“Mantan (n) sosok dari
masa lalu yang hanya bisa dikenang dan dirindukan secara diam-diam.”
Hari-hari ku semakin sibuk sejak kenal
dengan Denis. Hampir setiap ada waktu kosong, aku selalu menyempatkan membalas
pesan darinya. Selain sibuk berkirim pesan aku juga sudah hampir dua bulan ini
berlatih untuk mempersiapkan seleksi kejuaraan nasional tingkat mahasiswa dalam
kejuaraan pencak silat. Aku sangat berharap dapat lolos dalam seleksi dan
mewakili kampus ku untuk maju ke ajang bergengsi ini. Ori dan Pras juga akan
mengikuti seleksi di kampus mereka, kami sudah berjanji untuk berjuang
habis-habisan agar dapat bertemu di tempat pertandingan.
Aku meninggalkan kerumunan anak-anak
yang masih semangat berlatih walaupun matahari sudah hampir meninggalkan
permukaan. Keringat terus meluncur dari wajahku, senang rasanya bisa berlatih
kembali setelah sekian lama disibukkan oleh tugas kuliah yang menumpuk karena
akhir semester.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya
seorang wanita dari belakangku. Suara itu aku sangat kenal, siapa lagi kalau
bukan Vista.
“Nggak apa-apa. Seneng aja bisa latihan
gini, jadi inget jaman SMA.”
Vista
tersenyum dan menyodorkan ku minuman penambah ION yang sering keluar di iklan
televisi.
“Kemarin
lu ke Cafe daerah rumah gua?
“Iya,
kok lu tau? Kemarin gua juga liat lu, mau nyapa nggak enak.”
“Diih,
kaku amat! Pasti kemarin lu lagi double
date ya, makanya nggak enak mau nyapa gua?”
“Haha,
apaan sih lu. Tadi malam itu gua sama Pras, Ori, dan ceweknya Ori, si Azra adek
kelas kita waktu SMA. Lu tahu kan?”
“Ooh,
iya gua tau tapi nggak begitu kenal sih. Eh, si Pras gimana kabarnya?”
“Ceilaaah,
masih jaman nanyain mantan? Lu kangen ya? Mau titip salam?” goda ku.
“Aah, lu mulai deh. Gua cuma pengen tau aja kabarnya.”
Aku tersenyum melihat wajah Vista yang
semu kemerahan. Senang rasanya bisa menggoda dia, apalagi untuk urusan mantan terindahnya.
Vista dan Pras sempat berpacaran saat duduk di kelas tiga SMA, namun itu hanya
berjalan beberapa bulan saja. Selama pacaran mereka selalu akur dan nggak
pernah terlihat saling bermusuhan. Alasan putusnya mereka pun masih menjadi
teka-teki bagi kami teman-temannya.
Selama SMA Pras nggak pernah terbuka
tentang hubungannya padaku dan juga Ori. Vista sendiri baru kenal denganku saat
kami kuliah di fakultas yang sama. Dengan kata lain saat mereka berdua pacaran,
aku sama sekali nggak mengenal Vista karena kami berbeda kelas dan juga
ekstrakulikuler.
“Gua
masih bingung deh, kalian kenapa sih bisa putus?”
“Kalau
ditanya tentang itu, gua juga bingung Yan. Kayaknya dulu terlalu gegabah ambil
keputusan tanpa mendengar alasan dari Pras. Dan akhirnya sampai sekarang gua
menyesal dan nggak bisa ngelupain dia.”
“Sampai
sekarang??” tanyaku tak percaya.
“Loh
bukannya lu udah punya pacar?” lanjutku dengan tatapan bingung.
“Sejak
kapan gua punya pacar?” Vista balik bertanya.
“Loh
tadi malam gua liat lu cipika-cipiki sama cowok. Di panggung cafe lagi! Gua
berasa nonton ftv secara live tadi malam.”
“Hahaha,
bisa aja lu. Dia bukan cowok gua, dia....” belum sempat Vista menyelesaikan
kalimatnya, sang pelatih memanggilku untuk kembali berlatih. Padahal aku sangat
penasaran siapa cowok yang aku lihat tadi malam bersamanya.
Aku
berlari menuju pelatih dan melambaikan tangan ke arah Vista. Seperti hari-hari
kemarin, aku harus kembali berlatih sampai jam tujuh malam. Selama latihan aku
masih memikirkan obrolanku dengan Vista. Dulu saat masih SMA ada gosip yang
sempat beredar. Gosip itu menyatakan bahwa putusnya Vista dan Pras karena
adanya pihak ketiga yaitu aku. Hal ini sempat aku tanyakan pada Pras, namun
Pras nggak mau mengaku kalau putusnya mereka karena
gosip tersebut. Pras juga bilang kalau aku nggak perlu memikirkan tentang
hubungannya, semua sudah terjadi dan menurutnya nggak akan bisa diperbaiki lagi.
***
"Assalamu’alaikum” teriakku kencang, sambil mengetuk pintu
rumah Vista keras-keras.
“Vista
ada Bi?” tanyaku begitu Bi Minah membukakan pintu untukku.
“Kayaknya
ada deh di kamarnya lagi tidur, langsung masuk aja mbak. Bapak sama Ibu lagi
dines di luar kota.”
“Oke.
Makasih Bi.”
Aku
berjalan memasuki rumah Vista yang terbilang besar. Orang tuanya mempunyai bisnis
batu bara, makanya bisa makmur seperti ini. Walaupun sudah hampir empat tahun
aku berteman dengan Vista, nggak pernah sekalipun aku masuk ke kamarnya. Maka
dari itu aku bingung dihadapai tiga ruangan saat berada di lantai dua. Berdasarkan
insting yang aku miliki, kamar Vista berada di ruang yang paling tengah karena
aku tahu betul kalau Vista selalu menyukai ruangan yang diapit oleh ruangan
lain. Karena Vista bisa dengan mudah menguping pembicaraan yang berasal dari
kamar yang ada disampingnya.
Tanpa
mengucapkan salam aku langsung membuka pintu kamar tersebut, namun tanpa diduga
lampu kamar itu mati dan aku kesulitan mencari tombol lampu tersebut. Aku
berjalan menuju tempat tidur Vista dengan meraba dinding kamarnya dan tanpa
sengaja menemukan tombol tersebut lalu aku menekannya.
Kamar
bernuansa pink ini menggambarkan kepribadian Vista yang feminim. Aku melihat
Vista menarik selimut menutupi wajahnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat
kelakuan cewek tersebut. Apakah ini resep cantiknya Vista? Tidur malam sebelum
pukul sembilan? Hahaha ada-ada saja!
Aku
menghampiri Vista lalu duduk membelakangi punggungnya, beberapa bingkai foto
yang terdapat di sampingku menarik perhatianku. aku tersenyum saat melihat
fotoku bersama Vista saat acara color run,
namun aku kaget melihat foto Vista dengan Pras saat masih SMA. Ternyata dia
masih menyimpannya, dan aku semakin yakin kalau dia memang masih sayang dengan
Pras. Namun aku semakin kaget saat melihat foto Vista dirangkul mesra oleh sosok
laki-laki tinggi, rambut sebahu, berbadan putih yang tak lain adalah laki-laki
si empunya suara emas.
“Vista bangun!”
Aku menggoyang-goyangkan badan Vista
yang tertutup rapat oleh selimut. Nggak lama kemudian dia membuka selimut dan
“Huwaaaaaaaaaa” kami berteriak berbarengan dan saling melotot satu sama lain.
“Lu, siapa?” tanyaku panik pada
laki-laki berkaos biru muda di depanku.
“Nah, lo sendiri siapa?” dia balik
bertanya dengan tatapan yang nggak kalah panik.
“Gua temennya Vista, ini kamar Vista
kan kok lu disini? Eh, bentar deh, bukannya lu cowoknya Vista yang gue liat di
cafe tadi malam ya?”
“Cowoknya Vista? siapa? Gue?” laki-laki
itu kembali bertanya dengan tatapan bingung. Lalu dia menyisir rambutnya yang
berantakan menggunakan jari dan mengusap wajahnya yang masih terlihat
mengantuk.
“Aaah, lo salah paham. Gue Kiki,
abangnya Vista bukan pacarnya!” Lanjutnya.
“Hah, abang?” seru ku setengah berteriak
dan sosok laki-laki di depanku hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Ya udah turun yuk kita ngobrol di ruang
tamu aja sambil nunggu Vista pulang.”
Cowok yang mengaku sebagai abangnya
Vista berjalan di depan ku menuruni tangga, kaget bercampur malu mungkin itu
yang aku rasakan sekarang. Bodoh sekali, hampir empat tahun aku berteman dengan
Vista tapi aku nggak pernah tahu kalau dia punya seorang kakak. Aku kira Vista
adalah anak tunggal.
Sampainya di ruang tamu kami duduk
berjauhan dan nggak saling bertatapan. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hingga akhirnya cowok itu membuka percakapan.
“Lo Ilyan kan? Teman SMA dan kuliahnya
Vista?”
“Iya, Vista pernah cerita?”
“Aneh, kok lu nggak tau kalau gue
abangnya si Vista?” Kiki balik bertanya tanpa menjawab pertanyaanku.
“Vista nggak pernah cerita ke gua. Lagi
pula beberapa kali gua kerumah ini, gua nggak pernah ngeliat bang Kiki.”
“Lho, waktu lo SMA kan kita beberapa
kali ketemu.”
SMA? Aku sama sekali nggak ingat kapan
aku pernah ketemu dengan Kiki. Dulu aja aku nggak kenal sama Vista, apalagi
sama kakaknya? Aneh nih cowok! Aku rasa tadi dia mimpi buruk, atau mungkin
kepalanya terbentur tempat tidur makanya bisa ngomong begitu.
“Ah, udah lupain aja. Kayaknya Lo emang
nggak tau gue deh.” Kiki menyerah melihat ekspresi wajahku yang mencoba
berpikir keras.
Setelah obrolan tadi, kami kembali diam
dan sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Kemana pula si cewek modis itu?
ini sudah hampir jam sembilan malam, masih aja dia keluyuran nggak jelas.
Karena nggak sabar lagi menunggu Vista, aku langsung menelphone nya dan
bertanya tentang keberadaannya.
“Lu, dimane?”
“Hei preman kampus, gua udah dirumah lu
dari tadi. Buruan balik!”
“Lu di rumah gua? Ya-ya udah deh gua
balik sekarang.”
Aku menutup telephon dan tersenyum kaku
pada Kiki. “Gua balik dulu ya, Vista di rumah gua ternyata.”
"Oke, hati-hati ya.."
***
Suasana rumah malam ini menjadi ramai
berkat kedatangan Vista, bahkan kamarku yang selalu rapi kini berubah menjadi
kapal pecah. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, kali ini kami sudah memakai
pakaian tidur walapun kami masih belum mengantuk dan masih ingin lama-lama
mengobrol. Obrolan kami malam ini masih seputar mantan Vista, Pras.
“Yan, gua mau kasih tau lo alasan
kenapa dulu gue mutusin Pras.”
“Kenapa-kenapa???” tanyaku antusias.
“Karena gue cemburu Pras deket sama lo.
Tapi lo jangan marah ya?” ekspresi Vista berubah jadi sedikit panik, meskipun
kaget aku menjoba bersikap biasa saja.
“Diih, kok gua? Emangnya dulu gua
cantik banget ya, sampai bisa ngebuat lu cemburu?” tanyaku dengan candaan.
“Kagak sih, lo kan dulu dekil. Gue juga bingung kenapa gue bisa cemburu begitu. Tapi yang
jelas gue ngerasa Pras lebih perhatian ke lo dibanding gue.”
“Kok bisa?”
“Lo inget nggak dulu waktu
ekstrakulikuler dia bawa dua minuman, gue kira minuman itu punya kami, eh
ternyata itu punya lo sama dia. Walaupun akhirnya dia kasih minumannya buat gue
tapi kan tetap aja gue udah kesal duluan. Gue rasa dulu dia nggak berniat
ngasih gue minuman itu.”
“Jadi lu mutusin Pras hanya karena
minuman?” Aku terkejut dan mengerutkan dahi. Entahlah mungkin ini alasan yang
nggak masuk akal.
“Bukan Cuma itu, ada beberapa kejadian
yang nunjukin kalau dia itu lebih perhatian ke lo dari pada gue. Tapi kadang
gue mikir apakah dulu gue terlalu ke kanak-kanakan ya? Dan sejujurnya dulu,
bahkan sampai sekarang gue nyesel banget udah mutusin dia.”
Aku terdiam sejenak memperhatikan
ekspresi Vista. Tampak ekspresi kesedihan dari wajah cantiknya, dan aku tahu
betul ekspresi ini tidak dibuat-buat walaupun Vista pintar bersandiwara karena
dulu saat SMA dia mengikuti ekstrakulikuler teater.
“Hmm, gua ngerti sekarang. Kayaknya lu
salah paham deh. Gua tahu betul karakter Pras, karena gua punya karakter yang
sama kayak dia. Tipe orang kayak dia itu walaupun udah punya cewek tapi baginya
sahabat itu nomer satu, dan bagi orang yang nggak paham betul karakternya pasti
bakal salah paham kayak elu.”
Aku menarik nafas sejenak lalu
melanjutkan kata-kata ku untuk meyakinkan Vista. “Tapi percaya deh dulu itu
Pras sayang banget sama lu, cuman dia nggak bisa bebas menunjukkan perasaannya
ke elu.
Vista menatapku sejenak lalu menghela
nafas dengan berat, sepertinya dia memikirkan kata-kataku barusan. Aku nggak
yakin, kalimatku bisa meyakinkan Vista, atau malah makin membuat Vista
menyesal?
“Terus gue sekarang harus gimana dong?”
Aku memutar otak dengan segera, di
situasi seperti ini otakku harus encer agar Vista tak menyesal curhat kepadaku.
“Gini aja. Lu masih sayang sama dia
nggak? Kalau masih dan mau memperbaiki hubungan kalian, gua bisa bantu kok.”
“Maksud lo gue balikan sama dia?”
“Ya kagak atuh teeeh. Gua Cuma
bermaksud memperbaiki hubungan kalian, kalau masalah balikan mah terserah
kalian berdua.”
“Boleh deh, tolong ya? Gue emang masih
sayang banget sama dia, tapi gue nggak berharap lebih kok. Gue cuman pengin bisa ngobrol nyaman kayak dulu.” Vista menarik nafas sejenak dan melanjutkan kalimatnya.
“Gue ngerasa bodoh banget mutusin cowok
kayak dia. Kalau dilihat-lihat dia kurang apa coba? Bersih, rapi, lumayan cakep
lah kalau ukuran cowok. Udah gitu pinter, baik, nggak neko-neko, tau banget apa
yang gue....”
Vista menghentikan kalimatnya ketika sadar
aku terus menatapnya dari tadi dengan tatapan sinis. Buset nih anak, giliran
curhat kelewatan banget. Semua sifat yang dimiliki Pras dia jabarin satu-satu.
Mana yang baik-baik semua! Dia nggak tau aja kalau Pras suka kentut
sembarangan, belum lagi Pras suka ngupil saat orang lagi makan. Hueeks... aku
aja sampai hampir muntah setiap ingat perilaku Pras yang nggak wajar itu.
At
least, aku merasa lega mendengar semuanya langsung dari Vista.
Setidaknya Vista juga sudah tau bahwa semua itu hanya salah paham, hubungan
antara aku dan Pras hanya sebatas sahabat yang bahkan aku yakin kami sudah mati
rasa satu sama lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar