Rabu, 29 Juli 2015

AMABELLE// Suatu Saat Aku Ingin Seperti Dia

“Kesendirian selalu bisa membuat kita nyaman, namun kita juga butuh partner dalam segala hal di hidup kita”

         Aku mematutkan diri di depan kaca, dan  jelas terlihat kece dari sudut manapun walaupun hanya menggunakan celana jeans, dan kaos hitam yang dilapisi oleh kemeja flanel, setidaknya itu menurut pendapatku. Aku memoleskan lipstik mango peach andalanku, lalu dilanjut dengan pelembab, dan melapisinya dengan bedak gemes.  D’you know why i called “bedak gemes"?.  Bedak gemes adalah bedak yang biasanya digunakan ibu-ibu untuk bayinya yang menggemaskan, maka dari itu aku menyebutnya dengan bedak gemes. Mungkin terdengar sedikit aneh, tapi ini sudah menjadi ritualku dalam berdandan, tak perlu banyak peralatan make up, lipstik, pelembab, dan bedak bayi sudah cukup bagiku.

        Suara klakson motor Ori sudah terdengar, itu tandanya aku harus cepat-cepat keluar menghampirinya sebelum oli kering yang satu itu mengamuk. Aku lari keluar kamar, pamit dengan ayah, bunda dan langsung memakai sepatu di teras rumah dengan memasang senyum manis ke sahabat yang satu itu, tapi sia-sia karena dia tidak menanggapinya. Dia hanya membalas dengan helaan nafas panjang diiringi dengan alis kanannya yang bergerak naik-turun.

        “Yuk, cap-cus beli kado.”Sahutku dengan penuh semangat.

       Ori langsung memberiku helm yang biasa dipakai oleh ceweknya yang bernama Azra. Eiits... tunggu dulu! Sebelum Azra menjadi ceweknya Ori, aku lah satu-satunya pemakai paten helm itu. Bahkan si Pras pun jarang memakai helm itu. Jadi untuk sekarang anggap saja aku meminjamkan sementara helm ini untuk digunakan Azra.

       “Napa lu senyum-senyum sendiri?”tanya Ori penasaran, dan aku hanya bisa membalasnya dengan jawaban andalannya “nggak apa-apa kok.”

        Seperti biasanya, Ori mengendarai motor dengan sangat pelan, bahkan kura-kura pun jauh lebih cepat dibanding Ori. Angin malam ini membuat mataku sayup-sayup, dan terasa berat. Apalagi Ori mengendarai motornya dengan sangat pelan, sehingga membuat perjalanan terasa sangat jauh.

       “Ri, kagak bisa lebih cepet lagi apa ngendarain motornya?” protesku yang sudah tak kuat menahan ngantuk.
        “Yaelaah, yan, Azra aja seneng kalau gua naik motornya pelan, kok elu kagak?”
        “Diih, Azra kan pacar lu, pantes aja seneng, lha gua??? Bukannya seneng malah ngantuk!”
       “Hahaha, alieen-alieen, kalau ngantuk tidur aja. Nanti kalau udah sampai mall gua bangunin, lagian kita kan udah lama nggak jalan bareng kayak gini.”
 
       Aku memejamkan mata dan menyandarkan tubuhku ke punggung Ori. Benar juga katanya, semenjak dia jadian dengan Azra, kami berdua jadi jarang main dan pergi bareng. Ini sudah berjalan dua tahun lebih. Bukannya apa-apa, aku sengaja menghindar dari Ori karena aku nggak mau kalau Azra jadi salah paham. Aku sudah kebal kalau anak-anak kampus atau teman-teman satu SMA menganggap kami pacaran tapi aku nggak mau kalau Azra mengangap bahwa aku suka dengan Ori, karena sebenarnya aku sudah mati rasa dengannya. Aku memang sayang sama Ori, dan juga Pras, tapi ini semua hanya sebatas sahabat, tidak lebih dari itu.
        Pras tau betul kalau aku menghindari Ori karena takut Azra salah paham. Setiap Ori mengajaknya pergi, aku lebih sering menolak dan Pras selalu bersedia menggantikan posisiku. Aku cukup berterima kasih atas bantuan Pras selama ini.
 
        “Yan, bangun udah sampai parkiran nih.” Ori menggerakkan punggungnya pelan-pelan.
      “lu susah banget sih dibangunin, gua malu nih diliatin sama orang-orang!” Lanjutnya sambil menoleh kanan-kiri. Sedangkan aku masih sibuk berusaha membuka mata dan mengumpulkan nyawa. Begitu tersadar kalau kami sudah sampai, aku langsung menjauhkan tubuhnku dari punggung Ori dan mencoba membersihkan bibirku yang siapa tau meninggalkan jejak yang nggak enak dilihat.
 
     Tanpa banyak kata aku langsung turun dari motor dan meletakkan helm di spion motor Ori lalu melangkah menuju pintu masuk mall. Begitu masuk mall aku melihat sekeliling ruko, tapi nggak ada yang menarik perhatianku. Setengah jam berkeliling aku hampir putus asa karena belum menemukan barang yang cocok untuk Azra.
        
       “Ri, Azra mau lu kado apa? Dari tadi nggak ada yang menarik”
       “Gimana lu mau tertarik, orang lu aja nggak masuk ruko, Cuma liat-liat dari luar!” Jawab Ori kesal.
      “Ciee, ngambek. Lu kan tau, gua nggak suka masuk mall makanya gua males liat-liat, nah ntar kalau ada yang menarik baru deh gua mau masuk.” aku mencoba membela diri, tapi Ori malah meniru dengan mimik bibir yang lebay.
 
      Tiba-tiba Ori menghentikan langkahnya, lalu menarik tanganku agar aku mengikutinya ke dalam toko perhiasan. Seluruh karyawan toko tersebut menyambut kami dengan gembira, mungkin para karyawan melihat kami seperti pundi-pundi uang yang akan memenuhi dompetnya.
 
       “Selamat malam kakak, ada yang bisa saya bantu?” tanya si koko ganteng, salah satu karyawan toko tersebut.
       “Mas, saya mau lihat kalung yang bagus dong mas untuk pacar saya”jawab Ori sambil melihat perhiasan yang terdapat di dalam etalase.
       “Oh, buat mbaknya ya? Wah pacarnya cantik ya mas?” kata si koko yang mulai sok tau.
     “Pacar???” tanyaku dengan nada terkejut. Lalu aku melihat tangan Ori yang masih erat menggenggam tanganku sambil melihat-lihat perhiasan.
 
        “Ri, tangan gua Ri lepasin. Si koko ngiranya gua pacar lu!”
       “Eh, iya sorry, nggak sadar gua. Hehe, ni bukan pacar saya, nggak mungkin jeruk makan jeruk” kata Ori sekenanya, dan sialnya si koko malah ketawa puas.
       “Ehm, Koh, ada kalung yang paling murah dan paling jelek nggak? Kalau perlu yang udah cacat juga nggak apa-apa”
       “Buat apa mbak?” tanya koko polos.
      “Buat kado ceweknya temen saya yang satu ini, kokooo” jawabku  sewot dan sialnya  si koko lagi-lagi ketawa puas sambil geleng-geleng, sedangkan Ori melotot kearahku.
 
       Setelah koko mengambil beberapa contoh kalung, koko langsung meletakkannya di meja dengan rapi. Terlihat jelas kalung-kalung itu sangat berkilau dan aku yakin pasti Azra akan tambah cantik jika menggunakannya. 

        Sungguh beruntung cewek satu itu, dalam hati aku terbesit doa yang membuatku sedikit geli. “Ya Tuhan, aku juga ingin suatu saat merasakan seperti apa yang Azra rasakan sekarang. Dia punya sosok yang menganggap bahwa dia adalah orang yang sempurna.”
 
      “Pilih yang mana Yan?” Ori meminta pendapat. Aku menimbang dengan sungguh-sungguh karena memilih terbaik dari yang terbaik memang susah. Setelah beberapa pertimbangan aku menjatuhkan pilihan pada kalung dengan sebuah batu permata. Jika dilihat sekilas tidak ada istimewanya, namun jika kalung tersebut digoyang-goyangkan, di dalam permata tersebut tampak  gambar dua orang yang saling menatap dan semoga itu menandakan mereka berdua yang akan saling menatap sampai Tuhan memisahkan mereka karena usia.
                                                                            ***

       Sebelum pulang mereka mampir ke tea house, kali ini aku ditraktir oleh Ori. Ini adalah ritual saat aku sudah membantunya, dan aku sangat senang dengan ritual ini, hehehe. Dari awal kami duduk di tea house, Ori nggak berhenti menatap kalung yang baru saja dibelinya. Wajahnya tampak berseri-seri, dia pasti membayangkan ekspresi Azra saat dipasangkan kalung tersebut dilehernya. Aih... aku nggak bisa berbuat apa-apa jika melihat sahabatku yang satu ini sedang dirundung rasa gembira.
 
        Aku mengambil HP lalu memotretnya, dengan cepat aku mengirim foto itu ke Pras lewat bbm. “Nih, liat kelakuan temen lu! Gua dicuekin nih, gua kalah saing sama kalung yang lagi dipegang dia. Ckckck”
 
         “Mampus lu! Itu kalung apa jimat? Kok bisa bikin dia senyum-senyum sendiri kayak orang gila!!?.”
          “Sial!!! Buruan samperin kita di tea House nih, bisa gila gua kalau ngadepin dia sendirian”
        “Yaellaah yan, gua lagi sibuk nulis laporan praktikum, lu sadarin gih sebelum dia keblabasan. Good luck yaa! Hahahhaaaaaa”
 
       Membaca bbm dari Pras malah nggak ada gunanya, disaat seperti ini Pras malah nggak bisa diandalkan. Dengan terpaksa aku merusak lamunan orang yang ada di depannya dengan menendang kakinya pelan-pelan.
       “Uuust..uuuust, mau sampai kapan senyum-senyum sendiri?” tanyaku dengan memasang muka datar.
       “Eh, ada neng ilyan. Udah lama neng disini?” balas Ori dengan candaan yang garing.
     “Au ah, gelap! Gua laper nih, jadi traktrik gua nggak? Kalo nggak... eh bentar nyokap gua telpon nih” belum sempat mengancam Ori, bunda keburu telephone.
 
       “Hallo bund, ada apa?” tanyaku dengan nada yang dibuat semanis mungkin.
      “Tolong beliin bunda nasi goreng mang Kardi ya, yang pedes. Sekarang, kalau enggak liat aja nanti!” 

      Begitulah bunda, selalu ada ancaman setelah tragedi pemecahan gelas kesayangannya.
     “Aduh, bundaku yang cantik, adek sekarang lagi keluar sama Ori mending ilyas aja yang beli gimana?” aku coba bernegosiasi dengan bunda.
     “Aduh, anak bunda yang cantiiiik, abang kamu yang satu itu lagi main juga, lagian kamu nggak inget udah mecahin dua belas gelas? Oya, buruan ya, beli dua porsi, buat ayah kamu juga, tapi punya ayah nggak pedes. Oke?”
       “Iyaaa, okeeee, kanjeng mamiiiiih”
 
      Aku menghela nafas panjang, belum juga ditraktir makan malah udah disuruh pulang! Mungkin belum rejeki. Ini semua karena gelas-gelas itu! Liat aja besok, aku ganti semua gelas kaca di rumah dengan gelas plastik yang anti banting, udah gitu lebih murah lagi, kan lumayan pengeluaran bunda jadi sedikit lebih hemat, hehehe.
 
      “Kenape lagi lu? Kok manyun?”
      “Balik yuk, anter gua ke mang Kardi. Kanjeng mamih ngidam nasi goreng.”
     “Lha, kita belum makan loh. Nggak mau makan dulu?”tanya Ori dengan muka serba salah.
    “Tunda aja deh, dari pada gua dipecat jadi anak”jawabku sekenanya. 

      Kami berdua pun langsung berjalan menuju parkiran. Saat diperjalanan, Ori lain dari biasanya, dia mengendarai si “ninja hatori” dengan sangat cepat, perjalanan dari mall ke mang Kardi tapi kini terasa singkat. Memang cuma kanjeng mamih yang bisa bikin spidometer si “ninja hatori” naik dengan cepat, hahaha.
        
       Malam ini, warung mang Kardi lebih ramai dari biasanya, maklumlah nasi gorang mang Kardi memang sudah terkenal dimana-mana, makanya nggak heran, walaupun hanya warung kecil dipinggir jalan tapi pelanggannya nggak kalah dengan restoran kelas atas. Melihat antrian orang yang berjejer di samping gerobak mang Kardi, aku hanya berdoa semoga Tuhan memberi kesabaran lebih banyak untuk bunda, jadi aku nggak perlu kena marah lagi.

      “Hai, mbak ilya, lama nggak kesini, mau pesen berapa porsi?”sapa mang Kardi yang selalu salah menyebut namaku.
       “Pesen dua ya mang, yang satu nggak pedes, nah yang pedes tolong dikasih cabe  level abnormal ya mang, buat bunda soalnya”
      “Lha, mba ilya berantem lagi sama bundanya? Ntar kalau perut bundanya kenapa-kenapa, si mamang nggak nanggung ya?”kata Mang Kardi yang selalu takut mengambil resiko, dan aku hanya mengacungkan jempolku tanda setuju.
 
      Sudah menjadi kebiasaanku dengan mang Kardi, jika aku sedang berantem dengan bunda pasti aku memesankan bunda nasi goreng dengan level abnormal. Entah bunda sadar atau tidak dengan perbuatanku ini , tapi yang jelas nggak ada komplain dari bunda tentang rasa nasi goreng itu. Biasanya yang tahu kejahilannya ini adalah ayah, dan ayah hanya menahan tawa saat melihat bunda kepedasan.
      
      “Tapi agak lama nih mbak, hampir satu jam, yang antri banyak soalnya.” Lanjut mang Kardi, aku pun mengacungkan jempolnya lagi tanda nggak masalah dengan itu, yang terpenting nasi goreng  untuk bunda sesuai dengan pesanan, level abnormal! Hahaha.
 
       Aku menyapu pandangan ke sekeliling warung mang Kardi, mencari bangku kosong untuk kami berdua, tapi semua bangku sudah diisi penuh oleh pelanggan mang Kardi yang lain. Dari tadi Ori memperhatikanku, mungkin Ori tau apa yang sedang aku pikirkan. Ori mencolek punggungku lalu menunjuk ke warung mie ayam yang bersebelahan dengan Mang Kardi.
       “Katanya lu laper, ayuk makan dulu.” Mendengar ajakan Ori, aku langsung senyum sumringah tanda setuju. Apalagi aku sangat senang makan mie ayam. Pernah saking senangnya, dalam sehari menu makananku adalah makan mie ayam. Nggak bisa dibayangin, mungkin ususku sudah keriting karena makanan tersebut. Untung saja untuk masalah yang satu ini bunda nggak tau,  kalau bunda tau, aku akan disemprot habis-habisan.
 
     “Bang, dua porsi ya, minumannya es teh” Ori langsung memesan mie ayam. Dan mereka duduk bersebelahan sambil memandangi jalanan yang ramai dengan kendaraan.
      “Ri, gua bingung deh, lu kok rela sih beli kado mahal-mahal cuma buat cewek lu, nggak sayang sama duit?”tanyaku penasaran.
      “Yaelah Yan, buat ngado ulang tahun lu aja gua rela ngabisin duit hampir sejuta, masa buat pacar gua sendiri pelit. Kan nggak etis.” Jawab Ori ringan sambil tersenyum geli. Dan aku langsung teringat saat aku ulang tahun, Ori menghadiahkan sepatu yang saat ini aku pakai.
      
      “Makanya, cari cowok gih, biar lu ngerti gimana rasanya ngasih sesuatu buat orang yang lu sayang. Lu pasti nggak bakal itung-itungan kalau sama masalah duit, yang terpentingkan kebahagiaan orang yang kita sayangi.” Lanjut Ori dengan gaya sok bijak. Belum sempat aku menjawab, mie ayam kami datang dan aku langsung menyerbunya sampai lupa kalau tadi abis diceramahin sama si oli kering. Hehehe
     “Lu kenapa sih nggak punya pacar? Perasaan lu nggak jelek-jelek banget deh yan.” Mendengar pertanyaan Ori barusan, aku langsung tersedak dan sedikit berfikir. Bener juga kata Ori, aku sudah menjomblo hampir empat tahun ini.
      “Nggak dulu deh, gua males kalau mau kemana-mana harus lapor dulu sama pacar gua. Lagian gua udah nyaman sendiri Ri”
    “Lu kan cewek, nggak bakal selamanya bisa ngerjain apa-apanya sendiri. Lu butuh sosok yang ngelindungi lu, dan bisa lu andalin. Percaya deh, sendiri emang nyaman, tapi kalau berdua itu lebih baik, semua terasa berwarna dan kalau ada masalah ada teman sharing. Itu yang terpenting!”mendengar nasihat yang lagi-lagi keluar dari mulut Ori yang dipenuhi mie ayam, aku hanya bisa menghela nafas panjang.
       “Iya, gua percaya, tapi gua juga nggak mau kalau ntar gua jadi ngejauh dari lu sama Pras, lu tau sendiri, nggak gampang cari pacar yang bisa menerima persahabatan macam kita gini.”

       Kali ini justru Ori yang menghela nafas panjang, dia meletakkan sumpit yang dari tadi dipegangnya, lalu memandangiku lekat-lekat. Aku paling malas kalau Ori sudah memandangku dengan tatapan seperti ini, entah mengapa tatapan itu membuatku canggung.
 
      “Lu nyindir gua Yan? Maaf ya semenjak gua pacaran sama Azra, kita bertiga jadi jarang jalan bareng. Gua jadi jarang juga nganter lu kemana-mana, gua kadang nggak tega harus liat lu naik angkot sendirian. Belum lagi si Pras yang sibuk sama praktikumnya, jadi dia nggak bisa ngegantiin posisi gua.”Ori menatapku dengan perasaan bersalah, suasana pun jadi hening. aku nggak bisa mengatakan satu kata pun, jadi salah tingkah sendiri harus berbuat apa. aku hanya memaksa bibirku agar tersenyum, setidaknya bisa melelehkan rasa bersalah yang Ori rasakan.
                                                                               ***



Tidak ada komentar: