Minggu, 05 Juli 2015

AMABELLE// Pecahkan Saja gelasnya...

“Waktu akan terus berjalan, tak peduli kau menikmatinya atau tidak dan tak peduli apakah kau berpihak padanya atau tidak.”
 
         Aku nggak pernah menyangka kehidupanku akan berjalan dengan sangat cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan gelas yang sering aku jatuhkan dari meja makan, dan jauh lebih cepat dibanding amarah bunda setelah tau bahwa gelas kesayangannya telah aku pecahkan. Nggak ada yang menarik dari kisah hidupku selama ini. Aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana, dengan beranggotakan ayah, bunda, dan saudara kembar yang dari dulu sampai sekarang nggak ada patut-patutnya disebut sebagai saudara kembarku. Kalau dihitung-hitung, lebih banyak perbedaan yang mencolok diantara kami dari pada persamaannya. Aku terlalu tangguh untuk seorang perempuan, sedangkan dia terlalu manja untuk ukuran laki-laki. Aku orang yang mandiri, bisa melakukan segala pekerjaan rumah (kecuali memasak), ahli bela diri, sopan, baik, dan aku adalah perempuan. Sedangkan dia? Yah, dia kebalikan dari semua yang aku miliki. Atas dasar semua itu, makanya aku nggak menganggap dia sebagai saudara kembar meskipun wajah kami memang benar-benar kembar. Untuk masalah wajah aku nggak pernah menyangkal karena ini sudah kehendak Tuhan memasangkan wajah kami berdua dengan cetakan yang sama, bahkan garis kegantengan saudara kembarku itu juga tersurat di wajahku. 

         “Illyaaaaaaan!!! Sudah berapa gelas yang kamu pecahkan!?” teriak bunda dari ruang tamu setelah medengar suara gelas pecah. Hukum alam akan selalu berlaku. Siapa yang memecahkan barang-barang kesayangan bunda, dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal (baca:menurut bunda). Itu artinya, aku akan dijadikan budak malang selama beberapa hari kedepan.
           “Sudah berapa gelas yang kamu pecahkan?”ulang bunda, sambil berlari menghampiriku.
        “Baru empat kok bund, lagian ini gelas yang jelek kok”sahutku dengan memasang ekspresi seperti terdakwa yang besok akan dihukum mati.
           “Iya, minggu ini empat, minggu kemarin tiga, minggu kemarinnya lagi lima, jadi total yang sudah kamu pecahkan ada dua belas gelas. Ckckck padahal beberapa minggu lagi teman-teman ayah mau ngadain acara di rumah ini!” Bahkan dalam keadaan marahpun kemampuan bunda dalam menghitung sangat tepat
           “Yaaah, terus gimana dong bund? maafin illyan deh.”
         “Dari kemarin minta maaf mulu, emangnya lagi lebaran! Kita liat besok aja, hukuman apa yang mau bunda kasih ke kamu!!!”

         Mendadak saja sekelilingku terlihat gelap, banyak burung berterbangan di atas kepalaku seakan senang dengan apa yang barusan terjadi. Mungkin ini tontonan yang menarik buat mereka!
         “Sokem.. lu kenapa sih?!” tanya si plagiat muka yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamarnya.
         “Lu bisa nggak sih panggil nama gua?”sahutku. “Kanjeng mamih tuh marah-marah mulu cuma karena gelasnya gua pecahin, padahal nggak sengaja.”
     “Jiaaah, sokem-sokem... Kalau setiap minggu mecahin gelas bukan nggak sengaja namanya, tapi ceroboh!”
      “Lu sekali lagi panggil sokem, gua tendang lu sampe ke ujung monas biar tau rasa!”jawabku kesal. Gimana nggak kesal sokem itu adalah singkatan dari sodara kembar, padahal aku paling malas kalau menganggap dia sebagai saudara kembarku.
          Dia tertawa renyah, aih aih, ini yang bikin aku sebal, tawanya!! Seandainya aku nggak ingat kalau dia kakakku, pasti sudah aku habisi dia. Aku gantungin di tengah lapangan lalu aku jadikan samsak untuk latihan bela diri. Terlalu berlebihan ya? Ya sudah, lupakan!.

         Saat suasana hati belum kembali ceria HP berdering, dan muncul nama “Ori”dilayar. Ori adalah salah satu sahabatku, kami sama-sama anggota bela diri di SMA kami dulu. Kini, walaupun kami kuliah di kampus yang berbeda persahabatan kami masih tetap terjaga dengan baik sampai sekarang.
         “Hallo. Napa lu siang-siang telpon gua?!”
         “Diih, galak banget sih neng? Lagi PMS?”
       “Heh oli kering, nggak usah bikin gua tambah bete deh! Bilang aja keperluan lu apa, kalau nggak gua matiin ni telpon!” balasku, sengit.
       “Dasar nenek lampir, gitu aja ngambek. Gini, gua mau minta temenin beli kado buat cewek gua. Mau ya? Lu kan cewek tuh, pasti lu tau kado yang cocok buat dia”
          “Kalau ada maunya aja lu anggep gua cewek! Ya udah, ntar abis maghrib lu jemput gua ya di rumah?”
          “lha, kagak langsung ketemuan aja ditempatnya?”protes Ori.
        “Ya kagak lah oli keriiiiing, malem-malem kagak mungkin gua naik angkot sendirian. Lu mau nggak? Kalau nggak mending lu ajak si perias aja sono.” Jawabku sedikit mengancam.
        “Duilee, masa gua beli kado sama si perias manten. Iya deh ntar gua jemput lu. Bye!” Ori langsung memotong pembicaraan. Aku hanya bisa menghela nafas, akhirnya perbincangan yang menguras kesabaran ini selesai juga. Mau minta beli kado aja harus ada acara ancam-mengancam.
 
Did I forget something?!!   
 
          Ah..iya. orang yang disebut“perias/ perias manten” adalah sahabatku juga. Kalau dilihat dari KTP yang dia punya, nama sebenarnya adalah Prastama Mahendra atau biasa dipanggil Pras. Kami bertiga sudah bersahabat sejak SMA. Kini Pras dan Ori satu kampus, sedangkan aku terdampar di kampus sebelah yang tentunya nggak kalah bagus dengan kampus mereka.
                                                                                 ***

Tidak ada komentar: