Selasa, 02 Februari 2016

AMABELLE// M.a.n.t.a.n

“Mantan (n) sosok dari masa lalu yang hanya bisa dikenang dan dirindukan secara diam-diam.”

 
Hari-hari ku semakin sibuk sejak kenal dengan Denis. Hampir setiap ada waktu kosong, aku selalu menyempatkan membalas pesan darinya. Selain sibuk berkirim pesan aku juga sudah hampir dua bulan ini berlatih untuk mempersiapkan seleksi kejuaraan nasional tingkat mahasiswa dalam kejuaraan pencak silat. Aku sangat berharap dapat lolos dalam seleksi dan mewakili kampus ku untuk maju ke ajang bergengsi ini. Ori dan Pras juga akan mengikuti seleksi di kampus mereka, kami sudah berjanji untuk berjuang habis-habisan agar dapat bertemu di tempat pertandingan.
Aku meninggalkan kerumunan anak-anak yang masih semangat berlatih walaupun matahari sudah hampir meninggalkan permukaan. Keringat terus meluncur dari wajahku, senang rasanya bisa berlatih kembali setelah sekian lama disibukkan oleh tugas kuliah yang menumpuk karena akhir semester.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya seorang wanita dari belakangku. Suara itu aku sangat kenal, siapa lagi kalau bukan Vista.
“Nggak apa-apa. Seneng aja bisa latihan gini, jadi inget jaman SMA.”
                
         Vista tersenyum dan menyodorkan ku minuman penambah ION yang sering keluar di iklan televisi.
           “Kemarin lu ke Cafe daerah rumah gua?
           “Iya, kok lu tau? Kemarin gua juga liat lu, mau nyapa nggak enak.”
          “Diih, kaku amat! Pasti kemarin lu lagi double date ya, makanya nggak enak mau nyapa gua?”
          “Haha, apaan sih lu. Tadi malam itu gua sama Pras, Ori, dan ceweknya Ori, si Azra adek kelas kita waktu SMA. Lu tahu kan?”
          “Ooh, iya gua tau tapi nggak begitu kenal sih. Eh, si Pras gimana kabarnya?”
          “Ceilaaah, masih jaman nanyain mantan? Lu kangen ya? Mau titip salam?” goda ku. 
          “Aah, lu mulai deh. Gua cuma pengen tau aja kabarnya.”

Aku tersenyum melihat wajah Vista yang semu kemerahan. Senang rasanya bisa menggoda dia, apalagi untuk urusan mantan terindahnya. Vista dan Pras sempat berpacaran saat duduk di kelas tiga SMA, namun itu hanya berjalan beberapa bulan saja. Selama pacaran mereka selalu akur dan nggak pernah terlihat saling bermusuhan. Alasan putusnya mereka pun masih menjadi teka-teki bagi kami teman-temannya.
Selama SMA Pras nggak pernah terbuka tentang hubungannya padaku dan juga Ori. Vista sendiri baru kenal denganku saat kami kuliah di fakultas yang sama. Dengan kata lain saat mereka berdua pacaran, aku sama sekali nggak mengenal Vista karena kami berbeda kelas dan juga ekstrakulikuler.
             
             “Gua masih bingung deh, kalian kenapa sih bisa putus?”
           “Kalau ditanya tentang itu, gua juga bingung Yan. Kayaknya dulu terlalu gegabah ambil keputusan tanpa mendengar alasan dari Pras. Dan akhirnya sampai sekarang gua menyesal dan nggak bisa ngelupain dia.”
             “Sampai sekarang??” tanyaku tak percaya.
              “Loh bukannya lu udah punya pacar?” lanjutku dengan tatapan bingung.
              “Sejak kapan gua punya pacar?” Vista balik bertanya.
           “Loh tadi malam gua liat lu cipika-cipiki sama cowok. Di panggung cafe lagi! Gua berasa nonton ftv secara live tadi malam.”
              “Hahaha, bisa aja lu. Dia bukan cowok gua, dia....” belum sempat Vista menyelesaikan kalimatnya, sang pelatih memanggilku untuk kembali berlatih. Padahal aku sangat penasaran siapa cowok yang aku lihat tadi malam bersamanya.

            Aku berlari menuju pelatih dan melambaikan tangan ke arah Vista. Seperti hari-hari kemarin, aku harus kembali berlatih sampai jam tujuh malam. Selama latihan aku masih memikirkan obrolanku dengan Vista. Dulu saat masih SMA ada gosip yang sempat beredar. Gosip itu menyatakan bahwa putusnya Vista dan Pras karena adanya pihak ketiga yaitu aku. Hal ini sempat aku tanyakan pada Pras, namun Pras nggak mau mengaku kalau putusnya mereka karena gosip tersebut. Pras juga bilang kalau aku nggak perlu memikirkan tentang hubungannya, semua sudah terjadi dan menurutnya nggak akan bisa diperbaiki lagi.
                                                                    ***

 
           "Assalamu’alaikum” teriakku kencang, sambil mengetuk pintu rumah Vista keras-keras.
           “Vista ada Bi?” tanyaku begitu Bi Minah membukakan pintu untukku.
         “Kayaknya ada deh di kamarnya lagi tidur, langsung masuk aja mbak. Bapak sama Ibu lagi dines di luar kota.”
           “Oke. Makasih Bi.”
                
        Aku berjalan memasuki rumah Vista yang terbilang besar. Orang tuanya mempunyai bisnis batu bara, makanya bisa makmur seperti ini. Walaupun sudah hampir empat tahun aku berteman dengan Vista, nggak pernah sekalipun aku masuk ke kamarnya. Maka dari itu aku bingung dihadapai tiga ruangan saat berada di lantai dua. Berdasarkan insting yang aku miliki, kamar Vista berada di ruang yang paling tengah karena aku tahu betul kalau Vista selalu menyukai ruangan yang diapit oleh ruangan lain. Karena Vista bisa dengan mudah menguping pembicaraan yang berasal dari kamar yang ada disampingnya.
           Tanpa mengucapkan salam aku langsung membuka pintu kamar tersebut, namun tanpa diduga lampu kamar itu mati dan aku kesulitan mencari tombol lampu tersebut. Aku berjalan menuju tempat tidur Vista dengan meraba dinding kamarnya dan tanpa sengaja menemukan tombol tersebut lalu aku menekannya.
         Kamar bernuansa pink ini menggambarkan kepribadian Vista yang feminim. Aku melihat Vista menarik selimut menutupi wajahnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan cewek tersebut. Apakah ini resep cantiknya Vista? Tidur malam sebelum pukul sembilan? Hahaha ada-ada saja!
        Aku menghampiri Vista lalu duduk membelakangi punggungnya, beberapa bingkai foto yang terdapat di sampingku menarik perhatianku. aku tersenyum saat melihat fotoku bersama Vista saat acara color run, namun aku kaget melihat foto Vista dengan Pras saat masih SMA. Ternyata dia masih menyimpannya, dan aku semakin yakin kalau dia memang masih sayang dengan Pras. Namun aku semakin kaget saat melihat foto Vista dirangkul mesra oleh sosok laki-laki tinggi, rambut sebahu, berbadan putih yang tak lain adalah laki-laki si empunya suara emas. 

  “Vista bangun!”
Aku menggoyang-goyangkan badan Vista yang tertutup rapat oleh selimut. Nggak lama kemudian dia membuka selimut dan “Huwaaaaaaaaaa” kami berteriak berbarengan dan saling melotot satu sama lain.

“Lu, siapa?” tanyaku panik pada laki-laki berkaos biru muda di depanku.
“Nah, lo sendiri siapa?” dia balik bertanya dengan tatapan yang nggak kalah panik.
“Gua temennya Vista, ini kamar Vista kan kok lu disini? Eh, bentar deh, bukannya lu cowoknya Vista yang gue liat di cafe tadi malam ya?”
“Cowoknya Vista? siapa? Gue?” laki-laki itu kembali bertanya dengan tatapan bingung. Lalu dia menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jari dan mengusap wajahnya yang masih terlihat mengantuk.
“Aaah, lo salah paham. Gue Kiki, abangnya Vista bukan pacarnya!” Lanjutnya.
“Hah, abang?” seru ku setengah berteriak dan sosok laki-laki di depanku hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Ya udah turun yuk kita ngobrol di ruang tamu aja sambil nunggu Vista pulang.”

Cowok yang mengaku sebagai abangnya Vista berjalan di depan ku menuruni tangga, kaget bercampur malu mungkin itu yang aku rasakan sekarang. Bodoh sekali, hampir empat tahun aku berteman dengan Vista tapi aku nggak pernah tahu kalau dia punya seorang kakak. Aku kira Vista adalah anak tunggal.
Sampainya di ruang tamu kami duduk berjauhan dan nggak saling bertatapan. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya cowok itu membuka percakapan.
“Lo Ilyan kan? Teman SMA dan kuliahnya Vista?”
“Iya, Vista pernah cerita?”
“Aneh, kok lu nggak tau kalau gue abangnya si Vista?” Kiki balik bertanya tanpa menjawab pertanyaanku. 
“Vista nggak pernah cerita ke gua. Lagi pula beberapa kali gua kerumah ini, gua nggak pernah ngeliat  bang Kiki.”
“Lho, waktu lo SMA kan kita beberapa kali  ketemu.”

SMA? Aku sama sekali nggak ingat kapan aku pernah ketemu dengan Kiki. Dulu aja aku nggak kenal sama Vista, apalagi sama kakaknya? Aneh nih cowok! Aku rasa tadi dia mimpi buruk, atau mungkin kepalanya terbentur tempat tidur makanya bisa ngomong begitu.
“Ah, udah lupain aja. Kayaknya Lo emang nggak tau gue deh.” Kiki menyerah melihat ekspresi wajahku yang mencoba berpikir keras.
Setelah obrolan tadi, kami kembali diam dan sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Kemana pula si cewek modis itu? ini sudah hampir jam sembilan malam, masih aja dia keluyuran nggak jelas. Karena nggak sabar lagi menunggu Vista, aku langsung menelphone nya dan bertanya tentang keberadaannya.
“Lu, dimane?”
“Hei preman kampus, gua udah dirumah lu dari tadi. Buruan balik!”
“Lu di rumah gua? Ya-ya udah deh gua balik sekarang.”
Aku menutup telephon dan tersenyum kaku pada Kiki. “Gua balik dulu ya, Vista di rumah gua ternyata.”
"Oke, hati-hati ya.." 
                                                               ***

Suasana rumah malam ini menjadi ramai berkat kedatangan Vista, bahkan kamarku yang selalu rapi kini berubah menjadi kapal pecah. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, kali ini kami sudah memakai pakaian tidur walapun kami masih belum mengantuk dan masih ingin lama-lama mengobrol. Obrolan kami malam ini masih seputar mantan Vista, Pras.

“Yan, gua mau kasih tau lo alasan kenapa dulu gue mutusin Pras.”
“Kenapa-kenapa???” tanyaku antusias.
“Karena gue cemburu Pras deket sama lo. Tapi lo jangan marah ya?” ekspresi Vista berubah jadi sedikit panik, meskipun kaget aku menjoba bersikap biasa saja.
“Diih, kok gua? Emangnya dulu gua cantik banget ya, sampai bisa ngebuat lu cemburu?” tanyaku dengan candaan.
“Kagak sih, lo kan dulu dekil. Gue juga bingung kenapa gue bisa cemburu begitu. Tapi yang jelas gue ngerasa Pras lebih perhatian ke lo dibanding gue.”
“Kok bisa?”
“Lo inget nggak dulu waktu ekstrakulikuler dia bawa dua minuman, gue kira minuman itu punya kami, eh ternyata itu punya lo sama dia. Walaupun akhirnya dia kasih minumannya buat gue tapi kan tetap aja gue udah kesal duluan. Gue rasa dulu dia nggak berniat ngasih gue minuman itu.”
“Jadi lu mutusin Pras hanya karena minuman?” Aku terkejut dan mengerutkan dahi. Entahlah mungkin ini alasan yang nggak masuk akal.
“Bukan Cuma itu, ada beberapa kejadian yang nunjukin kalau dia itu lebih perhatian ke lo dari pada gue. Tapi kadang gue mikir apakah dulu gue terlalu ke kanak-kanakan ya? Dan sejujurnya dulu, bahkan sampai sekarang gue nyesel banget udah mutusin dia.”

Aku terdiam sejenak memperhatikan ekspresi Vista. Tampak ekspresi kesedihan dari wajah cantiknya, dan aku tahu betul ekspresi ini tidak dibuat-buat walaupun Vista pintar bersandiwara karena dulu saat SMA dia mengikuti ekstrakulikuler teater.

“Hmm, gua ngerti sekarang. Kayaknya lu salah paham deh. Gua tahu betul karakter Pras, karena gua punya karakter yang sama kayak dia. Tipe orang kayak dia itu walaupun udah punya cewek tapi baginya sahabat itu nomer satu, dan bagi orang yang nggak paham betul karakternya pasti bakal salah paham kayak elu.”

Aku menarik nafas sejenak lalu melanjutkan kata-kata ku untuk meyakinkan Vista. “Tapi percaya deh dulu itu Pras sayang banget sama lu, cuman dia nggak bisa bebas menunjukkan perasaannya ke elu.

Vista menatapku sejenak lalu menghela nafas dengan berat, sepertinya dia memikirkan kata-kataku barusan. Aku nggak yakin, kalimatku bisa meyakinkan Vista, atau malah makin membuat Vista menyesal?
“Terus gue sekarang harus gimana dong?”

Aku memutar otak dengan segera, di situasi seperti ini otakku harus encer agar Vista tak menyesal curhat kepadaku.
“Gini aja. Lu masih sayang sama dia nggak? Kalau masih dan mau memperbaiki hubungan kalian, gua bisa bantu kok.”
“Maksud lo gue balikan sama dia?”
“Ya kagak atuh teeeh. Gua Cuma bermaksud memperbaiki hubungan kalian, kalau masalah balikan mah terserah kalian berdua.”
“Boleh deh, tolong ya? Gue emang masih sayang banget sama dia, tapi gue nggak berharap lebih kok. Gue cuman pengin bisa ngobrol nyaman kayak dulu.” Vista menarik nafas sejenak dan melanjutkan kalimatnya.
“Gue ngerasa bodoh banget mutusin cowok kayak dia. Kalau dilihat-lihat dia kurang apa coba? Bersih, rapi, lumayan cakep lah kalau ukuran cowok. Udah gitu pinter, baik, nggak neko-neko, tau banget apa yang gue....”
Vista menghentikan kalimatnya ketika sadar aku terus menatapnya dari tadi dengan tatapan sinis. Buset nih anak, giliran curhat kelewatan banget. Semua sifat yang dimiliki Pras dia jabarin satu-satu. Mana yang baik-baik semua! Dia nggak tau aja kalau Pras suka kentut sembarangan, belum lagi Pras suka ngupil saat orang lagi makan. Hueeks... aku aja sampai hampir muntah setiap ingat perilaku Pras yang nggak wajar itu.

At  least, aku merasa lega mendengar semuanya langsung dari Vista. Setidaknya Vista juga sudah tau bahwa semua itu hanya salah paham, hubungan antara aku dan Pras hanya sebatas sahabat yang bahkan aku yakin kami sudah mati rasa satu sama lain.


Tidak ada komentar: