“Kau harus tahu, rasa sakit ini melebihi rasa sakit hatimu karena aku.”
Ilyas tertarik pada sosok perempuan yang berdiri di depan gedung fakultasnya. Bahasa tubuh perempuan itu sangat dia kenal, namun dia nggak yakin dengan pendapatnya. Beberapa kali dia menyipitkan matanya tapi percuma, pandangannya tetap saja nggak jelas. Akhirnya dia menyerah dan mengambil kacamata yang ada didalam tas. Setelah memakai kacamata, dia baru yakin, bahwa dia mengenal perempuan itu dengan baik. Dia tersenyum geli, lalu melihat perempuan tersebut dari ujung rambut sampai ujung kaki“Cantik juga adek gua” kata Ilyas dalam hati. Tapi begitu dia sadar kalau Ilyan menggunakan dress pendek, dia langsung memasang muka terkejut. Dress yang dipakai Ilyan terlalu “berbahaya”untuk berkunjung di kampus, apalagi dia kenal betul watak teman-teman satu angkatannya.
Langkah kaki Ilyan semakin mendekati Ilyas, dan dia berusaha senatural mungkin berpura-pura seperti nggak tau kedatangan saudara kembarnya. Sambil mendengarkan teman-temannya bercerita dia sesekali melirik ke arah Ilyas, memastikan bahwa saudara kembarnya mendarat dengan aman ke tempat tujuan tanpa ada adegan jatuh karena heels yang dipakainya.
Seketika jantung Ilyas berdebar sangat kencang saat melihat Ilyan mendekati Ara, teman satu angkatannya yang dari tadi juga ikut bercerita dan tertawa bersama-sama. Namun Ilyas nggak bisa mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan, yang dia tau Ara sempat melirik kearahnya lalu mengarahkan jarinya ke tempat Ilyas duduk. Takut terjadi perbincangan yang mengkhawatirkan Ilyas langsung saja memanggil saudara kembarnya, namun dengan nama berbeda.
Seketika jantung Ilyas berdebar sangat kencang saat melihat Ilyan mendekati Ara, teman satu angkatannya yang dari tadi juga ikut bercerita dan tertawa bersama-sama. Namun Ilyas nggak bisa mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan, yang dia tau Ara sempat melirik kearahnya lalu mengarahkan jarinya ke tempat Ilyas duduk. Takut terjadi perbincangan yang mengkhawatirkan Ilyas langsung saja memanggil saudara kembarnya, namun dengan nama berbeda.
“Riza??”seru Ilyas dengan nada yang dibuat seperti orang terkejut. Setelah Ilyan sadar bahwa seruan itu ditujukan untuk dirinya, ia langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
“Haiii, saa-yaang”Ilyan menyapa saudara kembarnya dengan nada yang sangat manis, dan kali ini dia benar-benar terkejut, speachless.
“Haiii, saa-yaang”Ilyan menyapa saudara kembarnya dengan nada yang sangat manis, dan kali ini dia benar-benar terkejut, speachless.
Setelah basa-basi yang dianggapnya cukup, kali ini Ilyas menggiring Ilyan untuk bergabung dengan teman-temannya. Tanpa disangka dia sangat cepat akrab dengan teman satu kampusnya. Ia nggak sepenuhnya senang dengan hal itu, karena ada sesuatu yang mengganjal perasaannya saat ini. Ara,
“Bagaimana perasaan Ara sekarang? Apakah ini sangat keterlaluan? Apa ini terlalu blak-blak kan kalau aku sengaja menghindarinya??”. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba memenuhi isi otaknya saat ini. Terlebih lagi saat teman-temannya mulai bertanya seputar awal mula Ilyas berpacaran dengan Riza (pacar gadungannya). Saat pertanyaan itu dilontarkan kepadanya, Ilyas menjawab dengan lugas, namun pandangannya sesekali mengarah ke Ara. Ia memperhatikan setiap perubahan ekspresi Ara, dari yang ketawa lepas, lalu tersenyum manis, dan berubah lagi jadi tersenyum kecut yang akhirnya membuat Ara melangkahkan kakinya pergi memasuki gedung tanpa berpamitan. Bersamaan dengan kepergian Ara, si Toni yang tadinya sedang menggebu-gebu bertanya soal percintaan Ilyas tiba-tiba menghentikan pertanyaannya dan membuat semua anak yang berada dalam kerumunan itu terdiam lalu memperhatikan kepergian Ara.
Jantung Ilyas kembali berdetak dengan sangat kencang, matanya terasa panas, ia bingung harus berbuat apa. Disisi lain dia juga merasa nggak enak karena suasana yang tadinya ramai karena canda tawa kini berubah jadi hening dan anak-anak mulai salah tingkah sendiri karena mereka pun juga bingung dengan keadaan yang terjadi saat ini. Ilyas semakin sibuk dengan pikiran-pikiran yang ada di otaknya sampai Ilyan menyadarkannya dari lamunan. “Lu samperin dia gih”kata Ilyan menasehatinya dengan lembut. Mendengar nasehat bijak yang baru kali ini didengar dari mulut saudara kembarnya, ia pun berlari ke arah Ara pergi. Semakin kencang langkah kakinya, maka semakin kencang pula jantungnya berdetak. Nafasnya menjadi nggak beraturan, belum lagi pikiran tentang kata-kata yang harus dia katakan ke Ara semakin membuatnya resah.
Ilyas menghentikan kaki jenjangnya di lobby gedung tempat kuliahnya, namun dia tak menemukan Ara. Gedung ini sudah sepi dan satpam pasti sudah mengunci setiap ruang kelas di gedung ini, maka dia bisa dengan cepat menyimpulkan keberadaan orang yang dicarinya. Ia merasa putus asa dan memutuskan untuk kembali menemui teman-temannya. Dengan langkah yang berat dia berjalan dengan pandangan ke arah tanah. Kali ini ia merasakan penyesalan yang begitu dalam. Ia tak berpikir panjang sebelum bertindak.
Baru beberapa meter dia meninggalkan lobby, dilihatnya sepasang kaki menggunakan flat shoes berwarna merah hati menghalangi jalannya. Ia tau betul siapa pemilik sepasang sepatu manis itu, lalu dia tegakkan kepalanya dan tersenyum kecil pada sang pemilik.
“Maaf...”kata itu langsung dia sampaikan pelan ke Ara, dan dia melihat sebutir air mata jatuh ke pipi Ara.
“Maaf...”kata itu langsung dia sampaikan pelan ke Ara, dan dia melihat sebutir air mata jatuh ke pipi Ara.
Ara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Harusnya aku yang minta maaf, karena aku pasti sekarang cewek kamu salah paham”. Mendengar jawaban Ara, Ilyas hanya bisa terdiam. Ingin sekali rasanya untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan sekarang.
“Sekarang aku mulai tau alasannya kenapa selama ini kamu cuek dan nggak menanggapi perasaan aku. Kalau aja aku mikir dari dulu pasti kejadiannya nggak akan seperti ini. aku akui ini cukup menyakitkan, tapi aku hanya bisa berharap yang terbaik buat kalian berdua.”lanjut Ara dengan air mata yang terus menetes membasahi pipi lembutnya.
Ilyas hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Mulutnya terkunci, susah mengeluarkan kata-kata yang ingin diucapkannya. Alhasil kata-kata itu hanya bisa didengar oleh hati kecilnya.“Bukan, Ra! Bukan itu alasannya! Gua sayang sama lu, tapi gua nggak bisa. Dan perlu elu tau bahwa gua pun ngerasain sakit hati. Bahkan rasa sakit ini lebih dalam karena gua terlalu lama memendam dan nggak berani mengatakannya”.
***
***
Ilyas mengirim pesan pada Toni dan Denis untuk mengantar saudara kembarnya ke rumah kontrakan mereka. Ilyas masih terlalu rapuh jika bertemu mereka dengan keadaanya saat ini. Setelah perbincangannya dengan Ara sore tadi, dia semakin yakin bahwa perasaan itu benar adanya padahal selama ini dia mencoba menepis dan selalu mencari cara untuk menjauhi Ara.
Apa yang harus gua lakukan sekarang? Percuma selama ini gua memendam perasaan ini karena ujungnya akan sama. Sakit! Kalau saja ada sedikit ke-egoisan dalam diri gua yang bisa memberanikan gua menyatakan perasaan sayang gue ke Ara, pasti udah gua lakukan dari dulu. Tapi gua nggak bisa! Gua lebih memilih persahabatan dari pada perasaan gua. Bahkan gua nggak mikirin perasaan Ara, asal persahabatan gua nggak rusak hanya karena masalah perempuan.
Tanpa disadari air mata yang dari tadi tertahan kini justru mengalir deras, untunglah kampus sudah sepi dan hanya dia sendiri yang duduk di gazebo yang berada di depan gedung kuliahnya. Baru kali ini dia bisa menangis hanya karena perempuan. Entahlah, mungkin luka itu terlalu dalam dan terlalu lama bersarang di salah satu sudut hatinya. Karena luka itu pula, hari-hari Ilyas dipenuhi oleh rasa bersalah, namun ia nggak pernah memperlihatkan.
Di temani suara jangkring di malam yang dingin ini, Ilyas merenungkan kejadian tadi sore. Mungkin ia terlalu gegabah mengambil keputusan, dia nggak berpikir panjang tentang akibat yang bisa ditimbulkan jika dia membawa saudara kembarnya ke kampus hanya untuk menunjukkan kebohongan ini. Dia hanya memikirkan kalau ini akan membuat Ara menjauh tapi dia lupa nggak memikirkan perasaannya. Perasaan yang akan timbul jika Ara mulai menjauhinya. Dia baru menyadarinya sekarang, ternyata dia sangat rapuh jika membayangkan besok nggak melihat senyum Ara dan jika dia nggak di sapa lagi oleh perempuan yang telah bertahun-tahun menemani kuliahnya.
Ilyas melihat layar handphone yang sedang dipegangnya, muncul foto Ara di layar tersebut pertanda bahwa ia mendapat panggilan telephone dari Ara. Nafasnya seperti berhenti saat ia sadar bahwa Ara menghubunginya. Dengan ragu-ragu dia menjawab panggilan telephone itu.
“Bisa ke rumah aku sekarang? Ada yang mau aku tanyakan ke kamu.”samber Ara sebelum Ilyas menyapa dia.
“Mau tanya apa? Gua udah siap-siap mau tidur jadi nggak bisa ke rumah Lu.” Jawab Ilyas dengan nada dingin.
“Kamu nggak usah bohong, baru aja aku telpon Denis dan dia bilang kamu nggak ada di rumah sekarang. Pokoknya kamu harus ke rumah aku sekarang!” Ara menutup perbicaraan sepihak, terlihat jelas bahwa dia sedang kesal. Ilyas semakin bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah dia harus ke rumah Ara dan menyatakan yang sejujurnya atau malah dia pulang saja ke rumah kontrakannya.
“Mau tanya apa? Gua udah siap-siap mau tidur jadi nggak bisa ke rumah Lu.” Jawab Ilyas dengan nada dingin.
“Kamu nggak usah bohong, baru aja aku telpon Denis dan dia bilang kamu nggak ada di rumah sekarang. Pokoknya kamu harus ke rumah aku sekarang!” Ara menutup perbicaraan sepihak, terlihat jelas bahwa dia sedang kesal. Ilyas semakin bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah dia harus ke rumah Ara dan menyatakan yang sejujurnya atau malah dia pulang saja ke rumah kontrakannya.
Lagi sibuk-sibuknya memikirkan tentang Ara, kini handphonenya kembali bergetar dan dia mengangkatnya dengan segera.
“Hoi, lu sekarang dimana?” teriak seorang di sebrang sana. Ilyan.
“Kampus, kenapa?”jawab dia dingin.
“Hoi, lu sekarang dimana?” teriak seorang di sebrang sana. Ilyan.
“Kampus, kenapa?”jawab dia dingin.
“Huuuuh, syukurlah. Gua kira lagi nangis meratapi nasib dipinggir jembatan.” Jawab Ilyan dengan sekenanya. Mendengar jawaban itu Ilyas hanya tersenyum, ia tau betul bahwa saudara kembarnya khawatir dan ingin mengiburnya.
“Gila lu! Gua masih inget sama Tuhan, nggak mungkin lah gua bunuh diri!!”
“Eh, sokem, tadi Ara telphon gua dan minta gua untuk ke rumahnya sekarang. Menurut lu gimana?” lanjut Ilyas dengan nada serius.
“Ya udah berangkat sekarang, tunggu apa lagi?”
“Apa nggak masalah gua ke rumahnya?”
“Gila lu! Gua masih inget sama Tuhan, nggak mungkin lah gua bunuh diri!!”
“Eh, sokem, tadi Ara telphon gua dan minta gua untuk ke rumahnya sekarang. Menurut lu gimana?” lanjut Ilyas dengan nada serius.
“Ya udah berangkat sekarang, tunggu apa lagi?”
“Apa nggak masalah gua ke rumahnya?”
“Hei, dengan lu nyuruh gua pura-pura jadi pacar lu itu udah menimbulkan masalah diantara kalian berdua! Sekarang udah terlanjur jadi lu harus bertindak. Pilihannya Cuma dua, lu jujur ke dia atau lu tetap pertahanin kebohongan ini. Udah ya gua nggak mau ikut pusing karena masalah ini, bye.” Lagi-lagi orang yang menelphone nya selalu menutup pembicaraan tanpa ucapan salam dan ini selalu membuat Ilyas kesal.
Dari lubuk hati yang paling dalam Ilyas ingin tahu bagaimana keadaan Ara sekarang dan ingin sekali memenuhi permintaan Ara untuk datang kerumahnya, tapi di sisi lain dia bingung harus bersikap apa di depan Ara. Apakah dia harus sok cool, diam, atau ceria seperti biasanya. Ilyas melihat jam ditangannya, jarum jam itu menunjuk ke arah angka delapan. Sepertinya belum terlalu malam kalau berkunjung ke rumah Ara, lalu dia langkahkan kaki ke parkiran dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya.
Kali ini ia mengendarai honda jazz nya dengan pelan, berharap bisa mengulur waktu sambil memikirkan kata-kata apa yang harus ia katakan. Namun sayang lima belas menit perjalanan nggak membuahkan hasil sama sekali. Dia nggak mendapatkan kata-kata yang bagus untuk diucapkan, padahal kini honda jazz nya sudah berhenti di depan rumah Ara dan dia melihat lewat jendela. Kini Ara sudah menunggunya di teras rumahnya. Ilyas memejamkan matanya sejenak sambil berkata dalam hati “you can do it, you can do it!!!”. Merasa keberaniannya sudah terkumpul, kini dia keluar dari mobil lalu menghampiri Ara dengan langkah pasti.
“Makasih udah dateng, duduk dulu gih aku mau ambil sesuatu.”
Ilyas hanya menganggukan kepala dan duduk di kursi yang berada di teras sambil memandangi langit malam ini. Malam terlihat lebih gelap dari biasanya bahkan bintang pun sama sekali nggak menampakkan dirinya. Belum lama dia memandangi langit malam ini, Ara kembali dengan membawa kotak yang berisi barang-barang dan meletakannya di meja yang berada di antara mereka.
“Tadi aku benar-benar kaget liat pacar kamu ke kampus. Aku kira kamu nggak punya pacar, bahkan dari dulu aku ngerasa kalau kamu juga punya rasa sama aku. Tapi bedanya kamu nggak memperlihatkannya di depan teman-teman kita.”Kata Ara sambil memandangi lantai dengan pandangan kosong dan sesekali menghiasi wajahnya dengan senyum yang dipaksakan. Mendengar perkataan Ara membuat jantung Ilyas berdetak melebihi batas. Dia memandangi Ara dan melihat setiap tingkah Ara. Terlihat jelas ada perasaan sedih yang dirasakannya.
“Aku juga bingung, entah kenapa kalau kita lagi berdua tatapan kamu ke aku beda Yas. Tatapan itu yang ngasih harapan kalau cinta aku nggak bertepuk sebelah tangan. Dan ini...” Ara menggeser kotak ke arah Ilyas.
“Barang- barang ini kamu kasih ke aku bahkan ketika aku lagi nggak ulang tahun. Kalau kamu nggak sayang sama aku, terus arti semua ini apa Yas??”
“Aku juga bingung, entah kenapa kalau kita lagi berdua tatapan kamu ke aku beda Yas. Tatapan itu yang ngasih harapan kalau cinta aku nggak bertepuk sebelah tangan. Dan ini...” Ara menggeser kotak ke arah Ilyas.
“Barang- barang ini kamu kasih ke aku bahkan ketika aku lagi nggak ulang tahun. Kalau kamu nggak sayang sama aku, terus arti semua ini apa Yas??”
Ara menatap Ilyas dengan mata yang berkaca-kaca, lalu Ilyas melihat isi kotak itu. Ah, pantas aja Ara sadar kalau dia sayang pada Ara karena ternyata barang-barang pemberiannya sangat banyak. Mulai dari gantungan kunci saat ia KKN di kalimantan, jam tangan, boneka tangan, dan masih banyak lagi.
“Sorry Ra, gua kasih semua barang-barang ini karena gua pengin kasih aja ke lu. Nggak ada maksud lain. Selama ini gua anggap lu udah kayak sahabat gua sendiri. Lu selalu ada buat gua, begitu juga gua yang selalu ada buat lu. Dan kalau cowok ngasih barang ke cewek belum tentu dia punya perasaan yang lebih ke cewek itu.” Ilyas menjelaskannya dengan sangat hati-hati, tapi sayang perkataannya barusan justru membuat air mata Ara mengalir deras.
“Terus kenapa kamu masih pakai jam pemberian aku? Dan kamu masih inget nggak waktu dulu jam itu ketinggalan di kantin? Kamu keliatan panik banget Yas, bahkan kamu nolak waktu aku berniat mau beliin jam yang sama. Kamu bilang kalau kamu bakalan nyari itu jam sampai ketemu.”
“Terus kenapa kamu masih pakai jam pemberian aku? Dan kamu masih inget nggak waktu dulu jam itu ketinggalan di kantin? Kamu keliatan panik banget Yas, bahkan kamu nolak waktu aku berniat mau beliin jam yang sama. Kamu bilang kalau kamu bakalan nyari itu jam sampai ketemu.”
Mendengar hal itu, ia langsung melihat jam yang sedang dipakainya. Alasan apa lagi yang harus dia keluarkan agar Ara percaya bahwa dia nggak mempunyai perasaan lebih pada Ara. Lalu ia melihat kunci mobilnya.
“Ra, pemberian orang itu harus gua jaga. Jangankan jam, lu liat deh gantungan kunci mobil gua ini pemberian Toni waktu dia liburan di jepang. Dan kalau gantungan ini ilang, gua pasti bakalan panik kayak dulu.”
“Udah lah Yas, aku capek ngomong sama kamu. Mungkin aku ke GR-an aja. Lagian sekarang aku udah tau kok kalau kamu udah punya pacar, dan aku janji nggak bakal ganggu hubungan kalian. Aku yakin pacar kamu bukan hanya cantik, tapi pasti baik juga. Lagi pula muka kalian mirip dan kalau kata orang jaman dulu itu pertanda kalau kalian jodoh.” Ara menghapus air matanya dan menatap Ilyas dengan senyum manisnya. Kali ini senyuman itu terlihat tulus dan nggak dipaksakan. Mendengar hal itu, Ilyas dengan spontan berdiri di depan Ara dan memeluknya. Dan ini adalah kali pertama dia memeluk Ara.
“Udah lah Yas, aku capek ngomong sama kamu. Mungkin aku ke GR-an aja. Lagian sekarang aku udah tau kok kalau kamu udah punya pacar, dan aku janji nggak bakal ganggu hubungan kalian. Aku yakin pacar kamu bukan hanya cantik, tapi pasti baik juga. Lagi pula muka kalian mirip dan kalau kata orang jaman dulu itu pertanda kalau kalian jodoh.” Ara menghapus air matanya dan menatap Ilyas dengan senyum manisnya. Kali ini senyuman itu terlihat tulus dan nggak dipaksakan. Mendengar hal itu, Ilyas dengan spontan berdiri di depan Ara dan memeluknya. Dan ini adalah kali pertama dia memeluk Ara.
“Maafin gua Ra....” Ilyas berbisik ke telinga Ara.
***
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar