“Adakalanya kebohongan yang kita lakukan akan meninggalkan goresan luka bagi orang lain.”
Hari sudah berganti, adzan subuh pun sudah dikumandangkan setengah jam yang lalu, namun langit masih saja gelap, seakan tak rela jika matahari muncul dari permukaan. Aku memandangi langit lewat jendela kamarnya, menghirup segarnya udara pagi yang selalu aku tunggu-tunggu. Lagi senang-senangnya memandangi langit, si plagiat muka muncul dari balik pintu kamar dan membuat keributan dengan mengetuk pintu keras-keras.
Aku hanya menoleh kearahnya sebentar dan kembali memandangi langit lewat jendela. Aku sedang malas menanggapi kekacauan yang Ilyas ciptakan. Wajar saja Ilyas begitu, karena hari ini dia akan kembali ke Solo untuk memulai perkuliahan di Universitas Sebelas Maret.
“Lagi galau lu? Masalah pacar? Emang lu punya pacar???” tanya Ilyas, sambil merebahkan badanya ke tempat tidurku.
“Pagi-pagi nggak usah sok tau deh! Gua lagi males ribut!!!”
“Jangan gitu, ntar lu kangen sama gua loh. Hari ini gua mau berangkat lagi ke Solo.”
“Nggak sudi kangen sama lu!” jawabku dengan penuh keyakinan. Walaupun kenyataannya pasti terbalik. Akan ada masanya aku kangen dengan kejahilan Ilyas, dan akan ada masanya ingin melihat Ilyas membuat keributan di rumah ini.
“Sial!!! Eh, gua mau minta tolong dong, boleh?”Ilyas menegakkan badannya, dan memandangi saudara kembarnya yang masih setia nangkring di jendela kamar. Belum sempat aku menjawab, handphone di meja belajar bergetar tanda ada penggilan masuk.
“Pagi-pagi nggak usah sok tau deh! Gua lagi males ribut!!!”
“Jangan gitu, ntar lu kangen sama gua loh. Hari ini gua mau berangkat lagi ke Solo.”
“Nggak sudi kangen sama lu!” jawabku dengan penuh keyakinan. Walaupun kenyataannya pasti terbalik. Akan ada masanya aku kangen dengan kejahilan Ilyas, dan akan ada masanya ingin melihat Ilyas membuat keributan di rumah ini.
“Sial!!! Eh, gua mau minta tolong dong, boleh?”Ilyas menegakkan badannya, dan memandangi saudara kembarnya yang masih setia nangkring di jendela kamar. Belum sempat aku menjawab, handphone di meja belajar bergetar tanda ada penggilan masuk.
“Hallo, ada apa Ka, pagi-pagi gini telpon gua?”
“Jam 6 nanti gua siaran, dengerin ya?”
“Yaelaah, Ka, udah harus berapa kali gua bilang ke elo kalo gua nggak mau dengerin lu siaran!” jawabku ketus.
“Jam 6 nanti gua siaran, dengerin ya?”
“Yaelaah, Ka, udah harus berapa kali gua bilang ke elo kalo gua nggak mau dengerin lu siaran!” jawabku ketus.
“Yan, hampir empat tahun kita berteman dan elo nggak pernah sekalipun dengerin gua siaran. Keterlaluan!” balas Oka dengan nada suara yang dibuat-buat.
“Bodo amat! Bye!”
“Bodo amat! Bye!”
Aku menutup pembicaraan dengan sepihak dan menghela nafas panjang. aku pandangi lagi langit pagi ini. Entah mengapa aku nggak pernah sekalipun tertarik untuk mendengarkan Oka, teman satu kampusku siaran di radio. Padahal hampir setiap hari Oka selalu meneror ku untuk mendengarkannya siaran.
Akibat telepon dari Oka, aku melupakan saudara kembarku yang pasti dari tadi memperhatikanku.
“sial!!!” celetukku dalam hati.
“Tadi lu minta tolong apa?”tanyaku dengan nada pelan.
“A-apa? min-minta tolong? Si-siapa??”Ilyas balik bertanya dengan nada yang berantakan karena ketahuan kalau sedang menguping pembicaraanku dengan Oka.
“A—gua minta lu ke Solo ya? Lu pura-pura jadi pacar gua, gua mau ngehindarin satu cewek yang dari dulu ngejar-ngejar gua.”jawab Ilyas, kali ini dengan nada normal, mungkin sekarang dia sudah bisa menguasai dirinya, hehe.
“Tadi lu minta tolong apa?”tanyaku dengan nada pelan.
“A-apa? min-minta tolong? Si-siapa??”Ilyas balik bertanya dengan nada yang berantakan karena ketahuan kalau sedang menguping pembicaraanku dengan Oka.
“A—gua minta lu ke Solo ya? Lu pura-pura jadi pacar gua, gua mau ngehindarin satu cewek yang dari dulu ngejar-ngejar gua.”jawab Ilyas, kali ini dengan nada normal, mungkin sekarang dia sudah bisa menguasai dirinya, hehe.
Mendengar permintaan Ilyas barusan, aku langsung tertawa terbahak-bahak. Entah pertanyaannya yang lucu atau karena ekspresi wajahnya yang aneh. Lagi pula aku nggak menebak kalau Ilyas akan berkata seperti itu. Sulit dipercaya, cowok seperti Ilyas bisa dikejar-kejar cewek sampai sebegitunya. Aku yakin banget cewek itu pasti jelek, dekil, nggak cantik, sampai-sampai Ilyas menolak. Lagi pula, memangnya Ilyas nggak punya temen cewek lain yang bisa dijadikan pacar bohongannya? Muka kami berdua kan mirip banget, pasti cewek yang ngejar-ngejar Ilyas akan curiga.
“Dih, lu kenapa ketawa deh?” tanya Ilyas dengan muka datarnya.
“Hahahaha, lu kalau bohong yang pinter dikit dong. Muka kita kan mirip banget, pasti dia bakal curiga.”
“Lu nggak usah khawatirin masalah itu lagian dia nggak tau kok kalau gua punya kembaran. Temen gua juga udah gua suap supaya tutup mulut.”
“Hahahaha, lu kalau bohong yang pinter dikit dong. Muka kita kan mirip banget, pasti dia bakal curiga.”
“Lu nggak usah khawatirin masalah itu lagian dia nggak tau kok kalau gua punya kembaran. Temen gua juga udah gua suap supaya tutup mulut.”
“Gimana ya.. gua lagi nggak ada duit buat transport ke Solo nih.” Jawabku kasih kode keras, karena nggak mungkin kan aku bantuin Ilyas, tapi uangku malah tekor, hehe.
“Nih, gua kasih atm gua, lu tinggal ambil seperlunya ya? Ingat, jangan boros!”Ilyas mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, dengan cepat aku mengambil dan memasukannya di saku celana.
“Kapan gua harus ke Bandung?”
“Sore ini. Lu naik pesawat aja. Ini tiketnya.” Jawab Ilyas dengan cepat dan meletakan tiket pesawat di tempat tidur. Mendengar jawaban itu aku langsung kaget nggak percaya.
“Gila lu, lu pikir gua nggak kuliah?”
“Yaelah, Sokem, sekali-kali titip absen deh demi gua. Rencananya gua mau ajak lu ke kampus biar dia bisa liat. Lagian lu harusnya seneng gua ajak ke kampus terkenal kayak kampus gua, haha.”
“Udah ya, gua mau siap-siap dulu, abis ini gua langsung jalan. Bye!”Lanjut Ilyas.
“Nih, gua kasih atm gua, lu tinggal ambil seperlunya ya? Ingat, jangan boros!”Ilyas mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, dengan cepat aku mengambil dan memasukannya di saku celana.
“Kapan gua harus ke Bandung?”
“Sore ini. Lu naik pesawat aja. Ini tiketnya.” Jawab Ilyas dengan cepat dan meletakan tiket pesawat di tempat tidur. Mendengar jawaban itu aku langsung kaget nggak percaya.
“Gila lu, lu pikir gua nggak kuliah?”
“Yaelah, Sokem, sekali-kali titip absen deh demi gua. Rencananya gua mau ajak lu ke kampus biar dia bisa liat. Lagian lu harusnya seneng gua ajak ke kampus terkenal kayak kampus gua, haha.”
“Udah ya, gua mau siap-siap dulu, abis ini gua langsung jalan. Bye!”Lanjut Ilyas.
Ilyas berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan. Aku melihat jadwal yang tertera di time table yang menempel di dinding. Nggak ada jadwal ujian, mungkin ini rejekinya Ilyas, tapi ini juga akan menyumbangkan poin dosaku yang sudah menumpuk. “Ya Tuhan, maafkan hambamu ini yang harus berbohong demi Ilyas.” Ucapku dalam hati.
***
Aku berjalan menelusuri kantin fakultas, namun nggak ada tanda-tanda kehadiran orang yang aku cari. Cewek super modis dengan gaya berpakaian yang harus serasi dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan nggak ketinggalan juga kuku dengan cat berwarna terang plus sepatu serta tas yang senada.
“Vista mana?” tanyaku pada Oka yang sedang asyik makan bakso sembari mengelap keringat di dahinya.
“Sial!! Kenapa dia tetep cakep walaupun lg keringetan gitu!” gerutuku dalam hati.
“Udah pulang dari tadi. Emang kenapa?”
“Gua mau pinjem baju nih buat ketemu ilyas. Mana acaranya sore ini!”
“Sial!! Kenapa dia tetep cakep walaupun lg keringetan gitu!” gerutuku dalam hati.
“Udah pulang dari tadi. Emang kenapa?”
“Gua mau pinjem baju nih buat ketemu ilyas. Mana acaranya sore ini!”
“Huh-haaah,, ssssssttt, percuma, dia siang ini mau ke surabaya, ada saudaranya yang menikah.”jawab Oka dengan susah payah akibat kepedesan.
“Emang kenapa deh, mau ketemu ilyas aja ribet banget? Lagian bajunya si Vista kan feminim semua, tumben lu mau pake?” lanjut Oka dengan pandangan menyelidik.
“Emang kenapa deh, mau ketemu ilyas aja ribet banget? Lagian bajunya si Vista kan feminim semua, tumben lu mau pake?” lanjut Oka dengan pandangan menyelidik.
Aku menceritakan semuanya ke Oka, dan dia mendengarkan ceritaku dengan tatapan yang selalu tertuju padaku tanpa lupa menyuapkan beberapa butir bakso ke mulutnya.
Setelah selesai mendengar ceritaku, Oka langsung menariku dari kursi dan memandangi dari ujung rambut ke ujung kaki. Dia memasang ekspresi yang sama ketika dia mengerjakan ujian tengah semester lalu.
Setelah selesai mendengar ceritaku, Oka langsung menariku dari kursi dan memandangi dari ujung rambut ke ujung kaki. Dia memasang ekspresi yang sama ketika dia mengerjakan ujian tengah semester lalu.
“Ikut gua yuk!” tanpa mendengar jawabanku, dia langsung menarik pergelangan tanganku dan kami memasuki mobilnya. Selama diperjalanan Oka nggak banyak bicara, dan aku hanya memandangi wajahnya dengan tatapan bingung.
Nggak perlu menunggu waktu lama, kami sampai ke sebuah kompleks kost-kostan mahasiswa. Oka langsung turun dari mobil dan mengambil handphone. Entah siapa yang dia ajak bicara, yang jelas aku nggak bisa mendengar percakapan mereka. Beberapa menit kemudian ada seorang perempuan dengan pakaian yang minim menghampiri Oka, dan nggak ketinggalan senyum manisnya pun menyambut hangat kedatangan Oka. Bersamaan dengan itu, Oka melambaikan tangannya ke aku sebagai isyarat agar aku turun dari mobil. Saat menghampiri mereka, senyum perempuan itu langsung memudar dan memandangiku dengan tatapan sinis.
“Ehmm, Tiara, kenalin ini Ilyan, yang aku ceritain tadi. Tolong bantu ya?”
“Ooh, ini temen Kakak yang mau nge-date sama pacarnya yaa.. ya udah yuk langsung aja ke kamar aku.”
Aku melotot ke arah Oka yang sedari tadi menahan tawa. Whaaat??? Nge-date?? sama pacar??? OMG, kebohongan apa lagi ini. Ya Tuhan maafin hamba-Mu ini. Aamiin.
Di kamar Tiara, aku dengan cepat dapat beradaptasi. Kini Tiara lebih ramah dibanding saat kami berdiri didepan kost. Aku mulai curiga, apakah Tiara adalah pacar Oka, atau malah salah satu gebetanya.
“Kakak mau nge-date kan? Pakai baju ini aja, pasti cantik deh.” Tiara menyodorkan dress pendek berwarna pastel dengan pita yang melingkar di daerah pinggul. Aku menelan ludah dan menatap dress tersebut. Entah setan apa yang membujukku melakukan sejauh ini demi Ilyas.
“Lu yakin gua pakai baju ini?”tanyaku memastikan.
“Yakin atuh. Nah, jangan lupa pakai heels dan tas ini juga ya, pasti cantik binggo deh.”
“Lu yakin gua pakai baju ini?”tanyaku memastikan.
“Yakin atuh. Nah, jangan lupa pakai heels dan tas ini juga ya, pasti cantik binggo deh.”
Aku melihat jam, sudah nggak ada waktu lagi untuk memprotes apa yang direkomendasikan oleh Tiara. Aku langsung memakai dress tersebut dan jari-jari Tiara dengan cepat menyapukan make-up dengan sempurna diwajahku. Setengah jam berlalu, aku menghampiri Oka yang sedari tadi menungguku di ruang tamu. Dia tersenyum melihat upik abu berubah menjadi cinderalla, dan dengan sigap dia merebut tas jinjing yang berisi sepatu, kaos dan kemeja flanel andalanku.
Selama diperjalanan Oka hanya senyum-senyum sendiri, dia selalu bergantian memandangiku lalu memandang jalanan. Aku jadi salah tingkah, rasanya baju ini terlalu berlebihan hanya untuk menjadi pacar gadungan si Ilyas. Ilyas harus membayar mahal untuk masalah satu ini!
“Lu kalau mau ketawa nggak usah ditahan deh! Sebel gua liatnya!”
“Cielaah, ngambek. Hahaha. Kalau udah jadi cewek beneran, ngambeknya harus diilangin neng, biar lebih anggun kesannya.”kali ini Oka tertawa dengan sangat puas, dan aku hanya bisa menghela nafas panjang.
“Ka, lu bisa tolong antar gua langsung ke bandara nggak? Gua takut telat.”
“Lu nggak bawa pakaian ganti?”Oka balik bertanya.
“Lu kalau mau ketawa nggak usah ditahan deh! Sebel gua liatnya!”
“Cielaah, ngambek. Hahaha. Kalau udah jadi cewek beneran, ngambeknya harus diilangin neng, biar lebih anggun kesannya.”kali ini Oka tertawa dengan sangat puas, dan aku hanya bisa menghela nafas panjang.
“Ka, lu bisa tolong antar gua langsung ke bandara nggak? Gua takut telat.”
“Lu nggak bawa pakaian ganti?”Oka balik bertanya.
Aku menggelengkan kepala dan Oka langsung menancap gas dengan sangat cepat. Aku memandangi oka dengan ekspresi ketakutan, dan Oka hanya memasang senyum manisnya. Aku berharap segera sampai Solo karena sudah nggak sabar untuk bertemu perempuan yang dimaksud oleh Ilyas. Sudah bisa dipastikan, aku lebih cantik dari dia, apalagi dengan dandananku hari ini. Aku rasa bukan hanya cewek itu yang terpesona, bahkan si plagiat muka itu bakalan klepek-klepek melihat saudara kembarnya cantik melebihi Ayu Azhari yang saat aku SD berperan menjadi Ibu Peri di film Bidadari.
***
Sore ini aku berdiri tepat di depan gedung fakultas Hukum UNS sambil menjinjing tas kecil yang berisi baju dan sepatu. Aku menyapu seluruh gedung dengan pandanganku, namun sosok Ilyas tak bisa ditemukan. Kampus masih saja ramai, padahal matahari sudah bersiap-siap untuk tenggelam dari permukaan. Aku menyeka keringat yang menetes di pelipisku, lalu kuperbaiki letak jepit rambut disisi kanan kepala. Entah cairan apa yang diberikan Tiara pada rambut panjangku, rasanya ingin sekali mengelus terus rambut yang terurai rapi ini. Mungkin karena ramuan itu rambutku jadi lembut dan harumnya sangat menenangkan.
Handphone bergetar tanda bbm masuk. “Gua liat lu, lu samperin gua dah, arah jam 4 dr tempat lu berdiri”. Aku hanya bisa tersenyum kecut. Kalimat ucapan selamat datang macam apa ini? Bukankah seharusnya aku dijemput di bandara dan disambut dengan hangat!!?
Aku melihat kearah jam empat dari tempatku berdiri sekarang, dan Wakwaaaaaw!!!! Aku melihat Ilyas dikelilingi teman-temannya yang berjumlah enam. Eh, kayaknya pandanganku sudah mulai buram! Ternyata enam orang yang bersama Ilyas adalah laki-laki, dan kalau digabungkan dengan teman perempuan maka jumlahnya ada tigabelas orang! Aku menelan ludah dan memberanikan diri mendekati kerumunan “harimau” yang sedang bersenda gurau. Entah mengapa langkah ini begitu berat ditambah lagi heels yang kupakai membuat kaki mungilku nggak nyaman. Aku hanya bisa berharap semoga aku tidak jatuh akibat heels yang tingginya seperti penggaris anak SD ini.
Aku melihat kearah jam empat dari tempatku berdiri sekarang, dan Wakwaaaaaw!!!! Aku melihat Ilyas dikelilingi teman-temannya yang berjumlah enam. Eh, kayaknya pandanganku sudah mulai buram! Ternyata enam orang yang bersama Ilyas adalah laki-laki, dan kalau digabungkan dengan teman perempuan maka jumlahnya ada tigabelas orang! Aku menelan ludah dan memberanikan diri mendekati kerumunan “harimau” yang sedang bersenda gurau. Entah mengapa langkah ini begitu berat ditambah lagi heels yang kupakai membuat kaki mungilku nggak nyaman. Aku hanya bisa berharap semoga aku tidak jatuh akibat heels yang tingginya seperti penggaris anak SD ini.
Tiga meter lagi aku akan sampai di kerumunan “harimau”yang dimaksud oleh Ilyas. Tapi banyak hal yang aku pikirkan. Kata-kata apa yang harus pertama kali aku katakan? Aku harus memasang ekspresi wajah seperti apa? Atau aku langsung menghampiri Ilyas dan memeluknya? Ah, sepertinya itu terlalu berlebihan.
“Sorry, mau tanya. kenal Ilyas nggak?”. Aku bertanya pada seorang perempuan yang duduk paling pinggir, dan aku pura-pura nggak melihat Ilyas. Padahal aku tau bahwa Ilyas dari tadi memandangiku. Aku selalu berdoa agar penyamaranku kali ini berhasil.
“Ilyas Mashar Nahari?”perempuan itu balik bertanya padaku dengan tatapan penuh tanya dan aku menganggungkan kepala sambil mencoba tersenyum manis padanya.
“Riza?”belum sempat perempuan tersebut menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari tengah kerumunan tersebut. Aku segera menoleh ke sumber suara, dan ternyata itu suara Ilyas.
“Sorry, mau tanya. kenal Ilyas nggak?”. Aku bertanya pada seorang perempuan yang duduk paling pinggir, dan aku pura-pura nggak melihat Ilyas. Padahal aku tau bahwa Ilyas dari tadi memandangiku. Aku selalu berdoa agar penyamaranku kali ini berhasil.
“Ilyas Mashar Nahari?”perempuan itu balik bertanya padaku dengan tatapan penuh tanya dan aku menganggungkan kepala sambil mencoba tersenyum manis padanya.
“Riza?”belum sempat perempuan tersebut menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari tengah kerumunan tersebut. Aku segera menoleh ke sumber suara, dan ternyata itu suara Ilyas.
Dengan spontan aku tersenyum sengit padanya. Riza??? Itu kan nama tengahku! Kenapa pula dia menyamarkan nama cantiku yang sudah dikenal di seantero dunia?!!
Aku mengangkat tangan sebahu, dan mulai mencoba memasang senyum manis ke Ilyas. “Haaiii, saa-yaang.”sapaku ragu-ragu. Dan sialnya karena sapa-an ku barusan semua mata tertuju pada kami berdua. Ilyas hanya bisa berdiri kaku tanpa mengalihkan pandangannya dariku.
Aku rasa ekspresi Ilyas terlalu berlebihan, atau malah sapa-an ku yang berlebihan?? Entahlah, yang penting aku harus menyadarkan Ilyas dari semua pikiran yang ada dipikirannya. Aku melotot ke arahnya, dan setidaknya ini bisa menyadarkan Ilyas dari lamunannya,
Aku rasa ekspresi Ilyas terlalu berlebihan, atau malah sapa-an ku yang berlebihan?? Entahlah, yang penting aku harus menyadarkan Ilyas dari semua pikiran yang ada dipikirannya. Aku melotot ke arahnya, dan setidaknya ini bisa menyadarkan Ilyas dari lamunannya,
Ilyas langsung menghampiri aku dengan senyuman yang manis luar biasa. “haiii, kok nggak bilang kalau mau ke kampus aku?”tanya Ilyas dengan nada dibuat-buat sebagaimana orang terkejut.
“Ha-haa.. iya sayaaaang, kan surprise masa aku bilang ke kamu.”jawabku dengan ragu-ragu. Ah, entahlah, sepertinya aku nggak punya bakat untuk menjadi pacar gadungan.
Ilyas langsung menghampiriku dan merungkul bahuku di depan para “harimau”.
“Guys, kenalin ini pacar gua. Riza namanya.”dan dengan serempak mereka menjawab dengan kata “halo, Rizaaaaaaaa”. Belum sempat aku menjawab, Ilyas menggandengku ke tempat dia duduk. Bisa juga dia melakukan hal manis seperti ini. Begitu kami duduk, Ilyas menggelar jaketnya dan meletakkannya di pahaku. Semua orang melihat kejadian itu, dan lagi-lagi mereka serempak mengeluarkan suara, “So sweeeeeet.”
“Ha-haa.. iya sayaaaang, kan surprise masa aku bilang ke kamu.”jawabku dengan ragu-ragu. Ah, entahlah, sepertinya aku nggak punya bakat untuk menjadi pacar gadungan.
Ilyas langsung menghampiriku dan merungkul bahuku di depan para “harimau”.
“Guys, kenalin ini pacar gua. Riza namanya.”dan dengan serempak mereka menjawab dengan kata “halo, Rizaaaaaaaa”. Belum sempat aku menjawab, Ilyas menggandengku ke tempat dia duduk. Bisa juga dia melakukan hal manis seperti ini. Begitu kami duduk, Ilyas menggelar jaketnya dan meletakkannya di pahaku. Semua orang melihat kejadian itu, dan lagi-lagi mereka serempak mengeluarkan suara, “So sweeeeeet.”
Ilyas langsung salah tingkah, begitu pula dengan aku. “banyak nyamuk guys, kasian pacar gua.” Jawab Ilyas sekenanya. Padahal aku tau, dia melakukan ini karena aku menggunakan dress pendek.
Aku mulai beradaptasi dengan kerumunan “harimau” ini, ternyata mereka sangat ramai dan lucu. Aku merasa seperti sudah mengenal mereka sejak lama. Kami saling melemparkan hina-an satu sama lain, tapi nggak ada satu bahasa pun yang menyinggung satu sama lain. Obrolan kami nggak jauh-jauh dari seputar hubungan percintaan Ilyas dengan aku (baca: pacar gadungannya).
Aku mulai beradaptasi dengan kerumunan “harimau” ini, ternyata mereka sangat ramai dan lucu. Aku merasa seperti sudah mengenal mereka sejak lama. Kami saling melemparkan hina-an satu sama lain, tapi nggak ada satu bahasa pun yang menyinggung satu sama lain. Obrolan kami nggak jauh-jauh dari seputar hubungan percintaan Ilyas dengan aku (baca: pacar gadungannya).
Ditengah-tengah perbincangan yang seru ini, tiba-tiba seorang perempuan melangkah menjauhi kami. Perbincangan pun berhenti, dan pandangan penuh tanya tertuju pada perempuan tersebut. Perempuan itu berjalan membelakangi kami dengan punggung sedikit membungkuk. Rambutnya yang panjang terurai bergoyang mengikuti langkah kakinya yang berat dan seakan berkata bahwa “aku harus pergi dari sini!”.Ternyata perempuan itu adalah orang yang pertama kali aku tanya tentang keberadaan Ilyas.
Aku langsung bisa menemukan alasan mengapa perempuan itu pergi meninggalkan kami. Aku sangat yakin dia adalah perempuan yang dimaksud oleh Ilyas. Aku memandangi Ilyas dengan sungguh-sungguh, dan tampak mata Ilyas mulai memerah. Pandangannya pun nggak lepas dari perempuan itu. Jika dilihat dari tatapan Ilyas, maka aku bisa menyimpulkan bahwa Ilyas merasa nggak enak hati telah membuat perempuan itu sakit hati, dan tatapannya bukan sebatas rasa bersalah. Dari mata Ilyas terlihat jelas bahwa dia punya perasaan pada perempuan itu, tapi entah hal apa yang menghalangi perasaanya selama ini.
Aku memegang lengan dia dan berkata pelan “Lu samperin dia gih!”. Ilyas memandangiku dengan matanya yang mulai sayu, lalu memaksakan bibirnya untuk membentuk senyum dan mengelus kepalaku dengan lembut. “Tunggu sebentar ya..”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar