahnya dan
memberikan hormat.
“Telat berapa menit?” tanya sang pelatih
dengan nada dingin.
“Tiga puluh menit Bang.” Jawabku lirih
dengan menatap wajah pelatih yang masih bengis.
“Oke, push up enam puluh kali!” perintah sang pelatih. Tanpa meminta
keringanan aku langsung melakukan push up
dengan jumlah yang diminta sang. Saat push
up sang pelatih masih berada
disampingku sambil ngomel tanpa henti. Mulai dari membahas atlit itu harus
disiplin, seleksi event kejurnas yang tinggal dua hari lagi, sampai merembet ke
masalah pribadi seperti misalnya status jomblo yang aku miliki. Dia bilang
status jomblo mempengaruhi ketidak disiplinanku. Apa pula ini?? Secara ilmiah
nggak bisa diketahui kebenarannya tapi dia malah menyinggung persoalan ini dan
membuat anak-anak lain tertawa keras.
Aku menghentikan kegiatan hukumanku
lalu melotot ke arah pelatih.
“Eh, lu
berani melotot ke pelatih? Lanjutin push
up nya!” teriak sang pelatih yang diakhiri dengan ketawa kecil.
Aku
menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan hukumanku yang sempat tertunda. “Awas lu Bang Zaki, selesai latihan kita lanjutin urusan kita!” celetukku dalam
hati.
Selesai
melaksanakan hukuman, aku bergabung dengan teman-teman yang sedang serius
berlatih. Latihan kali ini tak ada yang
mengganjal pikiranku, maka dari itu aku bisa fokus berlatih seperti biasanya.
Saking fokusnya tak terasa jam istirahat untuk latihan tiba tapi aku harus
tetap berlatih karena tadi waktu latihanku sudah terbuang tiga puluh menit. Aku
melatih kecepatanku dalam menendang dan melampiaskan pada samsak yang
tergantung di lapangan.
“Tadi
telat kenapa?” tanya Bang Zaki yang kini berdiri di sampingku.
“Bodo amat ah Bang! Mestinya pertanyaan ini lu tanyain
tadi.” Aku kesal dan masih fokus mengarahkan kakiku ke samsak.
“Duileee,
ngambek! Eh, tapi tadi gua serius loh tentang status kejombloan lu yang
berpengaruh sama disiplin.”
Mendengar
hal ini aku langsung berdiri kaku menghadap Zaki yang terlihat jelas manahan
tawa.
“Maksudnya?”
“Hmm,
gini deh, to the point aja ya. Lu
masih inget kan temen gua yang pengin kenalan sama lu? Gimana? Dia udah
tanya-tanya terus nih.”
“Enggak dulu deh. Tolong sampaikan permintaan maaf gua ke dia. Lagi
pula sekarang gua lagi deket sama orang, dari pada nantinya PHP doang, kasiahan
dianya bang.”
“Lu
deket sama siapa??” Zaki mendekatkan wajahnya ke arahku.
“Ada
deeeeh...”
Aku
kembali fokus dengan samsak dan tidak memperdulikan Zaki yang masih manatapku
dengan tatapan serius. Aku yakin pasti dia penasaran setengah mati siapa yang
sedang dekat denganku saat ini. Setidaknya ini bisa menjadi bahan balas
dendamku akibat kejadian tadi yang sempat mempermalukan aku di depan anak-anak.
Matahari
sudah meninggalkan permukaan dua jam yang lalu, aku menyandarkan tubuhku ke
dinding sambil memegang botol air minum. Entah mengapa latiahan hari ini sangat
menguras tenaga. Anak-anak sudah pulang ke rumah masing-masing dan yang tersisa
hanya aku sendiri ditemani suara jangkring yang setia menjadi back sound malam
ini. Rasanya malas pulang kerumah, nggak ada kehidupan disana. Nggak ada
teriakan Bunda yang protes dengan muka kusam ku saat selesai latihan dan nggak
ada Ayah yang minta dibuatkan secangkir kopi saat aku menginjakan kaki di ruang
tamu.
Aku
menghela nafas berat dan “Huwaaaaaa!!!!” teriakku kencang saat melihat sosok yang
entah sejak kapan berada disampingku dengan ekspresi muka datar.
“Kenapa
yan??”
“Ya ampun, Bang Kiki! Kenapa sih selalu bikin gua
kaget?!” aku mengelus dada sambil mengatur nafas yang tiba-tiba berat.
“Hehe,
maaf, gue nggak sengaja. Lo belum pulang?”
“Belum.
Lu ngapain Bang di sini?”
“Gua
janjian sama temen tapi dia udah balik duluan.”
Bang
Kiki masih memanatapku, dan ini membuat keadaan menjadi kikuk.
“Ada
apa bang? Ada kotoran ya di muka gua?”
“Kagak,
tapi kayaknya ada yang lagi lu pikirin ya? Siapa? Pacar?” Kiki membombardir
dengan pertanyaan. Dan belum sempat aku jawab, handphone bergetar, ada panggilan
dari Denis. Aku pamit kepada Kiki dan langsung masuk ke dalam mobil.
“Hai,
tumben telphon. Ada apa?” Sapa ku dengan nada suara yang dibuat senormal
mungkin. Padahal panah cupit sudah memenuhi hati ini.
“Nggak
ada apa-apa, lagi pengin aja. Kamu dimana?”
“Di
kampus nih, tadi baru selesai latihan.”
“Ehm,
pantesan sms ku nggak di bales. Kamu sendiri?”
“Ooh,
lu sms. Sorry gua belum nge-cek HP dari tadi.” aku terpaksa memakai Lu-gua lagi,
karena panggilan ini lebih nyaman bagiku.
“Kamu
kapan ke Solo lagi? Kita jalan yuk?”
“So-
Solo? Ehm, ka-kapan ya?” aku balik bertanya dengan gugup.
“Iyaaa.
Kamu main ke Solo lagi gih, nanti kita jalan. Oiya, tadi aku baru latihan sama
band aku, kita mainin lagu baru. Mau denger?”
“Mau-mau-mauuu”
jawabku dengan antusias.
Aku
mendengarkan lagu itu dalam diam, begitu juga Denis. Lagu dengan aliran pop
tersebut sangat easy going dan mudah
dihafal. Liriknya romantis, petikan gitarnya pun menambah keromantisan lagu
tersebut. Aku paling suka bait kedua dari lagu itu.
Kita tak perlu berjalan bersama
Melihatmu
bahagia sudah cukup membuatku sempurna
“Gimana?
Bagus nggak?”
“Bagus,
gua suka liriknya. Suara vokalisnya juga bagus, udah gitu petikan gitarnya
asik.”
“Kok
cuma mereka yang dikomentarin? Drummer-nya nggak?”
“Nggak
usah lah, gua males ngomentarin drummer-nya.” Jawabku sekenanya. Padahal aku
tahu betul dia adalah drummer dari band tersebut.
“Diih
kok gitu! Kamu perlu tau drummer-nya itu main dengan sepenuh hati, dan penuh
skills.” Denis mulai menyombongkan diri.
“Beuuh,
mulai dah sombong! Eh, gua tanya dong maksud lirik bait ke dua apa?”
“Ehm, kamu pernah nggak suka sama orang tapi kamu takut buat nyatain perasaan? Nah di
lagu itu ceritanya dia takut ngungkapin karena dia nggak mau orang yang dia
suka menjauh. Dan dia lebih memilih orang yang dia suka bahagia walau dia bukan
jadi alasan kebahagiaan itu.”
Aku
terdiam merenungi perkataan Denis barusan. Aku tak tahu lagu itu menggambarkan
perasaan siapa. Yang aku tahu, aku pun kini sedang merasakannya. Aku tak punya
keberanian mengatakannya pada Denis karena aku ragu kalau perasaan ini hanya
ilusi sesaat. Aku takut jika perasaan yang aku miliki hanya karena haus kasih
sayang bukan berdasarkan cinta. Belum lagi, aku baru kenal dengan Denis. Entah
kharisma apa yang Denis punya sehingga bisa membuat hati yang
sudah lama membeku dengan cepat mencair lalu menyambut ia dengan hangat.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar